Jumat , 14 Desember 2018
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » BK Selamat Berkat Keris di Papua
Fidel Castro dan Bung Karno (Foto: net)

BK Selamat Berkat Keris di Papua

WALAU berpikiran jauh ke depan, namun presiden pertama Republik Indonesia Soekarno tidak lepas dengan hal-hal yang bersifat spiritual-budaya, seperti keris, tombak dan pusaka lainnya. Kelekatan terhadap hal-hal budaya spiritual Jawa khususnya, menyebabkan beberapa benda pusaka pun ikut diboyong ke istana. Dam pusaka-pusaka itu kini dibuatkan tempat khusus yang dikelola sebuah yayasan. Dan untuk urusan ini Guruh Soekarnoputra lah, yang diberi kewenangan untuk mengelola selaku pengurus Yayasan. Itulah mengapa putra bungsu Bung Karno itu rajin memelihara benda pusaka. Sebagai Ketua Yayasan Bung Karno, Guruh bertugas melaksanakan pameran Yayasan yang dibentuk pada 1978 itu memang bertugas, antara lain, menghimpun semua benda peninggalan.

Bagi alumnus Fakultas Arkeologi, Universiteit van Amsterdam, Negeri Belanda, itu memelihara pusaka merupakan kegiatan seni yang mengasyikkan. Kepada wartawan Guruh pernah mengemukakan pendapatnya soal pusaka peninggalan Bung Karno itu.

Menurut Guruh pusaka Bung Karno adalah benda yang didapat dari leluhur, ada yang di istana dan keluarga. Istana yang dimaksud Istana Mereka, Istana Bogor, Batutulis dan lain-lainnya.

Bentuknya pun beragam, ada keris, tombak, tongkat komando dll. Pusaka-pusaka Bung Karno kebanyakan berasal dari jalur ayah, kakek moyang yang kebetulan berdarah Majapahit. Sementara Nenek atau ibu dari ayah keturunan Raja Buleleng. Kalau ditarik kesejarah atas pusaka itu ada juga yang berasal dari Kerajaan Singosari.

Sejak kapan pusaka itu di tangan Bung Karno? Sejak Bung Karno masih muda, saat menjadi presiden, dan sesudahnya. Semua pusaka dari leluhur, dan sebagian dari sesepuh. Banyak sesepuh keraton yang memberi pusaka Bung Karno. Pusaka itu ada yang punya nilai lebih.

Mengenai jumlahnya masih terus diinventarisasi. Sebab, pusaka itu ada beberapa yang masih di istana, dan di keluarga yang belum pernah dipamerkan. Sebagai catatan, semua benda peninggalan Bung Karno yang pernah dipamerkan hanya sepersepuluh dari peninggalan Bung Karno.

Lalu bagaimana dengan orang yang mengaku punya tongkat komando Bung Karno. Keluarga nggak heran soal itu. Sebab, apa-apa yang berhubungan dengan Bung Karno selalu menjadi fenomena. Banyak hal yang masih menjadi misteri.

Tak hanya terbatas di dalam negeri di luar negeri pun jadi fenomena tersendiri. “Kalau ada yang mengklaim punya pusaka Bung Karno asli, itu urusan mereka. Apa pun klaim di luaran, itu terserah mereka” Kata Guruh ketika diwawancarai sebuah majalah di Jakarta.

Bung Karno punya banyak tongkat komando berbagai model. Tetapi, yang paling sering dibawa-bawa hanya satu atau dua. Tongkat Bung Karno itu bentuknya macam-macam. Meski jumlahnya banyak, yang paling sering dibawa, tongkat dan keris yang ada di ruang hening.

Jika di masyarakat banyak yang mengaku memiliki pusaka Bung Karno, tak bisa dipercaya begitu saja. Harus ada pembuktian. Pusaka Bung Karno semua ada di keluarga dan di istana. Yang ada di luar tak ada. Kalaupun ada keluarga tertentu merasa mempunyai pusaka, ada proses lanjut apakah bisa dibuktikan kebenarannya atau tidak.

Simak juga:  Menyimak Ulang Pidato Kenegaraan Terakhir Bung Karno (5)

 

Yang Unik Dari Papua

Pada 1942 Bung Karno pernah berada di Papua di Wilayah Babo . Wilayah ini punya arti dan nilai sejarah tinggi berkaitan erat dengan “Keris Pusaka” yang diperoleh Bung Karno dari Gunung Nabi melalui Cosmas Werbete.

Keliopes Werbete (56) salah seorang pelaku sejarah menceriterakan kepada wartawan setempat bahwa Bung Karno di Babo pada  Perang Dunia (PD) II berkecamuk, tokoh Proklamator itu diincar tentara Jepang untuk dibunuh. Untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, Bung Karno dilarikan dari Babo ke kampung Refideso oleh Cosmas Werbete, kemudian menuju Gunung Nabi. “Dan di Gunung keramat itu Bung Karno diberi keris wasiat”, kata Keliopes.

Dan secara kebetulan Bung Karno lolos dari percobaan pembunuhan, setelah diberi keris tersebut. Dan kemudian bersama Cosmas Werbete pemilik keris tersebut akhirnya Bung Karno diasingkan.

 

Banyak Diburu Kolektor

Presiden Pertama Republik Indonesia ini  menyimpan sejumlah misteri di dalam kehidupannya. Disamping namanya melegenda, di dunia supranatural pun Bung Karno dikenal mempunyai berbagai peninggalan yang hingga kini terus diburu oleh mereka yang meyakininya. Seperti kacamata, tongkat, peci, teken, payung, dan lain sebagainya. Padahal di dunia spiritual benda-benda duniawi itu mempunyai lambang yang luas yang bisa dibaca dan dipahami sebagai suatu pemahaman Jawa.

Memang ayah Presiden Megawati ini di waktu remajanya tidak pernah lepas dari tempaan kehidupan yang keras. Selain perjalanan laku keprihatinan, -untuk menghindari kata spiritual- yang berat.

Bung Karno, menurut berbagai kesaksian, semasa remajanya gentur laku prihatin. Membangun lahir dan menggali batin, menjadikan Soekarno terbentuk menjadi manusia Indonesia lahir batin. Kegemaran laku keprihatinan ini berawal dari kalangan keluarga dan beberapa guru spiritualnya, baik di kala masih di Jawa Timur, maupun di Yogyakarta.

Dalam dunia spiritual ada pantangan menyebut nama. Syahdan, sebelum Kusno- nama kecil Bung Karno, lahir, Kraton Kasultanan Yogyakarta kehilangan pusaka. Berdasarkan tutur tinular atau dari cerita dari mulut ke mulut, pusaka itu bersemayam di rahim ibunda Bung Karno.

Lewat peristiwa ghaib itulah akhirnya Soekarno muda diangkat menjadi murid seorang tokoh trah Kraton Yogyakarta. Lewat mata batin spiritual itulah Sang Guru melihat pemuda Soekarno-lah yang mengemban misi gaib memerdekakan RI pada tanggal 17 Agustus 1945. Untuk mewujudkan wisik tersebut, tokoh sepuh ini mencari 17 murid. Mereka inilah yang digadang-gadang akan memerintah Indonesia. “Sang Putra Fajar” ini adalah salah satu dari murid pilihan itu.

Karena kemampuannya yang tinggi, Soekarno diberi tiga inti ilmu kasampurnan. Pertama, berupa kanuragan.  Kedua, kawicaksanan dan Ketiga, kawaskithan.

Simak juga:  KERIS SI GINJE DAN SINGA MARJAYA: Pertautan Keluarga Mataram-Jambi

Ilmu inilah yang tidak dipunyai oleh murid lainnya. Bung Karno diberi kelebihan berupa kharisma atau wibawa. Itu termanivestasi dalam caranya berpidato, berorasi, dan berretorika.

“Ya, kharisma itulah yang membawa dia besar, makanya pidato dia lebih nikmat didengar ketimbang ditulis. Orang bisa terhipnotis mendengar Bung Karno berpidato. Orang akan takluk karena bicaranya. Sungguh luar biasa kekuatan yang terpancar dari dalam dirinya itu. Bung Karno pun akhirnya menjadi presiden pertama RI, yang juga memproklamirkan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, sesuai skenario Sang Guru,” ujar sumber tadi.

Bung Karno juga dikenal linuwih dalam ilmu spiritual. Salah satu upaya memperkuat tuah tersebut Bung Karno kerap berkunjung ke tempat-tempat keramat. Hampir setiap tempat yang ditengarai sarat dengan kepercayaan mistis di Jawa pernah ia singgahi. Salah satu penasihat spiritualnya berada di Blitar. Namanya Ibu Timbo yang sudah berumur 114 tahun. Ia yang diyakini punya ilmu bulan purnama. Hingga efek positifnya akan mempanjang umur dan awet muda. Lalu bagaimana ritual ini? Menurut sumber yang dipercaya, Ibu Timbo harus berpuasa tiap bulan purnama untuk menyedot kekuatan; khodam bulan purnama. Konon, Bung Karno juga menguasai ilmu purnama sidi ini.

Sejak kecil, jalan kehidupan Soekarno memang penuh penderitaan. Namun pribadi seorang pemimpin negara dan bangsa harus punya kemampuan sebagai negarawan. Kepribadian sebagai seorang pemimpin besar ternyata telah nampak. Setiap kali ia bermain dengan teman-teman sebayanya, ia selalu ditunjuk sebagai pemimpin. Anehnya, Bung Karno punya kesabaran yang luar biasa. Ia enggan menyakiti sesamanya, ibarat tak akan mau membunuh seekor nyamuk sekalipun. Tanda-tanda alam pun menyambut kehadirannya di dunia ini. Isyarat gaib yang diwujudkan dengan letusan Gunung Kelud  ternyata sebagai irama alam untuk menyambut bayi yang kelak jadi pemimpin bangsa.

Ketika melanjutkan sekolah di HBS, Soekarno mondok di rumah HOS Cokroaminoto di Jl. Peneleh Gang VII, Surabaya. Tokoh ini dikenal sebagai Ketua Sarekat Islam. Di rumah inilah jiwa Soekarno juga terasah. Kehidupan warga Peneleh yang religius telah mempengaruhi watak dan kehidupan sehari-hari Soekarno. Mengapa demikian? Letak Peneleh yang dekat dengan makam beberapa aulia seperti: Sunan Ampel, Kiai Ageng Brondong (pendiri Surabaya) dan Sultan Banten Syech Maulana Syaifudin di kompleks pemakaman Botoputih, Surabaya.

Di Peneleh inilah Soekarno mempunyai Guru Spiritual yang bernama Raden Ngabehi Lahar Djoyokusumo (Wedono Majosari). Tokoh inilah yang menuntunnya mendalami ilmu-ilmu kebatinan. Maklum pula sebab Raden Ngabehi punya seorang putra, yakni RN H Djoyokusumo yang ternyata adalah teman akrab Soekarno. Di makam itu pula Soekarno mendapatkan wisik agar selalu memakai bintang di krah bajunya. (-Ki Juru Bangunjiwa-Aneka Sumber)

Lihat Juga

Pidato Presiden Sukarno pada HUT Ke-1 Kemerdekaan RI 17 Agustus 1946 di Yogyakarta (2): Pemerintah Bukan Pengurus Partai!

DI ATAS lapangan politik pun tak kurang soal! Benar, revolusi kita ini telah membangkitkan banyak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *