Rabu , 26 September 2018
Beranda » Seni & Budaya » Islam, Wayang dan Indonesia
Wayang Kulit (ft. wikipedia)

Islam, Wayang dan Indonesia

SEJARAH perkembangan Islam di Indonesia, khususnya di Jawa, tidak bisa dilepaskan dari awal mula kemunculan wayang kulit di tengah-tengah bentuk kesenian tradisional yang telah ada. Karena lahir dan perkembangan bentuk kesenian wayang kulit ini hampir bersamaan dengan berkembangnya agama Islam di Jawa.

Wayang kulit muncul ketika Kerajaan Islam Demak berada di masa kejayaannya. Penciptanya adalah para Wali atau lebih dikenal dengan sebutan Wali Sanga, yang merupakan para mubaligh atau tokoh pemuka Islam yang terkenal di masa itu.

Sebelumnya memang sudah ada bentuk kesenian Wayang Beber, yang diciptakan di zaman Majapahit. Sejak runtuhnya Majapahit dan disusul dengan kejayaan Demak, wayang beber pun mengalami perubahan. Para pemuka agama Islam, khususnya para Wali, ketika itu memandang wayang beber bertentangan dengan ajaran-ajaran atau syariat Islam. Oleh karenanya, Raden Patah, raja Islam pertama di Jawa yang bergelar Sultan Syah Alam Akbar Brawijaya Sirullah tersebut lalu meminta agar para Wali merubah bentuk-bentuk wayang beber kepada bentuk yang sesuai ajaran-ajaran Islam.

Ketika itu, tahun 1443 Saka, para Wali pun bekerja keras mengerahkan segenap kemampuan untuk menciptakan bentuk wayang yang benar-benar sesuai dengan syariat Islam, bahkan bermanfaat pula sebagai alat atau media dakwah bagi pengembangan agama Islam di Jawa. Karena pengaruh kebudayaan Hindu saat itu masih terasa kuat dan mengakar di masyarakat Jawa.

Para Wali akhirnya berhasil menciptakan bentuk wayang yang lain dari wayang beber. Setiap tokoh dalam wayang purwa itu dibuat satu persatu dari kulit kerbau. Sejak saat itulah, Wayang Kulit dikenalkan oleh para Wali.

 

Kayon atau Gunungan

Kemunculan wayang kulit sebagai salah satu bentuk kesenian tradisional yang tinggi, tidak muncul secara serentak sekaligus. Perkembangannya berlangsung secara bertahap. Penyempurnaan demi penyempurnaan dilakukan oleh para Wali dan disesuaikan dengan kondisi serta sikap dan tata pandangan hidup masyarakat Jawa saat itu.

Simak juga:  Pasar Beringharjo, Dulu Terindah Di Jawa

Setelah para Wali seperti Sunan Giri, Sunan Kalijaga, Sunan Bonang dan lain-lainnya menggarap karya ciptanya, Raden Patah pun ikut ambil bagian dalam kerja besar itu dengan menciptakan Kayon atau Gunungan. Disamping kayon, Raden Patah juga menciptakan simpingannya.

Di dalam wayang kulit, kayon atau gunungan yang ditancapkan di panggung kelir (di tengah) itu mempunyai peranan dan kedudukan yang sangat penting. Wayang kulit belum dapat dimainkan sebelum diawali dengan penancapan kayon. Dalam arti tokoh-tokoh di dalam wayang kulit tersebut tidak akan mempunyai kekuatan apa-apa sebelum sang Dalang menancapkan kayon di tengah panggung kelir.

 

Nilai-nilai Islam

Nilai-nilai ke-Islaman di dalam kayon atau gunungan terlihat jelas. Nilai-nilai Islam ini sudah barang tentu ada, mengingat penciptaan wayang kulit dan segenap sarananya yang lain adalah sebagai sarana penyebaran agama Islam.

Kayon itu sendiri berasal dari bahasa Arab, yakni dari kata-kata Hayyun, yang artinya “yang hidup” (Drs. H. Effendi Zarkasi, 1984).

Kayon sebagai pembuka, baik pada awal cerita maupun dalam setiap pergantian adegan wayang kulit, jelas menempatkan kayon dalam fungsi dan kedudukan yang utama. Artinya, “yangt hidup” tersebut adalah pemberian kekuatan kepada setiap tokoh wayang yang akan ditampilkan sang dalang. Wayang (setiap tokoh) baru akan hidup, apabila didahului dengan penancapan kayon.

Para Wali jelas ingin mengemukakan maksudnya bahwa Allah-lah yang menghidupkan dan mematikan. Kekuasaan Allah itu disiratkan dalam kedudukan dan makna kayon di dalam setiap pentas wayang kulit.

Dengan berpegang dan mengumpulkan pendapat sejumlah ahli wayang dan pemuka Islam, Effendi Zarkasi dalam bukunya Unsur Islam Dalam Pewayangan (PT Alma’arif, Bandung, 1984) mengemukakan, di dalam kayon terdapat gambar raksasa yang menurut ilmu watak benda berarti bilangan lima. Ini dimaksudkan bahwa Rukun Islam itu adalah Lima Perkara.

Simak juga:  Jiwa Jawi Menjawab Kerinduan Barat

Kemudian gambar gapura yang mempunyai arti bilangan sembilan, dimaksudkan bahwa jumlah para Wali yang sangat berpengaruh dalam pengembangan agama Islam di Jawa sebanyak sembilan orang atau Wali Sanga.

Lalu, gambar raksasa di kanan dan kiri pintunya, membuktikan bahwa di dalam hidupnya, tingkah laku dan perbuatan manusia senantiasa diawasi serta diamati oleh dua malaikat yakni Roqib dan Atid.

Nafsu-nafsu yang dimiliki oleh setiap manusia digambarkan dalam bentuk bermacam-macam gambar binatang di dalam kayon tersebut. Nafsu amarah diwujudkan dalam bentuk harimau. Nafsu lawwamah  diwujudkan gambar banteng. Nafsu shufiyah dalam wujud gambar kera, dan nafsu nuthmainnah diwujudkan gambar burung.

Demikianlah, meski sedikit, tapi nilai-nilai atau unsur-unsur ke-Islaman itu jelas terdapat di dalam kayon atau gunungan. Para Wali di masa itu memang cukup bijak dalam upayanya meluaskan syiar agama Islam melalui kesenian wayang kulit, mengingat wayang merupakan bentuk kesenian yang sangat digemari rakyat. Sehingga, kayon sebagai pembuka dan penutup setiap penampilan wayang kulit itu pun oleh para Wali dimanfaatkan sedemikian rupa, dengan meletakkan atau mencantumkan nilai-nilai ke-Islaman di dalamnya.

Nilai-nilai Islam di dalam kayon atau gunungan hanyalah merupakan sebagian kecil dari nilai-nilai Islam yang ada secara keseluruhan di dalam bentuk kesenian tradisonal wayang kulit.

Dan, apabila kita mendalami atau menghayatinya kembali, maka nilai-nilai Islam yang besar dan tinggi akan tertemui secara luas di dalam wayang kulit. Sejak dari tata permainannya, lakon-lakon atau cerita-ceritanya, nilai filsafat setiap pribadi tokoh-tokoh wayang, hingga ke gamelannya.

Satu hal penting untuk dipahami, di Indonesia, terutama di Jawa, keberadaan Islam dan wayang tak dapat dipisahkan. Karena wayang merupakan media atau sarana pertumbuhan  Islam di Indonesia, khususnya di Jawa.*** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

7 Tahun Sastra Bulan Purnama, Puisi di ‘Rumah Kita’

Sastra Bulan Purnama yang diselenggarakan setiap bulan kini telah memasuki usia 7 tahun, dan akan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.