Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Peristiwa » Bung Karno Sempat Diancam Todongan Pisau
Bung Karno (Foto: net)

Bung Karno Sempat Diancam Todongan Pisau

BUNG Karno sedang asyik berbincang-bincang dengan sejumlah orang termasuk Sajuti Melik dan istrinya, SK Trimurti, membahas seputar strategi dan rencana proklamasi kemerdekaan setelah terdengar kabar Jepang  menyerah tanpa syarat kepada Sekutu.

Belum lagi perbincangan itu usai, Bung Karno dikejutkan dengan kedatangan sejumlah pemuda ke rumahnya. Bung Karno menarik napas dalam-dalam dan mengerenyitkan dahinya begitu diberi tahu ada serombongan pemuda menyatakan ingin segera bertemu dengannya dan menunggu di beranda. Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 10.00 malam tanggal 15 Agustus 1945.

“Mau apa mereka?” tanya Bung Karno seraya bangkit dari duduk dan berjalan menuju ke beranda rumah.

Jawabannya diperoleh ketika ia berhadapan dengan para pemuda yang tampak penuh semangat itu.

“Sekarang, Bung! Sekarang! Malam ini juga,” seru salah seorang di antara pemuda di beranda itu dengan sikap tak sabar. Pemuda itu ternyata Chairul Saleh.

“Kita kobarkan revolusi yang meluas malam ini juga. Kita mempunyai pasukan PETA, pasukan pemuda, Barisan pelopor, bahkan Heiho sudah siap. Dengan satu isyarat Bung Karno, seluruh Jakarta akan terbakar. Ribuan pasukan bersenjata sudah siap sedia akan mengepung kota, menjalankan revolusi bersenjata yang berhasil dan menjungkirkan seluruh tentara Jepang,” kata Chairul Saleh lagi dengan nada suara berapi-api.

Bung Karno diam. Ia mencoba untuk tidak terpancing dengan emosi para pemuda yang tampak meluap-luap itu. Apalagi para pemuda itu tidak datang dengan tangan kosong. Dalam keremangan cahaya di beranda rumah itu, Bung Karno dapat melihat jelas para pemuda itu menyimpan senjata tajam di balik bajunya. Bahkan ada juga yang terang-terangan memegangnya. Ada pisau, ada pedang, golok, juga senjata api.

Bung Karno sedang menyusun kata-kata untuk meredakan luapan emosi dan semangat yang berlebihan dari para pemuda yang memang tampak sangat revolusioner itu. Bung Karno sadar, pemuda-pemuda itu memang sudah tidak sabar lagi untuk merdeka dan lepas dari penindasan Jepang. Jadi, begitu kabar menyerahnya Jepang kepada Sekutu itu sampai di telinga mereka, maka mereka pun tidak sabar lagi untuk segera bertindak melakukan sesuatu.

Bung Karno duduk. Ia mencoba menenangkan hati dan pikirannya. Lalu, dengan suara perlahan Bung Karno berkata, “Seorang pemimpin dari suatu negeri mempunyai seribu mata dan seribu telinga. Saya tahu bahwa engkau semua mengadakan pembicaraan-pembicaraan rahasia selama ini. Saya tahu bahwa engkau mempunyai sandi yang dapat menjalar dengan cepat. Saya dapat melihat sendiri, bahwa engkau semua bersikap misterius, bahwa engkau mempunyai tiga-empat nama samaran dan bahwa keputusan-keputusan tingkat tinggi mengenai tanah air kita telah engkau ambil dalam taman-taman di belakang kebun binatang, di gang-gang dari laboratorium kesehatan dan sambil naik sepeda.”

Pemuda-pemuda itu menahan napas, menunggu kata-kata Bung Karno berikutnya. Tapi beberapa di antaranya ada juga yang gelisah dan tidak sabaran.

“Akan tetapi kalian tidak kompak,” kata Bung Karno lagi. “Tidak ada persatuan di antaramu semua. Ada golongan kiri, ada golongan Sjahrir, golongan intelektuil, semua ini membikin keputusan sendiri-sendiri terlepas dari yang lain. Karena takut kepada Kenpetai engkau berpindah-pindah tidur setiap malam. Kurir-kurirmu dengan giat bersepeda berkeliling ke tempat tertentu menyampaikan instruksi-instruksi kilat. Tapi instruksi dari siapa?”

Walau disampaikan secara perlahan. tapi terasa jelas kata-kata Bung Karno itu penuh dengan sikap protes terhadap langkah sejumlah pemuda yang dipandangnya emosional, terburu-buru, tidak strategis dan tidak sistematis.

Simak juga:  Pengakuan Bung Karno: "Adakah Kepala Negara yang Melarat Seperti Aku?"

 

Tetap Bersikeras

Tetapi dada para pemuda itu sudah terlanjur terbakar emosi dan bara api semangat untuk segera merdeka. Meski banyak yang memahami kata-kata Bung Karno, namun tidak sedikit pula yang tidak ingin tahu dengan kata-kata itu, karena yang ada di dada dan pikiran mereka adalah bagaimana secepatnya bertindak menyatakan kemerdekaan.

Salah seorang pimpinan pemuda itu, Sukarni, tampak mengerenyitkan dahi. Wajah ketidaksabaran terlihat jelas di wajahnya. Ia gelisah. Sepertinya ia sedang menahan ledakan kata-kata yang menggunung di dalam dadanya. Sesungguhnya Bung Karno kagum kepada pemuda yang semangat untuk segera merdeka terlihat jelas menyala-nyala di raut wajahnya itu.

Sukarni membetulkan letak duduknya dan kemudian bersuara cukup lantang, “Kita harus segera merebut kekuasaan di saat Jepang sedang dalam kebingungan. Kita lakukan di saat Jepang tidak bisa mengambil keputusan apakah harus menghancurkan kita ataukah membiarkan kita jadi liar, olehm karena bagaimana pun juga dia sudah kalah. Sebelum ada rencananya yang kongkrit, kita harus bertindak di luar dugaannya.”

Bung Karno mencoba berdialog. Tapi kebanyakan  dari para pemuda itu sepertinya tidak ingin dialog lagi, karena yang mereka inginkan adalah langkah nyata melakukan  gerakan menghancurkan kekuatan Jepang secepatnya. Kata-kata bernada ketidaksabaran terus bermunculan dari para pemuda itu.

“Kami sudah siap untuk mempertaruhkan jiwa kami,” salah seorang di antaranya berteriak seperti ini. Teriakan itu disambut yang lain. “Kami siap! Kami siap!” seru yang lain pula.

Di saat Bung Karno sedang berhadapan dengan para pemuda yang tampak emosional itu, di dalam rumah, dari balik pintu istri Bung Karno, Fatmawati, tampak cemas. Ia khawatir pemuda-pemuda itu akan memaksa Bung Karno dengan kekerasan. Kecemasan juga terlihat pada wajah Sajuti Melik dan Trimurti yang ada di dekat Fatmawati.

Bung Karno tetap berusaha untuk tidak terpancing. Lagi ada suara pemuda yang meneriakkan kesiapan mereka untuk mempertaruhkan jiwa.

“Ya, saya tahu. Akan tetapi kekuatan yang segelintir itu tidak cukup untuk melawan kekuatan bersenjata dan kesiapan total dari tentara Jepang. Coba, apa yang bisa kauperlihatkan kepada saya? Mana bukti dari pada kekuatan yang diperhitungkan itu? Apa tindakan keamananmu untuk menyelamatkan perempuan dan anak-anak? Bagaimana pandanganmu tentang cara mempertahankan kemerdekaan setelah diproklamirkan?” ujar Bung Karno yang tetap berusaha meyakinkan dan melunakkan hati para pemuda itu.

 

Beberkan Rencana

Bung Karno kemudian membeberkan rencananya mengenai pernyataan kemerdekaan. Menurut Bung Karno, ada tiga strategi yang sudah disiapkan. Pertama, menyampaikan proklamasi atau pernyataan kemerdekaan secara serentak di tiap-tiap daerah, sehingga berita proklamasi itu diketahui seluruh rakyat. Kedua, menyampaikan pidato yang membakar dan membangkitkan semangat rakyat untuk memberontak . Dan ketiga, mengobarkan api revolusi.

Para pemuda itu tetap menunjukkan sikap tidak sepakat dengan apa yang diinginkan Bung Karno. Mereka tetap mendesak untuk secepatnya melakukan gerakan menghancurkan Jepang, dan menyatakan kemerdekaan.

Suasana di beranda rumah Bung Karno itu jadi mencekam. Para pemuda itu tetap masih dibakar emosi dan sikap tidak ketidaksabarannya. Lontaran-lontaran ketidakpuasan terus bermunculan. Ada yang memprotes. Ada yang menggerutu. Tapi Bung Karno masih tetap berupaya sekuat tenaga menjaga emosinya.

Beberapa pemuda mulai mengejek Bung Karno. Ada yang mengejek Bung Karno sedang ketakutan. Dan, ada pula yang mengatakan Bung Karno sedang menunggu perintahi Kaisar Jepang, Tenno Heika.

Bahkan, di luar dugaan, salah seorang dari pemuda itu tidak sekadar mengejek. Tapi ia juga menggertak dan mengancam Bung Karno dengan todongan pisau belati. Pemuda yang tidak bisa mengendalikan dirinya itu bernama Wikana.

Simak juga:  Bung Karno dan Pancasila (1) : "Kita Mendirikan Satu Negara Kebangsaan"

Wikana menyeruak ke depan, lalu menodongkan pisau belatinya ke arah Bung Karno. Bung Karno memang sempat terkejut dengan hunusan pisau yang di luar dugaannya itu, tapi ia tetap mencoba menahan diri.

“Kita tidak ingin mengancammu, Bung. Revolusi berada di tangan kami sekarang, dan kami memerintah Bung. Kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, lalu…..,” seru Wikana.

Ternyata reaksi Bung Karno di luar dugaan para pemuda itu. Akhirnya emosi Bung Karno meledak juga.

“Lalu…..lalu apa?!” teriak Bung Karno seraya bangkit dari duduknya dengan wajah yang dibakar rasa amarah.

“Jangan aku diancam! Jangan aku diperintah! Engkau harus mengerjakan apa yang kuingini. Pantanganku untuk dipaksa menurut kemauanmu!” teriak Bung Karno lagi dengan nada berapi-api yang membuat para pemuda itu terkesima.

Masih dengan wajah penuh amarah, Bung Karno kemudian maju mendekat ke tengah-tengah para pemuda itu. “Ini kudukku. Boleh potong……ayo. Boleh penggal kepalaku…..engkau bisa membunuhku….tapi jangan kira aku bisa dipaksa untuk mengadakan pertumpahan darah yang sia-sia, hanya karena hendak menjalankan sesuatu menurut kemauanmu,” seru Bung Karno menantang.

Para pemuda itu terdiam. Mereka benar-benar terkejut dengan reaksi Bung Karno yang sungguh di luar dugaan dan perhitungan mereka. Tak ada satu pun dari pemuda-pemuda itu bersuara. Mereka semua terdiam dan terpaku. Ketika Bung Karno menatap mereka, para pemuda itu pun menundukkan wajahnya.

Bung Karno berusaha sekuat tenaga untuk meredakan kembali emosinya. Setelah emosinya reda, ia pun duduk kembali. Suasana di beranda malam itu menjadi hening sesaat. Beberpa saat kemudian, Bung Karno mencoba membuka keheningan dan kebekuan itu.

“Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17 Agustus,” ujar Bung Karno pelan tapi berwibawa.

Tampaknya hanya Sukarni yang berani menanggapi pernyataan Bung Karno itu.

“Mengapa tanggal 17, kenapa tidak sekarang saja atau tanggal 16 Agustus?” tanyanya.

“Saya tidak dapat menerangkan secara pertimbangan akal mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku bahwa waktu dua hari lagi adalah saat yang baiki. Angka 17 adalah angka keramat. 17 adalah angka suci. Pertama-tama, kita sedang berada di bulan Ramadhan, waktu kita semua berpuasa. Bukankah begitu?” kata Bung Karno.

Sukarni mengangguk. Diikuti pemuda-pemuda yang lain.

“Hari Jumat ini, Jumat legi. Jumat yang berbahagia. Jumat suci. Dan hari Jumat adalah tanggal 17. Alquran diturunkan tanggal 17. Orang Islam sembahyang 17 rakaat dalam sehari. Mengapa Nabi Muhammadm memerintahkan 17 rakaat, mengapa tidak 10 atau 20 saja? Oleh karena kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia,” jelasnya.

Para pemuda itu terdiam. Kata-kata dan penjelasan Bung Karno itu mulai mempengaruhi jiwa dan pikiran mereka.

“Pada waktu saya mendengar berita penyerahan Jepang, saya berpikir bahwam kita harus segera memproklamirkan kemerdekaan. Kemudian saya menyadari, adalah kemauan Tuhan peristiwa ini akan jatuh di hari-Nya yang keramat. Proklamasi akan diumumkan tanggal 17. Revolusi menyusul setelah itu,” ujar Bung Karno lagi. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Sumber: Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Gunung Agung, Jakarta, 1966.

Lihat Juga

Pidato Presiden Sukarno pada HUT Ke-1 Kemerdekaan RI 17 Agustus 1946 di Yogyakarta (2): Pemerintah Bukan Pengurus Partai!

DI ATAS lapangan politik pun tak kurang soal! Benar, revolusi kita ini telah membangkitkan banyak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *