Rabu , 26 September 2018
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XVII: Dialog

Diskusi Kebangsaan XVII: Dialog

Gatot Marsono : Perlu Evaluasi Sejauh Mana Implementasi Pancasila

Tema ini menarik apalagi Pancasila, UUD 45 dan Bhinneka Tunggal Ika. Narasumber ini dari perguruan tinggi. Bagaimana pendapat Bapak ketika di media massa diekspos beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta tersusupi paham-paham radikalisme terutama di Jogja.

Saya minta pendapat narasumber. Pertanyaannya sejauh mana nara-sumber itu mengantisipasi dan memberikan masukan kepada rektor. Contoh kasus yang masih aktual, IAIN Sunan Kalijaga yang sekarang ikut-ikutan menjadi UIN. Ada demo membakar pos polisi, mengancam Sultan, macam-macam. Ini daerah istimewa. Anak-anak sekarang gak tahu bahwa DIY itu istimewa satu-satunya. Dulu ada Aceh. Aceh sudah gak istimewa. Nah ini diskusi kebangsaan ini sudah yang ke-17. Saya minta pendapat para narasumber dan penyelenggara, Pak Gatot Marsono ini juga wartawan yang sekarang menjadi anak buahnya Profesor Kunto Wibisono, dengan cara mbaureksa Gedung Pejuang 45, Jalan Gembira Loka, Gedong Kuning, sangat prihatin. Jadi bagaimana rakyat Indonesia itu memaki-maki orang dengan media yang sudah canggih ini saenake sendiri. Pancasila itu menurut saya, etika.

Saya mengutip karya agung RM Drs. Panji Sosrokartono. Ajaran beliau yang sudah tenggelam atau ditenggelamkan, nglurug tanpa bala, digdaya tanpa aji, sugih tanpa bandha, nrimah mawi pasrah. Saya mohon para narasumber itu juga mengimplementasikan Pancasila in-ternal di kalangan kampus. Mungkin takut sama rektor? Ndak perlu lah. Jadi ini Bapak jangan lupa, Saya tanya partisipasi para dekan, para dosen di perguruan tinggi sejauh mana. Marah gak ketika Sultan diancam mau dibunuh dan sebagainya? Nangis lho Pak. Wong desa-desa pada nangis. Sultanku diunek-unekake. Sing ngunek-ngunekake cah ngendi? Jangan-jangan pendatang, wis ngrasakke banyu Yogja, mangan beras Yogja, kelakuwane ora Yogja. Dosa. Terakhir saya usul kepada penyelenggara libatkan organisasi mahasiswa dan pelajar, untuk meman-tau, sejauh mana implementasi Pancasila ini.

Usul yang kedua, ini yang ke-17, pagelaran ke-20 bentuk tim riset, manfaat gak sih acara ini? Manfaat kepada siapa? Saya terimakasih kepada JogjaTV, beberapa media massa mengekspos, kalau gak ada itu, masyarakat kita sudah dicekoki oleh youtube yang berantem. Ini tahun politik. Lha ini kalau publik tidak dibimbing oleh acara ini, diskusi kebangsaan ini, saya mohon menjadi pembimbing public opinion yang membanggakan masa depan negara kita, saya gak tahu bisa usia 100 tahun apa enggak, kemerdekaan kita, dan ini menjelang 17 Agustus.

 

Darto: Bagaimana Caranya Agar Pancasila Melekat di Dada Pemuda

Saya Darto Aidin dari S-2 Ketahan-an Nasional UGM, ketika tahun 2018 ada survei dari LSI, Lembaga Survei Indonesia yang dilakukan survei ini tanggal 28 Juni 2018 sampai 5 Juli 2018, yang melibatkan responden sebanyak 1.200 dan margin error dari survei tersebut kurang lebih sekitar 2,9%, pada saat tahun 2015, survei tersebut menghasilkan 79,4% publik yang pro Pancasila. Kemudian, 3 tahun kemudian, tepatnya tahun 2018 terjadi penurunan yaitu 75,3% publik yang pro pada Pancasila. Sedangkan pada saat yang sama LSI mengadakan survei terhadap NKRI Bersyariah, tahun 2015 publik yang menginginkan NKRI bersyariah sebanyak sekitar 9,8%, tiga tahun kemudian 2018 mengalami kenaikan sebanyak 13,2%.

Ini terjadi di RI yang dilakukan serveinya di 34 provinsi dari Sabang sampai Merauke. Artinya apa? Survei tersebut mengindikasikan bahwa Pancasila, publik yang mengalami, yang menginginkan Indonesia tetap berPancasila itu mengalami penurunan, hal ini disebabkan oleh tiga, yang pertama oleh ekonomi, yang kedua kurangnya sosialisasi, dan yang ketiga tidakadanya alternatif. Sebenarnya perbincangan di manapun, baik di perguruan tinggi, baik di mas-yarakat, ketika membahas tentang Pancasila yang terjadi adalah realitas adanya kesenjangan, kemiskinan, dan sebagainya. 

Sebenarnya di Indonesia itu sampai kapanpun akan tetap Pancasila asalkan jurang kemiskinan, jurang kesenjangan itu bisa diredam, bisa diminimalisir. Karena Pancasila ini telah mendarah daging di RI ini. Dan kita hasil dari para founding fathers yang ada di Indonesia ini. Saya ketika S-1 kebetulan di Universitas Negeri Surabaya, jurusan saya Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, ketika itu melakukan sebuah kegiatan tentang Olimpiade Pancasila se-Jawa Timur. Waktu itu yang ikut siswa SMA, MA, dan SMK. Ketika itu ada  100 soal yang diberikan, siswa-siswa tersebut hanya mampu menjawab 72, skornya paling tinggi 72. Yang lainnya rendah sekali. Bahkan ada yang 49, padahal tentunya Olimpiade tersebut Kepala Sekolah mengirimkan siswa-siswinya yang terbaik. Ini padahal materinya tentang Pancasila semua, itu terjadi pada tahun 2014 di Surabaya.

Kalau menurut saya, yang ingin saya tanyakan kepada Bapak Sunardi, sebenarnya bagaimana sih agar Pancasila itu melekat di dalam generasi muda. Apalagi generasi muda sekarang itu di era digital, di era yang semuanya serba berbau digital, berbau milenial ini agar bisa melekat, begitu. Karena terkadang ketika generasi muda ini menginginkan Pancasila, tetapi dia juga dicemari oleh paham-paham atau doktrin-doktrin yang beredar. Kalau di kalangan kampus, banyak sekali lembaga-lembaga atau himpunan-himpunan yang meng-inginkan Pancasila gak usah lagi ada di Indonesia, begitu, masih banyak kok organisasi-organisasi lainnya yang berjalan di Republik Indonesia ini yang tidak pro pada Pancasila. Begitu, sehingga sudah diganti saja Pancasila-nya, NKRI diganti syariah, begitu saja yang ingin saya tanyakan, jadi bagaimana caranya agar generasi muda kita, generasi milenial kita ini paham tentang Pancasila, biar mendarah daging. Karena generasi muda sesungguhnya secara psikologis  mudah sekali untuk menerima doktrin, bahkan doktrin yang paling terbesar itu kan terjadi di kalangan kampus. Padahal kalangan kampus tersebut kalangan intelektual, terimakasih, wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

 

Supri: Perlu Paradigma Baru

Baik, terimakasih. Saya tidak akan bertanya, saya hanya ingin diskusi, yang pertama, coba kita pikirkan ini, ketika politik itu, kita tahu kan politik itu, Pancasila ada dalam Pembukaan UUD 45. Itu jiwa, bagi manusia itu jiwanya. Soal Batang Tubuhnya, bajunya ini, silakan diamandemen, silakan. Sekarang dengan pilihan langsung itu, itu kan tidak sesuai dengan sila ke-4, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Akibatnya apa, amburadul saya gak ngerti ini. Apa itu caranya untuk merusak Pancasila ini.

Mohon maaf ini, kok para pendiri negara kita, pemimpin kita itu kok mau-maunya, kalau mau, ayo diubah Pancasilanya, Kerakyatan yang dipimpin oleh pilihan langsung, gak usah perwakilan rakyat, gak usah, ini mangga. Ini PR kita bersama. Kedua, beberapa waktu lalu ini, sebenarnya pernah saya tulis di media masa dulu, perlu paradigma baru, Bung Karno telah menggali itu. Menggali, tidak titik itu, perlu kita lanjutkan, perlu kita gali lagi. Sampai tekan tuke. Kalau gak sampai tuke ya seperti ini. Ibaratnya orang Jawa ini, Bung Karno baru sampai ke warangkanya. Pancasila itu warangkanya, tuknya kembali ke dasarnya lagi. Bentuk warangka seperti masyarakat, bangsa, itu warangkanya, wadah ta.

Yang konkrit kan aku, aku ini, ini konkrit. Bagaimana aku-aku yang Pancasila, bagaimana? Tuknya ini, warangkanya dan kerisnya ini, kalau gamelan Jawa, ini kalau manjing baru masyarakat adil makmur, itu baru maujud. Nah sekarang isinya ini, isinya mau seperti apa, parameternya. Ini saya tahu tapi waktunya tidak mungkin di sini, kalau ada waktu untuk bahan diskusi. Nah ini perlu paradigma baru.

Contoh, maaf ini, saya merasa dibodohi waktu sekolah dulu. Ketu-hanan YME. Persatuan kesatuan ika, dipaksakan di otak saya, mungkin juga Bapak-Bapak, padahal tidak. Esa itu dari bahasa Sansekerta itu tan kena kinaya ngapa, Gusti Allah itu tiada tara. Gak bisa dikasih angka satu, dua, tiga. Kadang-kadang tiga, kafir, lho kamu satu gak masalah kok, kalau tiga, gak bisa itu. Gusti Allah itu tunggal. Kulitnya saja kurang pas, apalagi isinya. Kemudian yang kedua, ika, ika di otak kita diartikan satu juga kan? Ika dalam bahasa Jawa, ika, iku, itu, itu yang mana, tan hana dharma mangrwa. Tiada kebenaran-kebenaran, itu satu, tunggal. Kebenaran itu tunggal. Saya bisa membuka ini. Ndak ada dalam diri manusia, sebelum ada bahasa manusia, sebelum ada budaya, sebelum ada agama, Tuhan telah ada dalam diri manusia, sudah ada itu. Kalau ini dipahami saya yakin gak akan ramai ini. Contohnya dalam diri kita sama, sejak zaman dulu sampai akhir zaman sama. Manusia lahir terima apa adanya. Jadi laki-laki manut, perempuan manut. Keluarga muslim manut, Kristiani manut. Sampai Atheis saja manut itu. Untung ada Gus Dur ya Pak, keadilan dulu, Gus Dur datang, maaf anak-anak yang komunis dulu itu, dia gak ngerti mbah-mbahe berbuat salah, anak-anaknya itu diblacklist, maaf saya prihatin dulu. ET-ET, anak pinter-pinter kok diblacklist, menjadi tentara gak boleh, dadi guru gak boleh, untung ada Gur Dur.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XII: Mencari “Kebangsaan” dalam Tripama?

Ini perlu paradigma baru. Bagai-mana agar Bung Karno menggali sampai jantung, kita meneruskan. Tadi saya ngomong sama Pak Gatot, lho kalau lagu lama seperti ini, kapan kita maju. Kemudian yang terakhir, tadi ini bisa, bagaimana ini, ada skenario besar bagaimana untuk merusak bangsa ini, soal agama kita sudah rusak, bagaimana bangsa ini, bukan obatnya, tapi sebabnya. Mereka merusak bagaimana soal agama, orang membunuh lain dengan bunuh diri, bangga merasa nanti ketemu bidadari masuk surga. Ini bukan pengobatannya, penyebabnya apa kok sampai bisa seperti itu, anak bangsa ini, ya to. Kemudian soal penafsiran ini bisa dijadikan imaje gih, pilih mana Pancasila atau Pajaksila, karena ini sudah ada skenario besar, gak perlu mengubah Pancasila, kalau itu diubah bukan Ketuhanan YME tapi diamalkan di masyarakat, mungkin termasuk saya, kita semua bukan Tuhan yang nomer satu, tapi uang yang nomer satu. Kekuasaan, mangga ini faktanya bagaimana, nanti akibatnya itu juga bukan Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia tapi keapesan sosial, perlu ada paradigma baru bagaimana Pancasila ini, ini internasionalisme, ini kita sebenarnya global, contoh konkrit sederhana Hamengkubuwono kenapa tidak Hamengku Ngayogyakarta, Pakubuwono, kita global, kita kembalikan ke sejarah nenek moyang kita. Kita pernah adil dan makmur, nusantara ini, zamannya raja Ratu Sima, Kalingga itu. Adil makmur, emas diletakkan di pasar, itu gak ada yang ngambil kok. Ini perlu kita gali lagi ini. Jadi perlu paradigma baru ini. Saran saya untuk meneruskan cita-cita para pendiri ini. Tidak mandeg di situ, Pancasila, Pancasila, sekarang untuk epiknya kita pilih Pancasila atau Pajaksila, kalau Pancasila harga mati tapi praktiknya Pajaksila, uang yang berkuasa. Solusinya perlu paradigma baru ini, kita meneruskan founding fathers kita, teruskan itu karena perilaku manusia masyarakat bangsa ini ditentukan oleh konsepnya. Kalau konsepnya gak pas ya ya outputnya juga gak pas. Nah ini perlu kita paskan. Mohon maaf kalau ada kekurangannya, terimakasih.

 

Joko Dwiyanto: Perlu ada Pendekatan Budaya

Pertama-tama saya mohon koreksi dari kedua pembicara atas pemahaman saya, pemahaman saya yang namanya etika itu adalah baik dan buruk. Oleh karena itu kalau salah ya mohon diluruskan. Yang kedua, mengapa saya mengajukan, bukan pertanyaan sebenarnya, mohon komentar, karena seumumnya orang sekarang, seperti saya yang awan, itu sebagai penikmat media, kalau saya mengatakan pemerhati media dikira ahli ya, karena sekarang kadang-kadang pemerhati budaya, dikira ahli budaya. Penikmat, artinya suka tidak suka, mau tidak mau disuguhi setiap hari. Nah dari meminati atau memperhatikan media itu, saya mempunyai dua catatan, yang pertama tadi sudah diungkap oleh Pak Dodi mengenai perbedaan di masyarakat, yang di satu pihak mengklaim dirinya Pancasilais, atau yang taat pada Pancasila, di pihak lain, suka tidak suka, yang tidak mengakui itu, atau mungkin cenderung pada membesar-besarkan atau menghidupkan khilafah itu melalui berbagai jalur, itu rupa-rupanya berseberangan, artinya yang tadi disebut khilafah itu menganggap bahwa yang Pancasilais itu tidak Islam. Begitu sebaliknya. Saya kira ini wacana yang perlu dikemukakan secara ter-buka, bahkan akhir-akhir ini yang mengklaim dirinya sebagai Pancasilais atau yang taat pada Pancasila itu diklaim membela PKI. Ini saya kira sudah melebar gak karu-karuan. Pak Dodi saya kira ahlinya menganalisis media atau mungkin wacana ini ya.

Anggapan-anggapan seperti itu menurut saya akan merusak mas-yarakat. Terkait dengan itu, dalam media juga, kita seringkali disuguhi dalam politik praktik. Praktik politik itu yang paling mencolok tentu saja adalah oknum yang tadi Pak Suprihandono menceritakan musyawarah mufakat kenapa kemudian diwakili atau ditunjukkan atau direpresentasikan dengan coblosan atau voting. Nah ini menarik sekali di permukaan kita adalah atau di hadapan kita, ada oknum yang tidak mewakili partai, karena dipecat ya, tapi masih berposisi sebagai pimpinan dewan. Ini kamus dari mana, saya kira Pak Dodi atau Pak Sunardi bisa memberikan komentar supaya kita semua paham, begitu.

Yang mengkhawatirkan, ini seperti yang dinyatakan Pak Sunardi, kita ini sudah berhadapan dalam kondisi darurat atau belum. Kalau menurut saya, darurat atau tidak, buktinya, dampaknya itu sangat meluas di masyarakat. Masyarakat terpolarisasi, bahkan bukan masyarakat, keluarga saja di WA grup itu, di keluarga kalau sudah muncul ada sedikit bicara mengenai politik praktis, itu sudah terbelah itu. Padahal saudara kandung itu. Terbelah yang satu pihak itu, yang satu pihak sebelah kiri, yang satu sebelah pihak kanan. Atau atas dan bawah saya bilang. Kalau saya menyebut kiri dan kanan nanti diinterpretasikan berbeda. Oleh karena itu ini kalau tidak darurat ya mengkhawatirkanlah, menurut saya, itu mengkhawatirkan. Karena situasi ini kan lalu memecah belah keluarga. Yang sesungguhnya itu adalah hubungan darah yang luar biasa. Oleh karena itu yang terakhir, saya mendukung tentu saja apa yang disampaikan Pak Sunardi, mungkin akan lebih baik menggunakan pendekatan budaya.

Artinya termasuk budaya politik. Atau bisakah itu diterjemahkan sebagai budaya Pancasila, saya tidak berkompeten untuk itu. Tapi paling tidak budaya Pancasila itu untuk kehidupan bernegara, bermasyarakat termasuk politik tentu saja, itu pada masanya akan mengingatkan kepada kita bersama supaya masyarakat juga menilai oh ya yang seperti itu berarti dia tidak berbudaya Pancasila. Karena sekali lagi tadi di introduksi kita melihat bagaimana perjuangan para pendiri bangsa kita itu di dalam menegakkan atau menciptakan kemudian menegakkan Pancasila. Saya kira itu tidak perlu kita bayangkan, seandainya dulu tidak ada Pancasila, pasti tidak hanya pertentangan-pertentangan, tapi perpecahan itu sudah di depan mata. Apakah itu yang dikehendaki oleh masyarakat sekarang?

 

Ade: Pancasila Kacau Ketika Menjadi Narasi Kekuasaan

Saya ingin menanggapi saja tentang diskusi kebangsaan yang menarik ini. Saya warga biasa, jadi yang saya tahu Pancasila itu jelas diramu oleh founding fathers kita itu dari berbagai pengenalan mereka akan berbagai kebudayaan yang ada di Indonesia di nusantara ini. Sehingga Pancasila ini kemudian hidup menjadi naluri sebenarnya, naluri untuk bertindak masyarakat, warga masyarakat. Tapi menjadi kacau ketika dia menjadi narasi kekuasaan. Dipakai atau dimainkan oleh kekuasaan berada dalam wilayah itu, kemudian menjadi tercerabut dari akarnya sendiri.

Padahal Pancasila itu dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari, misalnya kalau kita sering jalan-jalan ke berbagai daerah di nusantara, misalnya di masyarakat Dayak Iban, masyarakat adat itu jelas seluruh sila-sila dalam Pancasila itu diterapkan tanpa harus ngomong Pancasila. Misalnya berladang ya harus bermusyawarah, apapun keputusan bersama itu harus musyawarah. Kalau tidak itu justru akan membuat masyarakat atau komunitas itu pecah. Kemudian gotong-royong itu sudah pasti. Keadilan itu ada di dalam hukum adat mereka. Bahkan mereka juga mengatur jika terjadi KDRT pada perempuan, rumah tangga, kekerasan pada rumah tangga juga diatur di situ, tentang persoalan hukum adat. Kemudian tentang Ketuhanan YME ya sudah pasti, apalagi sekarang harus memakai, memilih ya agama-agama import itu. Jadi aku pikir solusinya Pancasila itu memang bukan sekedar konsep yang dibicarakan, tapi dia harus kita temui dalam kehidupan masyarakat.

Yang saya inginkan, adalah sekarang memang sudah ada dalam pendidikan itu program-program live in ya, sampai pada tingkat universitas, itu semacam ada KKN dan KKN saat ini juga kadang-kadang mahasiswa-mahasiswanya pergi sampai ke Papua. Jadi pengenalan dan bukan, tapi merasakan hidup bersama dengan masyarakat-masyarakat yang sangat berbeda, itu sangat penting. Terutama untuk orang-orang yang akan duduk di legislatif, yang akan menjadi penguasa dan memegang kebijakan, ada baiknya jangan pernah ada penataran P-4 di ruang lah, tapi pergi dan hiduplah dengan masyarakat, karena di situlah kita, keindonesiaan kita itu ada. Dia ada dalam gotong-royong, dia ada di dalam pertemuan kita dengan berbagai macam bangsa atau masyarakat.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XVI: Mendiskusikan Ekonomi Hijau

Jadi saya menganjurkan, misalnya soal kepemimpinan ya belajar kepada ketua-ketua atau sesepuh masyarakat itu, yang ada di nusantara ini banyak sekali. Bisa kita belajar dari mereka. Jadi menurut saya, apalagi kalau di masyarakat Iban itu, soal nasionalisme jangan dipertanyakan, bahkan di kuburannya saja ada dipancangkan merah putih. Bendera merah putih. Jadi di situ ada Pancasila, ada kesadaran bahwa saya adalah bagian dari bangsa Indonesia. Soal Bhinneka Tunggal Ika, sudah pasti karena untuk misalnya menerima orang berbeda agama Islam, dalam hal makanan saja, yang harus mereka menyerahkan pemotongan ayam kepada tamunya. Jadi itu adalah sebuah bentuk penghar-gaan. Jadi kita belajarlah dari bagaimana Pancasila itu dilaksanakan, baik itu saja.

 

Krisnam: Pembela Pancasila Belum Tegas

Saya menemukan inspirasi dari Pak Camat mengenai silai ke-4. Kemudian ditegaskan kembali oleh Pak Idham, bahwa demokrasi kita harus lewat permusyawaratan perwakilan. Tapi kan sekarang ini kita voting. Saya pikir, kalau itu salah, ya sekarang kita jungkir ulang. Bisa apa enggak, kita cungkil itu. Tidak usah dipakai. Sebab saya ingat, sebenarnya  Bung Karno sudah betul dengan demokrasi terpimpinnya. Ha itu mengenai sila ke-4 tadi. Tapi ini semua kita buang saja. Dan ini konsekuensinya apa, karena kita menonjol-nonjolkan bahwa Pancasila itu terbuka, unsur dari luar masuk. Nah unsur voting ini masuk ke dalam. Ini konsekuensi logis karena keterbukaan Pancasila. Bagaimana Pak Idham bisa dicungkil ulang tidak? Ini berat.

Kedua, Bung Karno pernah mengatakan begini, siapa yang tidak percaya Pancasila, jangan bicara Pancasila. Baca pidato Presiden Bung Karno dulu. Siapa yang tidak percaya Pancasila jangan bicara Pancasila. Sekarang ini orang yang tidak percaya Pancasila bicara Pancasila. Pak Idham coba baca di media sosial, intoleransi juga mengatakan saya Pancasila, saya pertahankan NKRI, saya pertahankan.

 

Bambang Widodo: Perlu Penyelaras UU yang Bertentangan dengan Pancasila

Yang pertama memang kami merasakan reformasi yang sudah 20 tahun ini ternyata memang kebablasen. Mohon dikoreksi. Kemudian terkait dengan penyelenggaraan negara kita yang katanya berdasarkan UU Pancasila dan UUD 45, yang UUD 45 itu kita tinggal Pembukaan, yang lainnya diamandemen dari tahun UUD 2002. Oleh karena itu saya mengusulkan, perlu apakah itu dekrit atau apa, dulu pernah Dekrit Presiden 1959, apakah 2019 ini akan ada lagi, atau nanti tunggu pemilihan umum yang akan datang. Kemudian yang keempat tadi sudah disampaikan Pancasila yang sila ke-4 itu memang belum dilaksanakan secara murni dan konsekuen skarang ini. Akhirnya yang ke-5 saya berharap Bapak Drs H. Idham Samawi untuk berkenan mencalonkan kembali pada pemilu yang akan datang untuk menjadi anggota MPR/DPR karena sangat penting pemikiran beliau ternyata sangat relevan untuk saat ini memang harus ada pemimpin-pemimpin kita, wakil-wakil kita di DPR harus merombak UU yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 45. Di samping itu juga memang mudah-mudahan nanti hasil pemilu 2019 itu akan kembali ada garis-garis besar haluan negara, itu penting karena itu tadi supaya sinkron pemikiran pusat dan daerah. Demikian harapan kami mudah-mudahan Bapak kita senantiasa dikaruniai kesehatan dan masih berkenan untuk mencalonkan kembali. Terimakasih, merdeka.

 

Azzam: Perlu Keteladanan Mengimplementasi Pancasila

Saya masih ingat 10 tahun lalu Pak Idham sudah mengawali soal Pancasila itu. Beberapa kali diskusi di mana pun, saat Pak Idham jadi Bupati atau tidak seperti itu. Itu langkah bagus Bapak. cuma kita melihat, nyuwun ngapunten sampai hari ini pemahaman manusia terhadap Pancasila gak begitu ideal. Pertanyaannya, contoh ada acara sosialisasi, tanggapannya berbeda-beda, karena penyelenggaranya juga berbeda-beda. Yang hadir pun juga berbeda-beda. Artinya tempat satu, dua, tiga, saya yakin tidak akan pernah ada kesimpulan yang sama. Karena orangnya berbeda-beda. Nah Pak Idham, apa yang kemudian harus dilakukan sekarang? Pak Idham jadi anggota DPR RI, dari Fraksi PDI Perjuangan, lalu apa langkah kemudian pemerintah supaya masyarakat sekarang melihat Pancasila ini sebagai kekuatan bersama untuk menyatukan. Sampai hari ini mohon maaf pemerintah belum bisa menyatukan itu, karena Pancasila. Yang kedua Pak Nardi, di kalangan PT saya kira juga Pak Nardi tidak pernah selesai atau tidak pernah bosan mengajarkan tentang nilai-nilai Pancasila itu.

Tetapi pertanyaannya Pak, apakah kemudian dari kampus penah melakukan pendataan, berapa mahasiswa yang kemudian benar-benar Pancasilais itu. Saya khawatir mahasiswa juga kehilangan roh Pancasila itu. Jadi jangan salahkan tadi ketika Pak Idham mengatakan demokrasinya seperti itu, ya karena dosen tidak pernah mengajarkan Pancasila yang sebenarnya. Yang kemudian kita bangun adalah kepen-tingan sekarang, kepentingan untuk siapa dan dapat apa, dan kemudian dibagikan untuk siapa. Kemudian soal etika berpolitik, yang disampaikan oleh pak Pur, agak aneh negeri ini ketika kemudian semua bertarung bukan untuk menegakkan moralitas, caranya tidak baik, untuk tujuan baik. Harusnya kita sama-sama mengatakan cara baik untuk tujuan baik. Tadi Pak Idham sudah mengatakan jujur ya ada pertarungan antar parpol termasuk di internal parpol.

Pertanyaan saya sama, masih adakah anggota dewan atau calon anggota dewan tahun 2018 yang masih memiliki moral? Masih memi-liki moral? Pertanyaannya kalau kemudian itu terus dilakukan karena kepentingan, saya gak yakin Bapak, Pak Nardi, nyuwun ngapunten, para hadirin, saya, yang kita diskusikan hari ini hanyalah formalitas. Faktanya gak ada dan itu akan terjadi, wallahu alam, kita tidak tahu. Nah sekarang yang menarik Bapak, ini sudah mau 2019, pertarungannya adalah pertarungan isu, bukan lagi pertarungan fakta.

Fakta bisa direkayasa oleh siapa-pun. Peristiwa bisa diciptakan oleh siapapun. Nah Pak Idham, Pak Nardi, apa saran Bapak terhadap partai politik supaya tidak terlalu berpikir pragmatis, ini soal negara bukan soal pertarungan partai politik. Ke depan melalui forum ini juga saya berharap akan lahir seorang anggota dewan atau seluruh anggota dewan yang lebih menekankan masalah moralitas dan teladan. Negeri ini, nuwun sewu tidak akan ada apa-apanya kalau kemudian tidak ada anggota dewan yang bisa menjadi teladan di negeri ini.           

 

Arif: Perlu Memahami Simbol Negara

Jadi mau berbicara etika politik itu, itu etika politik itu jauh sekali lho. Meskipun itu mengawali, tapi kadang kita di dalam memaknai Pancasila itu sendiri, kalau di situ saja sudah keliru, saya yakin mau ketemu etika di mana juga gak ngerti. Ini pohon rambutan, tiba-tiba dengan teknologi baru bisa dengan sambung pucuk, cangkok. Cabang tiga yang satu durian, satunya dari rambutan tadi muncul durian, ada jambu air, satu lagi sawo. Masing-masing muncul peneliti di tiga batangnya. Yang satu meneliti durian sampai pol gih, yang satunya meneliti jambu sampai pol, sawo sampai pol, dan mereka menyatakan oh ini sekarang sudah ketemu, jadi yang betul adalah ini, dan pemulihan adalah ini. Padahal tiga-tiganya itu luput semua Pak, karena batang aslinya itu malah rambutan yang tidak pernah ada yang meneliti.

Kalau kita bicara Pancasila, seyogyanya kita selalu melirik simbol negara itu. Jangan pernah lepas. Bicara merah putih juga nglirik ke situ. Bhinneka Tunggal Ika, juga meliriknya ke sana. Jangan simbol negaranya di belakang atau di mana kita cerita Pancasila tiba-tiba ini menjadi kreatif sekali, saking kreatifnya itu sampai kita lupa tadi ini apa. Pancasila ini jenis makanan apa minuman, kalau saya boleh milih salah satu di antara dua. Mempeng kita bicara minuman ternyata setelah tahu ujudnya Pancasila itu kue Pak. Ini yang paling parah. Jadi kalau kita melihat percaya ndak percaya itu burung Garuda itu ada simbol perisai, di dalamnya itu ada merah putih dan gambar-gambar lima sila. Pernah ndak kita cerita itu posisi itu nempelnya di mana. Itu nempel di leher Pak, ada rantainya. Kenapa kok harus di leher? Kenapa tidak di sayapnya terus dikempitkan begini saja. Ternyata itu memaknai Pak bahwa sejak kita lahir, itu suka atau tidak suka kita itu ada amanah di dalam diri kita ini sebagai rakyat Indonesia.            

Berkepribadian Pancasila itu, baik yang suka maupun tidak suka, baik yang perlu ndak perlu, semua digandhuli itu. Ini simbol negara itu. Lahir ceprot langsung digandhuli perisai. Saya cerita banyak diskusi dengan Pak Idham di Jogja maupun Jakarta, menyatakan Pancasila jiwa bangsa, itu sepele Pak. Saya tadi ketemu Mas Sulis, tanya, Mas jiwane neng jero apa neng jaba. Neng jero Mas. Wis yakin ya. Saya tanya. Pak Idham gak sama. Menjiwai Pancasila dan Pancasila jiwa itu beda Pak. Jadi kalau jiwa di dalam artinya simbol negara itu yang merah putihnya di luar, Pancasilanya di dalam ketutup bendera merah putih. Itu jiwa Pancasila, di dalam. Berarti yang jiwa itu yang merah putih, lalu yang di luar Pancasila, lima sila itu, pribadi

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XVIII: Mufakat

Dari situ kita membayangkan bagaimana merah putih. Kok disebut jiwanya, merah putih bukan berarti berani di atas kesucian, itu kan sastra bahasa, tadi Pak Doktor mengatakan istilahnya apa Pak, bahasa yang dimunculkan populer itu. Nah jadi merah putih itu menggambarkan tentang si Garuda atau kita ini. Garuda ya kita. Merah raga putih suksma. Suksma manjing raga, tumusing jiwa baru kita lenggah manusia. Tidak bisa kita disebut manusia kalau raganya sendiri, suksmanya sendiri disebut alat komunikasi, handphone ini. Kalau pesawat dan baterai atau simcard masuk di dalamnya baru disebut alat komunikasi

Kita harus mulai semua dari dasar-dasarnya, kata murni. Murni yang mana, ayo mbok belajar bareng-bareng, kita dari mana, ahlinya siapa, supaya ketemu. Apa merah putih murni, apa Pancasila murni, Bhinneka Tunggal Ika murni, begitu itu betul, itu sudah meringankan Pak Idham jalan ke sana, dan beliau sulit lho menjelaskan itu. Seorang jadi anggota dewan saja dhasar-dhasar rasane saja belum ada kok, kadang-kadang karena kaya gak mempunyai pemikiran apa apa kecuali prestise jadi Dewan jadi Gubernur dll. Oh ya prestis wae juga bisa, kita juga ndak tahu, mikir rakyat apa ora, iku ora gampang. Tanpa dasar ini dipahami jangan kita ngomong aplikasi yang lain, susah sekali. Jadi ketika merah saya katakan raga, putih itu suksma, suksma manjing ing raga tumusing jiwa, baru tegak kita manusia. Baru muncul pasal-pasal, sila-sila itu. Sehingga muncul sila pertama itu karena apa, kesadaran kita. Kita sadar penuh ada derajat yang lebih tinggi dari kita yaitu Tuhan. Yang naruh sila pertama itu ya kita manusianya ini, ya ini kembali cerita manusia sesungguhnya. Jadi, sama berikutnya adalah kalau kita cerita sila yang ke-4, sila ke-4 itu kan tatanan Pak. Jadi ketika manusia meletakkan Tuhan sila pertama, karena itu kesadarannya, kemudian ketika manusia selaras dengan Tuhan adanya bersatunya wiji, ketika manusia banyak dekat, muncul tatanan. Jadi kerakyatan itu bukan rakyat ansih Pak, tetapi berpikir tentang rakyat. Ke-annya itu berpikir tentang rakyat, dipimpin oleh perwakilan. Pak Idham ini lhoh. Mengapa kok Pak Idham di situ disebut pemimpin, iya, karena di situ oleh rakyat dipandang khidmat dan bijak. Itu pun tidak cukup oleh beliau sendiri lho, harus melalui proses musyawarah. Jadi selama sila ke-4 ini masih dilompati terus, ya kita gak akan ketemu cita-cita yang digambarkan oleh kita semua ini, itu nyimpang kok. Kita pakai bajunya orang lain sekarang ini. Jadi seperti saya bicara di UI suatu ketika, ditanya Pancasila Millenia, Pancasila Millenia itu hanya bagaimana kita memvisualisasikan atau memberikan wawasannya itu dengan cara millenia. Tapi bukan berarti Garudanya itu terus pakai kucir, kacamata item, kemudian sepatu bot, kan bukan begitu. Tetep Garudanya ya itu. Iku rohnya yang seperti Pak Krisna, rohnya, seperti Mas Azzam, rohnya, rohnya, kembalikan ke rohnya. Itu lhoh sing paling angel. Dari situ baru muncul watak kita, namanya Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa. Itu ceritanya panjang, tapi intinya bagi saya, setuju, bhinneka itu berbeda, tunggal itu ansih satu ya, ika, iku, kalau kita merunut sejarah Majapahit, karena munculnya Budha dan Hindu, sehingga jalan itu sekarang Majasari, Majasanga dan sebagainya itu, Mojokerto terbelah, sudah pasti sing wetan mesthi Hindu, sing kulon mesthi Budha. Lha itu, masa itu. Tapi dengan kecerdasan rasa kita Pak, ika itu bisa kita rumuskan baru, bahwa ika itu artinya manungsa Pak. Jengandika dika rika, jengandika dika rika, jadi berbeda satu manusia. Sewu negara sewu rupa, sewu basa sewu agama, sewu bedane nalika sing ana ming siji sing padha, ukara manungsa sajagading iku padha, inilah yang kita miliki. Jadi Bhinneka Tunggal Ika itu simbolnya Garuda itu bodho sekali pak. Garuda itu kan nyengkeremnya kambing Pak. Kambing, ayam, ular, lho kok iku sing dicekel pita ora bisa dipangan, karena muncul kesadaran dan rasa tanggung jawab itu. Jadi sekali lagi, saya hanya menitipkan juga kepada Pak Idham, dan pak yang lain, narasumber dan temen-temen, yuk simbol negara dibedhah tenan, dimaknai secara betul. Itu roh kita. Dan itu yang nyelamatkan kita, di dalam melangkah apapun berikutnya, berikutnya, berikutnya. Yang saya aturkan tadi, rambutan metu duren. Durene saya mempeng saya salahe. Mempeng sajane. Cuma insyaallah, saya kira ini yang saya sampaikan Pak, kurang lebihnya, dan sekali lagi kita juga sama dengan yang lain, saya berdoa, saya gak peduli Pak Idham itu sebagai apa-apa, tapi sebagai wakil rakyat harus terus dipertahankan Pak, setuju gak kira-kira? Saya bukan kampanye Pak, embuh partaimu apa ora weruh Mas, ning sing penting kamu sebagai satria manusia ini yang menjadi harapan kita semua. Saya kira demikian, matur nuwun Pak Nardi, narasumber, banyak masukan nanti suatu ketika kita dialog, maturnuwun.

 

Lis: memahami fungsi dan peran sebagai makhluk ciptaan Allah di bumi Indonesia

Tadi sudah banyak sekali dibahas maupun digali tentang Pancasila dan nilai-nilainya. Justru saya bicara di sisi lain. Karena kita lupa bahwa semuanya itu terletak pada karakter dan pribadi manusia. Lha justru ini saya menggarisbawahi bahwa kita sadar yang justru kita gaungkan adalah kesadaran kita sebagai makhluk hidup. Sebagai manusia ciptaan Ilahi yang mempunyai dua sisi. Sisi pertama adalah sebagai tata, artinya tata itu dengan aturan main ya sudah, itu mungkin negara yang akan memerankan, sehingga tadi dikatakan mungkin bahwa salah urus dalam implementasi ketatanegaraan tata bagaimana menata supaya rakyat itu menjadi diayomi dan diinspirasi. Arah itu bukan dari rakyat. Tapi dari negara. Wah ini negara berperan sebagai pribadi, tapi negara juga tidak lepas dari pribadi.

Siapa yang jadi pemimpin, dika-takan tadi dari anggota DPR sampai bupati dan presiden, itu personal. Lha bagaimana personal ini, sehingga saya sampaikan adalah lagu yang tata itu menata secara keseluruhan, implementasi daripada titah. Titah kita sadar sebagai manusia yang dibuat diciptakan oleh Allah ini untuk berkarya, Memayu Hayuning Bawana. Sehingga kita ada untuk orang lain. Juga bukan untuk diri sendiri. Di dalam keseharian sekarang, dikaitkan dengan proses zaman Orde Lama, Orde Baru dan Reformasi, memang Pancasila betul-betul sekarang menjadi komoditas yang sifatnya hanya dipa-kai untuk alat, sekali lagi dipakai untuk alat, bagaimana dikembalikan kesadaran ini supaya karakter pemimpin itu menjadi karakter Pancasila secara ansih, secara utuh, yang golong-gilig, jadi tidak ada dari aspek kepentingan hanya kelompok tertentu akhirnya akan dieliminasi. Kuncinya adalah kesadaran manusia sebagai titah tadi. Karena sekarang sudah krisis. Kepemimpinan yang ada sekarang baik di tingkat lokal maupun di tingkat nasional, semuanya sudah berbuat untuk kepentingan.

Nah ini bagaimana menumbuhkan kesadaran seperti yang disampaikan Pak Nardi tadi, perlu revolusi yang kedua, seperti revolusi mental. Apa yang menjadi esensinya yang perlu kita gaungkan. Lha pada tahun 2018 ini kan genap 90 tahun Sumpah Pemuda. Bagaimana Sumpah Pemuda yang kedua ini bukan berarti seperti yang dulu satu tanah air satu bahasa, bukan, tapi bagaimana mempunyai persepsi yang sama kepada bangsa ini khususnya kepada ideologi dan pandangan hidup Pancasila ini. Saya hanya tegaskan kepada kesadaran saja Pak, sehingga yang disampaikan banyak sekali tadi itu hanya kulit Pak. Tapi bagaimana menumbuhkan personal ini supaya benar-benar dia betul-betul memahami fungsi dan peran sebagai makhluk ciptaan Allah di bumi Indonesia ini. Itu saja yang saya sampaikan.

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVIII: Membudayakan Musyawarah-Mufakat

Prof. Dr. Kaelan, MS Musyawarah-mufakat sebagai Identitas Budaya Politik Bangsa Bagi bangsa Indonesia nilai-nilai identitas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.