Minggu , 16 Desember 2018
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XX: Generasi Muda Harus Baca Sejarah
Drs. HM. Idham Samawi (ft. Budi Adi)

Diskusi Kebangsaan XX: Generasi Muda Harus Baca Sejarah

Drs HM Idham Samawi

Sila kita yang pertama Ketuhanan YME, jadi kita harus meyakini, ini semua karena rahmat dan hidayah-Nya. Saya bersyukur, lahir, dibesarkan justru ketika bangsa ini berjalan di jalan yang benar. Apa itu? Saya masih ingat sekali, ketika karakter saya dibentuk mulai dari TK, SD, SMP, SMA, itu bicara terutama tentang bu-daya bangsa ini. Lalu pertanyaannya budaya Indonesia, budaya bangsa ini yang mana? Proklamasi 45 mengama-nahkan kepada kita sekalian, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Saya lahir di Jogja, dibesarkan di Jogja, bumi yang saya pijak bumi Jogja, maka apa, budaya Jawa yang harus kita junjung setinggi-tingginya. Saya bersyukur apa? Ketika saya kecil, orang Jawa mengatakan menangi lagu-lagu anak ketika itu, padhang bulan, padhange kaya rina, rembulane e sing ngawe-awe, dan seterusnya. Pesannya apa, jangan biasa tidur sore, karena untuk apa, supaya baca, belajar, bekerja, dan seterusnya. Itulah pesan dari lagu itu. Waktu kecil saya TK, SD hanya bisa melagukannya. Seperti teman-teman saya lainnya. Tapi begitu saya dewasa, saya ingin tahu kenapa, kok kakek saya, nenek saya, kok ngajari saya seperti itu? Oo intinya jangan tidur sore. Lagu itu mengajarkan demikian. Itu budaya, dahsyat sekali.

Lalu saya masih ingat, ketika itu bermain ular naga panjangnya. Waktu itu saya ikut-ikutan saja. Tapi setelah saya dewasa saya baru tahu maknanya. Saya tidak ingin mengatakan bahwa itu dikembalikan seperti apa adanya waktu itu. Sori bro, alamnya sudah berubah. Waktu itu cocok banget. Waktu itu cocok banget untuk saya dan teman-teman seusia saya ketika itu. Tapi kalau itu hari ini diulangi diberikan kepada adik-adik kita, katrok, ketinggalan jaman, wah itu ketika kita masih naik kuda, dan ini saya melihat bangsa ini lupa. Tidak selalu untuk mengkinikan, sehingga apa, anak-anak kita mencari sekarang. Lalu apa, begitu medianya sekarang seperti ini, walaupun, mohon maaf ya, itu budayanya keju, ya dimakan habis itu. Setiap kali pertemuan selalu saya buka suguhannya itu, kalau ada pertemuan wartawan sepuh atau di mana saja. Kalau ada bicara kebangsaan, yang begitu pertama datang yang saya lihat suguhan ma-kanan yang disajikan, ada gak yang dibuat dari gandum. Kita ngomong kebangsaan, tapi, gak bisa lagi hanya retorika. Tapi harus dari sikap kita, seharian kita. Apa, cinta tanah air, cinta kepada bangsa, cinta kepada negara, tidak hanya sekedar, maaf, retorika. Tapi dari perilaku hidup kita, apa, makan makanlah yang diproduksi oleh tangan-tangan putra-putri terbaik bangsa kita sendiri. Itu salah satu bentuk cinta kepada tanah air, cinta kepada bangsa. Jangan hanya retorika. Begitu juga di diskusi kebangsaan, yang dipakai istilah-istilah Inggris terus, sori bro, sori dab, begitu kan. Karena apa, kalau tadi berbicara cinta kepada bangsa, tanah air dan seterusnya, itu, mulai dari makanan yang kita makan, pakaian yang kita pakai, bahasa yang kita gunakan.

Suatu ketika saya jadi bupati, setiap hari Jumat, pelayanan Pemda pakai bahasa Jawa. nah waktu itu Presiden-nya Bu Mega, saya dipanggil, Mas, kalau ada tamu asing bagaimana? Ya pakai bahasa Inggris. Atau kalau ada tamu dari Batak, pakai bahasa Indonesia. Tapi kalau Jawa, saya perin-tahkan untuk menggunakan bahasa Jawa. Tujuannya bukan untuk mau menjawakan Indonesia, kita sadar betul, pasti menuai badai, karena kita sudah meyakini berangkat dari banyak sekali perbedaan. Nah tapi bagaimana, berulang-ulang selalu saya katakan di setiap forum, bahwa bangsa ini adalah bangsa yang sangat besar. Yang dibangun hampir 1.000 suku bangsa dan seterusnya. Mudah sekali untuk pecah, mudah sekali untuk cerai-berai. Saya bandingkan dengan Uni Soviet, Yugoslavia dan sebagainya. Hanya Ketuhanan YME, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Ini sering saya ulang di forum-forum ini, ayo diskusi sama Idham Samawi, diskusi 30 hari 30 malam dengan Idham Samawi kalau ada yang berpendapat ada ideologi lain selain yang 5 tadi, yang bisa mempersatukan Sabang-Merauke, Miangas-Pulau Rote. Ayo 30 hari 30 malam diskusi sama saya. Gak akan ada yang selain itu, hanya hari ini kita semakin menjauhi itu. Sebelum acara ini tadi dimulai, saya bicara dengan Pak Saurip Kadi, saya bilang, oo sekalipun kita habis-habisan kaya begini, selama sistemnya kita berbangsa, bernegara masih begini, saya gak yakin kita bisa membawa bangsa ini kembali ke jalan yang benar, saudara-saudara sekalian. Karena apa, suatu ketika, sedikit ya saya singgung, saya ditugasi membriefing kepala daerah-kepala daerah di Aceh, waktu itu. Ketika saya tanya, apa sih alasan anda mantan GAM, ada mantan jurubicara GAM, ada mantan panglima wilayah GAM, dan seterusnya. Apa sih salahnya yang lima ini kok anda sampai mengangkat senjata mempertaruhkan nyawa anda untuk menggantinya. Spesifik lagi saya tanya, salahnya yang lima ini kepada Islam, itu apa to. Kok anda bertekad sampai menggantinya.

Lalu saya jelaskan untuk yang lima perkara ini. Ketuhanan YME itu pemahaman saya di Islam itu namanya Tauhid. Saya jelaskan panjang lebar. Lalu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, itu di Islam namanya ukhuwah insaniyah. Persau-daraan antar sesama manusia, sama-sama anak keturunan Adam dan Hawa. Saya jelaskan panjang lebar. Persatuan Indonesia, itu di Islam namanya ukhuwah wathoniyah. Saya bilang, Pak Gubernur, Pak Bupati, kalau saya keliru, koreksi. Ukhuwah wathoniyah, persaudaraan dalam satu kebangsaan, saya jelaskan panjang lebar. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Bung, tolong Pak Gubernur, Bupati, Walikota, tolong carikan satu surat di Al-Qur-an yang mengatakan bahwa Islam mengenal voting. Sampai ma-buk, sampeyan tidak akan ketemu. Adanya musyawarah. Itu yang ingin saya sampaikan, salahnya yang lima itu kepada Islam itu apa?

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XII: Perlu Membawa Bangsa ini ke Jalan Yang Benar

Karena semuanya ini Islam garis keras yang ketemu dengan saya, ada gubernur, bupati, walikota, semuanya eks. Lalu yang kelima, Islam itu berkeadilan sosial bagi seluruh rak-yat Indonesia. Islam itu berpihak ke siapa, yang tertindas, teraniaya, termarjinalkan. Simbolnya apa di Al-Qur’an itu, yatim, miskin, dhuafa, diulang-ulang di dalam Al Qur’an. Hampir dua jam saya bicara. Setelah itu, ayo saya tolong dikoreksi Pak Gubernur, Pak Walikota, Pak Bupati, gak ada yang berdiri satu pun. Saya bilang, gak adil dong saya bicara hampir dua jam, masak, terpaksa dia berdiri, Pak Idham baru hari ini saya mendengar dari penjelasan Bapak.

Kemarin yang sampai kepada kami, sehingga kami angkat senjata, itu adalah kalau tetep ideologi bangsa ini Pancasila, besok sholat Subuhnya tidak dua rokaat, edan tenan ini. Besok kalau Subuh sholat itu tidak lagi madhep ke kiblat. Bagaimana kami gak angkat senjata, itu yang sampai kepada kami. Saudara sekalian, dengan segala hormat, ada fase di republik ini ketika kita mencoba, saya tidak usah sebut siapanya, mencoba untuk menghilangkan perjalanan ideologi bangsa ini, mulai dari 1 Juni 45, Panitia 8, Panitia 9, PPKI 18 Agustus 45, 22 Juni 45, dicoba dihilangkan. Saya sering menyampaikan dari Kantor Arsip Negara tiba-tiba dokumen itu hilang semua. Saya belakangan baru menyadari kalau kita mau meng-hancurkan suatu negara, hancurkan dulu ideologi bangsa itu. Kalau kita mau menghancurkan suatu ideologi, maka putus dulu sejarah dari ideologi, saudara-saudara sekalian. Tapi kita patut bersyukur, hari ini dokumen itu semua sudah ketemu. Ada di kantor arsip negara. Perjalanan bahwa tadi di belakang kata Ketuhanan itu ada 7 suku kata (maksudnya 7 kata), tapi 5 suku kata awalnya. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam. Wah debatnya ramai sekali. Dan debat Dokuritsu Sonbu Coasake, debat-debat di Panitia 8, debat di Panitia 9, debat di PPKI, indah betul itu, pendiri-pendiri bangsa ini. Saran saya Pak Presiden BEM UGM, suatu ketika sayangnya itu gak boleh dikopi di sana. Ajak teman-teman anda, baca di sana. Lalu kenapa kok akhirnya diputuskan seperti apa adanya lima itu. Ideologi bangsa ini. Apa, pidato-nya Bung Karno mengatakan itu weltanzhaung-nya bangsa negara ini. Itu apa, psichological ground slach-nya bangsa ini. Nah tapi biar menggelitik anda untuk berangkat ke kantor arsip negara, baca. Karena kalau anda suatu ketika ingin jadi pemimpin bangsa ini, syaratnya harus baca itu.

Lalu kenapa kok Pembukaan UUD kita itu 4 alenia itu. Lalu kenapa kok alenia ke-4 itu menyebutkan bahwa kurang lebih, kita merdeka agar dapat membentuk pemerintahan negara yang melindungi segenap bangsa Indonesia, serta tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Itu tupoksinya presiden. Saya bersyukur Pak Jokowi ketika dilantik pertama kali mengutip alenia keempat, bukan UUD, karena tupoksinya presiden 4 perkara itu. Itu yang apa, sekian puluh tahun coba dihilangkan dokumen-dokumennya. Tapi hari ini sudah ketemu. Saya kasih tahu, ketemuanya di mana, tapi gak usah diskusi soal itu ya, yang penting sudah ketemu. Ketemu tahun 2012 di Istana Mangkunegaran Solo. Hilangnya kapan, gak ada yang tahu, tapi ketemunya pasti. Nah saran saya adik-adik silakan baca. Indah betul, bagaimana debatnya di Dokuritsu Sonbe Coasake, bagaimana debatnya di Panitia 8, Panitia 9, PPKI. Waktu itu bagaimana, woo kenceng banget, kan akhirnya jadi, di belakang kata Ketuhanan ada 5 suku kata menjadi 7 suku kata, itu kapan to? 8 Juni 1945 oleh Panitia 8. Terus menarik banget, dan Bung Karno sebagai Panitia 8 gak seneng ati karena isinya itu hanya friksi terus, akhirnya dirombak sama Bung Karno, Panitia 8 tadi menjadi Panitia 9. Nah sebetulnya Panitia 9 yang menelorkan Piagam Jakarta itu tidak sah, tidak legitimate itu Panitia 9. Karena tidak pernah disahkan oleh Dokuritsu Sonbe Coasake. Yang disahkan oleh Dokuritsu Sonbe Coasake itu adalah Panitia 8. Kalau Panitia 9 hanya bentukan Bung Karno. Nah ini yang saya katakan tadi puluhan tahun sengaja dihilangkan, saudara-saudara sekalian. Nah adik-adik itu, lalu saya sering ketemu dengan adik-adik mahasiswa, saya tanyakan di forum-forum semacam ini. Ada gak kata Pancasila di Pembukaan UUD 45? Mahasiswa diem kan karena belum pernah baca. Kalau sudah baca pasti akan mengatakan, tidak ada Pak Idham. Betul, tidak ada, kata Pancasila di dalam Pembukaan UUD 45. Adanya apa, Ketuhanan YME sampai Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Tapi kata Pancasila tidak ada. Lalu ada di mana itu, ketika kita berbangsa bernegara di NKRI? Ada di mana coba! Kok setiap upacara, Pancasila. Satu, dua, tiga, empat, lima. Ada di mana? Lalu Pembukaan UUD 45 apa ada kata-kata satu, dua, ndak ada. Nah adanya di pidato Bung Karno 1 Juni 1945. Pidato Bung Karno di depan Dokuritsu Sonbe Coasake, makanan apa itu? Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia sidang pertama hari ke-4, karena sidang pertama tanggal 29 Mei sampai dengan 1 Juni, hari ke-empat. Itu eksplisit disampaikan, ada teman yang menyarankan diberi nama Pan-cadharma. Panca itu 5, dharma itu perbuatan baik. Ini dasar. Lalu untuk itu lalu saya beri nama Pancasila. Untuk menyangatkan, Bung Karno mengatakan, kalau tuan-tuan tidak suka dengan bilangan 5, bisa diperas menjadi tiga, sosio nasionalisme, sosio demokrasi, ketuhanan. Tapi kalau tuan-tuan yang terhormat tidak suka dengan bilangan 3, bisa diperas menjadi satu gotong-royong. Tapi kalimat-kalimat tadi hanya untuk me-nyangatkan. Akhirnya beliau kembali kepada 5 tadi, Pancasila. Lalu beliau menyangatkannya bahwa sholat itu lima, dan seterusnya, dan seterusnya. Saudara sekalian, kok Pak Idham tahu?

Saya sudah baca semua. Saya sudah baca semua notulen, sidang Dokuritsu Sonbe Coasake. Mohon maaf ini Pak Jenderal, saya itu dipanggil Lemhanas itu dua kali untuk ikut pendidikan Lemhanas dan dua kali saya tolak. Jawaban saya menolak apa, selama masih diajarkan Pancasilanya Yamin, Idham Samawi tidak akan pernah mau diundang dan datang ke Lemhanas. Itu manipulasi. Itu lho. Bangsa ini waduuh, saya prihatin betul. Pak Yamin almarhum, itu pidato di depan Dokuritsu Sonbe Coasake tanggal 29 Mei 45, sidang pertama Dokuritsu Sonbe Coasake. Durasi waktunya 11 menit. Diinterupsi 3 kali oleh dr Radjiman, Ketua BPUPK, karena apa, tuan Yamin, interupsinya, bahwa ini kita sedang berbicara tentang dasar-dasar Indonesia merdeka. Maksudnya? Ayo kembali lagi ke dasar-dasar negara itu. Di situ di Lemhanas diajarkan, tapi saya bersyukur setelah gubernur yang ini, tidak lagi diajarkan Pancasila-nya Yamin di Lemhanas. Saya sudah baca dokumen risalah sidang-sidang BPUPKI, saudara-saudara sekalian. Bayangkan, bicara 11 menit Pak Yamin, masa bicara mengenai dasar, Bung Karno bicara itu 58 menit, ketika menawarkan dasar negara yang 5 itu. Bahkan diinterupsi sampai 3 kali.

Simak juga:  Tumpengan Pancasila, Sultan Lesehan Bersama Rakyat

Nah adik-adik sekalian khususnya mahasiswa, yang mengukir pribadi Idham Samawi ini salah satunya guru aljabar saya. Kebetulan orang Batak. Apa, setiap beliau mengajar aljabar, pelajarannya waktu itu aljabar. Sepuluh menit sebelum mengakhirinya, beliau mesti cerita tentang Sultan Agung dan seterusnya pada waktu itu, orang Batak beliau itu. Dia salah satunya mengukir kepribadian saya. Dia meyakinkan kepada anak didik ketika itu bahwa bangsa ini bangsa yang besar, bangsa yang pantas diperhitungkan oleh peradaban dunia dan sebagainya. Gak kayak sekarang, aduuh saya mohon maaf adik-adik, kadang-kadang adik-adik mahasiswa ini belum ngerti, hanya pengaruh di medsos dan sebagainya, unjuk rasa yang paling, sebagai contoh beberapa hari yang lalu Forum BEM Jogja menemui Idham Samawi, iya, ke rumah saya. Waktu itu ada ber-11. Intinya apa, Pak Idham, ini kami sudah disiapkan dhuwit, diminta untuk demo. Gila betul ini, untuk demo, yang golnya bahwa pemerintahan ini gagal sehingga presiden harus turun dan sebagainya. Gila betul itu. Adik-adik yang masih murni yang masih luar biasa, mau ada yang meracuninya. Saya gak usah sebut angka rupiahnya, gedhe banget. Sehingga mereka sempat ada keraguan. Tapi untung menemui saya. Iya. Minta pendapat, saya bilang adik-adik ini nantinya kan menjadi pemimpin dan sebagainya. Saya kembalikan, ayo bicara dengan nurani. Silakan, kira-kira apa yang akan anda lakukan, kan menarik banget itu angkanya, gak usah saya sebut. Itu terjadi di Jambi, terjadi di Riau, tadinya juga di Jogja, lalu, itulah Pak Idham, nurani kami menggeliat, sehingga kami sowan Bapak. Kami menghadap ke Bapak. Akhirnya tidak terjadi. Tapi bahwa seperti ini kadang negeri ini dan tadi adik-adik ini punya posisi yang sangat strategis.                         

Saran saya yang nanti pingin mau jadi Presiden, Menteri, jadi Gubernur, Walikota, Bupati bacalah risalah BPUPKI, Panitia 8, Panitia 9, PPKI. Bagaimana PPKI begitu kerasnya untuk menghilangkan 7 suku kata itu. Akhirnya Bung Karno mengatakan kita skors, kita tunggu satu orang, karena beliau sedang dalam perjalanan, Ki Bagus Hadikusumo. Akhirnya Ki Bagus datang disampai-kan, lalu Ki Bagus minta ijin, tuan pimpinan saya minta ijin untuk mela-kukan sholat istikharoh, diijinkan, sidang diskors kembali, Ki Bagus Hadikusumo masuk ke kamar durasi waktunya 41 menit, setelah itu beliau keluar lagi, sidang PPKI dimulai lagi, beliau menyampaikan, setelah saya istikharoh 7 kali, maka dengan ini, saya dan seluruh jajaran, karena ketika itu beliau Ketua Muhammadiyah, NU waktu itu sudah setuju, karena begini ya, adik-adik yang baru datang, proklamasi kemerdekaan itu 17 Agustus jam 10 kurang 2 menit, pagi. Sorenya perwakilan Indonesia timur minta waktu ketemu dengan PPKI. Bung Karno sebagai ketua PPKI menugaskan kepada Pak Hatta untuk menerima perwakilan dari Indonesia timur. Intinya dari Indonesia timur mengatakan begini, kurang lebih kepada PPKI kalau di dalam dasar negara kita sila pertamanya masih ada 7 suku kata, di belakang kata Ketuhan-an, maka kami dari Indonesia timur tidak bersama NKRI.

Bayangkan paginya baru saja dipro-klamasi sorenya kerawananannya seperti itu. Besok paginya tanggal 18 Agustus Pak Hatta melaporkan kepada sidang PPKI tentang sikap Indonesia timur, lalu akhirnya disepakati 7 kata di belakang kata Ketuhanan itu dihilangkan, kembali ke 1 Juni walaupun Bung Karno itu merumuskannya Ketuhanan yang Berkebudayaan, tapi dalam pidato ada kata-kata Ketuhanan YME, kembali ke Ketuhanan YME. Nah ditawarkan oleh Bung Karno sebagai Ketua PPKI, ini sayangnya file-nya nanti boleh pak Oka, biar adik-adik punya semua. Anggota Dokuritsu Sonbe Coasake itu berapa orang, siapa saja, Panitia 8, Panitia 9, PPKI, biar adik-adik tahu semua. Nah waktu itu setelah Ki Bagus, setelah istikharoh beliau setuju dihilangkan, Bung Karno menawarkan diri, dengan demikian tuan-tuan yang terhormat, apakah bisa disetujui sila pertama itu Ketuhanan YME, setujuuu. Diulangi sampai 3 kali. Tidak langsung diketok oleh Bung Karno. Kalau salah, yang salah notulennya. Saya ingin membaca apa adanya. Diulangi yang kedua. Sampai yang ketiga setuju diketok palunya. Sehingga kalau ada Habib Rizieq atau siapa itu yang mengatakan bahwa yang menghilangkan 7 suku kata itu Sukarno, ya kaya kurang ajar juga dia. Karena apa, memang betul yang ngetok palu Sukarno sebagai Ketua PPKI, tetapi aklamasi, 27 anggota PPKI. Habib Rizieq dan siapa saja perlu baca, mungkin perlu datang ke kantor arsip negara, baca piagam Jakarta yang masih ada 7 suku kata di belakang kata Ketuhanan. Yang tanda tangan di atas sendiri siapa, Sukarno. Nah kalau boten pitados (tidak percaya) datang ke kantor arsip negara. Masih ada itu. Atas nama Dokuritsu Sonbe Coasake, Jakarta 22 Juni 1945, atas nama Dokuritsu Sonbe Coasake, Panitia 9, dhuwur dhewe (paling atas), Sukarno, tanda tangan. (ASW)     

Lihat Juga

Gembira

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *