Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Humaniora » Berpolitik Dengan Hati, Bukan Saling Membenci

Berpolitik Dengan Hati, Bukan Saling Membenci

Tahun politik, tahun adu taktik. Banyak cara digunakan untuk mencapai tujuan. Termasuk dengan cara menfitnah, dan semangatnya maju tak gentar tak mau kalah. Padahal sebenarnya berada di pihak yang salah.

Ada yang menganggap bangsa ini sedang sakit. Tapi hanya sebagian. Sakit hati. Bahkan iri hati. Merasa cemas dan was-was. Konteksnya sudah tentu politik.

Sakit hati dan iri hati, biasanya memunculkan kebencian. Siapa pun dan kelompok mana pun yang tidak sependapat, tidak seperjuangan dan tidak berada dalam gerbong yang sama, akan dianggap lawan. Harus dihadapi sebagai musuh. Harus dilawan karena berseberangan. Tak peduli yang dimusuhi itu adalah kawan.

Sakit yang sumbernya dari hati, apabila dibiarkan akan merusak sendi-sendi kehidupan dalam persaudaraan. Persaudaraan dalam kekerabatan, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Persaudaraan dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di negeri ini, itu yang semestinya dipahami dan disadari bersama.

Untuk itu, kuncinya kembali ke hati. Jika konteksnya politik, maka berpolitiklah dengan hati, bukan saling membenci. Hati yang tenang dan tertata, serta emosi bisa dikendalikan, tentu akan berujung pada kesabaran dan tidak mengumbar kemarahan.

Berpolitik dengan hati seperti itu akan memunculkan kesejukan. Segala perbedaan akan terasa bukan hantaman yang harus dilawan. Beda pendapat tidak perlu diumpat. Dan beda gerbong tidak akan disikapi dengan saling membenci dan menyakiti.

Saat ini “suhu panas politik” sedang melanda negeri kita. Pemilu legislatif dan pemilu presiden  akan digelar serentak tahun depan. Kekuasaan yang akan diperebutkan.

Itu hajatan nasional setiap lima tahunan, tapi anehnya kita tak pernah belajar dari beragam pengalaman saling memusuhi hanya untuk berebut kursi. Kursi anggota dewan (DPR, DPD dan DPRD), serta kursi kekuasaan (Presiden dan wakil presiden).

Simak juga:  Pilgub, Pilpres, Pilnab, Piltu

Pengalaman bermusuhan, tapi menjadi kebiasaan. Lima tahunan selalu berulang, tapi tak pernah menyadarkan hati dan pikiran. Sepertinya hati sudah mati. Pikiran tak lagi berfungsi untuk kedamaian. Kedamaian sejati. Bukan kedamaian untuk membungkus ambisi.

Ambisi untuk meraih kursi dewan. Ambisi untuk berkuasa. Tapi semuanya itu diraih dengan cara yang terkadang curang. Ada pula yang membenci. Memfitnah. Bahkan menyakiti. Semula kawan, menjadi lawan. Meski kerabat, tetap dihujat. Walau pun masih saudara, tetap diserang, karena berbeda.

Semua itu untuk kepentingan sesaat. Kepentingan yang diperjuangkan dengan semangat memberi dukungan. Meski terkadang tanpa perhitungan. Sehingga bisa merugikan persaudaraan, kekerabatan, pertemanan, bahkan bisa merusak persatuan dan kesatuan bangsa.

    

Sadarlah Sebelum Terlambat

Hidup berbangsa dan bernegara, sejatinya adalah hidup berdampingan, rukun, damai, berkeadilan, makmur, dan sejahtera. Tentunya juga dalam pergaulan internasional. Itu saja. Tidak untuk tujuan yang lain-lain.

Jika ada tujuan lain, misalnya hidup berbangsa dan bernegara untuk kepentingan sendiri maupun kepentingan kelompoknya, ini yang namanya “penyakit”. Apabila dibiarkan, “penyakit” ini bisa menggerogoti sendi-sendi berbagai aspek dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Aspek politik, hukum, agama, ekonomi, dan hak asasi manusia (HAM), itu semua adalah aspek yang sensitif jika terjangkit “penyakit” tersebut. Apalagi di tahun politik seperti sekarang, siapapun atau dari kelompok manapun sangat mudah menyebarkan untuk menularkan “penyakit” itu. Yakni “penyakit” hidup berbangsa dan bernegara hanya untuk kepentingan sendiri maupun kepentingan kelompoknya.

Di tahun politik saat ini, kepentingan sendiri maupun kepentingan kelompoknya yang diperjuangkan adalah kepentingan untuk meraih kursi dewan (DPR, DPD dan DPRD) melalui pemilu legislatif, maupun meraih kekuasaan melalui pemilu presiden.

Simak juga:  BILA ANUSAPATI MERUWAT KENDEDES: Politik Kekerasan Harus Dihindari

Untuk meraih keinginan tersebut, sudah tentu harus melalui perebutan. Merebut suara pemilih. Berebut bisa diartikan harus bertarung. Naluri bertarung adalah untuk menang. Bagaimana caranya untuk menang di tahun politik, ini yang sekarang sedang “dimainkan” oleh peserta pemilu legislatif dan pemilu presiden.

Menggoreng isu. Ini sebutan yang sekarang sedang populer. Isu politik tentunya. Juga ekonomi,  hukum, dan isu HAM, semua itu digoreng untuk menyerang dan menjatuhkan lawan. Belum lagi dengan cara-cara menfitnah melalui penyebaran berita bohong (hoax), terutama di media sosial (medsos), semakin pedaslah masakan yang tersaji dari goreng-menggoreng isu tersebut.

Tujuannya memang menjatuhkan lawan, untuk meraih kemenangan. Tapi caranya yang  tanpa disadari justru merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga makin meluas permusuhan di masyarakat, akhirnya bisa memecah persatuan dan kesatuan bangsa. Ini tidak kita inginkan.

Untuk itu, sebelum terlambat, mulailah dari diri kita sendiri segera menyadari bahwa pemilu legislatif dan pemilu presiden bukan segalanya dan bukan yang paling utama, sehingga harus diperjuangkan mati-matian. Apalagi sampai berdarah-darah. Dibela habis-habisan, apalagi sampai mengorbankan persatuan dan kesatuan bangsa.

Pemilu legislatif hanyalah proses dalam berdemokrasi untuk memilih dan mendapatkan wakil rakyat yang akan duduk di Dewan. Begitu pula pemilu presiden, hanya untuk memilih serta mendapatkan pemimpin, seperti yang diinginkan rakyat.

Selama ini kita hanya fokus bagaimana cara meraih kemenangan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, tetapi mengabaikan keutuhan bangsa dan negara. Belajarlah mengupas mangga, tanpa merusak dagingnya. Maka gunakan cara semestinya.*** (Masduki Attamami)

Lihat Juga

Misteri Satria Siningit (Piningit)

Swidak gangsal taun sirna,                        …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *