Minggu , 21 Oktober 2018
Beranda » Sastra » Di Bawah Bulan Purnama Mengenang Yang Tiada
Dari kiri: Maria Kadarsih, Luwi Arina feat Sugenyi, Landung Simatupang (ft. Ist)

Di Bawah Bulan Purnama Mengenang Yang Tiada

Kita mengenal sejumlah sastrawan, yang tinggal di Yogya, atau berasal dari Yogyakarta, tetapi tinggal di kota lain, dan sering ulang-alik ke Yogya, malah memiliki rumah tinggal di Yogya, dan mereka yang terus tinggal di Yogya sampai akhir hayatnya. Selain aktif menulis karya sastra, mereka juga dikenal sebagai jurnalis, malah aktif sebagai anggota Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta –satu komunitas orang-orang yang dulunya pernah menjadi wartawan dan kini sudah pensiun, namun ada juga yang masih akif sebagai wartawan, dan usianya sudah lebih mendekati 60, atau bahkan lebih dari 60–. Para Sastrawan itu ialah, Darmanto Yatman, tinggal di Semarang, dan sering ulang-alik Semarang-Yogya, karena memiliki rumah tinggal di Yogya, Bambang Darto, Ahmad Munif, Rudhatan dan Budhi Wiryawan, tinggal di Yogyakarta. Ketiga nama disebut terakhir adalah anggota Paguyuban Wartawan Sepuh.

Kelima sastrawan dan jurnalis tersebut telah tiada,  untuk mengenang mereka, Sastra Bulan Purnama menampilkan karya-karya mereka untuk dibacakan.

Sastra Bulan Purnama yang diselenggarakan Tembi Rumah Budaya, sudah mendekati 7 tahun. Setiap bulan, saat bulan purnama bersinar, acara sastra digelar, dan pada Sastra Bulan Purnama edisi 81, Jumat 29 Juni 2018  mengambil tempat di Amphytheater Tembi Rumah Budaya, bulan purnama bersinar, seolah menghiasi pembacaan puisi.

Pada Sastra Bulan Purnama edisi 81, mengambil tajuk ‘Mengenang Yang Tiada Membaca Karya’. Karena memang menampilkan puisi dan cerpen karya sastrawan yang telah tiada. Mereka adalah Darmanto Yatman, Ahmad Munif, Bambang Darto dan Budhi Wiryawan. Kelimanya dari generasi yang berbeda, paling muda Budhi Wiryawan.

Maria Kadarsih, seorang pemain sandiwara radio di RRI Yogyakarta tampil membacakan dua puisi karya RS. Rudhatan, seorang penyair dan wartawan, sekaligus seorang guru SMA. Dua puisi Rudhatan juga dibacakan Masduki Attamami, seorang penyair dan pernah menjabat sebagai kepala kantor berita ‘Antara’ dan kini sudah pensiun.

Simak juga:  Yudhistira Tampil di Sastra Bulan Purnama

Mungkin karena terbiasa main sandiwara radio, selain suaranya enak untuk didengar, Maria Kadarsih menghayati puisi Rudhatan dan dia membacakan puisi dengan penghayatan yang penuh.

“Satu lagi puisi karya Rudhatan akan saya bacakan, dan kali ini dengan gaya yang berbeda dengan yang pertama” kata Maria Kadarsih mengawali sebelum membacakan puisi yang kedua.

Bu Maria, demikian sering ia dipanggil, lalu mengubah puisi Rudhatan menjadi lagu, dan tanpa iringan musik, disela-sela ia melagukan puisi, diselingi dengan membaca puisi. Maria Kadarsih, memang menghadirkan dua puisi dalam gaya yang berbeda.

Dalam Sastra Bulan Purnama edisi 81 ini, juga ditampilkan dua puisi karya Oka Kusumayudha, dalam buku puisinya yang baru terbit berjudul ‘Pulang’. Buku ini dilaunching untuk mengawali Sastra Bulan Purnama 81. Dua puisi karya Oka Kusimayudha dibacakan Pritt Timothy.

Surasa Khocil, yang lebih dikenal dengan nama Khocil, seorang wartawan harian ‘KR’ Yogya tampil membacakan cerpen karya Ahmad Munif. Selain dikenal sebagai novelis dan wartawan, Munif, demikian panggilannya juga menulis banyak cerpen.

“Saya akan membacakan cerpen karya senior dan guru jurnalistik saya, mas Ahmad Munif, yang berjudul ‘Kucing Itu Mati’” kata Khocil.

Di awal acara, Bambang Nursinggih melakukan upacara ritua doa bagi mereka yang dikenal, dan setelah itu dilanjutkan membacakan dua geguritan karya Budhi Wiryawan. Karya Budhi, dalam bentuk geguritan juga dibacakan Maria Widy Aryani. Keduanya memilih geguritan, karena Budhi Wiryawan selain menulis puisi, juga menulis geguritan, puisi yang ditulis dalam bahasa Jawa.

Puisi Bambang Darto, seorang penyair, pemain teater dan pemain film, diolah menjadi pertunjukan dan dipadukan dengan lagu puisi, yang digarap oleh Luwi Arina, anak Bambang Darto berkolaborasi dengan Sugenyi, sehingga perpaduan antara Luwi Ardha feat Sugenyi menghadirkan satu pertujukan tersendiri, perpaduan pembacaan puisi, lagu puisi dan performance.

Dua aktor teater, dari generasi yang berbeda, Landung Simatupang, dan aktris teater muda, Nunung Deni Puspitasari, lahir tahun 1981. Keduanya membacakan puisi karya Darmanto Yatman, dan keduanya, menutup pertunjukan Sastra Bulan Purnama edisi 81 dengan penampilan yang sangat memukau. Disebut dua generasi berbeda, karena Landung Lahir tahun 1951, dan 30 tahun kemudian Nunung baru lahir. Anggap saja, jika Nunung terus menjaga stamina dan tak bosan berlatih dan belajar serta membuka diri, ia akan meneruskan ‘jejak’ Landung Simatupang. (*)

Lihat Juga

Foto dan Puisi: Dua Karya Seni Dalam Satu Antologi Puisi

Antologi puisi yang diberi judul ‘Kepundan Kasih’, bukan hanya berisi puisi, tetapi juga berisi karya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.