Minggu , 16 Desember 2018
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XX: Biarkan Anak Muda Bicara Pancasila Sesuai Ukuran Mereka
Mayjen TNI (Purn) Saurip Kadi (ft. Budi Adi)

Diskusi Kebangsaan XX: Biarkan Anak Muda Bicara Pancasila Sesuai Ukuran Mereka

Mayjen TNI (Purn) Saurip Kadi

SETELAH kita dengarkan dari pri-yayi sepuh dan dari yang muda, nanti saya akan menyampaikan bagaimana pemahaman orang tua yang tidak pernah merasa tua. Rasanya selalu muda. Tapi intinya, yang pertama mengapa saya mau datang ke sini, karena kata-kata sepuh itu. Itu menjadi penting karena bahasa Inggrisnya nature, bukan hanya umurnya tua tetapi dewasa. Dengan demikian hal-hal yang tidak diketahui langsung oleh anak-anak muda itu bisa disampaikan dari yang sepuh-sepuh.

Yang pasti adalah hari ini tidak mungkin kita ngotot, yang benar ini menurut versi orang tua. Karena zamannya sudah berubah. Ketika elit bangsa ini waktu itu belum ada NKRI, bangsa Indonesia belum ada, tapi elit yang tersebar di pulau-pulau Nusantara ini memahami apa yang bakal terjadi yaitu punahnya atau berhentinya atau selesainya era kolonialisme, maka Indonesia termasuk yang duluan merdeka.

Ini fakta. Apa yang terjadi, sete-lah merdeka, elitnya lupa bahwa peradaban itu senantiasa bergerak, senantiasa dinamis. Coba lihat saja, demokratisasi yang tidak bisa dielakkan, korbannya berapa di republik ini. Yang kita lihat melalui reformasi akhirnya sistemnya pun menjadi amburadul. Hingga hari ini turbulensi elit terus, kasihan anak-anak, cuma melihat pertikaian orang tua yang sama-sama perampok dan maling.

Ini yang harus kita pahami. Ketika bangsa lain tahu bahwa sebentar lagi akan ada globalisasi, maka Thailand ambillah contoh, mereka menyiapkan diri menjadi agrobisnis harp, bibit-bibitnya dari mana? Duren dari mana, dari Condet. Klengkeng dari mana? Dari Ungaran. Mangga dari mana? Semuanya dari kita. Tapi kitanya, apa yang disiapkan? Mari kita lihat Malaysia. Mereka kemudian loncat menjadi tourism Asia. Bukan dari Jakarta ke Manado, Jakarta ke mana, Kediri kek, Jakarta ke Mataram kek, tetapi Kualalumpur-Manado, Kualalumpur-Mataram, sebentar lagi Kediri. Faktanya seperti itu. Kita kebagian apa? TKW saja. Yang jumlahnya besar. Iya betul, karena sejelek-jelek globalisasi mendatangkan juga berkah. Dan sebentar lagi akan ada apa?

Sementara kita tahu bahwa konsep nasional state, State national stad, negara didirikan atas bangsa. Dengan alat yang namanya demokrasi. Yang terjadi di Indonesia, yang mana bangsa Indonesia, itu kan karena kelihaian dan kehebatan orangtua kita. Bangsa-bangsa yang ada kemudian dikasih cap suku-suku, kapan ada bangsa Indonesia. Ini kan dalam proses untuk menuju Indonesia. Ketika bangsa Indonesia sendiri itu belum sempurna terwujud, konsep itu hari ini dikoreksi lagi oleh peradaban zaman. Ambillah contoh, siapa yang tidak menghargai karya besar orangtua kita tentang Pancasila.

Tetapi anak-anak muda jangan di-paksa tentang Pancasila itu menurut ukuran kita, dalam hal implementasi-nya. Jangan. Yang hidup mereka, yang menanggung mereka. Kita sebentar lagi yang tua-tua ke kuburan. Untuk itu kita harus tahu apa yang hari ini sedang terjadi dan mau ke mana. Siapa yang tidak punya handphone. Kecuali yang digadaikan ya mungkin nggak punya hari ini. Tapi kalau nggak digadaikan, pembantu pun sekarang juga punya handphone. Siapa yang memaksa orang untuk beli handphone? Malah ngutang kok untuk beli yang baru kok. Itulah teknologi.

Nah, ketika yang seperti ini, maka kita harus mengakomodasikan pemikiran-pemikiran baru, bukan kolaborasi umur tua dan muda saja, kolaborasi gagasan karena sudah lama, and of idiology, komunisme lewat sudah masanya. Kapitalisme sudah lewat masanya. Terus kita ribut terus hanya karena bendera tulisan Arab, bertuliskan masalah Aqidah. Kalau dibiarkan merobek bangsa ini.

Simak juga:  Memberi

 

Tatap Masa Depan

Ini ada yang salah di bangsa ini. Kalau toh anak itu salah, hukumlah, tapi jangan bawa-bawa yang lain. Jangan kait-kaitkan yang lain. Sudah banyak masa lampau korban yang berjatuhan, bunuh-bunuhan antar bangsa sendiri. Berhentilah, kita tatap masa depan. Lebih dari itu lihat bangsa lain. Korea saja sudah menawarkan, mari. Itu merdekanya hanya dua hari sebelum Republik Indonesia, Korea. Di sana mereka sudah makmur. Pu-nya apa negara itu. Dulu tahun 45, kita jauh di depan mereka. Di kita jangankan manusia, kera saja gemuk-gemuk saat itu. Di sana kurus-kurus.

Nah, konteksnya adalah mari kita akhiri, keruwetan, keributan itu. Kita loncat ke depan, karena apa, lihat saja, orang berteriak-teriak bahwa UUD terdiri dari 3 bagian yang tak terpisahkan, satu Pembukaan, dua Batang Tubuh, tiga Penjelasan. Pertanyaannya, apakah pasal-pasal Batang Tubuh yang dirancang, yang dibikin orangtua kita dulu, saya kebetulan mantan anggota DPR mempunyai buku wajib, keluaran Setneg, yaitu kumpulan risalah pidato BPUPKI dan PPKI, sudah saya makan berkali-kali. Apakah Batang Tubuh DNA-nya adalah DNA Pancasila? Bukankah ketergesa-gesaan waktu itu, yang penting ada, mungkinkah, beliau lebih tahu, dalam satu hari bisa merancang 37 pasal? Kapan diskusinya, kapan rapat paripurnanya? Bukankah Bung Karno sendiri pada tanggal 18 Agustus 1945 mengatakan bahwa UUD ini adalah UUD kilat dan nanti kalau keadaan sudah tentram kita undang kembali anggota MPR untuk merumuskan UUD yang baru, yang lebih sempurna, kurang lebihnya seperti itu.

Begitu reformasi sudah nyata-nyata, Bung Karno saja diakhiri dengan tragis. Suharto yang begitu kuat dia-khiri dengan tragis. Bukan diubah, mindset-nya diubah, platformnya diu-bah dari otoriter menjadi demokrasi, langsung terjun ke pasal-pasal. Maka sudah, mari kita bicara ke depan.

Negara-negara lain tidak mengata-kan Pancasila, tidak pernah ada upa-cara, satu Ketuhanan YME, tak ada. Yang terjadi mereka melaksanakan Pancasila. Contoh adalah Korea, menawarkan tangan kita. Kita lihat U-ber, tadi sudah saya gambarkan di sana. U-ber alat produksi dikuasai oleh rakyat. Ekstrimnya, konsep da-sar ini adalah konsep komunisme, tetapi keniscayaan kenapa nggak ribut? Ini konsep PKI. Ya gambarnya saja dulu palu arit, sekarang adalah handphone. Lah yang kayak begini di sini diributkan terus. Bahkan waktu itu presiden sampai turun tangan. Waktu itu gubernur harus turun tangan.

Sekarang semuanya menikmati. Lihat ojek, lah sekarang tukang ojek bukan orang yang tak berpendidikan, ada S1, S2 segala. Ia jadi majikan bagi dirinya sendiri. Dengan uang muka hanya berapa, mohon maaf hanya satu juta dia bisa nyicil, akhir-nya dia punya motor sendiri. Lah, konsep-konsep yang kayak ini, tidak perlu dijuduli, tidak perlu distempel, ini adalah keniscayaan. Ketika alat produksi, ketika sentra-sentra produksi yang tersebar dijaring dengan IT berhubungan langsung antara produsen dan konsumen, berhubungan langsung dengan yang namanya pasar dalam dan luar negeri, berhubungan langsung dengan yang namanya fasilitas keuangan, maka semuanya menjadi diuntungkan.

Kita, ada orang punya tanah 5 juta hektar, ada yang 1 juta hektar, yang ratusan juta hektar. Bukan ngiri, kalau saya mau dulu bisa, tetapi saya tahu itu salah. Yang satu lagi, mbahnya kuburannya di situ, diusir hanya gara-gara lisensi. Sampai kiamat. Ini adalah kemiskinan struktural. Ini adalah fakta yang dibawa generasi saya ke atas. Bertobatlah, jangan terus-terusan merasa benar.

Republik ini bukan cuma punya kelompok orang kaya dan terpelajar, bukan juga jenderal thok. Ketika dulu rakyat miskin, kalau sakit perginya ke dukun, hari ini sakit dikit ke dokter. Ranjang menjadi kurang, obat menjadi habis. Sadar dong kita-kita yang punya dhuwit sedikit ke atas, apalagi kaya. Untuk memahami keadaan ini. Jangan terus ngomelnya terus-terusan. Ini saya ya mohon maaf, janganlah sembahyang-sembahyang, ke pura-pura, ke gereja-gereja, tapi, mohon maaf, fitnah-fitnah, berita bohong-berita bohong, ujaran kebencian terus.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XVI: Ekonomi, Lingkungan dan Sumber Daya Alam

Bukan persoalan saya membela Pak Jokowi, beliau adalah Presiden kita. Bagaimana mungkin ada bangsa menghina Presidennya sejak hari pertama sampai mau pemilu lagi. Apa ini nggak merasa sebuah kesalahan? Oke, maka yang penting adalah ke depan.

 

Peran IT

Dengan IT, maka mohon maaf tatanan kenegaraan akan berubah. Tata hubungan anak dan keluarga, bapak dan ibu, juga berubah. Kalau tidak percaya lihat di restoran. Jauh-jauh kumpul bapak ibunya di restoran. Di restoran pegang handphone masing-masing. Itu bukti bahwa tata hubungan keluarga pun berubah. Begitu juga nggak lucu lagi zaman sekarang rapat. Dari rumah ke sini perjalanannya bisa satu hari, 7 jam, 8 jam. Zaman sekarang ada IT.

Nah, kondisi seperti ini harus kita akhiri. Ini mungkin untuk ketiga kalinya saya ngomong. Akhiri, akhiri, akhiri yang kayak begitu. Bayangkan saja, pemilu dianggap kayak mau perang. Tetangga kita Malaysia, Thai-land, Amerika apalagi negara-negara Barat, tentara ikut nyoblos. Nggak ada tentara dipecat, karena perbedaannya, hanya sekitar 15 detik waktu nyoblos di bilik suara. Di kita, dianggapnya kayak mau perang Bubat. Semua ini karena sistemnya amburadul, semrawut.

Maka pemikiran-pemikiran kita ke depan, bukan kita tidak menghargai pemikiran-pemikiran orangtua, itu adalah zaman old. Kita harus loncat ke zaman ke depan, bagaimana yang namanya tata negara, tata keuang-an, tata-tata sampai hubungan internasional itu didasarkan kepada kejujuran. Masyarakat niscaya tidak bisa dielakkan, akan terjadi. Ambil contoh Bapak-Bapak sampai hari ini saja belum, biarkan publik tahu kok, orang kaya, ada yang namanya omset perdagangan. Bulan ini 1 trilyun, bulan depan 1 trilyun, 12 bulan jumlahnya kita anggap 12 trilyun. Yang terjadi, saya bertanggungjawab begitu mau menghitung pajak, diubah, bukan 12 trilyun, bisa menjadi 5 trilyun atau 6 trilyun, yang 6 trilyun nanti bagi-bagi dan itu bukan bohong. Saya orang dalam untuk membikin begitu saja sampai hari ini nggak bisa-bisa. Padahal kan gampang dengan IT laporan ke Dirjen Pajak, laporan ke negara sana, di Kepresidenan, ada operational room, dilap yang nggak bisa diganti, kan ketahuan semua.

Jadi mohon maaf, ini persoalan mindset, yang tua, saya mewakili yang tua, mari ramai-ramai pindah mindset-nya sudah. Yang muda lanjutkan, you yang nanggung sen-diri, bukan saya, oke, dengan cara Anda. Apalagi orangtua kita sudah mewariskan yang agung, yang berna-ma Pancasila itu. Persoalan yang mendasar adalah bagaimana ke depan Pancasila dijabarkan dalam Batang Tubuh sehingga aturan dasar dalam bernegara betul-betul dilandasi oleh Ketuhanan YME.

Jangan berdasarkan Pancasila, mohon maaf terminologi, tentang Nasrani, Yahudi saja, tidak kontekstual. Saat junjungan Nabi Muhammad SAW, yang dimaksud dengan Nasrani apa? Yang dimaksud dengan Yahudi apa? Maka dalam terminologi-terminologi ini kemudian dipakai tidak konteks-tual, mengakibatkan, mohon maaf, agama apa pun akan menjadi sumber malapetaka kemanusiaan bagi pihak lain. Ini yang perlu kita beresin, hanya mungkin manakala UUD-nya betul-betul didasarkan kepada Pancasila. *** (SEA)

Lihat Juga

Gembira

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *