Minggu , 21 Oktober 2018
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XI: Dialog

Diskusi Kebangsaan XI: Dialog

Anik Yudastowo

Anik Yudastowo: Yogya Benteng Pancasila Terakhir

Saya Anik Yudastowo dari Tim Penggerak PKK DIY. Untuk ini kami hanya satu komentar, kami sangat prihatin pada waktu ada Kongres Pancasila di UGM untuk seluruh Indonesia, disampaikan oleh salah seorang guru besar, Yogyakarta itu merupakan satu daerah pertahanan Pancasila terakhir di Indonesia. Sepertinya Yogyakarta ini memang diprogram, dihancurkan. Jadi kalau dulu itu penjajahan VOC, tapi penjajahan sekarang tidak perlu mendirikan satu lembaga, tetapi cukup dengan perubahan pola pikir.

Inilah yang kami prihatinkan.Tampaknya kita ini sebagai negara besar, dengan 714 suku, kalau di Singapura itu hanya 6, tetapi kita 714, tetapi kebhinneka tunggal ikaan ini hanya dipahami sebagai kita ini sebagai bangsa yang bhinneka, tetapi tunggal ikanya kurang menjadi satu penegasan. Kalau teringat pada hasil kongres perempuan kedua tahun 1932, yang kebetulan ketua kongresnya adalah Ibu Sri Wulandari Mangunsarkoro, disampaikan bahwa peran ibu, adalah peran sebagai ibu bangsa, karena di tangan ibu bersama bapak tentunya, yang pertama di dalam kandungan sampai dengan usia-usia kelahiran berikutnya memiliki satu tanggungjawab untuk membentuk anak ini menjadi kader bangsa tadi. Tetapi ini ternyata bukan merupakan satu hal yang tidak dapat digeneralisir, karena kurikulum Pancasila ini sekarang juga makin ditipiskan, sehingga dapat kita jumpai pada saat ini, seperti ini, termasuk pendidikan para perempuan kita. Dan satu hasil penelitian dari BKKBN bersama UMY, anak-anak SMP sekarang, para putri, ini balap-balapan punya pacar. Lebih banyak pacar itu kebanggaan, tetapi pada waktu terjadi kehamilan, kemudian dilotre, ini anaknya siapa. Dan setelah dilotre, pemenang lotre ini adalah yang nanti akan jadi bapaknya. Dengan kelahiran itu, kemudian dititipkan pada orang tua pemenang lotre, dan orang tua pemenang lotre, ekonominya tidak mapan, maka juga punya anggapan bahwa ini belum tentu cucuku. Sehingga perawatannya juga tidak semaksimal mungkin. Nah inilah kiranya satu hal PR yang cukup berat, tidak hanya cukup bagi ibu-ibu tetapi kita bersama, khususnya di Yogyakarta ini yang tadi satu proyek untuk dihancurkan tadi dan bahkan di Kongres Pancasila disebutkan bahwa ada satu organisasi, bukan organisasi resmi yang disebut bilderberger (lih. Bilderberg Club – Ed.), yang sejak awal Indonesia, sejak tahun 1955, sejak Konferensi Asia Afrika, mereka sangat anti kepada Bung Karno, karena Bung Karno menyadarkan bangsa-bangsa yang masih tertinggal untuk anti pejajahan. Nah inilah PR kita bersama, tidak hanya untuk perempuan tapi semuanya.

 

Ayuningtyas Rahmasari

Ayuningtyas Rahmasari: Perempuan Mampu Menjadi Pemimpin

Saya Ayuningtyas Rahmasari, saya dari persahabatan wartawan cilik Yogyakarta, bersama adik-adik di sini. Saya ingin sharing saja dan ingin bertanya mengenai peran perempuan dalam membangun bangsa khususnya untuk menjadi pengambil keputusan. Sepengalaman saya, itu banyak organisasi yang masih menjadikan laki-laki itu sebagai pemimpin dan pemimpin itu harus laki-laki. Itu dari OSIS, Ketua Perhimpunan Mahasiswa, ada ketua KKM juga, seperti itu. Nah bahkan persepsi orang lain juga seperti itu. Sedangkan di satu sisi, sebenarnya perempuan itu mampu untuk memimpin dalam membangun bangsa, dalam mengambil keputusan juga. Buktinya mungkin Ibu mengetahui pengetahuan tentang penghargaan nasional dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, yaitu tunas muda pemimpin Indonesia. Di organisasi kami itu sudah terpilih 4 mewakili DIY dan itu semua adalah perempuan, penghargaan tunas muda pemimpin Indonesia, salah satunya adalah saya tahun 2013, jadi ada Dik Eka taun 2016. Ini membuktikan bahwa sebenarnya perempuan itu bisa berperan dalam mengambil keputusan untuk membangun bangsa. Nah melihat kondisi tersebut, kira-kira apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal tersebut, di mana masyarakat masih berpersepsi bahwa pemimpin itu harus laki-laki.

 

Beni

Beni: Perlu Pendidikan Perempuan untuk Menjadi Pemimpin

Yang ingin kami tanggapi, gerak perempuan ini memang sangat menarik dan memerlukan perjuangan yang cukup berat. Kita tidak bisa menanyakan salah siapa, tapi memang ini adalah perjalanan sejarah. Tentu kami berharap di sini ada Bu Sari sebagai dosen, Ibu Rofi sebagai penggerak perempuan dari Aisyiyah. Memang perlu pendidikan untuk perempuan sebagai calon pemimpin, dididik, dibentuk secara khusus dan ini dibudayakan dari rumah tangga. Mungkin Ibu Rofi bisa menjelaskan juga, menekankan apa beda antara imam dan kepala organisasi, sehingga kadang-kadang di dalam rumah tangga pun salah menafsirkan, sehingga anak perempuannya yang ingin maju, itu dinilai menyalahi agama.

Jadi ini perlu dijelaskan bedanya imam dan kepala lembaga organisasi. Tentu hal ini tidak begitu saja terjadi, mulai dari materi pembelajaran. Materi pembelajaran itu saya masih membaca, di tingkat TK, gambar di mana Bapak ke kantor, ibu menyeterika dan memasak. Lha ini di TK tertanam di otak anak laki-laki dan perempuan, bahwa nek wedok iku njur, putri menika kedah masak, bapak tindak kantor. Pun rampung. Nah itu dibawa ke mana di otak anak yang balita ini, itu sudah tertanam. Pernah cucu saya minta besok kamu jadi pemimpin. Enggak. Eyang katanya bu guru, ibu memasak. Lha itu perempuan, ngaten itu Bu. Ha jadi ini materi dari balita itu harus disiapkan, tentu di dalam materi pendidikan pun itu harus kita siapkan. Tidak bisa begitu saja. Kakung itu pun tentu dipersiapkan juga kok. Dari pendidikannya. Nah, kemudian ada satu yang unik dalam memilih perempuan ini. Saya pernah memilih kepala-kepala bidang di bawah saya, itu perempuan. Tapi setelah dia terpilih, memilih kepala seksinya, dia pilih laki-laki. Saya tanya, lho kamu itu perempuan kok gak milih perempuan untuk pembantu kamu. Nek wedok niku diajak rembugan angel je Pak. Nyinyir katanya. Nek kakung gampil, kabeh beres, ngaten. Ini satu sifat yang perlu juga diteliti, begitu. Jadi ini bukan satu hal kelemahan yang alami, tidak, tapi ini hanya masalah pendidikan kepada yang bersangkutan. Nah kemudian mengenai kesamaan. Kok untuk laki-laki suami menjadi kepala bagian atau kepala dinas, itu gak pernah tanya, mengko aku takon istriku dulu setuju apa enggak. Tapi kalau istri ketika saya tanya, kamu mau menjadi kepala bidang enggak? Mikir, oh ya nanti tak tanya suami saya dulu. Nah ini bagaimana Bu? Menurut Aisyiyah cara pikir seperti ini, begitu gih, apakah seperti ini bisa diubah dan mungkin ini pendidikan tidak hanya untuk ibu tapi untuk suami-suami juga begitu ya, kalau istrinya mendapat kesempatan ya didukung. Ya saya pernah ketika istri saya bilang begitu tapi syaratnya satu, aja njaluk ditutke. Lha itu maka mangkata dhewe, pulang dhewe. Nah kemudian saya pernah ngetes, seorang perempuan untuk menjadi kepala dinas. Saya tanya, lha nanti kalau Ibu sebagai kepala dinas bisa nggak melaksanakan tugas sewaktu-waktu karena mendadak, karena kedinasan kan biasa sewaktu-waktu 24 jam. Itu jawabnya saya bisa. Gak perlu minta ijin suami? Ndak, karena saya janda.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XVII: Wujudkan Nilai-nilai Pancasila dengan Etika Proses dan Kebijakan

 

Bung Sila

Bung Sila: Rakyat Indonesia Masih Waras

Baik ya, selamat berjumpa semua, merdeka! Pertama kali saya mengenalkan diri, nama saya Bung Sila. Nama ini diberi oleh teman-teman Palembang pada saat saya keliling Indonesia untuk menguji kesaktian Pancasila dengan uang 400 ribu rupiah. Benar, nama saya Bung Sila, dari brigadir Pancasila Sakti. Baik, jadi tentang kekuatan negara bangsa ini, dikaitkan dengan data-data oleh beberapa peneliti dan narasumber, itu sebagian mereka seolah-olah negara ini dalam keadaan bahaya. Bagi saya tidak demikian. Bangsa, pokoknya negara ini tetap kuat karena rakyat yang waras. Yang tidak waras itu elite-elite, penguasa elit politik. Mereka tidak hafal Pancasila ya rusak. Kita jangan mengkorelasikan seolah-olah yang rusak ini rakyat. Tidak. Kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat. Mereka baik-baik saja. Saat saya kecelakaan di Lok Seumawe Aceh, orang ini ditolong oleh saudara yang di Aceh, dan menjadi orangtua angkat di Aceh sana pada saat ini. Terjadi seperti itu. Karena negeri kita Pancasila. Di konteks sekarang, saat ini antara yang hafal Pancasila dengan, kira-kira yang sebangsa ini siapa, tokoh keteladanan. Spirit keteladanan ini yang hilang. Sudah nyolong uang rakyat, nipu tabrak tiang listrik. Ini bukan hal kecil, bagi kami soal kepercayaan rakyat. Ini mahal untuk membangun kembali kaum milenial untuk percaya kepada pemimpin, susah sekali pada saat ini. Jadi sekarang bukan, kami hafal teks, bukan itu. Bagaimana kebijakan pemimpin itu, kebijakan sebagai pemimpin itu realisasinya apa? Yang kedua tentang UU ini hampir semua regulasi yang dibuat negeri ini itu jenis kelaminnya laki-laki. Contoh saja, saya pengurusan catatan sipil, untuk Kartu Keluarga, tiba-tiba yang keluar kepala keluarga adalah suami. Padahal saya tidak mengusulkan. Saya maunya istri saya yang jadi kepala keluarga. Jadi seharusnya ada memo dari keluarga ini bahwa dia mau istrinya jadi kepala keluarga. Yang berikut, persiapan menghadapi negara bangsa bagi orang muda. Mengapa negara tidak hadir pada saat persiapan pernikahan bagi KK baru. Contoh, yang ada hanya hari pernikahan, resepsi. Bagaimana mengisi otak mereka pada saat kursus pernikahan. Pancasila ditanamkan dari lembaga-lembaga terkait, BKKBN, bagaimana ekonomi rumah tangga mereka sampai menuju kepada upacara pernikahan. Sehingga mengeluarkan Kartu Keluarga karena sudah ada jaminan bahwa ini orang Pancasilais untuk membangun negeri bangsa ini harus rumah tangga yang rukun. Kalau rumah tangga tidak rukun bagaimana membangun negeri bangsa ini. Itu saja, terimakasih.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XVI: Mendiskusikan Ekonomi Hijau

 

Sri Suryawidati

Sri Suryawidati: Perlu Strategi Khusus untuk Mampu Memimpin

Ada 3 hal yang ingin saya nyatakan dan tanyakan pendapat Ibu. Yang pertama saya sepakat Ibu bahwa dalam suatu rumah tangga itu seorang istri adalah tiang. Tiang rumah. Dan suami kalau menurut saya, suami itu mustaka. Mustaka rumah dan selalu saya sampaikan bahwa keberadaan suami istri itu harusnya sama pentingnya, rumah tanpa mustaka ora mungkin jadi rumah, tanpa tiang pun akan ambruk, sepakat itu.

Yang kedua, saya menjadi bersyukur sekali atas ijin suami, walaupun sebenarnya nganggo tarik-ulur. Tarik-ulur lama, apakah, karena waktu itu saya mengawali yang pertama ya, bupati pertama, perempuan pertama menjadi bupati itu, Pak Idham itu entuk ora, entuk ora, akhirnya ditimbali Ngarsa Dalem, ditimbali Bu Mega, wis diculke wae, wong mengko sing milih ya dudu kamu to? Bukan kamu sendiri to yang milih? Rakyat. Yang kedua. Saya bersyukur nggih. Saya bisa menjadi bupati dan hidup saya selama 5 tahun manfaat buat masyarakat. Yang ketiga, mungkin ini kaitan dengan sedikit politik ya, jadi tadi Ibu ngendika bahwa banyak sekarang pemilih perempuan 30% gih, yang saya tahu di Bantul, banyak sekali pemilih perempuan. Dan walaupun dengan dijaring-jaring, akhirnya bisa terpenuhi 30%. Dan saya melihat sendiri, calon-calonnya itu betul-betul sebenarnya erkualitas dan sregep, karena saya mengikuti, bagaimana gerak mereka, termasuk Mbak Anik ya. Mbak Anik ini juga sebagai calon waktu itu. Saya melihat kenapa ya kok perempuan itu susah amat lolos menjadi anggota DPR waktu itu. Saya sendiri juga heran, dalam tanda kutip ada apa?

Memang sekarang saya melihat bagaimana aktifnya mereka, dari rumah ke rumah, mungkin hanya membawa program, apa yang akan dikerjakan, tapi akhirnya kalah juga, dan yang tersisih hanya sedikit. Yang jadi hanya sedikit. Nah jadi saya ingin mohon pendapat Ibu, menang bagaimana, kalau itu menang terhormat tapi ra duwe kekuasaan, tapi kalah terhormat ning duwe kekuasaan, itu pendapat ibu bagaimana? Jadi menang terhormat, ee menang terhormat tapi tidak punya, ee menang tidak terhormat, jadi menang terhormat tapi punya kekuasaan, dengan menang, kalah terhormat tetapi tidak punya kekuasaan, jadi apa pendapat Ibu.

 

Suyatmi Sutikno

Suyatmi Sutikno:

Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh. Nama saya Ibu Suyatmi Sutikno, dari Perwosi DIY. Pertanyaan saya, sebenarnya akan saya tujukan kepada Pak Idham sehubungan dengan waktu diskusi di Kebangsaan 10 di Monumen Jogja Kembali. Namun demikian ada Bu Anik hubungannya dengan perjuangan perempuan, maka saya sampaikan. Yaitu beliau pada waktu itu menyampaikan perjuangan perempuan itu akan berakhir apabila tidak punya strategi baru. Nah dengan adanya pernyataan seperti itu, maka lalu kami berpikir selaku perempuan, bagaimana upaya perjuangan atau kepemimpinan perempuan itu tetap berlangsung, sehingga kita para perempuan itu ada yang kemudian ya menjabat apakah di eksekutif, legislatif ataupun di tempat-tempat yang lain. Itu karena kebetulan ada tokoh-tokoh perempuan, maka ini saya tanyakan, bagaimana strategi yang harus kita lakukan, itu pertanyaan kami yang pertama. Kemudian yang kedua, itu yang ada hubungannya dengan Pancasila. Pada waktu itu Pancasila itu ada lembaga yang menangani khusus, BP 7. Kemudian dengan adanya Pancasila atau dengan BP 7, lalu Pancasila itu dapat dikembangkan, dapat dimaknai dengan baik. Tetapi beberapa waktu yang lalu Pancasila ini kelihatannya tidur, tidak dikembangkan lagi. Nah dengan tadi disampaikan bahwa sekarang ini lalu ada lembaga yang dipasrahi oleh Presiden untuk mengamalkan Pancasila kembali, yang saya dulu pernah jadi guru yang mengampu kewarganegaraan, dan juga PKN dan juga mohon maaf, juga pernah jadi anggota DPR, dengan adanya itu lalu kami merasa senang, merasa gembira, kalau kemudian hari nanti nilai-nilai Pancasila itu benar-benar akan dapat dikembangkan sehingga pemuda-pemuda kita ataupun anak-anak kita akan bisa mendalami menjadi anak yang berbudi pekerti baik, terimakasih.

 

Ayik

Ayik:

Saya Ayik dari perwakilan lion club. Yang mau saya tanyakan adalah tentang 30% dari kuota perempuan untuk di politik. Hari ini kita melihat bahwa perempuan itu sangat minus untuk maju ke dunia politik karena apa, karena saya pikir edukasi untuk literasi untuk ke hal politik itu sendiri, karena hari ini kenyataannya bahwa masyarakat kita itu benar-benar tidak melek dalam hal politik. Karena menurut saya, kita tidak harus berpolitik, tetapi kita harus melek untuk berpolitik agar kita tidak dipolitiki oleh orang-orang yang memiliki kepentingan itu sendiri. Jadi bagaimana ya action-nya atau orang-orang yang berkepentingan itu mengedukasikan kepada masyarakat secara umum, kepada perempuan-perempuan agar teredukasi bahwa kita memang harus melek politik, terimakasih.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XIX: Demokrasi Pancasila, Belum Merupakan Suatu Kenyataan

 

Sri Agung Sugiyani

Sri Agung Sugiyani: Pendidikan Karakter Tugas Siapa?

Saya Sri Agung Sugiyani dari PADI, mohon maaf, ini sebetulnya yang saya tanyakan secara agak sederhana. Jadi dari pertama kali tadi, dari Ibu Sarimurti tentang kenakalan remaja, kemudian dari Bapak Idham tentang jangan meninggalkan kearifan lokal, itu jawabannya ada di Aisyiyah yang ada di Bu Rofi. Penguatan karakter generasi muda. Nah untuk mengatasi ini, alurnya kita harus memberikan pendidikan karakter.

Pendidikan karakter ini sebetulnya tugas dari siapa di sini. Mungkin dari sekolahan, tetapi seiring dengan Ibu Sari tadi bahwa dari keluarga. Jadi ada pendidikan keluarga. Nah ini sebenarnya saya cuma nitip pesan saja, Bu Sari buat Gusti Kanjeng Ratu yang ada di kepemimpinan sana, bagaimana untuk memberikan pendidikan keluarga, mungkin kalau pendidikan keluarga hanya dibebankan di sekolah, pendidikan karakter juga pendidikan keluarga itu kan tidak mungkin karena akan tidak sinkron semuanya ya, akan meninggalkan kearifan lokal juga. Bagaimana anak-anak kita itu lebih suka bermain barby dan bermain game easy, karena melihat orang tuanya sendiri sukanya juga memakai tas yang branded yang harganya berapa, mungkin dari sini bisa melihat ya, jadi kayak gitu itu, bagaimana kita akan menghargai kualitas produk lokal kita, itu saja mungkin titipan saya.

 

Timbul Mulyono

Timbul Mulyono: Perlu Peran Aktif Bapak dan Ibu dalam Pendidikan Karakter

Saya Timbul Mulyono, dari Dewan Pendidikan DIY, tergugah dengan pendidikan karakter, dari Bu Rofi juga demikian. Ya tadi rekomendasi pertama pendidikan karakter. Di dunia pendidikan ya kami mengelola itu sudah 10 tahun pendidikan karakter itu dicanangkan, tetapi memang kemudian terus dibenahi dan yang terakhir Menteri Pendidikan mengeluarkan keputusan, kemudian diperbaharui dengan Keppres, Keputusan Presiden. Yaitu penguatan pendidikan karakter. Yang menjadi permasalahan, memang kalau sekarang kemudian yang menjadi obyek itu adalah 5 hari sekolah atau 6 hari sekolah, padahal titik beratnya adalah pendidikan karakter. Banyak yang sudah kami himpun di DIY ini pendidikan dasar yang baru melakukan pendidikan karakter adalah Kulonprogo dan Kota Yogyakarta. Lainnya belum berani pendidikan dasar maupun pendidikan menengah. Karena di sana ternyata setelah kita himpun kebanyakan mengatakan bagaimana peran keluarga atau istilahnya kalau ibu-ibu itu gerak-gerak, bapak-bapak senang. Sehingga nanti akan menjadi sinkron antara gerak bapak dengan gerak perempuan. Untuk membina pendidikan karakter.

 

Gatot Marsono

Gatot Marsono: Perlu ada Kontrol Perilaku Remaja

Saya baca di Yogya ada Gedung wanita. Bagi saya saja bingung apalagi anak-anak sekarang. Yang benar itu gerak perempuan atau gerak wanita. Satu. Kedua, mohon ada sentuhan-sentuhan khusus untuk panitia ini, saya usulkan diskusi kebangsaan yang akan datang mohon juga melibatkan Menwa, OSIS, tapi tentu saja lain waktu. Bagaimana kalangan OSIS DIY, ini karena saya melihat ada gejala-gejala pergaulan bebas yang semakin tidak karu-karuan. Siapa yang mau mengontrol. Beberapa organisasi perempuan baik dalam lingkup keagamaan maupun yang nasional, lokal kayaknya action plan-nya belum ada. Nah ini perlu ada satu kerjasama dengan lembaga riset supaya menemukan data yang riil. Apalagi ini DIY, jadi bagaimana peran wanita atau perempuan khusus dari DIY yang istimewa ini? Nah yang terakhir, kaitannya dengan media massa. Baik itu yang IT maupun yang konvensional, berita-berita tentang suami membunuh istri, ditayangkan berulang-ulang. Bahkan ada stasiun televisi yang membuat tayangan itu reka ulang. Yang dilakukan Pak Polisi itu ditayangkan penuh. Lebih parah lagi, penyiarnya mengomentari. Ini kan benturan dengan UU Pers dan juga UU Penyiaran dan tentu saja budaya meniru itu masih kuat sekali. Masih banyak berita-berita yang antara suami istri gara-gara minta cerai dibunuh, dibuang lagi, dimutilasi lagi. Lah mohon lembaga-lembaga keorganisasian perempuan berani berteriak-teriak terhadap anggota DPR kita, bagaimana UU Penyiaran ini juga perlu dicermati ulang. Itu kan produk lama. Terimakasih.

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIX: Kepemimpinan Berdasar Pancasila

Prof. Dr. Kaelan, MS Topik yang kita letakkan sebagai substansi diskusi saat ini memang berada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.