Rabu , 21 November 2018
Beranda » Essai EAN » Berhijrah ke Luar Bumi

Berhijrah ke Luar Bumi

Tentu di suasana indah seputar telaga kaca itu ketiga orang tua dan empat anak muda itu melihat ke sana kemari untuk mencari di mana Markesot. Tidak ada di antara mereka yang tahu persis bahwa Markesot ada di situ. Bahkan tidak ada juga di antara para Pakde itu yang merasa mengajak lainnya untuk datang ke dimensi itu. Mereka hanya rindu, karena sangat mencintai Markesot, dan bersungguh-sungguh menginginkan pertemuan dengannya.

Tiba-tiba mereka sampai di situ. Kalau nanti atau besok mereka balik ke kampungnya, tidak ada yang berani menjamin bahwa akan punya acara untuk bisa sampai ke telaga kaca itu lagi. Mereka hanya daun kering yang dibawa angin. Mereka hanya debu yang beterbangan. Mereka hanya melayang-layang diserap oleh kerinduan.

Mereka juga tidak merasa bahwa mereka sedang mengalami apa yang difirmankan oleh Allah swt: “dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu”. Pakde Tarmihim, Sundusin dan Brakodin bukan manusia saleh, bukan Kiai, Ustadz, Kasyiful-hijab atau apapun. Terlebih lagi Junit, Jitul, Seger dan Toling. Rasanya memang mereka disorong, diseret atau diserap oleh semacam ruang hampa di balik salah satu pintu itu, tetapi mana mungkin itu adalah pintu yang Allah maksudkan.

Simak juga:  Membubarkan Kepentingan

Mereka memang ingin ada kalimat-kalimat “pamungkas” dari Markesot tentang apa yang sebaiknya mereka lakukan atas keadaan masyarakat dan Negaranya yang semakin ruwet dan semrawut. Tetapi sebenarnya rasa rindulah yang lebih kuat mendorong inisiatif mereka untuk mendaki sampai ke leher gunung, khusyuk melakukan penyelaman batin, dengan memohon ampun dan perkenan kepada Allah Maha Penguasa Jagat Raya. Lantas tiba-tiba mereka tercampak ke wilayah yang ada telaga kaca. Mereka tidak bisa merumuskan. Mereka tidak terikat untuk mempertanggungjawabkan apapun yang mereka alami itu, kepada siapapun. Mereka hanya mencintai dan rindu.

Maka bagi Allah-lah segala puji, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan semesta alam”. Junit nyeletuk: “Kalau dalam memuji Allah kita dituntun untuk menyebut-Nya sebagai Tuhan Langit, Tuhan Bumi dan Tuhan Alam Semesta, mestinya itu berarti Allah membukakan dan menjamin hak para pemuji-Nya tidak hanya atas Bumi, tapi juga atas Langit dan Alam Semesta”

“Tapi bukan hak untuk memiliki, dong”, Jitul merespon.

“Hak untuk menikmati, lantas kewajiban untuk mensyukuri”, Seger menambahkan.

Simak juga:  Membubarkan Negara

Tiba-tiba terdengar Pakde Sundusin tertawa. “Dari awal tadi saya membayangkan apakah Mbah kalian Markesot ke sini ini sedang melakukan hijrah”, katanya, dan tertawanya semakin keras, “dia putus asa hidup puluhan tahun di kampungnya dalam keadaan yang makin rusak. Lantas berhijrah. Tapi lha kok hijrahnya ke sini?”

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak”.

“Maaf Pakde”, kata Toling, “di sini ini termasuk Bumi atau sudah di luar Bumi?”

“Saya hanya bilang ke sini, bukan ke luar Bumi”, jawab Pakde Sundusin.

Pakde Tarmihim menyahut, “Hal dimensi yang ada telaga kaca di sini ini, tergantung mau jawaban fisika atau metafisika? Pakai konsep pemahaman natural atau supranatural?”

“Kalau pakai fisika materi”, Pakde Brakodin menambahkan, “bumi dan langit hanya sebutan. Keduanya berada dalam satu kesatuan alam semesta atau jagat raya. Disebut Bumi bagi yang memijaknya, disebut langit karena nun jauh di sana kalau dilihat dari tempat pijakan. Kalau kita berpijaknya di sana, maka Bumi adalah bagian dari Langit”.

Daur II-315
Pati, 27 Februari 2018

Lihat Juga

Telaga Cahaya

Setiap kali Markesot selesai melantunkan satu ayat, muncul sejumlah anak panah dari seluruh arah, menancap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.