Minggu , 21 Oktober 2018
Beranda » Sastra » Foto dan Puisi: Dua Karya Seni Dalam Satu Antologi Puisi
Cover buku Puisi-Fotografi ‘Kepundan Kasih’

Foto dan Puisi: Dua Karya Seni Dalam Satu Antologi Puisi

Antologi puisi yang diberi judul ‘Kepundan Kasih’, bukan hanya berisi puisi, tetapi juga berisi karya fotografi, sehingga bisa disebut sebagai puisi fotografi. Puisi karya Dr. Novi Indrastuti, pengajar di Jursan Sastra Indonesia FIB UGM, dan fotografi karya Prof. Dr. Harno Dwi Pranowo, pengajar di Departemen Kimia Fakultas MIPA UGM.

Dalam tulisan ini saya akan berbicara tiga hal, pertama, mengenai karya fotografi, kedua, berbicara soal puisi dan ketiga, hubungan keduanya, dalam hal ini puisi dan fotografi yang ada di antologi puisi ‘Kepundan Kasih’.

 

Fotografi Karya Seorang Guru Besar   

Saya senang melihat foto karya Harno. Fotonya penuh suasana keindahan, dan memberikan rasa senang pada orang yang melihatnya. Dari segi visual tampak cantik, dan sepertinya estetika dan keindahan suasana menjadi perhatian oleh fotografernya. Oleh sebab itu, saya merasa senang menikmati foto-foto karya Harno yang ada di dalam buku puisi ini.

Disisi yang lain, saya sering terpesona kapan melihat fotografi karya Harve Dangla, seorang fotografer dari Perancis, setidaknya bisa dilihat dari bukunya yang berjudul ‘Belantara Jakarta’, diterbitkan Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) tahun 1996. Karya-karya fotonya menyajikan realitas sosial di Jakarta. Melihat foto-foto Dangla, saya seperti melihat persoalan sosial yang kompleks. Melalui foto karya Dangla, kita diajak untuk memahami persoalan sosial yang tidak tampak dalam foto, tetapi sesungguhnya, persoalan sosial itu,  melingkari pada obyek foto yang kita lihat.

Atau foto karya Henry Cartier Bresson, seorang fotografer dari Perancis yang lain, dalam bukunya yang berjudul ‘Indonesie 1949’, dan diterbitkan Centre Culturel Francais (CCF) tahun 2000,  dari foto-foto ini saya seperti ‘diajak’ melihat sejarah dan peristiwa sosial yang terjadi di Indonesia 1949. Misalnya, foto yang menyajikan satu peristiwa, pada tanggal 30 Desember 1949, lukisan para  Gubernur Jendral Belanda selama 300 tahun masa penjajahan sedang dipindahkan dari kediaman Gubernur, yang sekarang menjadi ‘Istana Merdeka’. Atau foto yang menyajikan visual sepatu putih, celana panjang putih dan sedikit baju yang terlihat, berdiri di atas panggung. Dibawah panggung banyak tamu mengenakan jas, dan yang perempuan mengenakan kebaya. Foto itu diberi keterangan: Parade militer di Yogyakarta 18 Desember 949, Bung Karno di atas panggung. Atau juga foto penggembala itik, yang diberi keterangan, Jawa.Pati. Bebek-bebek sedang digiring ke tempat mencari makam.

Foto-foto karya dua fotografer dari Perancis bukan hanya indah dalam visual, tetapi juga memberikan ‘soal’ bagi yang melihatnya. Setidaknya, melihat foto-foto karya dua fotografer tersebut, setidaknya saya, membayangkan situasi sosial pada saat peristiwa tersebut dipindahkan kedalam kamera.

Simak juga:  Puisi, Musik dan Tarian di Taman Terakhir

Foto-foto karya Harno Depe, dalam buku puisi ‘Kepundah Kasih’, yang penuh warna, menyajikan suasana yang indah. Dia melihat momentum-momentum alam, dan dengan segera dia bidik dari balik kamera: klik. Hanya dalam hitungan detik momentum itu sudah pindah tempat dan langsung bisa dilihat, tidak perlu menunggu waktu beberapa hari untuk dicetak. Memindahkan momentum yang kompleks kedalam ruang yang kecil dan beku, yakni kamera, sekaligus memformat momentum, seolah hanya itu yang terlihat. Kompleksitas momentum menjadi terdistorsi.

Saya tidak sedang membandingkan foto karya Harno Depe dengan dua fotografer dari Perancis. Saya ingin mengatakan, setiap fotografer mempunyai interes yang berbeda, dan interes itu akan bisa dilihat dari hasil karyanya. Kamera, bagi saya, merupakan kata ganti pikiran dan mata. Jadi, melihat hasil karya fotografi, kita tak bisa melepaskan dari dua hal itu. Hal yang lain, yang hendak saya katakan, melalui karya fotonya, Harno sedang menyajikan gambar, gambar seperti yang bisa kita lihat.

Dari semua foto karya Harno Depe, kita tahu bahwa dia pernah berada dalam lokasi tersebut, dan orang tidak bisa membantahnya. Begitulah foto, dia bisa bercerita pada orang lain: bahwa aku (pernah) ada disitu.

 

Puisi Novi Indrastuti

Puisi yang ada di dalam buku ‘Kepundan Kasih’ bukan buku pertama dari Novi Indrastuti. Sudah ada beberapa buku puisi lainnya, juga kolaborasi dengan fotografi. Ini artinya, Novi, sebagai penyair bisa dikatakan cukup produktif menulis puisi. Di tengah kesibukannya sebagai pengajar dan ibu rumah tangga, Novi masih bisa mengatur waktu dan memberi ruang untuk menulis puisi. Selain itu, dia bisa terlihat membaca puisi di beberapa tempat. Ini artinya, Novi tak bisa dijauhkan dari puisi.

Agaknya, Novi selalu terpesona terhadap keindahan. Baik keindahan alam, maupun keindahan kehidupan, atau mungkin dia selalu berpikir positif, sehingga hanya keindahan yang dia lihat. Puisi-puisinya banyak berkisah tentang keindahan. Selain itu, Novi, melalui puisinya sering bercerita menyangkut suasana, dengan pilihan kata ‘senja’, ‘rindu’, ‘jiwa’ ‘rasa’, ‘pagi’, ‘kasih’ dan sejumlah pilihan kata lainnya.

Pada puisi yang berjudul ‘Kepundan Kasih’ misalnya, Novi mencoba memadukan harapan dan keresahan, sehingga dalam suasana seperti itu ia hanya bisa menyapa ‘wajah yang sunyi’, dan rasa gelisahnya menggeliat, meskiun harapan tak pernah hilang, dan selalu dilantukan melalui ‘kidung’ dan ‘nada doa. Mari kta baca puisi tersebut:

Simak juga:  Puisi Linus Suryadi AG

 

                                                Kepundan Kasih

                                               
                                                Di sebuah beranda pagi
                                                dalam sejuta hening
                                                kusapa wajah sunyimu
                                                dan kita pun berpagut cinta
                                                dalam gelombang amuk rindu
                                                mengentaskan sisa kelam
                                                yang menggeliatkan resah.

                                                Kusandarkan sebait kesahku
                                                kumudahkan syair pintaku
                                                kusemai kidung asaku
                                                lewat alunan nada doa
                                                yang hembuskan keteduhan
                                                rindu pun makin menghimpit
                                                mendesak detak jantungku
                                                hingga aku pun tenggelam
                                                dalam kepundan kasihmu

                                                            Yogyakarta, 2 Mei 2018

 

Terkadang, kapan melihat keindahan alam, selain Novi tertegun atas keindahan itu, sekaligus menggunggah rasa rindu, sehingga keindahan alam yang dia bayangkan berwarna biru itu, seolah seperti penuh rasa rindu, setidaknya bisa kita baca melalui sajaknya yang berjudul ‘Dalam Pelukan Biru’ (hal 10). Sebut saja rindu yang biru, selain terasa indah, tetapi bisa cepat menguap seperti embun, dan rindu, akhirnya ‘menerpa pinggiran luka’, situasi seperti  ini bisa kita simak (juga) melalui puisi yang berjudul ‘Elegi Rindu’. (hal 62).

Bagi Novi Indrastuti, agaknya, puisi merupakan ungkapan syukur, kalau tidak terlalu pas disebut sebagai sejenis doa (Hening Dalam Rindu, 139).  Setiap menemukan momentum puitik, dia mencoba menariknya ke wilayah yang lebih tinggi, saya merasa Novi seringkali mentransedir momentum puitik itu, meskipun tidak selalu ditulis dengan ‘MU’ besar dan sejenisnya, atau malah menggunakan terminologi lain, ‘memori misteri’ misalnya (Saksi Sejarah, 155), atau ‘mengangkasa menggapai jumantara (Derap Harap, 139). Namun, melalui puisi Novi bisa juga memekik, meski tidak harus dengan mengepalkan tangan, pekikan itu karena melihat relasinya tak bisa bersyukur, sehingga ia merasa perlu ‘menghalau penjarah kekayaan negeri’ (Sajak Untuk Pahlawan, 102)

Pendek kata, membaca puisi-puisi Novi Indrastuti saya seperti berada dalam suasana teduh: penuh rindu dan cinta.

 

Puisi dan Fotografi: Mencari Sambungan Keduanya.

Puisi dan fotografi dari segi bentuk merupakan dua hal yang berbeda, Tetapi dari keduanya kita bisa menemukan nuansa puitik. Orang boleh mengatakan bahwa fotografi merupakan bentuk lain dari puisi yang ditulis melalui kata-kata. Dalam tulisan ini, saya ingin melihat sambungan keduanya. Sambungan dalam arti, apakah puisi ditulis dengan melihat foto sebelumnya, atau masing-masing, dalam hal ini Novi dan Harno, berada di lokasi yang sama, meskipun tahunnya berbeda, dan masing-masing membuat karya seni, dalam hal ini fotografi dan puisi.

Simak juga:  Puisi-puisi Kebangsaan

Kita tahu, menulis puisi dengan tema alam milsanya, yang bersangkutan tidak perlu harus hadir di tengah alama di mana dia menggambarkannya, karena dia era sekarang untuk menyusuri alam orang bisa googling,  tetapi seorang fotografer tak bisa seperti itu, dia harus hadir di tempat di mana dia akan mengambil obyek foto.

Kalau melihat angka tahun karya foto dibuat dan puisi diciptakan, saya melihat Novi Indrastuti menulis puisi sesudah melihat foto karya Harno, atau bisa juga Novi berada di lokasi di mana foto diambil Harno, meskpun jarak waktunya berbeda. Karena puisi ditulis Novi kebanyakan tahun 2018 ada yang beberapa tahun 2017, sementara foto-foto karya Harno ada yang dibuat tahun 2010, 2012, 2014, namun ada juga yang dibuat tahun 2018. Dari data-data tahun disebut itu, ada dua kemungkinan bisa dikatakan, pertama, Novi Indrastuti menulis puisi setelah melihat foto karya Harno. Kedua, Novi menulis puisi berada di lokasi seperti foto yang diambil oleh Harno, meski tahunnya sama, tetapi di lokasi pada bulan yang berbeda, atau bisa juga bersama-sama di lokasi tersebut. Kemungkinan lain, puisi Novi yang ditulis sebelumnya dirasa pas dengan suasana foto karya Harno, pada kasus ini bisa dilihat pada puisi yang berjudul ‘Cermin Diri’ yang ditulis Novi 3 Desember 2017 dan foto karya Harno, yang mengambil obyek Kota Lama Semaranng,  Jawa Tengah, dibuat 18 Maret 2018. Atau mungkin bisa dibalik, Harno di kota tersebut setelah (membaca) puisi Novi, meskipun di lokasi obyek yang diambil bisa berbeda.

Dengan kata lain, dalam melakukan kolaborasi puisi dan fotografi memang tidak ada rumus baku, bahwa keduanya harus berada di lokasi yang sama secara bersamaan, karena puisi bisa menulis apa yang tidak terlihat dari foto. Bukan puisi melangkapi fotografi, keduanya mempunyai ‘jalan’ dan arahnya’ sendiri, dan membiarkan pembaca menafsirkannya sendiri.

Yang pasti, buku puisi fotografi karya Novi Indrastuti dan Harno Depe sudah terbit. Keduanya bisa dinikmati: dilihat (fotonya) dan dibaca (puisinya). Boleh juga setiap pembaca mencari hubungan keduanya. (*)

Lihat Juga

WAYANG “PREMAN”: Tawuran, Bauran, Tawaran Kreasi

“Wayang konvensi”, arus besar dunia wayang, sangat berbeda dengan wayang kreasi yang berkembang dan menyebar …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.