Beranda » Pendidikan » Herlina Kasim Si Pending Emas: Bersyukur Menjadi Wartawan
Herlina Kasim di tengah (Foto: net)

Herlina Kasim Si Pending Emas: Bersyukur Menjadi Wartawan

SEJARAH bangsa ini mencatat, Herlina Kasim Si Pending Emas (Sitti Rachmah Herlina) sebagai salah satu pejuang  ‘Trikora’  yakni operasi militer untuk membebaskan Irian dari cengkeraman Belanda (Desember 1961 – Agustus 1962).

Mengapa ada sosok Herlina Kasim? Dia mengajukan diri menjadi sukarelawan. Siap ditugaskan ke bumi Cendrawasih agar Irian bersatu menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Semua ini dilakukan atas  dorongan jiwa nasionalis dan petualang  Herlina.  Waktu itu dia menjadi wartawan dan pendiri Mingguan Karya di Ternate.

Menelisik dari apa yang dilakukan,  passion dan sikap heroik-nya, pastilah Herlina bukan perempuan biasa. Namun  sosok perempuan kontroversial. Pada kurun waktu 1961-an, dia berusia 20 tahun (lahir 1941) – kebanyakan perempuan masih terlena sebagai kanca wingking dalam cengkeraman domain domestik dan patriarkhis. Namun Herlina telah  berpikir dan bertindak out of the box. Berkiprah di dunia kewartawanan yang masih rimba belantara bagi perempuan. Bahkan mampu meyakinkan Pangdam Kodam XVI Pattimura, untuk menjadi satu dari 20 sukarelawan  terjun ke hutan belantara Irian dalam missi Operasi  Militer Trikora.

Sebagai pengagum Herlina Kasim, penulis beruntung bertemu beliau secara intensif selama dua hari. Tahun 1995-an, sebagai anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Yogyakarta ditugasi Ketua PWI Yogya (Drs Oka Kusumayudha) untuk mengundang dan mendampingi Herlina Kasim sebagai  pembicara dalam suatu acara PWI di Yogya.

Tak dapat dipungkiri, Herlina sosok sederhana dan lembah manah. Meski tahun 1995, Herlina menjadi komisaris suatu perusahaan  terkenal,  namun  hadir ke Yogya  tanpa sekretaris pribadi. Dia urus sendiri bagasi dan segala keperluan narasumber seminar. Bahkan dia berpesan, dicarikan  hotel yang pemiliknya adalah ‘orang Yogya’. Semua makanan harus tradisional.

Ketika penulis bertanya apa yang mampu meyakinkan Pangdam Pattimura, sehingga diijinkan mengikuti operasi militer Trikora. Herlina mengapresiasi para Komandan dan pimpinan yang memberi kesempatan pada perempuan. “Secara fisik saya tidak masuk kualifikasi, karena bertubuh mungil,” katanya. Namun semangat dan kecerdikan Herlina di bidang survival menjadikan Herlina lolos test.

“Ada satu lagi, kepandaian saya menulis, dinilai Pangdam akan menjadi hal yang luar biasa. Karena ujung pena, dapat lebih tajam dari ujung peluru. Pena dan kata-kata adalah senjata atas suatu perjuangan,”  papar Herlina.

Keyakinannya bahwa pena adalah senjata, memang selalu dilontarkan. Bukan semata sedang bicara kepada para wartawan junior. Di buku ‘Herlina Si Pending Emas’ berulang ditegaskan hal itu.  Juga wawancara khusus dengan ‘Kedaulatan Rakyat’ dengan tegas menyatakan: “Saya bersyukur jadi wartawan. Saya yakin, andai bukan wartawan, pasti tak akan memiliki nilai plus sehingga lolos test ikut dalam Operasi Militer Trikora di Irian,” paparnya.

Karena kemampuannya menulis itu pula, tahun 1965  mendapat tugas dari Opsus (Operasi Khusus) Departemen Luar Negeri untuk menerbitkan surat kabar Berita harian palsu yang berkonten  propaganda anti pembentukan negara Malaysia. “Inilah kekuatan dari tulisan. Saya tahu ini keluar dari kaidah kewartawanan, Tetapi apapun saya lakukan untuk nusa dan bangsa,” katanya sambil tertawa. (Saat ini, saya berpikir, Herlina pernah juga menjadi penulis hoax…)

Kontrovesi Herlina muncul eksplisit ketika anugerah tanda jasa dari Presiden Soekarno:  Pending Emas (ikat pinggang)  emas murni seberat 500 gram dan uang senilai Rp10 juta – dikembalikan dengan alasan ketulusan berjuang untuk bangsa akan cacat ketika dia mau menerima imbalan materi. Ketika hal itu dikonfirmasikan, dia menjawab penuh gelora: Kepada Ibu Pertiwi, berikanlah jiwa raga,”..

Dalam episode Orde Reformasi ini,  nama Herlina tenggelam oleh hiruk pikuk politik. Nafas nasionalism dan kebangsaan, tak pernah surut. Pelbagai sumber mengatakan, banyak hal politis yang membuat Herlina memilih bungkam mulut maupun pena.   Sikap kritis terakhir, usul untuk mengubah nama Papua menjadi Irian kembali pada peringatan 50 tahun Trikora 19 Desember 2011, terkait dengan dokumen internasional. Namun, tak ada follow up.

Hingga terdengar kabar, Selasa 17 Januari 2017, Herlina Kasim berpulang ke haribaan Sang Khalik dalam usia 75 tahun. Kontroversi Herlina tetap muncul di akhir hayat. Dia telah berpesan menolak taman makam pahlawan, memilih pemakaman umum sebagai peristirahatan terakhir.

Damailah di alam keabadian. Karya dan ketulusanmu berjuang untuk negeri, jadilah teladan anak bangsa. Juga, mampu membuat malu bagi mereka yang  merasa berjasa. Lalu,  berebut minta jatah balas jasa, berebut jabatan, berebut fasilitas negara  dan berebut menjarah  harta-kekayaan negeri ini. *** (Esti Susilarti)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVI: Mulailah dengan Satu Pohon

Salah satu penyebab terjadinya ban-jir bandang yang merendam rumah-rumah penduduk dan merendam ratusan hektar sawah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *