Beranda » Humaniora » Diskusi Kebangsaan XIV: Dialog

Diskusi Kebangsaan XIV: Dialog

RAISA: Pemilu Perlu ditinjau Lagi Aturannya

Perkenalkan nama saya Raiza dari HMI, kuliah di Fakultas Hukum Universitas Janabadra. Kita ketahui bersama bahwa UUD 1945 itu adalah murni karya pemikiran-pemikiran dari pendiri bangsa. Pembukaan UUD itu sendiri tidak boleh diubah. Batang Tubuh yang hanya boleh diubah. Saya mempertanyakan terkait dengan Pembukaan itu dengan Batang Tubuh UUD itu. Terkait dengan soal Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Kita ketahui bahwa permusyawaratan perwakilan, sedangkan dalam Batang Tubuh sendiri diatur tentang pemilu seperti itu. Ratusan juta jiwa manusia yang ada di Indonesia itu sendiri, ketika menghadapi prosesi pemilu, kita tidak tahu mana yang cocok untuk menjadi pemimpin, mana yang memang benar-benar ya tidak layak menjadi pemimpin.

Kalau menurut Frans Magnis Suseno sendiri bicara demokrasi bukan bicara tentang benar menjadi benar tetapi menghindari yang jahat untuk menjadi berkuasa. Nah terkait dengan pemilu, tanggapan Bapak seperti apa? Itu yang pertama. Yang kedua berbicara tentang, yang kedua pembicara tadi bicara tentang peranan perempuan, peran perempuan kita ketahui nabi pun berbicara ketika sahabat nabi bertanya, siapa yang harus dihormati, pertama ibumu. Ibumu, ibumu lalu ayahmu, seperti itu. Berarti kan di sini seorang ibu itu adalah seorang malaikat yang memang benar-benar berperan penting dalam keluarga.

Dalam lingkup kecil, itu adalah keluarga, baru bicara masyarakat. Baru bicara lingkup yang lebih besar, seperti itu. Nah ketika seorang ibu tidak ada di dalam rumah, sibuk dalam suatu pekerjaan, anak-anak ini tidak bisa berpatokan dengan pendidikan formal yang ada di sekolah. Sekolah hanya mengajarkan apa yang ada di kurikulum, tidak mengajarkan bagaimana pendidikan karakter itu seperti apa. Nah yang ingin saya tanyakan, orang tua ini juga butuh, pendidikan orang tua itu sendiri, bagaimana orang tua mendidik anak. Istilahnya parenting school. Itu yang kedua. Yang ketiga singkat saja, terkait dengan yang dibahas oleh narasumber ketiga tadi, bicara tentang industri. Kita tahu bahwa dalam globalisasi kita tidak bisa menolak yang namanya globalisasi, kemajuan teknologi dan segala macam. Tinggal bagaimana masyarakat itu sendiri bisa memanfaatkan kemajuan teknologi ini untuk baik atau buruk, seperti itu. Yang saya tanyakan, bagaimana menghadapi globalisasi di era hari ini kita bicarakan baik dan buruk, globalisasi itu sendiri terutama dalam perdagangan atau bisnis. Globalisasi dalam bisnis untuk menghindari penipuan yang sering terjadi, terutama di Indonesia, terimakasih.

 

Fauzi Ramadhan: Tayangan Media Mengganggu Proses Pendidikan Karakter

Perkenalkan nama saya Fauzi Ramadhan, mahasiswa Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Sebelumnya yang terhormat sekali, saya diizinkan untuk berada di tempat ini bertemu dengan tokoh-tokoh yang sangat menginspirasi saya, untuk menjadi sosok yang lebih negarawan lagi. Baik, pada kesempatan kali ini saya akan bertanya kepada Bapak Idham Samawi dan Ibu Ning. Nah tadi Ibu Ning sempat menjelaskan, tentang karakter building, di mana sebuah keluarga itu sangat berperan penting dalam membentuk karakter seorang anak atau generasi penerus bangsa.

Dipaparkan beberapa syarat yang harus dilakukan untuk membuat karakter building ini berjalan dengan efektif. Nah saya ingin tanyakan kepada Bapak Idham Samawi selaku anggota DPR, nah sekarang kan sudah bagus, apa yang dilakukan oleh lembaga negara untuk mendorong karakter building yang memang harus kita laksanakan ini. Namun saya melihat ada beberapa faktor yang justru mendistorsi usaha kita semua untuk menjalankan proses karakter building tadi, Ibu Ning. Salah satunya adalah KPI sebagai Komisi Penyiaran Indonesia yang telah menjaga pena-yangan televisi di televisi itu jauh dari unsur SARA, Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan. Namun yang saya perhatikan sejauh ini, itu banyak sekali godaan atau banyak sekali intervensi dari tayangan-tayangan televisi yang mengganggu proses penanaman nilai-nilai kebangsaan yang selama ini telah dilakukan oleh lembaga-lembaga lain selain KPI.

Nah, saya ingin menanyakan kepada kepada Bapak Idham selaku anggota DPR, menurut Bapak langkah apa yang harus dilakukan oleh lembaga-lembaga lain selain KPI untuk berusaha mengawasi tayangan-tayangan televisi tadi yang mengandung, misalnya unsur he-donis, di sinetron-sinetron banyak sekali unsur hedonis, yang dari satu sifat tercela itu ya, mungkin tercela atau tidak ya, itu masing-masing orang akan menilai dengan beda tapi hedonis itu salah satu sifat korupsi. Nah bagaimana ada hedonis, ada juga tidak peduli dengan orang lain, seperti maaf, saya menyebutkan salah satu acara tv, pesbukers, kita tahu semuanya, di situ banyak cemoohan kepada pelawak lain, itu mungkin tujuannya untuk menghibur masyarakat Indonesia, namun ada misi terselubung atau ada hal-hal negatif yang itu tidak termaafkan, tidak mendukung nilai-nilai penanaman karakter building tadi. Nah, ya seperti itu Bapak Idham, apa langkah-langkah yang akan Bapak dorong melalui legislasi untuk mengawasi tayangan-tayangan televisi yang sebenarnya itu sangat dekat dengan anak-anak generasi muda yang nantinya menjadi penerus bangsa Indonesia.

 

 

Ayuningtyas Rahmasari: Peran Perempuan Terus Didorong

Perkenalkan, nama saya Ayuningtyas Rahmasari. Saya dari generasi muda penggemar Romo Mangun. Di sini saya ingin bertanya, mengapa, setahu saya, pemimpin redaksi surat kabar itu jarang sekali seorang perempuan. Kalaupun jadi Pemred, biasanya di media massa itu seperti Femina, Nova. Nah mengapa tidak didorong atau apakah itu memang perempuan tidak memilik kemampuan untuk menjadi seorang Pemred. Dengan menjadi Pemred kan perempuan lebih bisa memiliki power, lebih bisa melestarikan Pancasila, nah misalnya itu Rosiana Silalahi, itu Pemrednya Kompas TV.

 

 

Timbul Mulyono: Pendidikan Karakter di Sekolah sudah ada Sejak 2010

Saya dari Dewan Pendidikan DIY, hanya satu yang saya usulkan, pendapat Bu Ning bahwa pembentukan karakter, pemerintah itu belum memperhatikan. Saya kira terbalik. Kami yang di Dinas Pendidikan SMA itu sudah tahun 2010 terus tidak henti-hentinya. Mulai dari yang diciptakan oleh Departemen Pariwisata dan Kebudayaan,pembentukan karakter building dengan 7 jalan yang cukup bagus, kemudian di tengah-tengah itu ada lagi, kemudian Joko Widodo juga menciptakan Astha Brata di mana yang itu betul-betul revolusi mental, kemudian akhir-akhir ini sedang rame Bu, mungkin Ibu mengikuti, kalau Menteri Pendidikan mengambil kebijakan 5 hari sekolah, tetapi ternyata Joko Widodo juga tanggap bahwa yang dipentingkan itu adalah PPK, penguatan pendidikan karakter. Dari situ nilai-nilai Pancasila betul-betul harus diterapkan. Sehingga kita mari bersama-sama, Departemen Pendidikan membentuk juga yang namanya Direktorat Pembinaan dan Pendidikan Keluarga, arahnya adalah membantu pelaksanaan PPK di dalam negara termasuk melibatkan keluarga-keluarga

 

 

Pak Bares (Gatot Marsono): Perlu Sosialisasi Nilai Kejuangan Kartini

Hari Kartini kita peringati kemarin, tapi saya tanya salah satu ibu di bela-kang, upama Ibu Kartini itu masih hidup, melihat kondisi Ibu-Ibu, Bapak-Bapak, kaum perempuan Indonesia sekarang itu marah apa nangis? Apa seneng? Ternyata jawabnya juga tiga-tiganya. Ya seneng tapi Ibu Kartini juga nangis bahkan marah, ha ini. Lha itu ndak perlu saya tanyakan, justru dalam momentum yang baik ini mungkinkah di era milenial ini ada aktualisasi nilai-nilai perjuangan Kartini.

Kartini sendiri merupakan korban poligami. Nah persoalan ini menurut saya ke depan gak boleh dianggap enteng, justru tokoh-tokoh intelektual perempuan harus memberanikan diri, berjiwa besar bahkan memberikan se-mangat keteladanan kepada kaumnya, kaum perempuan. Saya sering melihat ada seorang ibu yang masih muda, gak tahu itu kawin muda atau tidak, itu nuntun pulang anaknya dari SD dijeweri, ditampar sampai nangis gara-gara si anak minta jajan. Saya turun ke jalan. Bu, mbok le ngajar anake leren, tok pateni mati kok kuwi. Saya bilang begitu. Terus agaknya tersinggung, wong anak-anakku dhewe. Saya gak tega.

Nah di sinilah kemarin ada kasus kawin muda, jadi polemik. Mohon dari acara ini disosialisasikan dengan jalur multimedia atau apa, supaya nilai-nilai kejuangan kaum perempuan ini betul-betul tidak dirusak. Saya kira momentun ini menjadi awal, bulan depan sudah Mei, Kebangkitan Nasional. PBS, maaf saya ini juga pengurus dewan harian Angkatan 45 DIY, anak buahnya Prof Kunto Wibisono, sehingga saya juga punya kewajiban untuk mengembalikan jiwa kejuangan sepi ing pamrih rame ing gawe, bukan aku entuk pira, wani pira, ini mestinya harus ditepis oleh kaum perempuan yang menjadi pejuang penerus cita-cita Kartini.

 

 

Ibu Adiwarni: Perlukah P-4 Dihidupkan?

Saya Ibu Adiwarni, Pimpinan Akademi Pariwisata Indraprasta Yogyakarta. Menanyakan keadaan sekarang, saya sangat prihatin tentang kenakalan remaja. Baik itu di SMA maupun di perkuliahan. Saya mau menanyakan kepada Ibu, mengapa sekarang mulai ajaran baru baik SMA maupun mahasiswa, dulu kan satu minggu ada penataran P-4 gih Bu. Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Kenapa sekarang kok dihapus. Padahal itu bagi kami, sepertinya perlu, karena sekarang banyak mahasiswa ataupun murid-murid yang tidak menghargai baik itu sesama teman atau guru maupun dosen. Jadi sering terjadi perselisihan. Tapi kalau awal-awal masuk entah itu SMA atau kuliah ditatar P-4 selama satu minggu, mungkin beda. Karena kalau saya ingat, waktu mau ditatar kan ada pertanyaan-pertanyaan yang menjurus ke pengamalan Pancasila. Hasilnya setelah ditatar pertanyaannya sama, kira-kira ada perubahan enggak setelah dan sebelum ditatar. Mungkin itu Bu, kami cuma mengusulkan kenapa kok itu dihapus. Mungkin itu Ibu, nanti penyambung lidah kami, menurut kami itu masih perlu.

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIV: Dunia Batin Perempuan

SELIRIA EPILOGUS INI sebuah catatan pilihan, catatan penghujung dari serangkaian perca-kapan di beranda pergaulan sosial. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *