Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XII: Dialog

Diskusi Kebangsaan XII: Dialog

Transtoto

Transtoto Handadari: Perlu mencari Lakon yang Menyiratkan Kebangsaan

Nama saya Transtoto Handadari asli Jogja, Transtoto itu nama yang sulit tapi sangat indah jadi dari kata transmigrasi ditata, jadi saya ingat. Saya ketua umum GNI, atau Green Networking Indonesia, berkedudukan di Jakarta. Apa itu GNI berbangsa. GNI Berbangsa sebuah perkumpulan di mana kami bangun dengan azaz kebangsaan. Kami mengutamakan apa yang dinamakan persatuan, kesatuan, toleransi, persis seperti yang disampaikan narasumber, jadi apa yang disampaikan Bapak itu persis seperti apa yang kami lakukan. Kebetulan pendiri dari GNI Berbangsa adalah saya sendiri Transtoto, kemudian Ibu Sri Adiningsih, ketua Wantimpres, ada Komjen Gores Mere, ada Pak Marsekal kita Pak Suwitno, ada Jenderal Suwandi bekas Danpampres dan sebagainya banyak sekali termasuk juga ada Sekjen dari Departemen Kehutanan, Lingkungan dan lain-lain.

Anggota kami ada seratus ribuan orang dan saya berkeliling seperti Pak Idham, bagaimana menekankan kebangsaan yang harus kita miliki bersama, itu yang kita lakukan. Nah GNI Berbangsa bertujuan dalam 3 hal pokok, yakni persatuan bangsa, martabat bangsa dan kesejahteraan untuk seluruh anggota bangsa termasuk lingkungan, itu yang pertama. Yang kedua, saya ingin tadi bukan bertanya, tapi mungkin ada sedikit wara-wara dari kami, bahwa ada 3 hal saja yang saya sampaikan, yaitu yang pertama adalah soal pewayangan. Awalnya juga mbingungi. Kebangsaan karo pewayangan itu urusane apa. Tapi kemudian dijawab oleh Mas Minto, oo memang gathuk banget dan seperti yang saya sampaikan tadi memang kita sekarang tidak boleh tiru-tiru yang seperti tadi, Bathara Guru melihat orang bertapa, kemudian dan seterusnya, karena itu kalau saya bertemu ibu-ibu perempuan atau teman-teman, saya takut gak ini Mas, sendal saya terpakai kan bisa meteng. Jadi sama itu kayak wayang juga itu. Mungkin seperti itu, pertanyaannya atau wawasan kami adalah apakah kebangsaan ini adalah sebuah turunan dari pelajaran pewayangan yang kita ikat sebagai sesuatu yang berguna untuk negeri kita yang harus bersatu dan lain-lain ataukah kebangsaan yang kita miliki dengan Pancasila itu, bagaimana kalau diwujudkan di dalam bentuk sebuah lakon-lakon pewayangan yang diminati oleh banyak orang, sehingga bisa memberikan penekanan pelajaran untuk ini nampaknya Pak Minto tadi juga sudah menyatakan hal yang sama.

Jadi mirip Mas hanya kalau soal apakah wayang asli Indonesia atau asli India, kami tidak akan ikut campur, tapi secara umum saya kira kita tahu bahwa wayang itu dari India, meskipun mungkin India dulu bagian dari Indonesia. Kami tidak tahu soal itu. Karena tidak mungkin kita akan mengatakan anake Semar jenenge Permadi, tidak mungkin, ha karena di sononya bukan begitu, tapi kalau soal wayang itu lakone diuthek-uthek sehingga menjadi suatu kebutuhan kita, saya kira itu bagus sekali. Yang kedua, apakah ada masalah-masalah yang terkait dengan kebangsaan yang harus kita tangani, misalnya narkoba, tadi sudah disebutkan. Atau ada yang lain lagi. Sampai kepada hal-hal yang sifatnya sekarang lebih tren yaitu korupsi dan lain-lain. Dan lain-lain saya kira itu bisa diwujudkan yang harus kita berantas dan sebagainya sehingga masalah intoleransi, masalah korupsi yang menjadi bisul di dalam kebangsaan ini bisa kita buang. Yang ketiga, adalah sesuatu yang simpel saja. Saya selalu bercerita di mana-mana, barusan di Sumba, satu hari untuk menekankan bahwa yang namanya Indonesia itu satu. Karena itu, saya tegas mengatakan kepada mahasiswa Sumba, jangan kawin sama orang Sumba. Seperti di Jogja akan saya katakan, jangan kawin sama orang Jogja. Wong Yogja kok kawin sama wong Yogja itu padha karo pitik sing cilik iku jenenge apa? Pitik kate, wanine cedhak omahe, ndak boleh gitu. Jenenge wis kebacut ya wis. Jadi sejak dulu saya tidak pernah istri orang, bukan tidak pernah sekali, dan bukan orang Jogja. Tapi yang akan datang saya akan cari istri orang Papua, misalnya. Karena Indonesia itu satu. Itu yang selalu saya tekankan. Karena apa, yang namanya kalau kita terlalu cedhak omahe, ya tentu ada wong Jawa, ada wong papua, tetapi apalagi orang China, kasihan, dia selalu dituduh sebagai orang minoritas yang sangat buruk karena dia menangan, kan lucu ta, cilik ning menangan, dadi disengiti wong. Padahal jane wonge apik-apik. Nah saya bilang orang China, ee kamu anake si Samsia nata? Aja kawin karo anake China ta. Gih Pakdhe, tapi ya tetep wae goleke sing sipit juga, karena apa, mereka lebih dekat dengan lingkungannya, tetapi itu sangat merugikan bagi kebangsaan, bagi persatuan. Cobalah Amerika.

Di Amerika orang kawin antar hitam putih biasa. Sehingga tidak ada lagi orang Amerika dalam artian yang ming putih thok, karepe ngono. Seperti kita juga, sehingga asimilasi yang dulu guru kita Pak Idham gih, Bung Karno selalu mengatakan itu asimilasi kuncinya, yaitu bahwa bangsa kita menjadi satu, ora ana meneh China, Jawa, karena kita itu ndak ada yang asli, semua datang dari berbagai belahan dunia kita ini. Ya, cuman tidak ada yang datang dari orang hutan, misalnya, orang hutan, karena saya orang hutan itu ya tidak ada yang dari kethek, tentu ya menungsa tenanan.

Yang terakhir, adalah di dalam rangka itulah saya ingin titip kepada Pak Idham, Pak, bahwa saya ini orang hutan Pak, kebetulan kami pecinta alam, lingkungan hutan, dan hutan kita sekarang sedang compang-camping. Justru di saat presidennya orang kehutanan. Ini sangat disayangkan, karena presiden kita sekarang melepaskan yang namanya Peraturan Pemerintah Nomer 88 Tahun 2017, di mana hutan-hutan di luar Jawa itu yang sudah diduduki oleh rakyat, demi cinta kepada rakyat, diserahkan ke rakyat, untuk disertifikatkan dalam bentuk obyek formula agraria. Di Jawa muncullah P 39, Peraturan Menteri LHK 39, yang menyewakan tanah hutan per orang dapat 2 hektar, selama-lamanya. Bisa diwariskan, ya entek hutan di Jawa, yang tinggal 16% ini. Maka mungkin melalui Pak Idham juga, ini juga salah satu agar aspek-aspek kebangsaan yang harus kita dukung untuk jangan sampai itu terjadi kerusakan terutama fungsi hutan di bidang konservasi. Ini yang penting sekali. Saya menulis di Kompas terakhir kepada Pak Jokowi, saya kompromi sekarang, Pak Jokowi membagi-bagi, mangga, saya ya peduli rakyat. Tetapi jangan sampai kalau orang duduk di hutan lindung, langsung dikeki neng kono. Bablas ini, rusak semua, nanti bisa banjir.

 

 

Rismuji Raharjo

Rismuji Raharjo: Menginspirasi para Seniman dan Budayawan

Saya sedikit mau mengutarakan apa yang menjadi ngendikane Pak Sumarjono, itu yang sutradara, yang sering editing film-nya Marjuki. Pak, itu Djaduk, dosen sinematografi di Jakarta. Itu, wayang itu berawal dari Movie image. Movie image itu konon di Jawa sudah 5 abad sebelum Masehi sudah ada. Lalu muncullah wayang, kemudian muncullah film. Jadi induk daripada sinematografi memang berangkat dari movie image tadi. Citra yang bergerak. Itu satu. Yang kedua, kalau menurut Romo Magnis bahwa wayang itu adalah kristalisasi dari perwatakan manusia. Yang mungkin kita, ketika kita mencari identitas kebangsaan, barangkali larinya ke sana. Watake sapa? Ngono lho, Dasamuka apa watake Janaka?

Bagaimana kebhinnekaan ini, itu menyatu kan. Bagaimana kombang ali-ali masuk di Arjuna, dhandhun wacana masuk ke dalam Bratasena. Kemudian Yudhistira masuk ke dalam Puntadewa. Ini kan persoalan kebhinnekaan. Dibabad tetapi demi sesuatu yang lebih besar. Babad alas wanawarta. Beda lagi kalau hutannya itu tikbrasara. Itu beda lagi. Beda lagi kalau tebela suket. Beda lagi. Sama juga dengan minang kalbu beda dengan giri kadhasar. Itu beda lagi. Ini tinggal bagaimana teman-teman itu mengolahnya kemudian dengan bahasa yang relatif mudah bisa dicerna, begitu. Jadi pengkapsulan gagasan kebangsaan itu jangan terlalu rumit ya, seperti itu lho, MC manten itu malah sing ngrungokke dha ra ngerti. Sekarang itu adu wacana indah, tetapi itu ndak indah itu, selak ngelih suwe banget, cetha mantene ra bagus diunekke bagus. Mantene wedok ra ayu dikatakan raden ayu. Kasihan manten.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XIII: Dialog

Wayang di dalam konteks kehutanan, di dalam konteks maritim itu, luar biasa. Konteks gunung, luar biasa, mesti anelasana wanawasa  trus munggah ing ancala tumuruning juraning terbis. Ini kan Indonesia banget. Sangat Indonesia itu.

Di Candi Rara Jonggrang, itu ada relief ya, tentang Rama, itu pasti sebelum membuat menatah di relief itu, pasti ada skets-nya dulu kan, kain atau kertas. Ini patut diduga skets ini yang kemudian menjadi wayang beber, dengan lakon kemudian bergerak ke mana-mana sampai ke Panji, Serat Menak, Serat Ambya, dan seterusnya. Jadi kalau itu sudah 7 abad memang iya. Saya selalu mengatakan bahwa mungkin yang dimaksud Mas Garin ya, atau Mas Hanung ya. Jadi kalau kebangsaan kemudian mengidentifikasi dengan tokoh-tokoh wayang, kita harus ingat tokoh wayang. Bangsa ini bangsa yang mesti didekati dengan model psikologi. Yang harus diolah. Kalau tipologi itu kan bener terus. Kresna itu ngapusi ya bener. Selalu begitu. Wasisme Kresna itu. Ngapusi kan itu. Dora Sembada. Ini harus kita olah lagi. Memang iya, Karna itu memberikan kematiannya demi 5 adiknya itu. Tadi sudah dikatakan, ada Kumbakarna yang pertama satriya pangleburing gangsa, tapi ada lagi Narpati Ngawangga, Karna. Lalu ada lagi Patih Suwanda, siklus Ngalengka, siklus Maespati, siklus Pandhawa. Di Mahabharata dan Ramayana tak ada Sasrabahu, tak ada Sumantri, tak ada Sukrasana. Yang punya kita. Siklus Maespati. Nah jadi   indigenious knowlegde kita, milik kita wayang itu sebetulnya. Seperti  soal Gilingwesi, soal Murwakala dan seterusnya. Tapi identifikasi ini perlu juga kita dekonstruksi lalu kita rekonstruksi.

Semua itu. Artinya dia menjadi model-model tidak hanya tipologis tetapi juga model Psikologis, itulah pentingnya kenapa Arjuna namanya banyak. Kalau Arjuna namanya Herjuna, Her banyu Jun, wadhah banyu. Antenge kaya banyu neng jun. Tapi dia itu juga jejanggan Palguna, masih muda sudah menjadi pendeta. Palguna itu nama bintang yang berada di Utara, bunder, cahayanya tidak menyilaukan. Ini macam-macam sekali yang harus kita kreasikan dalam kebangsaan itu, dan ketika dia menjadi ratu di kahyangan namanya Prabu Karitina, namanya banyak sekali.

Dasanama itu dalam konteks bukan tipologi sebetulnya. Tapi menjadi psikologi. Bahwa ada kalanya raja itu kan boleh marah kan. Apa itu dikira tidak boleh marah, boleh. Marah demi kebangsaan itu sendiri, kita ingat Dewa Amral, Amral Dewa. Yang satu raksasa hitam Kresna, yang satu raksasa putih. Yudhistira. Sudah mau lakon apa saja, demi menjahit kebangsaan kita, disediakan.

Tetapi bagi seniman atau sastrawan modern, wayang itu sumber inspirasi kreatif. Makanya Romo Sindu menulis Anak Bajang Menggiring Angin. Makanya Linus Suryadi menulis Banowati dan Limbuk. Makanya Yanusa Nugroho menulis Manyura. Yudhistira Ardinugraha menulis wawancara dengan Rahwana, Danarto menulis Godlob, Purwadmadi menulis wayang, kumpulan puisinya. Ini terus kita produksi, tipologi kita hubungkan dengan psikologi, dalam konteks yang seperti apa. Saya kira begitu Mas. Saya kira yang dilakukan soal bayang-bayang dan seterusnya itu kita bisa lacak begitu. Makanya namanya wayang, namanya wewayangan, itu bayang-bayang hidup kita. Di sana. Itulah kemanusiaan kita. Kita andaikan lagi itulah kebangsaan kita.

 

 

Aloysius Yuwono

Aloysius Yuwono: Bangsa Ini Berada Di Persimpangan

Di awal tadi disebutkan, bangsa kita, negara kita telah sampai ke catur dhendha, artinya sudah masuk Pathet 9, terus nanti di catur dhendha tentu ada peperangan. Perang begal dan akhir ceritanya ya bisa dilalui menang. Lha terus nanti di Pathet 9 itu lama atau tidak dengan Pathet 6, lama di Pathet 9 atau Pathet 9-nya, karena besuk atau tahun ini sudah masuk tahun politik, apakah Pathet 9 itu diulur-ulur begitu. Terus untuk para seniman, itu tidak lepas dari pada penguasa. Contohnya, kita sering menjadi korban dari wayang juga, di era tahun yang lalu, sebelum 92, delapan berapa itu, para dalang dikumpulkan untuk membuat lakon wayang. Kalau kita masih ingat semua, bahwa lakonnya apa itu? Lain dari pada yang lain adalah Semar Mbabar Jatidhiri, itu di seluruh Jawa dari Solo sampai di Semarang, disuruh membuat lakon Semar Mbabar Jatidhiri yang tidak lain untuk waktu itu untuk berhubungan dengan Supersemar, siapa yang menerima siapa yang melaksanakannya, akhirnya ya lakon wayang itu ya karena para seniman dan pelakunya dapat ditebas oleh penguasa, hanya sekali itu, sekarang tidak ditampilkan lagi. Untuk itu bagaimana nanti untuk bangsa kita semua agar filosofi-filosofi yang ada tidak ditebas dan dapat mengorbankan kita semua. Terimakasih.

 

 

Rudito

Rudito Widagdo: Bangsa ini Juga Perlu Introspeksi Diri

Perkenalkan nama saya Rudito Widagdo, saya asli dari Nyutran, kebetulan satu petarangan sama yang baju putih itu, saya adalah pensiunan PNS kebetulan mantan atau katakanlah diplomat, saya bertugas terakhir di Brunei Darussalam. Pertama, tentunya saya ucapkan terimakasih atas presentasi dari Pak Idham, dan Pak Prof Suminta, bahkan saya ingin mengingatkan Pak Idham, bahwa 10 tahun yang lalu Pak, kami bersama-sama Bapak sama-sama telah meresmikan masjid di depan SMPN 2 Bantul, sumbangan dari kawan-kawan diplomat sesdil 10. Bapak memberikan suatu wejangan kepada kami yang selalu kami ingat adalah sama seperti yang Bapak sampaikan, adalah bagaimana membina sebuah persatuan Indonesia yang solid. Saya masih ingat sekali, itu dasarnya adalah sila ke-3, Pancasila yang sangat kita hormati.

Selain daripada itu, saya juga masih ingat dengan kata-kata teman setelah saya pensiun tahun 2016, saya sekarang gemar ternak burung, termasuk ayam bangkok, salah satu teman-teman bilang, ketemu Pak Idham saja di situ banyak ayamnya. Dengan Ibu, Buk, saya juga pernah ketemu waktu jamuan makan malam oleh Ngarsa Dalem di Gedung Kuning, delegasi Brunei Darussalam, pada waktu itu saya yang bawa, Ibu malah duduk satu meja dengan kami, termasuk dengan Bu Badingah. Terimakasih, saya dipertemukan kembali dengan Bapak-Ibu sekalian, dan betul Bu Maria bahwa saya ingin mengabdikan sisa-sisa kemampuan dan usia saya bersama saudara-saudara saya dan kawan-kawan dari negri net untuk Jogja. Mudah-mudahan bakti kami walaupun sedikit bisa diterima, karena saya pernah ditegor sama Pak Robi Kusumaharta di depannya Ngarsa Dalem, saya ditegor gini, Ngarsa Dalem, ini orang Jogja tapi kelihatannya tidak pernah mbantu Jogja, padahal di depan saya itu saya membawa pengusaha Jepang. Tapi oleh Mas Robi saya dianggap tidak pernah membantu Jogja. Ora papa. Tapi kata-kata Mas Robi yang saya, yang selanjutnya saya cathet, bilang begini, Ngarsa Dalem, ini Admin KTPnya Pak Widagda dicabut saja. Saya bilang oh ya terimakasih. Teman saya bisikan Mas Robi, Mas sampeyan kok pinter banget to, kenapa, ha aku KTP Jakarta kok arep mbok cabut, sakarepmu. Ha itu sedikit guyon. Terimakasih Pak, kita sekarang bicara pada siang ini mengenai kebangsaan, bahwa pada intinya kebangsaan itu merupakan pengejawantahan daripada pasal 3, sori sila ke-3 UUD 45. Eh sori Pancasila. Yang mana slogan-slogan akhir-akhir ini memang cukup drastis, bahwa kami yang di luar negeri pun selalu dititipi pesan harga mati, NKRI. NKRI harga mati, artinya bahwa dengan 2,5 juta warga negara Indonesia di Malaysia, sebagai ambil contoh, bagaimana kami dari perwakilan harus senantiasa secara konsisten konsekuen terus-menerus memberikan pemahaman kepada mereka betapa pentingnya sebuah persatuan. Saya sangat salut dengan apa yang Bapak sampaikan tadi, bagaimana mempersatukan 700, lebih dari 700 budaya, lebih dari 17.000 pulau yang ada di Indonesia menjadi satu, dasarnya adalah Bhinneka Tunggal Ika. Itu sulit sekali. Nah akan lebih sulit lagi apabila dengan kemajuan jaman sekarang ini. Semua orang boleh berkomentar. Semua orang boleh membuat berita apapun. Tapi jangan lupa, dengan UU ITE dan juga dengan berdirinya badan yang dipimpin oleh Mas Joko itu, kita harus mulai korek, karena sekecil apapun kata-kata yang kita keluarkan sering sekali mengganggu hubungan bilateral antara Indonesia dengan internasional. Sebagai contoh, budaya itu tadi saya mendengar, itu meliputi seni tari, kuliner, mohon maaf karya seni termasuk batik. Mungkin Bapak Ibu masih ingat betapa kita dengan Malaysia sering bertengkar karena batik. Sering bertengkar selanjutnya di anu karena TKI. Sering bertengkar karena budaya kita dipakai oleh Malaysia. Kenapa kita harus bertengkar? Karena nasionalisme. Oke baik. Tetapi sadarkah Bapak Ibu sekalian, bahwa yang menjadi Perdana Menteri Malaysia itu adalah orang Indonesia? Datuk Najib itu orang Indonesia, Bapak-Ibu. Orang Sulawesi. Kalau dia pakai pakaian Sulawesi apakah salah? Jangan lupa yang namanya Datuk Sahid itu orang Kulonprogo. Betul. Dia kalau ketemu dengan kami pakai bahasa Jawa Pak. Kalau dia pakai batik, apakah salah? Nah hal-hal yang seperti itu saya selalu tekankan kepada kawan-kawan untuk selalu lah, cobalah introspeksi. Nah dalam hal ini Bapak, untuk mempersatukan apa yang telah disampaikan kepada Bapak, satu kelemahan bangsa kita, kita tidak punya yang namanya pembangunan mental spiritual Pak. Dulu jamannya Pak Harto di dalam GBHN ada. Tetapi sekarang saya tidak melihat. Itu harus dibarengi dengan berdirinya sebuah katakanlah disiplin. Pada jamannya Pak Sudomo ada Kopkamtib, sehingga kita disiplin. Ada pembangunan mental spiritual. Saya pernah diceramahi Bapak, dari Jakarta sampai Jogja oleh Mbah Tarjo. Saya bilang, Jogja ki apa, keri terus pembangunane. Saya dimarahin Pak. Dari Jakarta Jogja. Dhik sing perlu bangsa kita adalah pembangunan mental spiritual. Itu Pak yang perlu. Nah, caranya bagaimana, saya ingin menggarisbawahi apa yang disampaikan Pak Transtoto tadi, mungkin salah satunya adalah melalui media-media, katakanlah wayang tadi yang diusulkan, seperti itu. Kami telah melakukan ini beberapa kali Pak di Jogja, melalui media kethoprak. Memang ceritanya dibuat oleh katakanlah di sini mungkin oleh Mas Joko, tetapi di situ kita selip-selipkan ungkapan-ungkapan untuk mempersatukan bangsa. Nah juga Pak, mungkin nanti ada baiknya juga selama ini yang selalu mendengar untuk mewujudkan sebuah persatuan kesatuan adalah dewasa. Kenapa gak kita mulai dari anak-anak. Melalui sekolahan. Bukunya ada pasti. Tapi bahasanya njlimet Pak. Mohon maaf, angel kadang-kadang itu, saya saja tadi waktu datang melihat temanya saja bingung, kebangsaan dalam dunia pewayangan, sing arep dijupuk apane, aku ra ngerti Pak. Tapi saya sadar sekali bahwa ini adalah sosialisasi sehingga golnya saya tidak akan bertanya. Tetapi saya yakinkan, saya meyakini bahwa upaya-upaya ini sangat baik. Itu yang pertama Bapak. Jadi kami menyarankan memang betul harus ada sarana dan kami dari pihak green network berbangsa siap bersama-sama dengan Bapak, dengan pihak-pihak lain untuk ikut, sebenarnya mensosialisasikan itu, mohon maaf ya, sambil koreksi sosialisasi itu bukan bahasa yang benar. Yang benar adalah mendiseminasi, tapi apa pun bahwa itu nanti akan menghasilkan sesuatu yang baik dan saya berharap memang itu akan menjadi lebih baik. Yang kedua, ingin saya sampaikan, adalah bagaimana kita, mohon maaf ini bukan tanggapan Bapak, mungkin masukan, selain memberikan satu pemahaman kepada mulai dari anak-anak, melalui media-media, juga tidak kalah pentingnya adalah pemahaman, mohon maaf saya bukan sukuisme, bukan menganut paham suku, tetapi kenapa kita tidak munculkan Jogja. Jadi kita mulai dengan yang spesifik adalah untuk warga Jogja. Wayangnya katakanlah Jogja. Karena apa Pak, kita tidak ada maksud apa-apa, dengan bangsa yang lain, kata Prof, tetapi Jogja ini selain diperlukan sebuah pembangunan mental spiritual ya tentunya harus diberikan satu suntikan yang cukup bermanfaat untuk mengarah ke sana, karena Jogja dipandang sebagai barometer politik di Indonesia. Saya kira ini penting karena kita lihat pengalaman saya hidup di Jogja, 28 tahun sebelum saya merantau, itu bagaimana terjadinya gejolak di Jogja. Sampai pada akhirnya tahun 78 terjadi kayak gitu itu, Petrus apa itu istilahnya, itu gejolak. Nah itu gimana kalau kita mulai spesifik Jogja. Lalu yang ketiga, saya ucapkan salut kepada Prof Suminto pagi ini menggunakan blangkon. Saya bangga dengan blangkon. Sehingga sayalah orang yang protes ke Srimulat, kenapa blangkon selalu dipakai oleh babu. Lha coba di Srimulat. Pasti pakai blangkon babunya itu. Mulai Basuki kek, sapane, kayane blangkon gak ada harganya. Saya protes dan waktu itu diterima oleh Bu Jujuk untuk supaya jangan gunakan blangkon. Saya terimakasih Bapak pakai blangkon. Karena blangkon itu kebesaran kita. Sehingga saya ketika saat pembukaan JEC Food court itu saya diwawancarai, saya minta, minta usul kalau boleh, mbok pelayannya itu menggunakan pakaian tradisional Jogja. Tumbuhkan budaya Jogja. Ndak usah malu-malu. Ya mungkin karena saya jarang pakai blangkon, saya sangat tidak pernah malu. Bahkan foto saya yang pakai blangkon, saya pasang menjadi PP, supaya wajahnya kelihatan Jawa.karena saya itu sering tadi saya waktu masuk dipikir saya dari, ngendi kae Glodok, yen kene ngendi, haa ngono, ya ra papa, rai Jawa rejeki eh rai China rejeki Jawa. nah jadi itu Pak, kurang lebihnya ingin matur nuwun Bapak telah ikut mengangkat itu, karena saya terus terang kita terus bangga dengan Jogja dan harus bangga sebagi warga negara Indonesia. Karena bagaimana pun juga, oh ya ada satu cerita Pak Idham, bahwa waktu saya jadi konsul jenderal di Sabah Malaysia, dari 1.000 responden, saya minta anak buah temen-temen, maaf dari tentara, tolong kamu bikin apa namanya pertanyaan kepada para TKI, 1.000 TKI Pak, ada satu pertanyaan, kalau Indonesia dan Malaysia perang, karena waktu itu ramai terus, kamu pulang akan membela Indonesia atau tetap tinggal di sini? Yang njawab pulang ke Indonesia hanya 1 Pak. Lainnya, saya mau cari dhuwit. Itu yang namanya ketergantungan. Nah caranya gimana? Saya membuat suatu, beberapa kreativitas, ya mudah-mudahan bisa membuat mereka itu cinta Indonesia. Kenapa? Ya karena itu tadi Pak. Ternyata kita itu masih kurang memberi pemahaman dan ternyata dhuwit adalah segalanya. Itu yang saya sayangkan. Nah untuk itu, memang sebaiknya yang namanya sosialisasi ini harus terus-terus dilakukan dan dengan cerita-cerita yang betul-betul bisa membangun mental karakter kita sebagai bangsa yang besar.

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XX: Nom

SELIRIA EPILOGUS GUGUR dalam usia belasan tahun, tapi dia sudah cukup dewasa untuk menjadi suami …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *