Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Sastra » Cerpen Tiga Paragraf di Sastra Bulan Purnama
Para buruh pabrik sedang pijetan (ft. Ist)

Cerpen Tiga Paragraf di Sastra Bulan Purnama

Cerpen memang berbeda dari novel. Meskipun cerpen juga menggunakan latar, penokohan, konflik dan seterusnya seperti laiknya novel, tetapi bentuknya lebih pendek, maka disebut sebagai cerita pendek, kependekan dari cerpen. Agak lebih pendek dari novel, tetapi lebih panjang dari cerpen, biasanya disebut sebagai novelete. Kita sering menemukan cerpen dimuat di meda cetak, koran atau majalah, dan sekarang di era digital kita bisa menemukan cerpen ditayang melalui media online. Pendek kata, cerpen dan karya sastra lainnya, menemukan media yang berbeda.

Ini ada satu cerpen yang panjangnya hanya tiga paragraf, makanya dinamakan pentigraf, kependekan dari cerpen tiga paragraf. Cerpenisnya disebut pentigrafis. Sebutan ini mungkin untuk membedakan dengan sebutan cerpenis. Para pentigrafis ini menulis cerita, tetapi hanya (boleh) tiga paragraf dengan menggunakan formula cerpen.

Buku kumpulan cerpen tiga paragraf ini diberi judul Papan Iklan Di Depan Pintu, dan Jumat, 24 Agustus 2018 lalu diluncurkan di Sastra Bulan Purnama edisi 83, yang mengambil tempat di Amphytheater Tembi Rumah Budaya, jl. Parangtritis Km 8,5m Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Ada sekitar 80 pentigrafis yang karyanya dimuat dalam buku ini, namun tidak semuanya hadir dalam launching ini.

Beberapa yang hadir di antaranya dari Surabaya, Malang, Jakarta, Cilacap, Bandung, Yogyakarta dan beberapa kota-kota lain. Peluncurkan buku diawali dengan pertunjukan semacam operet, yang mengolah salah caru pentigraf yang berjudul Soyang; perpaduan antara drama dan musik, yang mengolah cerpen tiga paragraf karya Yonas Suharyono.

Tengose Tjahyono, kurator dari pentigraf ini menyebutkan, para pentigrafis memang tidak memiliki ambisi menjadi sastrawan, mereka memiliki profesi macam-macam, ada dokter, ibu rumah tangga, dosen, guru dan lainnya. Mereka terbiasa menulis dalam jumlah karakter terntu seperti menulis di twiter, dan di kampung pentigraf, tulisan itu diwadahi dalam satu formula yang dinamakan pentigraf.

“Sebagai cerpen, karya pentigraf sepenuhnya berbeda dengan cerpen, karena tidak ada latar, tokoh dan sejenisnya, namun semua karya berkeinginan bercerita” kata Tengsoe Tjahjono.

Menandai peluncuruan pentigraf, satu buku pentigraf diterbangkan menggunakan drone, yang terbang berputar di atas amphytheater, dan buku tersebut mendarat di salah satu hadirin yang duduk di Amphytheater sebagai tanda orang tersebut mendapat buku pentigraf.

“Ha…ha… apik, kreatif cara menandai peluncuran buku” kata Krishna Miharja, seorang cerpenis sekaligus penyair Yogya, yang memiliki profesi sebagai guru SMP mengajar matapelajaran matematika.

Simak juga:  Kepada Hujan di Sastra Bulan Purnama

Karena cerpennya hanya terdiri dari tiga paragraf, sehingga ketika dibacakan tidak menyita waktu. Cerpen tiga paragraf ini laiknya puisi yang ditulis secara prosais. Maka, para pentigrafis membacakan karyanya secara bergantian, dan waktunya tidak panjang. Bahkan, belum sampai jam 10 malam, Sastra Bulan Purnama sudah selesai, padahal biasanya baru selesai pukul 22.30.

Beberapa pentigrafis yang membacakan karyanya misalnya, Abi Widajarko, soorang engineer, tetapi menyukasi sastra dan tinggal di Malang, membacakan pentigraf karyanya yang berjudul ‘Cowok Panggilan’. Dalam buku ini, ada dua pentigraf karya Abi, salah satunya berjudul ‘Menjemput Bulan’.

Ben Sadhana, yang tinggal di Surabaya, satu pentigraf karyanya yang dimuat dalam buku ini berjudul ‘Ratu Pentas’ ia bacakan. Siwi Dwi Saputra, yang tinggal di Jakarta membacakan satu karya pentigrafnya. Bebarapa pentigrafis lainnya yang ikut tampil membaca di antaranya Heru Marwata, Rinny Soegiyoharto dan sejmulah pentigrafis lainnya.

Tengsoe Tjahjono menuliskan pada pengantar bukunya, “Pentigraf hanya terdiri atas tiga paragraf. Pentigrafis mau tak mau harus memanfaatkan ruang tiga paragraf itu secara efektif. Pertama-tama pentigrafis didorong untuk memahami konsep paragraf.. Sebuah paragraf yang baik hanya berisi satu ide pokok, tidak kurang atau lebih”.

“Jadi, jika pentigraf itu hanya memiliki ruang tiga paragraf, maka hanya boleh terdapat tiga ide pokok. Hal ini tentu tidak mudah. Terlebih bagi penulis yang terbiasa atau suka menulis panjang-panjang” kata Tengsoe Tjahjono.

 

Operet Dari Cerpen Tiga Paragraf

Cerpen tiga paragraf dari buku kumpulan cerpen yang berjudul ‘Papan Iklan Di Depan Pintu’, yang diluncurkan di Sastra Bulan Purnama edisi 83, di Amphytheater Tembi Rumah Budaya, tidak hanya dibacakan, tetapi juga diolah dalam satu pertunjukan operet.

Soyang, judul cerpen karya Yonas Suharyono, seorang guru SMP di Cilacap, mengajak murid2nya untuk pentas di Sastra Bulan Purnama, dengan mengolah cerpen yang panjangnya hanya tiga paragraf dan disebut pentigraf, menjadi satu pertunjukan. Ramuan antara drama dan musik, sehingga pementasan ini disebutnya sebagai operet.

Para penampil cukup kreatif, ruang terbuka Amphytheater Tembi Rumah Budaya dibuat menjadi satu ruangan pabrik batik, yang dihiasai kain batik, foto2 dan peralatan membatik, sehingga memberikan suasana rumah juragan batik, dan beberapa perempuan sebagai tenaga pembatik di rumah itu.

Simak juga:  Pameran Lukisan "Pori Art Pori" Agus Nuryanto & Ketut Adi Candra

Anak-anak perempuan, sebagai tenaga pembatik, atau sebut saja buruh batik, mengenakan kostsum kebaya, dan wajahnya dirias sehingga memberikan imajinasi perempuan yang tidak lagi muda, laiknya embok-embok buruh batik. Padahal mereka adalah anak-anak SMP.

Sebagaimana laiknya tukang batik yang lagi kumpul, istirahat, selalu ada sendau gurau, dan khas tukang batik di kampung atau di desa, mereka saling memijit atau malah saling petan (jw), mencari kutu di rambut. Suasana akrab sekaligus menghilangkan rasa lelah ditengah istirahat sebagai buruh batik.

Perilaku usil dan nakal seringkali muncul manakala ada orang lain yang ingin masuk menjadi tukang batik sebagaimana mereka lakukan, seperti kehadiran Soyang, yang melamar mejadi buruh batik karena memerlukan mendapat upah untuk menghidupi adik-adiknya. Para buruh batik jahil itu mengganggu Soyang, yang sedang bekerja dan memiliki ketrampilan, dan dirasa mengancam posisi para buruh batik tersebut.

Konflik-konflik sederhana dimunculkan dalam pertunjukan operet, sehingga memberikan suasana menjadi riuh. Konflik keseharian dalam kehidupan didramatasir menjadi sebuah konflik yang saling mengancam, seolah akan saling berebut jalan kehidupan yang sudah ditempuh.

Anak-anak yang tergabung dalam Spensa Voice Tiga bermain dengan serius. Agaknya, mereka telah mempersiapkan dengan latihan dan mengembangkan cerpen tiga paragraf menjadi satu pertunjukan yang hidup.

Soyang, gadis kecil yang tak lulus SD menjadi ‘permainan’ para buruh batik yang jahil, bahkan mirip nenek sihir, yang selalu membuat tidak tentram orang lain. Dan, Soyang dibuat tidak nyaman di antara mereka, agar Soyang pergi tidak menjadi tukang batik di rumah itu.

Rupanya, Soyang sedang melakukan penyamaran di pabrik batik itu. Soyang, sebenarnya patner bisnis dari anaknya juragan batik yang tinggal di kota. Juragan batik ini mengeksploitasi para buruh batik dengan upah ala kadarnya, dan dianggap melanggar undang-iundang tenaga kerja.

Akhir dari operet ini, Soyang dan anaknya juragan batik mengelola perusahan batik, dan para buruh batik yang semula selalu mencelakai Soyang tidak dipecat, tetapi tetap dipekerjakan sebagai buruh batik. Soyang dan partner bisnisnya, yang tak lain dari anak juragan batik mengelola perusahaan batik menjadi perusahaan yang maju.

Cerpen tiga paragraf terasa hidup ketika dipentaskan dalam satu pertunjukan operet. Anak-anak yang kreatif.(*)

Lihat Juga

Puisi dari Guru dan Dosen di Sastra Bulan Purnama

Dua perempuan penyair sekaligus guru dari kota yang berbeda, Nella Widodo (Temanggung) dan Amin Wahyuni …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *