Rabu , 26 September 2018
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XVII: Demokrasi Alat Mencapai Tujuan
Drs. HM Idham Samawi (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan XVII: Demokrasi Alat Mencapai Tujuan

DRS. HM IDHAM SAMAWI

Kongkrit saja, menurut saya yang menjadi biang kerok kegaduhan terhadap bangsa ini ketika kita berbi-cara berkait dengan sila ke-4 kita, terutama urusan kita menerjemahkan demokrasi, dengan segala hormat, ini kalau ada adik-adik mahasiswa ketika adik-adik ini di jalan, “demi demokrasi, demi demokrasi”, ketika saya tanyakan, adik-adik apakah demokrasi itu tujuan ketika kita berbangsa dan bernegara? Gak ada yang bisa jawab. Lalu saya ingatkan, itu alat. Demokrasi itu alat untuk mencapai tujuan. Nah ini yang salah. Ketika kita berbangsa bernegara, apalagi konteksnya hari ini kita ber-bicara Pancasila berkaitan dengan urusan politik. Lalu apakah ketika kita berpolitik hari ini, sekedar capek dan sebagainya. Kebetulan saya di DPR RI, sudah semuanya ancang-ancang voting, voting, voting, dan itu katanya. “Itu demokrasi yang paling goblok”. Voting itu demokrasi yang paling parah. Tapi semuanya lalu arahnya ke sana. Sudah hitung-hitungan, kira-kira menang, sudah, gak ada lagi diskusi. Tidak ada lagi pencerahan.

Padahal sila ke-4 kita, dahsyat betul itu. Kita didorong untuk musyawarah, untuk mencapai mufakat. Tujuannya apa, pinter bareng. Berbeda pendapat. Jadi kita bisa mendengar pendapat dari yang berbeda dengan kita. Itu mungkin sekalipun itu salah, tapi kita bisa mendengarnya. Tapi hari ini dengan segala hormat dan menurut saya kalau ini tidak segera diluruskan, gak tahu ini bangsa akan ke mana. Dan saya meyakini Bapak Ibu saudara sekalian, semua ini by design. Oleh siapa? Ya tentunya yang punya kepen-tingan jangan sampai Indonesia ini aman, damai, nyaman. Bangsa ini jangan sampai untuk bisa konsolidasi. Karena sejarah membuktikan, kalau bangsa ini konsolidasi, ngedab-edabi betul itu.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XI: Aisyiyah sebagai Gerakan Perempuan Berkemajuan

Di beberapa kali diskusi kebangsaan ini saya sampaikan kalau kita dari Jakarta ke Tokyo, naik pesawat itu 7 jam. Minimal melewati 4 negara. Rutenya mana saja, tapi pakai pesawat terbang yang sama dari Sabang sam-pai Merauke butuh waktu 10 jam di atas berapa negara, satu negara, gedhe benar negeri kita ini. Dan yang gedhe ini ibaratnya seperti zamrut di khatulistiwa. Baru saja ditemukan emas di Banyuwangi, di Seluma, di Mataram, di Muara Tewe, dan seterusnya. Lha sekarang ini mereka yang khawatir kalau bangsa ini sempat konsolidasi, sehingga dia tidak bisa ikut hidup menikmati atau bahkan ngeruk negeri ini, gak akan bisa berhasil.

Jadi mohon maaf dengan segala hormat, ya memang perlu ada koreksi-koreksi sampai terutama ketika berkaitan, sekarang setiap calon presiden buat visi misi. Ya kalau lima tahun lagi kepilih akan jalan terus. Kalau tidak, nanti yang dipakai visi misinya presiden yang berikutnya. Yang akan dituangkan di dalam RPJPM, setiap 5 tahun, maksimal 10 tahun, bisa ganti tujuan negara ini, haluan negara kita ini. Karena kita tidak punya haluan negara.

Setiap calon gubernur, bupati, walikota harus membuat visi misi, bisa terjadi visi misi, kecuali DIY. Misalnya visi misi Gubernur Jawa Tengah dengan visi misinya walikota Semarang, bisa terjadi benturan. Itu diatur oleh UUD. Dengan kudhung-annya demokrasi.

Tanpa adanya haluan negara tadi, ibaratnya bahtera terombang ambing, mau dibawa ke mana bangsa ini. Lima tahunan kita menyusun RPJPM. Lima tahunan kita menyusun RPJMD Provinsi, lima tahunan kita menyusun RPJMD Kabupaten/Kota. Tergantung walikota, bupati gubernur yang terpilih. Tanpa ada panduannya. Saudara sekalian, itu semua karena kita semakin lari, dari spirit, roh, kepribadian bangsa ini, apa itu, Ketuhanan YME, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XV: Melawan Kebhinnekaan Sama Dengan Melawan Tuhan

Di beberapa diskusi saya sampai-kan, saya siap, ayo diskusi sama Idham Samawi 30 hari 30 malam. Kalau ada ideologi lain yang mampu mempersatukan Sabang Merauke, Miangas Pulau Rote. Sekalipun itu basis manifesto komunis. Hari ini Tiongkok itu sudah nyimpang jauh dari Manifesto Komunis. Ketika saya ketemu dengan Ketua Partai Komunis Tiongkok, saya tanya, apakah anda masih konsisten, mohon maaf Pak, apakah di Manifesto Komunis tidak dikenal ekonomi pasar? Kami sekarang melakukan itu. Saudara sekalian, kita bicara Declaration of Independent Amerika, yang tidak mengenal Keadilan Sosial, tapi di sana ada Obama Care. Itu bertentangan dengan Declaration of Independent. Kita mempunyai yang lebih komplit, yang tadi saya katakan, China pun sudah mulai bergeser, Amerika pun mulai bergeser, kita punya yang paling komplit, tapi sayang tidak dihayati, Pancasila kita itu, ditaburi bunga didadekke barang sakti, lha itu salahnya. Harusnya diimplementasikan. (ASW)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVIII: Membudayakan Musyawarah-Mufakat

Prof. Dr. Kaelan, MS Musyawarah-mufakat sebagai Identitas Budaya Politik Bangsa Bagi bangsa Indonesia nilai-nilai identitas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.