Kamis , 17 Januari 2019
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XXI: Dialog

Diskusi Kebangsaan XXI: Dialog

Totok Sudarwoto: Kembali ke Pendidikan Moral Pancasila

Bicara tentang pahlawan, Bapak Idham menyebutkan persis 173 pahlawan Indonesia, yang perempuan hanya 13. Kenapa generasi milenial kurang mengenal pahlawannya. Ini pertanyaan yang luar biasa bagus. Kurang mengenal juga bahkan kurang tertarik. Ini sebetulnya salah siapa? Pertanyaannya. Ini sebetulnya salah. Adalah salah yang menga-takan guru itu adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Ini salahnya. Mereka generasi milenial ini sangat menghormati guru, digugu dan ditiru. Itu saja tidak diberikan tanda jasa. Tidak ada jasanya kok. Kita disuruh mengenal pahlawan-pahlawan. Nah pertanyaan selanjutnya ya, sebetulnya Indonesia mempunyai berjuta-juta pahlawan. Siapa itu. Mereka generasi milenial akan mengatakan dan akan setuju, kalau ibu itu adalah pahlawan keluarga. Ibunya, ibu kita. Itu adalah pahlawan keluarga.

Ada yang berani mendebat. Tidak mungkin karena, surga saja di telapak kaki ibu, itu yang pertama. Kemudian saya langsung ke solusi saja. Karena banyaknya yang bertanya. Solusinya adalah yang pertama, tentu harus ada revolusi di bidang pendidikan. Revolusi, banting stir kembali ke pendidikan moral Pancasila, dengan segala aspek dan permacamannya. Kembali ke pendidikan moral Pancasila, bukan hanya moral lho berarti ya. Ya kalau ilmu ya ilmu yang berpancasila, dan sekarang Pancasila tidak lagi harus didiskusikan. Ini saya katakan di forum diskusi kebangsaan di Bintaran. Sekarang ini Pancasila hanya satu, perlu diimplementasikan, sudah ndak perlu lagi didiskusikan tentang Pancasila. Dengan implementasi itu berarti harus mengubah idiom bahwa guru sebenar-nya, sejatinya adalah pahlawan yang berjasa. Jadi guru adagiumnya adalah pahlawan yang berjasa, itu yang pertama. Dengan konsekuensi logis kita harus kembali ke pendidikan moral Pancasila.

Yang kedua, dan ini yang terakhir, perlu diciptakan pahlawan-pahlawan pembangunan masa kini. Saya tidak mengatakan bahwa pahlawan pembangunan. Saya adalah pencipta lukisan prasasti yang kita berikan di istana terhadap Presiden Suharto. Saya yang membuat itu. Lukisan prasasti pahlawan pembangunan, lepas dari Ibu Bapak setuju atau tidak waktu itu. Menyejahteraan masyarakat waktu itu. Bukan sekarang yang ada di truk-truk, lho isih kepenak jamanku to, itu bukan. Itu waktu itu. Lalu diciptakan pahlawan-pahlawan pembangunan masa kini yang berorientasi menyejahterakan masyarakat. Dan itu di setiap lini kehidupan dan di setiap generasi, Generasi muda, generasi milenial itu luar biasa dengan pahlawan-pahlawan membawa nama Indonesia yang catur putri kemarin, itu pahlawan, dan sebagainya.

 

Suranto: Perlu Rumusan Baru Kepahlawanan

Memang tampaknya perlu ada perumusan kepahlawanan yang baru. Jadi itu kan sudah habis, calon perang. Saya kira untuk jaman ini perlu ada perumusan baru, tapi dengan catatan ada standarnya yang jelas. Standar tidak hanya rumusannya, tapi juga konsekuensinya. Seperti tadi telah disampaikan ada pemberian gelar-gelar kehormatan, ada satya lencana, kalau kebetulan saya di koperasi, ada bakti koperasi, ada yang lebih tinggi lagi ada. Kalau bakti koperasi dari menteri. Cuman konsekuensinya masih belum standar.          Artinya tiap-tiap departemen atau kementerian itu berbeda-beda. Sebagai contoh ada salah satu kementerian yang memberikan penghargaan dengan konsekuensi tidak hanya bintang atau piagam, tapi juga semacam dana untuk pembinaan, sebagai ganti jerih payahnya. Tapi di kementerian lain ada lagi yang berbeda. Jadi diberikan, ada undangan resmi, undangan diharap hadir, kebetulan saya ngalami dan beberapa rekan yang sebelum saya juga, cukup jauh, Makassar, untuk menerima penghargaan, tapi ada catatannya, akomodasi dan transport ditanggung sendiri. Kalau gak berangkat kok ketoke gak menghargai, tapi kalau berangkat kok rekasa. Itu kenyataan. Saya akhirnya diskusi dengan dinas, kok isa ngene iki piye? Akhirnya dari hasil diskusi, ternyata karena ada kesalahan persepsi, tapi karena tidak standar tadi, antar kementerian berbeda.             

Jadi di sana ada pejabat-pejabat, baik itu kepala daerah maupun kepala dinas yang menduduki bidang koperasi, itu baru duduk berapa bulan sudah diberi penghargaan mendapatkan bakti koperasi. Maksudnya politis, supaya peduli kepada koperasi, tapi akibatnya tadi, yang betul-betul berjuang di lapangan itu malah tombok, terlantar. Rumusannya nanti tolong bisa dijabarkan, tur bintangnya sama, piagamnya sama, cuman konsekuensinya yang berbeda. Dengan begitu nanti orang tidak ragu-ragu, oh memang ya itulah perhargaan. Tapi kalau berbeda-beda jadi bertanya-tanya.

Jadi sekali lagi rumusan sangat perlu untuk standar. Kemudian untuk yang sejarawannya tolong itu diperjuangkan bagaimana untuk ilmu sejarah itu bisa diajarkan kembali karena sangat penting untuk generasi yang akan datang, tidak hanya yang tua, yang muda perlu tahu, karena saya cari buku sejarah susah sekali. Loh golek buku sejarah angel. Bukunya saja sudah susah, walaupun bisa saja nanti lihat di internet gih. Kemudian satu lagi, sejarawan tolong mengajak atau memberikan semacam nasihat atau bagaimana supaya milenial itu juga bisa mengembangkan nilai-nilai pahlawan, dengan modelnya. Jadi kalau dengan gadged ya mestinya nilai-nilai budaya Indonesia itu bisa diwujudkan dalam bentuk-bentuk yang medsos gitu ya. Jadi tidak hanya impor dari asing terus. Satu contoh kalau pewayangan itu mestinya bisa masuk. Satu lagi saya terkesan dengan cerita-cerita kepahlawanan seperti Mahesa Jenar Nagasasra Sabuk Inten. Itu luar biasa, alurnya jelas. Dari kondisi yang sedemikian rupa, artinya dia bisa memberikan jasa yang luar biasa. Saya cari bukunya susah. Saya tanya ke KR, cuman jilid dua yang ada. Jilid satu dan tiga ndak ada, sudah habis katanya. Ha ini mestinya kalau diwujudkan dalam bentuk medsos bagus sekali. Ini tugas para sejarawan untuk bisa merangkul milenial untuk bisa memahami unsur-unsur kepahlawanan.       

 

Bambang Widodo: Pancasila bisa Mendunia

Saya akan mencoba untuk mengingat tiga bulan yang lalu, oh ya nama saya Ki Bambang Widodo dari Barahmus DIY. Tiga bulan yang lalu saya menghadiri Kongres ke-10 Pancasila di UGM. Tanggal 23 Agustus, temanya Pancasila sebagai Ideologi Pemersatu Bangsa dan Dunia. Pembicara antara lain ada dua, Prof Dr dari luar negeri ada dua orang, memang mereka mengakui benar bahwa ideologi Pancasila itu bisa untuk dunia. Bapak Ibu sekalian, saya tertarik yang dikemukakan oleh ketua panitia kongres bahwa tantangan berat terhadap posisi Pancasila sebagai ideologi Pancasila, itu untuk internalnya, kajian lembaga pertahanan nasional tahun 87 bahwa gatra Indonesia ideologi berada, maaf gatra ideologi berada dalam posisi kurang tangguh. Kemudian untuk eksternalnya, masuknya ideologi asing telah sampai di tingkat yang mengkhawatirkan. Yang ketiga ini kebetulan generasi milenial kurang memahami.

Ini saya kemukakan, hasil kajian di kalangan mahasiswa, dikemukakan 23,5% setuju dengan ISIS, 16,8% tidak setuju Pancasila sebagai ideologi bangsa. 17,8% setuju bentuk negara khilafah. Kemudian 23,4% siap berjihat untuk mendirikan negara khilafah. Ini sangat memprihatinkan generasi milenial, karena ini hasil kajian di kalangan mahasiswa. Dan ini tidak hoax, benar-benar. Jadi sebagai landasan penyelengaraan Kongres ke-10 yang dihadiri oleh 400 orang yang lalu. Tapi yang menyejukkan bagi kami salah satu pembicara kunci adalah Menteri Luar Negeri kita, beliau menyatakan bahwa Indonesia tidak akan berada dalam kondisi seperti ini tanpa Pancasila. Kemudian diplomasi Indonesia juga tidak akan kokoh berdiri tegak di antara bangsa di dunia tanpa Pancasila. Jadi apa yang sekarang kita hadir ini betul-betul memantapkan kita, memang Pancasila itu memang harus kita rawat, bagaimana generasi kita betul paham tentang Pancasila.

Simak juga:  Tidak Tega

Oleh karena itu ada beberapa usulan saya pada kesempatan ini, pertama, memang negara harus hadir, Pancasila harus tetap menjadi satu-satunya azas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tadi juga diusulkan Pak Suranto, memang pendidikan sejarah dan ilmu bumi Indonesia harus terus diajarkan di dalam kurikulum sekolah, karena Indonesia dibangun berdasarkan kemajemukan. Tadi juga sudah disampaikan oleh Bapak Idham Samawi bahwa Indonesia ini luar biasa. Kemudian yang selanjutnya, saya ingin yang terakhir, implementasi penguatan pendidikan karakter bangsa yang dijiwai oleh Pancasila, ini adalah amanat dari Peraturan Presiden No 87 tahun 2017, yang sekarang baru diimplementasikan di sekolah-sekolah. Di sekolah-sekolah itu pendidikan dasar sampai menengah. Mari kita bagaimana agar remaja generasi milenial ini semakin tahu tentang Pancasila, nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Nilai gotong-royong, rela berkorban, cinta tanah air, dan sikap patriotik kepahlawanan. Jadi yang saya garis bawahi kalau kita bisa membela Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, dan UUD 1945, saya kira generasi milenial itu juga sudah merupakan pahlawan di era milenial ini.

 

Ridwan: Perlu ada Gerakan Mencintai Pahlawan Lokal

Nama saya Ridwan. Saya dari penggerak dan penggiat sejarah di Jogja paling timur. Di daerah Monumen Plataran yang ada di sisi Jogja paling timur yaitu di daerah Selomartani, kampung Plataran. Saya hanya ingin menyampaikan mungkin tadi yang disampaikan oleh para narasumber. Memang sangat miris sekali, di mana adik-adik kita gerenasi milenial itu, bagaimana untuk menyikapi, bagaimana untuk meneladani apa yang sudah pahlawan kerjakan untuk bangsa ini.

Nah ini dari kami sekelompok masyarakat kecil mencoba untuk membuat sebuah terobosan di mana kita mengajak semua masyarakat mungkin dari elemen pendidikan maupun elemen masyarakat yang notabene tidak pernah hormat bendera, kita dari awal tahun 2014 sampai tahun 2018 terakhir ini, kita mengajak para generasi dan juga para petani yang tidak pernah hormat bendera di 17 Agustus, kita wadahi, kita punya Monumen Plataran di Selomartani. Nah seiring sejalan dengan adanya kegiatan kita yang kita gulirkan dari sekelompok masyarakat RW peduli dan kecintaannya kepada NKRI, akhirnya gerakan kita ini semakin hari semakin menunjukkan hasilnya walaupun dengan susah payah ada sesuatu yang bisa kita berikan dan tularkan.

Mungkin saat ini kita bisa membuat sebuah kelompok penggiat sejarah namanya Pleton Z, sedangkan Pleton Z ini adalah pletonnya Pak Husein, karena beliau bertempur di Monumen Plataran sampai akhirnya ada yang kepenggal kepalanya, untuk apa ya, istilahnya berbakti kepada negara ini. Nah yang ingin saya sampaikan, yang juga ingin saya tanyakan, apakah para pendahulu kita ini, termasuk mereka-mereka yang gugur di Agresi Militer II termasuk pertempuran di Plataran ini, bolehkah kita untuk meneladani itu, terus paling tidak, kita mengangkat apa yang mereka berikan kepada bangsa ini, termasuk sampai susah payah berjuang untuk negara ini dan kita dari kelompok Pleton Z ini memang sudah 2 tahun ini mencoba sudah membuat sosiodrama.

Sosiodrama ini adalah sesuatu yang bisa kita sampaikan, mungkin kita berharap kepada Bapak-Bapak wartawan sepuh ini untuk nantinya kita bisa bekerjasama. Jadi mungkin kalau sosiodrama yang kita tampilkan ini bisa menarik, mungkin bisa apa ya, istilahnya bisa dilihat sangat menarik untuk generasi, saya rasa juga bisa nanti, mungkin muncul di sektor Sleman Timur itu pertempuran di Plataran, mungkin nanti ada di Rejodani, mungkin sampai ke mana-mana kita buat, jadi masyarakat nanti ada sebuah edukasi kreatif, di mana adik-adik kita nanti juga bisa membuat seperti itu. Itu satu Pak.

Yang kedua, apakah ada saran kita ini dari masyarakat kecil, dari Pleton Z ini menginginkan sebuah tetenger dalam artian biar ada juga tetenger mungkin mereka-mereka yang meninggal di Monumen Plataran ini mereka juga pahlawan. Bolehkah kita membuat tetenger, mungkin sebuah patung, mungkin di sebuah jalur daerah Selomartani itu kan sudah bagus. Ada baiknya dibuat sebuah patung di yang sekarang namanya Jalan Letda Sasanto, nah bolehkah kita menaikkan sebuah patung beliau itu agar bisa menjadi tetenger, nama jalan, termasuk jalan Abdul Jalil juga seperti itu.

 

Sutomo Parastho: Perlu Reformulasi

Yang pertama, tentang pahlawan, mungkin itu perlu reformulasi. Kalau pahlawan awal itu bagaimana menuju republik dan menuju kemakmuran, nah sekarang mungkin karena sudah terjadi republik, mestinya yang kemakmuran itu yang menjadi elemen kuncinya.  Kesejahteraan, jadi kuncinya itu. Kemudian yang kedua, saya sendiri juga mempunyai problem yang sedang saya buat, memang saya proses, itu tentang tadi Bapak Widodo itu, jadi saya itu berusaha membuat, sekarang Lembaga Studi Ketuhanan. Ternyata saya pelajari Qur’an sama Pancasila itu klop. Sudah ada bukunya, saya buat buku kecil-kecil untuk bahan diskusi. Tapi Qur’an untuk Qur’an ya. Jangan Qur’an ke Hadits. Kalau ke Hadits itu sudah kelompok nabi dan itu membuat konflik. Tapi saya juga hati hati, karena formulasi saya tidak paham bahasa Arab.

Tapi dari Jawa, Jawa itu kan manunggaling kawula gusti, bagaimana bersatu dengan Tuhan. Itu contohnya Khidir, misalnya. Ini juga saya diantemi orang, karena saya, literatur yang banyak dipakai itu kan Al-Qur’an. sehingga saya harus mengembalikan itu semua kepada Al-Qur’an. Jadi ceritanya kalau ilmu Jawa ini Gusti Allah tapi literaturnya  Arab. Kenapa demikian, karena Gusti Allah itu keras. Konfliknya keras. Jadi kalau bikin contoh lebih gampang. Jadi isi Jawa tapi literatur Arab. Dan itu Pancasila konstruksine masuk semua. Tidak ada yang bergeser.  Mungkin waktu itu fresh ya. Jadi ketika kita masuk dengan hadits-hadits itu kacau semua. Banyak kacaunya daripada baiknya, lha itu saya mencoba  untuk mentransfer itu. Jadi berupa buku-buku kecil yang nanti bisa didiskusikan, bisa menghambat ekstrim-ekstrim, karena musuh kita kan, problem dinamika kita itu, wacana itu memang harus dibuka. Tadi yang pertama wacana memang harus dibuka, tapi kita harus punya tuntunan, begitu. Kalau wacana dibuka gak ada guiding ya kacau semua. Lha itulah yang sedang saya rumuskan. Jadi seperti Ketuhanan YME itu mbukak semua. Bapak bicara kebangsaan itu hanya masalahnya, coba saya sampaikan ya, manusia itu kan asalnya satu. Dari Nabi Adam dan Hawa. Masalah bangsa itu kan karena lokal yang membatasi to. Lokal itu bisa rendah, jadi suku karena ada keturunan, bisa lokal wilayah jadi bangsa, dunia menjadi internasionalisme, semua ada. Satu dan tujuan siapa, interaksi karena kapasitas manusia kecil, ilmu Allah luas, sehingga orang itu tidak bisa hidup sendiri sendiri. Ndak bisa. Harus ada interaksi tolong-menolong. Itu clear kalau Qur’an memang saya agak heran. Yang dekat dengan Qur’an kok malah gontok-gontokan, yang jauh kok malah bisa hidup damai. Jadi mungkin ada miss interpretasi atau interpretasi kita yang harus diubah. Jadi kembali ke pembicaraan masalah tadi, tentang Pancasila, kelihatannya kita harus masuk dengan di dalam Al-Qur’an. Nah terserah generasi milenial kan juga ada wacananya dari sana, biasanya begini, kalau generasi muda masuk di dalam satu kelompok, pengalaman saya ketika jaman G 30 S itu, di kamp itu akhirnya jadi fanatik, fanatik betul karena hanya diisi dengan paham itu kan.

Simak juga:  Pemimpin-28

Wacananya kan tidak terbuka. Itu kan gawatnya di situ. Dengan demikian kita harapkan kita tambah terbuka dan dengan keterbukaan itu akan terjadi toleransi, dinamika kita jalan dan dari situ kita maju. Dan kalau lihat konstruksi Qur’an itu tidak, perang itu kalau diperangi lho konsepnya. Konsep Gusti Allah itu hebat betul. Sebetulnya manusia seluruh manusia itu bertuhan ya. Interaksine apa? Kita itu berinteraksi, tidak boleh memaksa. Sebab apa? Sebab konsekuensi dosa itu ditanggung secara individual. Jadi tidak ada orang tua bertanggung jawab punya anak itu gak ada. Jadi hidup manusia itu harus tolong-menolong. Perang memang perlu diperangi. Tetapi kalau diperangi kita harus mempunyai identitas. Ya nek gelut ya gelut tenanan. Aja mundur. Tapi tidak merangi, karena konstruksinya adalah menumbuhkan kepribadian manusia. Itu konstruksinya begitu. Lha kok malah dadi perang. Saya masih menumbuhkan jalan pikiran, dan mengapa saya mengambil Al-Qur’an itu, karena itu rujukan yang banyak dipakai. Karena kalau saya cerita yang lain, dengan Jawa, Jawa itu dasarnya apa, karena orang ilmiah kan perlu rujukan. Dan salah satu rujukan adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an itu saya anggap sebagai rujukan sama sama dengan literatur yang lain. Ya kalau kita kudu percaya macem-macem ya mosok Qur’an ra percaya, gitu. Kan sama levelnya. Hanya orang-orang lebih memuliakan. Tapi kuncinya sama. Jadi sebetulnya kehidupan itu, sejahtera itu bukan karena pemimpin, karena individunya itu sudah mempunyai kepribadian yang kuat. Iman dan bertakwa, konsepnya itu.

Bagaimana kita membangun kepribadian, ya itulah bagaimana Pancasila ditransformasikan di dalam Al-Qur’an, di dalam Injil, itu akan menjadi lebih masuk, tidak lepas gitu ya. Ini kan lepas rada menjadi interpretasi yang agak berbeda. Tapi kalau itu dimasukkan ya, seperti ayat-ayat musyawarah itu pada ayat 42, ayat 30, kemudian tolong-menolong ayat 5, ayat 2, nah kalau itu terintegrasikan, maka itu akan sus, ha inilah yang saya usahakan dan saya bisa memahami dialog-dialog itu. Tapi ini memang sulit Pak. Kalau belajar dari sekolahan. Ini harus pengalaman empirisnya kuat. Kalau kurang empiris, itu berat. Saya berani berdebat karena ini empiris. Saya kuat karena dari dulu mesti konflik. Dan saya mesti kalah. Rata-rata kalah. Tetapi kalah itu bukan musibah. Tetapi di balik kekalahan itu ada pelajaran bagi dirimu. Jadi perjalanan sejarah ini sebetulnya Indonesia itu tidak akan sulit kalau mau belajar dari kesalahan. Tapi kita ini problemnya gak mau belajar dari kesalahan. Asal salah trus ganti persneleng ta? Tidak continuity development itu saya kira kurang. Reformasi terus ganti, gitu kan. Tidak seneng ini ganti gitu. Tapi kesalahan yang lalu itu sebetulnya di mana, kita pelajari kemudian dari situ kita naik. Kalau kita bolak-balik jumping, pindah sini, pindah sana, pendidikan tidak dipelajari mau ganti lagi kurikulumnya, ndak ada apa ya, continuity progress.

Mungkin ini kesalahan-kesalahan yang perlu kita generasi tua untuk mawas diri dalam melihat keadaan, semacam ini. Jadi continuity progress itu di kita ndak ada. Itu jumping, begitu Pak Harto salah, kabeh dibabat, diganti. Habis itu reformasi dirobah kabeh. Jadi tidak apa ya, progress steppingnya itu kurang. Nah mudah-mudahan dengan kebangsaan kita mulai bangun sebagai diskusi. Saya sendiri memang diejek orang, lha kok kowe nggawe Lembaga Studi Ketuhanan= Kamu bikin lembaga Ketuhanan., Sebetulnya apa, kita itu karena pernah kita itu khalifah di dunia. Saya itu wakil Gusti Allah di dunia.. Jadi konstruksi bertuhan itu hukumnya hukum dunia. Karena semua orang itu fungsinya di situ. Jadi itulah kira-kira bayangan yang dapat saya sampaikan mudah-mudahan bisa bermanfaat.

 

Kesimpulan moderator Indra Tranggono: Kepahlawanan Bersifat Kontekstual

Ada beberapa hal yang bisa saya sampaikan. Yang pertama adalah bahwa kepahlawanan itu bersifat kontekstual, terikat dengan tantangan dan kebutuhan masyarakat setempat dan bangsa. Pada masa pergerakan, kepahlawanan akan dimaknai secara heroik melawan kolonialisme, kemudian setelah itu kepahlawanan dituntut dalam konteks yang berbeda, bagaimana menyejahterakan.

Kemudian sebagaimana sekarang kita memaknai kepahlawanan secara milenial atau di jaman milenial, tentu saja dibutuhkan rumusan-rumusan baru, pandangan-pandang-an jauh yang lebih luas dan kompleks, terutama terkait dengan era digital. Bagaimana sebuah jaman yang begitu melesat dan membikin sebuah bangsa bisa jadi bisa tergelincir. Kalau tidak memiliki pondasi yang kuat. Maka dibutuhkan, kalau kita melihat diskusi ini secara ke depan, generasi mudalah yang perlu disamakan, tentu dengan catatan ada yang disebut keteladanan. Keteladanan itu sangat penting, kemudian adanya peluang atau partisipasi bagi anak-anak muda dan kemudian agar ruang-ruang ekspresi yang dibutuhkan.

Anak muda itu sekarang dalam sebuah riset, itu dibagi menjadi dua. Yang pertama adalah yang mereka, yang dekat dengan agama itu cenderung menjadi fundamentalis, kemudian yang tidak dekat dengan agama akan menjadi hedonis. Pertanyaan kita adalah di mana anak muda yang nasionalis.

Lihat Juga

Pemimpin-42

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *