Beranda » Kesehatan » Dr. Handrawan Nadesul: Di Indonesia, Pendidikan Safety First Kurang Mendapat Perhatian
Dr. Handrawan Nadesul (ft. Ist)

Dr. Handrawan Nadesul: Di Indonesia, Pendidikan Safety First Kurang Mendapat Perhatian

BERITA seorang remaja 18 tahun tewas karena terjatuh dari tebing di Pantai Balangan Uluwatu, Bali, baru-baru ini viral di media sosial, dan mendapat perhatian banyak pihak. Dokter Handrawan Nadesul, penulis buku-buku kesehatan, termasuk salah seorang yang memberi perhatian terhadap peristiwa itu minggu lalu. Dokter yang juga penyair ini dengan cepat menanggapi peristiwa itu melalui akun facebooknya.

Menurutnya, peristiwa itu memberi hikmah kepada kita. Di Indonesia selain besar risiko jatuh sakit, tidak kecil akibat kecelakaan yang sebetulnya tidak perlu terjadi. Untuk itu perlu ada pendidikan safety first. Karena pendidikan safety first akan mendidik anak untuk waspada saat di tepi tebing, agar terhindar dari risiko besar terkena celaka dan musibah.

Dikemukakannya, faktor penentu kenapa di kita rentan kecelakaan, karena pendidikan safety first kurang mendapat perhatian. Kalau mengamati buku pelajaran pendidikan kesehatan tingkat dasar di negara tetangga Singapura saja, misalnya, ada memuat ihwal pendidikan safety first. Bagaimana berjalan kaki dan menyeberang jalan yang benar dan aman, menghindar terjatuh terpeleset, dan aneka kewaspadaan yang perlu ditanamkan menghadapi lingkungan yang berisiko mencelakakan.

Di sana, ungkapnya, penulis buku pendidikan kesehatan tingkat sekolah dasar, seorang PhD, doktor bidang pendidikan. Tengok buku pendidikan kesehatan kita, ditulis oleh guru pendidikan jasmani, atau entah siapa, yang kurang berkompetensi untuk itu.

“Di kita selain bekal anak sekolah rendah saja, ihwal bagaimana membawa diri dan menyelamatkan dirinya agar senantiasa aman, bagian dari skill for life, melihat kondisi lingkungannya pun penuh risiko bermusibah. Di tempat umum, lantai basah dan licin, undak-undakan yang tidak pada tempatnya tanpa pemberi tanda waspada, tempat bermain bagi anak banyak sudut yang mencelakakan, berkendara tanpa pelindung, rasa awas bahaya selama berada dan terdapat di alam, mengenal ancaman gas sebagai pendaki gunung, sehingga banyak kejadian kecelakaan atau musibah telanjur terjadi,” tulisnya.

 

Hati-hati Berjalan di Indonesia

Dokter yang sudah menulis puluhan judul buku tentang kesehatan ini pun menyebut, dalam poster pariwisata dari luar negeri pernah ditulis untuk hati-hati berjalan kaki di jalan raya di Indonesia. Karena di jalan raya manusia sama nasibnya dengan anjing untuk celaka, melihat cara orang-orang berkendara ugal-ugalan selain kondisi kendaraan sendiri yang belum tentu laik jalan. Berapa kali kecelakaan di laut, pesawat udara, selain darat, karena kurang tajam kesadaran safety first. Kelebihan penumpang dan mau saja penumpang tanpa tersedia perlengkapan pelampung, pesawat terbang dibiarkan mengangkut durian melebihi kapasitas, sehingga jatuh waktu lepas landas.

Pendidikan safety first, menurutnya, menumbuhkan kemampuan rasa antisipasi untuk celaka. Misal, meletakkan gelas di meja yang aman supaya tidak jatuh, menempatkan obat yang tidak terjangkau anak, atau wadah bahan beracun ditulis dengan label jelas, dan memasang saklar listrik yang tidak bertumpuk-tumpuk. Tanpa itu kecelakaan keracunan, anak tersetrum, atau kebakaran rumah, semua itu banyak bersumber dari faktor kelengahan kelalaian tersebut.

Kalau wawasan dan bekal pendidikan safety first diberikan di sekolah, ia yakin, anak cerdas siap berhadapan dengan kondisi alam yang berisiko mencelakakan dirinya. Anak cerdas berkendara yang benar, pejalan kaki yang benar, dan penumpang angkutan umum yang benar. Bahkan juga membuat kita menolak jadi penumpang berlebih, jadi penumpang kapal laut yang berlebih, atau pesawat terbang yang tidak laik terbang, karena punya wawasan dan rasa antisipasi yang tajam akan hal itu.

 

Wajib Diberikan

Dr Handrawan Nadesul, motivator kesehatan yang populer dan sering tampil di berbagai kota, termasuk beberapa kali di Yogyakarta, menekankan ketidak-benaran anggapan yang menyatakan kebiasaan mengebut dengan tidak mengebut nasibnya akan sama saja, toh, kalau memang mau mati di rumah pun bisa mati juga. Menurutnya, anak yang dididik safety first tidak akan berlogika begitu. Yang ngebut tentu lebih berisiko kecelakaan dibanding yang tidak ngebut. Yang ugal-ugalan di jalan raya lebih berisiko celaka dibanding yang tertib.

“Soal ajal dan maut itu bukan urusan manusia, tapi bagaimana sekecil mungkin menghadapi risiko celaka dan kematian, itu tugas dan kewajiban manusia. Semacam seleksi alam kalau anak masih kecil masih belia mati hanya karena kecelakaan, karena mestinya tidak perlu terjadi. Yang kurang pendidikan lebih berisiko dan rentan menghadapi risiko celaka dan meninggal. Ini pandangan medis yang melihatnya secara statistik, sebagaimana orang yang cerdas hidup sehat lebih sedikit dan jarang jatuh sakit serta mati muda dibanding yang hidupnya selebor dan tidak tertib mematuhi kaidah kesehatan,” urainya.

Ia berpendapat, kurikulum “Safety First” wajib diberikan untuk membekali setiap anak. Tanpa bekal itu sampai dewasa kurang rasa waspadanya, rasa antisipasi kecelakaannya, sehingga besar risiko terkena kecelakaan, dan musibah yang menurut pandangan medik sebetulnya tidak perlu terjadi, kalau ada ikhtiar untuk memberikan bekal.

Menurut dr Handrawan, ilmu kedokteran melihat kecelakaan dan kematian yang diakibatkan oleh rendahnya wawasan safety first sebagai kekonyolan. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

MENYONGSONG DISKUSI KEBANGSAAN 17 PWS: Seandainya Pancasila sebagai Etika Berpolitik

GLOBALISASI berdampak buruk bagi negara yang belum berkembang. Tidak saja bagi perkembangan ekonomi, juga martabat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *