Beranda » Peristiwa » Andaikata Bom Atom Tidak Dijatuhkan di Jepang (2): Bisa Jadi Proklamasi Kemerdekaan tidak di Agustus 1945
Enola Gay dan krunya (ft. wikipedia)

Andaikata Bom Atom Tidak Dijatuhkan di Jepang (2): Bisa Jadi Proklamasi Kemerdekaan tidak di Agustus 1945

SETELAH menghasilkan beberapa hal yang terpenting, BPUPK lalu dibubarkan. Sebagai gantinya dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Panitia ini diketuai Ir. Sukarno dan Drs. Mohammad Hatta.

Persiapan-persiapan untuk kemerdekaan itu terus dilakukan dan disusun. Tidak saja oleh para penguasa dan anggota PPKI, tapi oleh segenap rakyat Indonesia yang sudah mendengar kabar tentang rencana dan persiapan kemerdekaan itu.

Sementara itu pihak Sekutu (Amerika Serikat, dan Inggris) pada hari Kamis tanggal 26 Juli 1945 mengeluarkan ultimatum kepada Jepang untuk menyerah tanpa syarat. Ultimatum itu ditolak mentah-mentah oleh Jepang lewat Admiral Suzuki. Penolakan itu disampaikan pada hari Sabtu 28 Juli 1945.

Karena ultimatumnya ditolak, Sekutu jadi naik darah. Rencana untuk menjatuhkan bom atom di Jepang yang sudah diputuskan dalam pertemuan Komite Interim AS pada tanggal 13 Mei 1945 itu akhirnya dilaksanakan.

Akibatnya lebih jauh, pada hari Senin, 6 Agustus 1945, ketika hari masih pagi, tiga pesawat pembom lepas dari kapal perang Tinian, di Laut Selatan. Di antara ketiga pesawat itu, pesawat pembom B 29 Enola Gay membawa sebuah bom atom. Tujuan pesawat yang membawa bom atom dengan sandi Little Boy sudah jelas Hiroshima. Dan, sekitar pukul 08.15 lewat, Little Boy itu pun melayang jatuh dari dalam Enola Gay.

Beberapa detik kemudian, bom atom berbobot lima ton itu pun meledak dahsyat. Dunia bagaikan kiamat. Kilatan api bagai menyembur dari Hiroshima. Maka hancurlah kota yang dihuni oleh tak kurang satu juta jiwa penduduk itu.

Hiroshima jadi rata dengan tanah. Dan, sebanyak 140 ribu orang tewas mengerikan. Selain itu puluhan ribu lainnya lagi terkena radiasi dan luka-luka. Tercatat pula, sekitar 126 ribu bangunan dan rumah hancur. Dalam sekejap Hiroshima bagai jadi kota neraka.

Belum lagi malapetaka Hiroshima dapat terkendalikan, Jepang dihajar lagi pada tanggal 9 Agustus 1945. Pada hari yang naas itu, giliran kota Nagasaki yang bernasib malang. Bom atom dijatuhkan di kota ini. Akibatnya tak kalah mengerikan dengan apa yang terjadi di Hiroshima. Sekitar 27 ribu jiwa penduduk Nagasaki tewas seketika. Puluhan ribu lainnya luka-luka dan menderita gangguan radiasi. Dan 18.000 bangunan hancur lumat.

 

Kemerdekaan Diberikan

Bersamaan dengan hancur lumatnya kota Nagasaki, Bung Karno, Bung Hatta dan Dr. Radjiman Wediodiningrat dipanggil untuk menghadap panglima besar balatentara Jepang yang berkedudukan di Saigon, Jenderal Terauchi.

Dalam pertemuan itu Jenderal Terauchi mengatakan kepada wakil-wakil rakyat Indonesia tersebut, bahwa pemerintah Jepang sudah mengambil keputusan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Menurut Terauchi, pelaksanaan  kemerdekaan itu dapat dilaksanakan secepatnya begitu segala persiapan yang disusun PPKI sudah selesai.

Sehari setelah Jenderal Terauchi menyatakan Jepang memberikan kemerdekaan kepada Indonesia, tepatnya hari Jumat 10 Agustus 1945, Jepang mengumumkan bersedia untuk menyerah kepada Sekutu. Pernyataan Jepang untuk menyerah itu, pada tanggal 11 Agustus 1945 diterima oleh pihak Sekutu.

Kemudian pada tanggal 14 Agustus 1945, pemerintah Jepang melalui radio memerintahkan kepada segenap balatentaranya di medan perang menghentikan perang. Pada tanggal bersamaan, beberapa tokoh pemuda Indonesia mendesak proklamasi kemerdekaan Indonesia segera dinyatakan.

Pada tanggal 15 Agustus 1945 beberapa tokoh pemuda mendesak Bung Karno dan Bung Hatta sebagai pemimpin rakyat untuk memproklamasikan  kemerdekaan Indonesia. Namun proklamasi kemerdekaan Indonesia itu akhirnya baru terlaksana pada hari Jumat, 17 Agustus 1945, pukul 10.00 pagi di Jl. Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, yang dinyatakan oleh Sukarno dan Hatta, atas nama seluruh bangsa Indonesia.

Demikianlah, bom atom sudah dijatuhkan pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 di Hiroshima dan Nagasaki. Jepang pun kemudian menyerah kalah, tanpa syarat. Beberapa hari kemudian bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Dan, seluruh rakyat Indonesia bersorak-sorai.

Tapi, andaikata bom atom tidak dijatuhkan Sekutu di wilayah Jepang pada bulan Agustus 1945 itu, barangkali sejarah perjuangan rakyat Indonesia akan tertulis lain pula. Bisa jadi kemerdekaan Indonesia tidak diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Mungkin sebulan lagi. Enam bulan lagi. Setahun lagi. Atau…..  **** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XV: Melawan Kebhinnekaan Sama Dengan Melawan Tuhan

DRS. HM IDHAM SAMAWI Sekali lagi apresiasi saya yang ke sekian kali Pak Oka, sudah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *