Beranda » Humaniora » Diskusi Kebangsaan XVI: Ekonomi Bang Jo
(ft. archiveofourown.org)

Diskusi Kebangsaan XVI: Ekonomi Bang Jo

SELIRIA EPILOGUS

BANG JO, abang ijo, merah hijau, bagi orang Yogya bentuk akrab untuk menyebut “lampu merah”, lampu lalu lintas di persilangan jalan, traffic light (TL). Bang Jo, itu sebutan khas Yogya untuk traffic light. Masih lumayan, masih ada penyebutan merah dan hijau, melupakan kuning. Di Jakarta (atau tempat lainnya) disebut sebagai lampu merah saja, dan melupakan lampu kuning dan hijaunya. Tragis, TL yang bersifat simbolistik komando untuk berhenti, perlahan, dan jalan, telah dialienasi oleh para penggunanya menjadi sekadar berbunyi merahnya saja, perintah berhenti dan larangan berjalan. Yang melekat dalam benak publik: larangan. Anjuran untuk berhati-hati, dan perintah untuk jalan dianggap tidak lebih penting ketimbang larangan bergerak. Ber-henti.

Jika simbolistik “Bang Jo” dianggap sebagai representasi traffic management kelalulintasan, dianalogikan seba-gai pengelolaan perekonomian maka bisa lahir red economic, ke-ekonomian merah. Pengaturan perekonomian yang condong serba larangan, atau sekurangnya pem-batasan. Monopolistik sekaligus proteksionis. Bernaluri menguasai secara hegemonik menggurita, dan menidakkan peluang yang teriming dari luar. Red economic, tragis. Apakah ini kebalikan dari green economic, keekonomian hijau?

Jawa, sebagai sentra ekonomi agro masa Hindia Belanda, paska Perang Jawa, DeJava Oorlog, 1825-1830, terjadi semacam revolusi hijau yang diciptakan sebagai gerakan radikal eksploitasi tanah untuk tanaman perkebunan, penghasil komoditas ekspor, termasuk di tanah-tanah milik kerajaan (vorstenlanden), Surakarta-Yogyakarta. Khususnya, komoditas gula tebu. Sebabnya, kebangkrutan ekonomi kolonial akibat perlawanan rakyat semesta oleh laskar Pengeran Dipongeoro, harus segera dipulihkan. Swastanisasi perkebunan dan penye-waan tanah, melahirkan revolusi hijau dalam arti berkembang pesatnya upaya agronomis dengan berbagai ragam tanaman perkebunan cepat panen. Tidak mengherankan, apabila diskusi mengenai green economy terpeleset ke dalam pemahaman green agro industry, termasuk green agroforestry. Apalagi, sampai sekarang pengelolaan dan pemanfaatan hutan tropis, hutan suaka, maupun hutan tanaman industri, termasuk penghutanan perkebunan, tak kunjung terselesaikan permasalahannya. Ekonomi hijau bukan sebatas ekonomi cocok tanam.

Kembali pada alanogi Bang Jo, hijau sebagai simbol perintah berge-rak. Green economy, pengaturan perekonomian yang condong serba pembolehan, sekurangnya kelonggaran opsional. Antimonopolistik, seka-ligus (tentu) liberal. Bernaluri membebaskan dengan pacuan kompetisi bebas (yang diharapkan saing sehat sanding manfaat) dan mencaplok segala peluang dari mana pun datangnya, kalau perlu sampai melemahkan yang kuat dan mematikan yang lemah. Green economic, tragis pula. Apakah demikian green economy itu?

Tidak. Sebab amsal traffic light bukan analogus yang tepat untuk tata kelola perekonomian. Mungkin, green economy malah patut disandingkan dengan simbol warna filsafati Yogyakarta, ijo pare anom. Warna hijau dominan di antara merah, putih, dan kuning. Hijau atas dasar pikiran kehendak (gatraning sedya) kesejahteraan rakyat dan jaminan kelangsungan hidup (rahayuning gesang). Green economy itu, tata kelola perekonomian jalan tengah, pergerakan pasar bebas yang didasarkan kepada etika kesejahteraan kelangsungan berkehidupan bersama. Bukan monopoli pasar, bukan kebe-basan pasar, melainkan tata kelola perekonomian bebas meraih keadilan pasar, berkeadilan sosial. Ekonomi hijau bukan tata kelola perekonomian a la “Bang Jo” di ruas jalan simpang. Jadi ekonomi hijau itu soal keharusan pilihan ideologis, keniscayaan historis.

PURWADMADI ADMADIPURWA

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVI: Setiap Tahun di Dunia, Hutan Seluas Jawa Hilang

Prof. Dr. Ir. Cahyono Agus DK, MSc, Guru Besar Kehutanan UGM PADA kesempatan ini karena …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *