Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XVII: Demokrasi dan Politik Itu Selalu Menciptakan Perbedaan
DR. St. Sunardi, Ketua Prodi S3 Kajian Budaya USD (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan XVII: Demokrasi dan Politik Itu Selalu Menciptakan Perbedaan

Dr. St. Sunardi, Ketua Prodi S3 Kajian Budaya USD

Ini sebuah kehormatan berbicara di depan para mantan atau masih kuli tinta dengan berbagai pengalamannya. Nanti pengalamannya bisa kita sharingkan bersama-sama. Pada ke-sempatan ini saya memang ngomong tidak panjang, mungkin yang panjang nanti kita diskusi saja, mungkin tidak ada 10 menit. Ketika saya membaca TOR, tentang diskusi ini dan peng-alaman yang terjadi di masyarakat kita, sebetulnya diskusi ini sepertinya, pertama-tama tidak ingin ngomong tentang etika, qua etika Pancasila ya, tapi muncul dari sebuah kegelisahan. Kegelisahan yang mendasar, mengapa Pancasila tidak menjadi wacana kita bersama lagi.

Saya pikir itu. Apa yang membuat saya, saya sendiri tidak mudah untuk memulai dari mana. Saya baca-baca tulisannya Driyarkara, beliau banyak menulis tentang Pancasila. Tetapi tulisan itu kalau saya baca sekarang, tidak banyak membantu karena situa-sinya berbeda. Oleh karena itu saya membuat dua catatan awal sebelum usul tiga hal tentang dilema kalau kita ngomong tentang etika Pancasila.

Catatan yang pertama, Pancasila itu pernah, masih dan insyaallah akan menarik untuk bangsa Indonesia. Itu menurut saya, pertama-tama bukan karena merupakan doktrin yang komprehensif tentang hidup kita. Pertama-tama bukan itu menurut saya. Lebih banyak tulisan, lebih banyak ideologi yang lebih menarik, mungkin. Maaf, saya seolah-olah menafikan nilai Pancasila. Menurut saya yang lebih menarik, mengapa Pancasila itu menarik sampai sekarang, itu karena lahir bersamaan dengan kelahiran bangsa ini.

Jadi alasannya itu. Kita yang tidak pernah mengalami secara lang-sung tentang kemerdekaan dulu. Saya dulu membayangkan betapa susahnya mencari titik temu untuk mempersatukan berbagai kelompok, masing-masing punya klaimnya, sam-pai akhirnya muncul Pancasila. Jadi kehebatan Pancasila itu, menurut saya bukan Pancasila, qua Pancasila, tapi Pancasila yang sudah dilumuri spirit kelahiran bangsa ini. Jadi Pancasila itu konstitusi, ideologi yang melahirkan.

Nah, untuk konteks sekarang ini kalau kita ngomong Pancasila, mudah saja. Maksud saya, apakah kita sekarang ini merasa sedang dalam keadaan bahaya atau tidak? Maksud saya, supaya Pancasila ini mau diomongkan bersama lagi, kita mungkin mengajak teman-teman sebetulnya kebersamaan kita sebagai bangsa Indonesia sudah oke atau belum. Kita semua merasa belum kan? Oleh karena itu teman kita Yudi Latif pusing juga ketika diberi tugas untuk mengelaborasi tentang Pancasila itu. Problemnya itu bukan terletak pada kontennya, tapi kita butuh atau tidak. Nah ini, kita butuh atau tidak. Mungkin inilah sebetulnya yang bisa menjadi inspirasi kelompok-kelompok lain, yang merasa butuh untuk ngo-mong lagi tentang Pancasila.         

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XV: Melawan Kebhinnekaan Sama Dengan Melawan Tuhan

Catatan kedua, yang membuat kita cukup dilematis ngomong tentang Pancasila zaman sekarang itu, ini. Pancasila itu pernah menjadi wacana kekuasaan. Saya termasuk orang yang sangat gerah dengan wacana dan praktik wacana Pancasila itu. Oleh karena itu kita tidak bisa naif untuk kita ngomong Pancasila, langsung mari kita P-4 lagi atau dan sebagainya.

                   

Ada Tiga Hal

Itu yang bikin susah. Mulai dari mana, ya. Jadi kalau kita belum merasa butuh betul lalu, kalau tidak jadi kita hanya mengulang, merepetisi. Itu yang susah. Itu dua catatan. Oleh karena itu saya mengusulkan tiga hal kalau kita ingin mengangkat Pancasila sebagai landasan etis berpolitik kita.

Yang pertama terkait dengan catatan saya yang dua tadi. Pertama adalah bagaimana mengubah Pancasila supaya menjadi image yang positif dan menjadi sesuatu yang inspiring lagi. Kata-kata ini sederhana kelihatannya, tapi kalau tidak mulai dari sana, mung-kin kita capek menerbitkan buku, capek buat seminar, ya. Tanpa image lagi ya, salah satu cara yang bisa kita buat image tentang Pancasila adalah melihat Pancasila dari sejarahnya. Tidak secara sinkronis. Tidak secara doktriner semata-mata, tapi dari perkembangan sejarah, sejak lahirnya sampai sekarang. Itu kayaknya akan bisa membantu sedikit demi sedikit, mengapa Pancasila dibutuhkan bangsa ini.

Ada teman ISI yang hobinya me-ngumpulkan, kemudian dijadikan topik tesis, mengumpulkan Garuda Pancasila. Mas Nanang itu ya. Hal-hal yang kecil-kecil. Jadi menurut saya yang tidak mudah bagi kita adalah bagaimana membuat image supaya Pancasila itu memang menjadi inspirasi bangsa kita.

Yang kedua, itu begini, bagaimana mengkombinasikan antara fenomena ini, antara fenomena demokrasi yang sudah tidak bisa kita tarik lagi dan masalah intoleransi. Jadi kalau kita mau menerapkan nilai-nilai demokrasi Pancasila kita dihadapkan pada soal itu ya. Demokrasi dan bab politik itu selalu menciptakan perbedaan. Bahkan menciptakan situasi yang virtual, kadang-kadang, tetapi kita melihat bahwa ada praktik berpolitik yang sangat mengutamakan, maaf saya menggunakan istilah yang agak vulgar, seperti politic of hatred ya, politik kebencian. Itu memang menarik untuk memobilisasi massa. Tapi bagaimana ya, untuk ditempatkan di zaman sekarang ya? Itu yang pernah kita benahi lebih awal dalam etika politik kita.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XI: Perempuan dan Kebangsaan

Memang betul ya, di banyak tempat itu ada anomali-anomali politik. Politik perwakilan yang seringkali membuat orang yang diwakilkan tidak merasa diwakili dan sebagainya, lalu bikin orang tidak puas. Tetapi itu jangan menjadi alasan untuk berpolitik semaunya.

Yang terakhir, ketiga, mungkin cocok untuk latar belakang saya yang banyak mendulang kebudayaan dan cocok untuk teman-teman di Yogya, yang sangat hobi membahas kebudayaan. Untuk keadaan za-man sekarang ini apakah tidak lebih mendesak kita itu menggarap aspek kekeluargaan budaya tanpa mengabaikan kewarganegaraan politik. Karena politik, seperti saya garis bawahi di atas tadi, yang sekarang itu cenderung mengeksploitasi perbedaan sedemikian rupa sampai kadang-kadang itu menciptakan kebencian.

Nah, padahal warga kita sekarang ini, kalau kita amati itu lebih merasa menjadi warga budaya tertentu dari-pada partai politik tertentu. Maksud saya, mungkin orang lebih merasa menjadi warga Mancester United ya, daripada menjadi warga partai mana. Belajar dari fenomena semacam ini apakah tidak perlu dipikirkan ketika berpolitik yang dipraktikkan dalam partai politik itu ngomong juga bagai-mana politik menjadi sekolah politik kebudayaan. Bukan hanya politik untuk mencari suara.

Jadi tiga usulan yang saya sampaikan tadi itu, menurut saya sangat mendesak supaya kita itu bisa melihat Pancasila sebagai titik temu, sebagai arena yang kita sepakati un-tuk berbeda pendapat. Sebaliknya kita hindarkan sejauh mungkin kecenderungan yang membuat seolah-olah Pancasila itu hanya milik partai tertentu saja. Kalau tidak, itu teman-teman yang tadi disebut, yang tidak percaya pada Pancasila sudah banyak yang dari kelompok itu. Nyanyi Indonesia Raya saja sudah tidak mau. Jadi, bagaimana ya, kita menjadikan Pancasila sebagai titik untuk mengungkapkan perbedaan lagi dengan tiga catatan saya tadi. *** (SEA)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XX: Nom

SELIRIA EPILOGUS GUGUR dalam usia belasan tahun, tapi dia sudah cukup dewasa untuk menjadi suami …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *