Beranda » Nasional » Bung Karno dan Puro Pakualaman
Puro Pakualaman (Foto: net)

Bung Karno dan Puro Pakualaman

Peran Kadipaten Puro Pakualaman dalam sejarah Kemerdekaan Republik Indonesia  tercatat dalam sejarah melalui maklumat Amanat 5 September 1945 yaitu bergabungnya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman bergabung ke dalam NKRI.

Tetapi ada yang belum banyak diketahui oleh masyarakat luas adalah peran yang sangat luar biasaa di tengah situasi Negara Republik yang masih seumur jagung. Bung Karno merasa tidak aman oleh gangguan tentara NICA dan KNIL di Jakarta. Maka diputuskan Ibukota harus pindah, lalu pindah ke mana? Yang paling siap adalah pindah ke Yogyakarta.

Maka ketika Ibukota Republik pindah dari Jakarta ke Yogyakarta tahun 1946. Menurut catatan sejarah kepindahan presiden bersama para anggota  kabinet dilakukan secara diam-diam jangan sampai diketahui oleh Tentara Belanda. Maka dari gerbong yang disiapkan  Bung Karno dan Bung Hatta menaiki gerbong yang paling belakang .

Bung Karno naik kereta api dari Stasiun Manggarai dikawal oleh 15 polisi khusus kepercayaan Bung Karno yang dipimpin Mangil Martowidjojo pada tanggal 3 Januari 1946. Tiba di Stasiun Tugu pagi tanggal 4 Januari 1946 dan disambut oleh  Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Paku Alam VIII.

Dan Bung Karno beserta keluarga tinggal di istana Gedung Agung. Pada saat itu kondisi Gedung Agung dalam keadaan berantakan, banyak yang harus dibenahi. Dalam kondisi prihatin Ibu Fatmawati melahirkan anak keduanya yaitu Dyah Permata Megawati Soekarno Putri pada Tanggal 23 Januari 1946 di sebuah kamar yang atapnya bocor. Dan Bung Hatta tinggal di Reksobayan. Waktu itu sebagai pejabat sekretariat negara adalah M Muthohar.

Menurut KPH Kusumo Parastho  salah satu penghageng Paramporo di Kadipaten Pakulaman, di tengah situasi tersebut entah inisiatip dari siapa Bung Karno bersama Ibu Fatmawati  dan anak-anaknya pindah di Kadipaten Pakualaman . “Kamarnya di sayap sebelah barat Bangsal Sasono Sewoko dekat Parang Karso,“ imbuhnya.

“Secara diam diam Kadipaten menjadi Posko untuk mengkonsolidasikan dan mengkoordinasi seluruh kepentingan Republik, dan semua itu atas peran dari Sri Paduka Paku Alam VIII yang jumeneng pada waktu itu,” lanjut KPH Kusumo Parastho.

Dalam catatan yang lain, menurut tokoh masyarakat Tegaldowo Haji Saiman PH, ajudan Presiden Bung Karno yang bernama Mangil Martowidjojo diminta untuk mencari buah Gayam yang konon waktu itu dibutuhkan oleh Ibu Fatmawati untuk membikin obat (jamu) bagi Puterinya Megawati yang masih bayi.  Dan Mangil mendapatkan buah tersebut di kampung Tegaldowo yang masuk di wilayah Kecamatan Bantul sebelah barat, berbatas dengan wilayah Pajangan yang ddtandai oleh sungai kecil.

Kata H Saiman, sambil  menunjuk sebuah Tugu Tetenger tempat pohon Gayam pada waktu itu, wilayah tersebut kini melalui  HM Idham Samawi anggota DPR RI diusulkan untuk dibangun jembatan  di atas Sungai Bedog yang menghubungkan Kecamatan Pajangan dan Bantul.*** (Sigit Sugito)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIV: Dunia Batin Perempuan

SELIRIA EPILOGUS INI sebuah catatan pilihan, catatan penghujung dari serangkaian perca-kapan di beranda pergaulan sosial. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *