Minggu , 16 Desember 2018
Beranda » Humaniora » Diskusi Kebangsaan XX: Dialog
Searah jarum jam kiri atas: Anik Yudhastawa, Cahyana Indra Purnama, Halidah Nabila, Totok Sudarwoto (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan XX: Dialog

Halidah Nabila: Menolak Pengaruh Budaya asing

Saya dari Universitas Indonesia, pada konferensi di Bandung, pada bulan Januari 1952, Muhammad Hatta pernah mengatakan bahwa jika kita dihadapkan kepada budaya asing, ada baiknya kita mengambil intisari yang baik dan meninggalkan yang buruk. Jika dikaitkan dengan Indonesia pada saat ini, kita tahu bahwa media sosial digunakan untuk menyebarkan informasi secara luas, bahkan antar negara. Pertanyaannya adalah apa langkah pemuda untuk tidak terpengaruh oleh liberalisme Barat yang sangat tidak baik bagi Indonesia. Apakah kita harus bergantung kepada pemerintah untuk menyensor konten-konten yang berbau liberalisme Barat dan tidak melakukan hal lain secara pribadi, terutama bagi pemuda, sekian terimakasih.

 

Anik Yudhastawa Mangunsarkoro: Pancasila tidak Disukai Asing

Mungkin kami ingin juga bertanya dan berkomentar kepada ketiga pem-bicara yang kami hormati. Suatu saat kami mengikuti kongres Pancasila di UGM. Ada seorang pembicara Prof. Wuryadi dari UNY, menyampaikan bahwa Negara Indonesia dengan Pancasilanya ini sebetulnya sangat tidak disukai oleh pihak luar. Karena dengan Pancasila, mereka tidak bisa masuk ke Indonesia dengan modalnya. Dan pada waktu Bung Karno dengan Konferensi Asia Afrika (KAA) yang kemudian menyatukan negara-negara berkembang, ini para pihak kapitalis tidak menyukai. Karena Indonesia kompak dengan satu filosofi, maka mereka akan tidak bisa masuk seenak-nya.         

Nah kemudian dengan adanya KAA kemudian Komifo, Ganefo, kemudian pidato Bung Karno di PBB mengenai Pancasila semakin menjadi satu yang mereka sangat tidak sukai dan Bung Karno dibom pada waktu di sekolahnya Mas Guntur dan Mbak Mega di Cikini, dan tahun 1964 dibom pada waktu beliau sholat di istana merdeka, tapi ternyata bisa lolos. Kalau penjajahan dulu dengan VOC, berikutnya tidak perlu ada lembaga, lembaga yang kemudian berdiri di Indonesia, tetapi cukup pola pikir kita diubah. Nah ini siapa yang berada di belakangnya? Menurut Prof Wuryadi adalah the builder brother, jadi tidak kumpulan bangsa tetapi kumpulan orang per orang yang bisa menguasai dunia. Dengan demikian mereka kemudian memberikan satu rencana. Tahun 65 Sukarno harus turun, hidup atau mati. Nah terjadilah. Kemudian Bung Karno mengatakan tulisan kepa-da Bapak Maharmarjono, salahku iki apa? Nek aku dianggep Komunis, sing brontak Komunis, logikane neng ngendi, kok Komunis brontak Komunis. Nah kemudian setelah itu terjadi, Kwik Kian Gie itu menjadi Kepala Bappenas, menyatakan di Tamansiswa bahwa setelah tahun 67 Indonesia itu sudah habis. Karena sudah dikapling-kapling berbagai negara. Nah ini nampaknya memang satu runtutan konsep yang kemudian ingin menguasai Indonesia kembali namun dengan tata cara antara lain yang kemudian oleh Prof. Wuryadi yang juga ketika itu Ketua Dewan Pendidikan Yogyakarta, bahwa kurikulum Pancasila itu ditipiskan. Kurikulum Sejarah ditipiskan, kuri-kulum Geografi Indonesia ditipiskan. Kurikulum Budi Pekerti ditipiskan. Nah akibatnya ya sekarang ini. Nuwun sewu, mungkin Mas dari BEM ini juga merupakan satu akibat, itu memang satu strategi dari mereka supaya Pancasila itu tidak dipahami dan juga generasi muda tidak memahami keindonesiaannya, sehingga kita mudah diadu domba. Ternyata di Yogyakarta termasuk ada program, yang kemudian anak kecil diantemi dan sebagainya, klithih, dan ternyata itu memang juga satu skenario. Untuk ini kami nyuwun priksa bagaimana pendapat dari Bapak-Bapak dan juga Mas, bahwa kita sekarang ini tidak hidup bebas di negara kita sendiri, tetapi diatur oleh orang lain dan nuwun sewu G30S/PKI siapa yang berada di belakangnya, saya kira di dalam tulisan sudah jelas CIA, FBI dan sebagainya. Dan nampaknya ini juga akan diberlakukan G30S ke-dua mungkin, atau hanya saya yang bodoh ini, apa memperkirakan, waktu itu Bung Karno di-PKI-kan, sekarang Presiden yang ada juga di-PKI-kan.

Simak juga:  Ada yang Tahu Suku Akit, Bali Aga dan Bgu?

 

Cahyana Indra Purnama: Semangat Gotong Royong Harus Digelorakan

Saya senang Mas Obet dalam pang-gilannya sebagai Ketua BEM Gadjah Mada, Universitas Kebangsaan. Saya Cahyana Indra Purnama kebetulan juga senang belajar bersama anak-anak muda, dan khususnya karena saya pernah ditugasi untuk ikut mendampingi mahasiswa-mahasiswa bidang maritim maka saya tertarik untuk menekankan makna maritim bagi anak-anak muda sekarang. Indo-nesia sebagai bangsa Maritim dikenal tidak hanya pada jaman kemerdekaan, juga jauh sebelumnya menjadi bangsa Maritim yang melanglang buana. Tetapi kenyataannya pemahaman maritim itu sedikit sekali. Kita masih melihat maritim itu hanya menangkap ikan, perahu atau membuat apa, tapi sebetulnya tidak hanya itu. Indonesia sebagai bangsa maritim itu juga bisa menempatkan posisinya bahwa di negara yang berupa kepulauan yang dua pertiganya adalah lautan dan posisi kepemilikan hutan sudah mero-sot itu sebetulnya merupakan bagian dari PR sebagai bangsa maritim. Indonesia sebetulnya dengan kondisi kekayaan laut dan daratnya yang besar, perlu digugah, perlu dipahami oleh kaum muda agar menjadi suatu tantangan yang mengasyikkan.

Nah di sana dibutuhkan pemikiran yang kolaboratif, yang bahasa Jawanya gotong-royong, agar menyongsong Indonesia ke depan mewujudkan Indonesia tetap menjadi poros dunia juga dalam posisinya sebagai jantung atau paru-paru dunia. Kita punya hutan tropis yang sekarang ini tidak berfungsi tetapi sebagai negara maritim itu harus kita pulihkan. Indo-nesia harus dijaga keutuhan lautnya agar bangsa kita juga menguasai teknologi lautan, bisa untuk tenaga listrik, bisa untuk tambang dan juga bisa untuk hasil lautnya yang sekarang ini masih cukup banyak dicuri secara diam-diam di Samudera Hindia pada khususnya. Mohon kira-kira nanti di dalam programnya Mas Obet di Gadjah Mada, saya juga lulusan Gadjah Mada juga Mas, jadi saya senang anda bisa mewarisi sifat kerakyatan di Indonesia. Kita dipanggil di Indonesia itu adalah untuk mewujudkan keindonesiaan yang seutuhnya. Mengapa kita ada di Indonesia, karena memang kita diutus menjadikan Indonesia itu maju dengan seluruh bangsa di dunia, terimakasih.

 

Totok Sudarwoto: TNI dan Mahasiswa perlu Bergandeng Tangan

Saya berbahagia hari ini ada pre-siden BEM UGM. Saya juga dulu ketua dewan mahasiswa ASRI. Jadi sudah biasa mengatur pemberontakan-pemberontakan para seniman. Kalau anda kan anak buahnya mahasiswa ya, saya seniman-seniman. Jadi begini, saya bukan menyayangkan tapi agak gela atas pernyataan presiden BEM UGM tadi, yang seolah-olah sekarang ini siap berkolaborasi tetapi maaf ya, dalam tanda petik seolah-olah menunggu. Tidak action langsung, solusi kebangsaan sekarang itu bagai-mana. Jelas sekarang semua orang bilang gaduh. Kenapa tidak datang ke istana satu meja dengan presiden memberikan solusi. Ini untuk bangsa sekarang ini, ini sebetulnya. Jadi tidak menunggu dan anda pasti sangat bisa. Apalagi presiden BEM di UGM ini adalah benteng Pancasilanya Indonesia. Itu yang pertama. Yang kedua, saya masih gelisah. Gelisah saya pada diskusi bulan lalu, untuk pemilu yang akan datang ini saya sudah menulis agar 2019 tidak ganti Pancasila. Karena ada segolongan yang mengimpikan lewat pemilu yang akan datang ini, itu sebagai sesuatu yang konstitusional untuk mengganti sistem. Ini bahaya.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XII: Jalan Wayang adalah Jalan Kebangsaan

Terus terang saya kemukakan seka-rang, ini sangat berbahaya, bahaya laten. Oleh karenanya sebetulnya maaf kepada Pak Kadi, tadi saya kepengin sebetulnya Bapak bicara tentang bagaimana sekarang peranan TNI. Setiap perebutan kekuasaan revolusi di manapun ada dua yang memegang, yakni tergantung TNI dan generasi muda/mahasiswa. Itu kuncinya. Nah sekarang ini masih bagus karena inde-pendensinya, itu. Jadi kami sebetulnya masih mengharapkan independensi dari mahasiswa yang tidak terkooptasi oleh politik-politik praktis dan TNI sebagai penjaga NKRI, ini tetap ber-kolaborasi di dalam mencari solusi kebangsaan. Terakhir ada 3 yang mengkhawatirkan kami, pertama, faktor penyeimbang pers, sekarang pers sudah terkotak-kotak. Pers sekarang sudah terkapling-kapling di tangan penguasa dan pengusaha. Jadi independensinya tidak bisa lagi untuk komparasi. Maaf ya Bapak-Bapak wartawan sepuh. Kalau wartawan sepuh masih, Mas Oka jangan khawatir. Yang kedua, nuwun sewu Pak Idham, sekarang ini banyak politikus sontoloyo, ya, maaf. Saya tidak akan mengatakan siapa, yang setiap harinya itu berdiskusi, rapat untuk mencari kesalahan lawan. Sehingga sekarang itu membuat gaduh. Bukan solusi kebangsaan, bukan pro-gram bagaimana yang akan datang itu. Maaf ini karena gak ada GBHN, jadi pemilu kaya ngapa, sakarepe dhewe. Paling-paling hanya menjalankan visi dan misi presiden. Sekarang itu hanya menjalankan visi misi presiden. Karena tidak ada garis-garis besar haluan negara, maka kacau-balau. Yang ketiga, saya itu gumun, kenapa ya teman-teman Pak Idham di Senayan itu menyetujui KPU yang kampanye kok berbulan-bulan. Itu di dunia ndak ada. Sehingga saya khawatir, sebulan saja sudah seperti ini. Masalah bendera, masalah ini terus, apa yakin berlangsung lima bulan lagi, kami prihatin Pak. Gelisah. Kampanye untuk sosialisasi dan sebagainya kok nganti 8 bulan. Sejak September sampai besok 17 April Pak, itu tidak ada di dunia itu. Tetapi ini sudah didok oleh teman-temannya Pak Idham dan KPU yang menjalankan sekarang ini.

Lihat Juga

Gembira

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *