Beranda » Humaniora » Diskusi Kebangsaan XIV: Dunia Batin Perempuan
(ft. archiveofourown.org)

Diskusi Kebangsaan XIV: Dunia Batin Perempuan

SELIRIA EPILOGUS

INI sebuah catatan pilihan, catatan penghujung dari serangkaian perca-kapan di beranda pergaulan sosial. Seliria Epilogus. Mobilitas sosial, bahkan migrasi sosial yang menyeret hawa sirkulasi kultural, sedemikian mengesan dirakit oleh pujangga Linus Suryadi AG (1951-1999) melalui prosa-lirik legendaris, “Pengakuan Pariyem” –dunia batin perempuan Jawa—(Pustaka Sinar Harapan, 1981). Pariyem, perempuan desa, terbatas dalam banyak hal namun dalam beberapa hal, beberapa saja (tidak banyak), memiliki keunggulan kompetitif. Pariyem berhasil masuk dalam lingkaran priyayi Jawa, dan menempati “ruang hati” para bendara-nya. Relasi sosio-kultural bendara-kawula adalah relasi ruang batin dalam menempatkan diri pada pusaran mobi-litas sosial seseorang.

Pariyem, perempuan yang berjalan di atas titian realitas empiris dan merasai pergerakan sosial melintas ruang-ruang budaya yang homogen namun penuh vibrasi variasi watak dan perilaku dari para bendaranya, kakung dan putri. Dalam pusaran itu, Pariyem bertahta menjadi sumber kawruh Jawa yang ensiklopedik. Dari sisi pasrah sumarah pada keadaan, realitas empirik yang faktual, banyak lahirkan cibiran, Pariyem, gambaran perempuan lemah. Tetapi, dari sisi muntahan pengetahuan hidup dan curahan suasana hati, Pariyem adalah ekspresi kecerdasan perempuan dalam membaca, mengingat, memaknai, dan mengekspresikannya. Tidaklah heran, apabila prosa lirik “Pengakuan Pariyem” sering juga dianggap sebagai ensiklopedi pengetahuan Jawa dari sudut pandang Pariyem. Pariyem yang cerdas, adaptif, dan serba tahu.

Perjuangan perempuan bukan peperangan melawan dominasi laki-laki. Sejak awal perempuan itu setara dan tidak ada niatan mengalahkan, mengungguli laki-laki. Dalam perjuangan perempuan, laki-laki tidak diposisikan secara diametral, berseberangan, berhadap-hadapan, berlawanan. Siapakah yang telah memperlawankan perempuan dan laki-laki? Bukankah mereka pasangan serasi yang menghasilkan isi dunia menjadi pohon silsilah dengan seren-tetan anak pinak?

Kecakapan yang ingin dicapai oleh kesetaraan gender, duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Persoalannya bukan perjuangan merebut kuota posisi sosial-politik, kuota sosial-budaya, apalagi martabat duniawi, melainkan menempatkan diri untuk bersama-sama menjaga dan menyangga marwah kesetaraan itu sendiri. Semua ada ruangnya, semua ada tempatnya, sekaligus semua ada fungsi dan perannya. Seperti Pariyem, memasang jaring pengaman sosial-budaya: menang tanpa ngasorake, kena iwake ora buthek banyune, konfrontasi batin berbahasa hati menembus ruang hati, menebus bayaran kerelaan berbagi. Kerelaan berbagi bukan pemberian sekaligus tidak diminta, karena sudah seharusnya demikian adanya. Berbagi dalam berbagai-bagai hal. Tidak untuk menang atau balas dendam. Menang bukan untuk mendapatkan “pampasan perang”, melainkan “perang budaya” untuk berdamai (baca: sinergis) dengan perjalanan keadaan dan kompromi (baca: solutif) dengan tuntutan perubahan.

Pariyem tentu bukan prototif perempuan ideal. Apalagi, Pariyem ada dalam karya sastra, yang “hanyalah fiksi” (???). Sejak mula harus diyakini atas dasar realitas faktual, setiap perempuan memiliki unikum dan otentisitas personal yang kuat. Unik-otentik. Yaitu, kepribadian ibu. Ibu, induk atau hulu sumber-sumber kehidupan. Paduan naluri, hati, perasaan lembut, dan pikiran jernih. Bukan hanya soal bertahan dalam harmoni hidup, tetapi juga merenda keamanan hidup yang sinambung berkelanjutan. Perempuan penjaga keseimbangan dan kesetimbangan peri kehidupan. Suasana batin, suara nurani, mata hati perempuan: keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. ***

Purwadmadi Admadipurwa

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVI: Mulailah dengan Satu Pohon

Salah satu penyebab terjadinya ban-jir bandang yang merendam rumah-rumah penduduk dan merendam ratusan hektar sawah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *