Minggu , 21 Oktober 2018
Beranda » Humaniora » Berbincang dengan Buku: Bung Karno dan Bung Hatta
Kedua buku tentang Sang Proklamator, Bung Karno dan Bung Hatta. (ft. SEA)

Berbincang dengan Buku: Bung Karno dan Bung Hatta

INI bukan perbincangan tentang buku, atau memperbincangkan buku. Tapi, ini berbincang dengan buku. Perbincangan atau memperbincangkan dengan berbincang itu jelas berbeda. Perbincangan atau memperbincangkan itu jelas berkisar pada suatu bahasan, telaah, menganalisa, resensi dan semacamnya yang lain. Sedangkan berbincang, adalah langkah berbicara, bercakap-cakap, mengobrol, berkomunikasi dan semacamnya.

Nah, berbincang dengan buku, berarti suatu langkah berbicara, bercakap-cakap atau mengobrol bersama buku. Aneh? Ah, tidak. Pada setiap buku, ada roh, jiwa, nyawa dan semangat penulisnya. Atau, kalau itu buku biografi, autobiografi dan sejenisnya, di dalamnya terdapat pula roh, jiwa, nyawa dan semangat tokoh di dalamnya. Buku memang benda mati, benda yang tak bergerak. Tapi setiap penulis, terlebih penulis yang cemerlang, bisa ‘menghidupkan’ buku yang ditulisnya. Buku yang ‘hidup’ itu bisa kita ajak untuk menjadi teman berbincang, teman bercakap-cakap atau kawan mengobrol.

Mari kita mencoba berbincang atau mengobrol bersama buku. Di perbincangan pertama ini, saya akan mencoba berbincang bersama dua buku, yang kebetulan kedua buku tersebut merupakan buku tentang Sang Proklamator kemerdekaan Republik Indonesia, Bung Karno dan Bung Hatta. Bung Karno dan Bung Hatta merupakan Presiden dan Wakil Presiden RI yang pertama, yang juga dikenal dengan julukan Sang Dwi Tunggal.

Buku pertama berjudul “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (Aslinya – Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia)” yang merupakan buku autobiografi Sukarno atau populer dengan sebutan Bung Karno. Buku autobiografi ini ditulis seorang wartawati Amerika Serikat, Cindy Adams. Edisi Bahasa Indonesia buku ini pertama kali diterbitkan oleh PT Gunung Agung, Jakarta, 1966. Buku yang diterjemahkan oleh Mayor Abdul Bar Salim aslinya berjudul “Sukarno, An Autobiography AS Told To Cindy Adams” yang diterbitkan The Bobs-Merrill Company Inc, New York, 1965.

Sedang buku kedua berjudul “Mohammad Hatta“. Buku memoir atau biografi yang ditulis Mohammad Hatta atau populer juga denggan sebutan Bung Hatta itu ditulis oleh Bung Hatta sendiri, dan diterbitkan oleh Penerbit PT Tinta Emas Indonesia, Jakarta, 1978. Buku pertama setebal 470 halaman. Buku kedua setebal 564 halaman.

 

“Setengah Coup” TNI

Sebagai buku autobiografi, buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” (BKPLRI) menguraikan perjalanan kehidupan Sukarno, dari kecil sampai tua, perjalanan kehidupan cinta, perjalanan kehidupan politik dari awal mula belajar politik sampai menjadi presiden. Kisah perjuangannya, hidup di penjara, hidup dalam masa-masa pembuangan, berjuang dalam masa-masa sulit. .

Sukarno mengurai banyak tentang bagaimana ia melahirkan Pancasila yang kemudian menjadi pegangan dan ideologi negara. Bagaimana ia berjuang, bekerja keras menjaga keutuhan dan kebesaran bangsa, menjaga Indonesia, membangun Indonesia, masa-masa pergolakan dan pertentangan politik. Serta masa-masa penuh tantangan di tahun-tahun terakhir pemerintahannya, sebagai Presiden.

Semua yang diceritakan Bung Karno menarik. Ya, sangat menarik. Perjalanan kehidupannya memang sumber inspirasi yang tak ada habisnya untuk ditulis. Tapi saya tertarik untuk fokus pada kisah bagaimana ia menghadapi percobaan “setengah coup” atau “setengah kudeta” yang dilakukan TNI.

Sukarno bercerita, bagaimana di awal-awal kemerdekaan, partai-partai politik tumbuh seperti rumput liar, dengan akar yang dangkal dan yang pucuknya dibebani keuntungan diri sendiri, serta pengejaran suara. Pertentangan-pertentangan pun terjadi.

Simak juga:  Kejarlah Karta Kau KuPenjara

“Kami menghadapi keruntuhan, persengketaan yang tak ada habis-habisnya, kebingungan yang menegakkan bulu roma. Rakyat Indonesia yang tadinya mempunyai satu tekad sekarang terpecah-belah. Rakyat Indonesia terpecah dalam golongan agama dan daerah, dan aku telah mencucurkan keringat selama hidupku justru untuk memberantas penggolongan-penggolongan semacam itu. Tiap golongan mencoba mengungguli yang lain. Perdebatan bertele-tele tana hasil, saling menghambat, berlomba-lomba mengejar kedudukan, fitnahan, caci-maki, kritik-kritik yang mematikan, itulah buahnya. Setiap suara menuntut supaya didengar,” urainya.

Bung Karno menceritakan, setiap tokoh politik mengimpikan “gedung yang indah”, akan tetapi bagaimana membangunnya, itulah yang tidak mereka ketahui. Dan, semua daya kekuatan disalurkan untuk menciptakan krisis, guna menjungkirkan kabinet tanpa memandang siapa yang memegang tampuk kekuasaan.

Cerita ini menarik. Karena cerita tentang kondisi politik dan pertentangan-pertentangan politik di masa itu, ternyata tak berbeda jauh dengan apa yang sedang terjadi sekarang. Cobalah lihat, bagaimana upaya-upaya memecah-belah persatuan dan kesatuan bangsa itu terjadi. Pertentangan-pertentangan politik terasa menajam. Ada pihak-pihak yang sengaja mengusik rasa kebangsaan kita, mengusik keberagaman, mengusik Pancasila.

Hampir setiap enam bulan, ungkap Bung Karno, kabinet jatuh. Lalu diganti dengan pemerintahan yang baru, majikan-majikan baru, dan penyerahan diri pada nasib yang baru. “Tanpa kepemimpinan yang nyata daripada pucuk pimpinan, dan dengan adanya gangguan menuju kesejahteraan dan pembangunan raksasa, bagaimana sang bayi Indonesia mengharapkan bisa merangkak maju dan mengambil tempatnya di antara bangsa-bangsa dewasa di dunia?” tandasnya.

Kondisi politik yang seperti itulah, menurut Bung Karno, menyebabkan tentara ikut campur. Di tahun 1952 pucuk pimpinan TNI memutuskan untuk menyelesaikan persoalan ini dengan mengarahkan meriam kepadanya.

“Angkatan bersenjata kami lahirnya tidak diciptakan oleh Negara, melainkan ia muncul secara spontan dari bawah, dari rakyat dan untuk rakyat. Limapuluh persen dari prajurit yang masih bertugas sekarang, dan 90 persen dari perwira yang berpangkat mayor ke atas adalah bekas pejuang gerilya. Mereka adalah pemegang saham di dalam revolusi,” urainya lagi.

Tentang meriam yang diarahkan kepadanya itu, Bung Karno pun mengungkapkan, pagi-pagi pada tanggal 17 Oktober 1952, dua buah tank, empat kendaraan berlapis baja dan ribuan orang menyerbu memasuki pintu gerbang Istana Merdeka membawa poster-poster “Bubarkan Parlemen”.

“Satu batalyon artileri dengan empat buah meriam menggemuruh memasuki lapangan keliling istana. Meriam-meriam 25 pounder dihadapkan kepadaku. Pameran kekuatan ini mencerminkan kelatahan dari pada zaman itu. Tindakan ini tidak dapat dikatakan bijaksana, oleh karena para panglima yang menciptakannya berada denganku di dalam Istana,” katanya.

Menurut Bung Karno, Kolonel Abdul Haris Nasution yang memimpin percobaan “setengah coup” itu menyampaikan persoalannya, “Ini tidak ditujukan kepada Bung Karno pribadi, melainkan untuk menentang sistim pemerintahan. Bung Karno harus segera membubarkan parlemen.”

Bung Karno mengaku, matanya terbakar karena marah. “Engkau benar dalam tuntutanmu, akan tetapi salah di dalam caranya. Sukarno tidak sekali-kali akan menyerah karena paksaan. Tidak kepada seluruh tentyara Belanda dan tidak kepada satu batalyon Tentara Nasional Indonesia,” tandasnya.

Simak juga:  Memburu Buku-buku Lama (1) : 'Harta Karun' itu Ditemukan di Pengepul Kertas Bekas

 

Menjelang 10 November

Seperti halnya buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” yang bercerita secara lengkap tentang perjalanan kehidupan Sukarno, demikian pula halnya buku “Mohammad Hatta” bercerita lengkap mengenai perjalanan kehidupan Bung Hatta. Melalui buku itu, Bung Hatta berbagi cerita tentang kota kelahirannya, Bukittinggi, tentang keluarganya, tentang mengaji, sekolah, sampai sekolahnya di Betawi (Jakarta), dan Belanda.

Kemudian ia bercerita juga tentang kehidupan politiknya, baik semasa di Belanda sampai saat pulang ke Indonesia. Tentang romantisme gerakan kemerdekaan, kehidupannya saat dalam pembuangan, dan tentang bagaimana perjuangan dan keterlibatannya mempersiapkan Indonesia merdeka bersama Bung Karno. Juga cerita bagaimana prosesnya menjadi Sang Proklamator kemerdekaan RI bersama Bung Karno. Dan, saat ia menjadi Wakil Presiden.

Pasti akan menjadi sangat panjang bila berbincang tentang semuanya yang ditulisnya di buku tersebut. Untuk itu saya pun mencoba memilih untuk fokus berbincang saat ia bersama Bung Karno datang ke Surabaya menjelang peristiwa heroik 10 November 1945, untuk menyelesaikan pertikaian atau pertentangan antara TKR dan pemuda pejuang dengan tentara Inggris yang merupakan pasukan Sekutu.

Menurut Bung Hatta, pada 28 Oktober 1945, dirinya sebagai Wakil Presiden dan Bung Karno sebagai Presiden serta Menteri Keamanan Mr. Sjarifuddin terbang ke Surabaya dengan kapal terbang Inggris untuk menyelesaikan persengketaan antara pemuda dan TKR di satu pihak dan tentara Inggris di lain pihak.

Diceritakannya, setelah sampai di lapangan terbang Surabaya, tentara Inggris yang menguasai lapangan terbang itu tidak dapat mengantarkan mereka ke kota, ke kantor Gubernur yang telah dikuasai oleh pejuang Indonesia. Dan, waktu itu Gubernurnya, RM Suryo.

“Panglima Inggris hanya dapat meminjami kami sebuah jeep dan supirnya orang Indonesia. Ia berkata, bahwa lapangan terbang itu masih dikepung oleh sekelompok rakyat Surabaya, dan antara tentara Inggris yang mempertahankan lapangan terbang itu dengan rakyat Surabaya yang mengepung selalu berlaku tembak-menembak. Tuan-tuan tentu dapat keluar, dan rakyat tuan tentu tidak menembak tuan,” ungkap Bung Hatta.

Untuk meninggalkan lapangan terbang itu dengan jeep, menurut Bung Hatta, pihaknya minta tentara Inggris menghentikan tembakan. Dan, waktu tembakan berhenti, rakyat yang mengepung lapangan itu keluar dari parit-parit tempat sembunyi mereka. “Waktu melihat jeep dan kami di dalamnya dengan seorang mayor Inggris yang kami bawa sebagai penunjuk jalan ke markas Jenderal Mallaby, mereka bersorak menyebut nama Sukarno dan aku. Di antara mereka ada yang berkata: Radio Inggris tadi pagi menyiarkan bahwa hari ini Bung Karno dan Bung Hatta akan datang ke Surabaya menolong menyelesaikan konflik antara tentara Inggris dan pasukan rakyat Indonesia, tetapi kami mula-mula tidak percaya. Tetapi setelah Bung berdua beserta Menteri Keamanan mendarat tadi, mulailah kami percaya. Kami yakin, Bung bertiga akan membawa kebaikan bagi kami rakyat Surabaya,” jelasnya.

Dikemukakan Bung Hatta, melihat seorang mayor Inggris ada dalam jeep bersamanya, Bung Karno dan Mr. Sjarifuddin, seorang prajurit bersenjata bambu runcing maju ke muka dan mencoba menusuk mayor itu dengan bambu runcing.

“Kami larang ia berbuat begitu, sebab mayor itu kami bawa sebagai penghubung kalau kami mau bicara dengan Jenderak Mallaby, dan kami tambahkan pula, bahwa kami bertanggungjawab atas keselamatannya. Setelah mendengar kata-kata kami itu, rakyat sendiri mendorong prajurit itu ke belakang,” katanya.

Simak juga:  Kisah Cinta Hartini dengan Bung Karno (1) : Berawal dari Pertanyaan “Siapa Namamu?”

Dengan diantar mayor tentara Inggris itu, mereka bertiga bertemu Jenderal Mallaby. Jenderal Mallaby, kata Bung Hatta, menceritakan bahwa ada perintah dari Jenderal Hawthorn

kepada pasukan Inggris yang ada di Jawa, supaya mengeluarkan suatu surat perintah kepada rakyat di tempat mereka masing-masing, supaya senjata api yang ada pada mereka diserahkan kepada pasukan Inggris yang menduduki daerah mereka.

Tetapi, menurut Bung Hatta, rakyat Surabaya menentang perintah itu dan melawan. Pasukan Inggris yang ada di jalan dibunuh, dan yang dapat melarikan diri masuk ke dalam asrama yang mereka diami.

Lambat laun, lanjutnya, seluruh Surabaya jatuh ke tangan rakyat. Kemudian, pimpinan pasukan Inggris tidak tahu di mana gerakan rakyat memperoleh senjata begitu banyak, dan tidak pernah mengira bahwa tentara Jepang dahulu menyerahkan  semua senjatanya kepada pemimpin-pemimpin serta gerakan rakyat Surabaya.

Bung Hatta bercerita, di Surabaya mereka bertiga menginap di paviliun kantor Gubernur Suryo. Di belakang paviliun itu mengalir sebuah sungai kecil. Dan, waktu sesudah makan malam, ia bersama Bung Karno dan Mr Sjarifuddin duduk-duduk di beranda belakang paviliun. Ketika itu mereka bertiga melihat hanyut beberapa bangkai serdadu India yang tidak berkepala lagi.

“Hal itu kurangkaikan dengan cerita yang dekat tengah hari kudengar di rumah Residen Sudirman. Cerita itu begini jalannya. Pada suatu hari, waktu anggota-anggota pasukan Inggris bersembunyi pada suatu kantor pemerintah, dan semua pintu dan jendela dikunci mereka, pemuda-pemuda yang bakal masuk pada tentara Indonesia, yang mengepung kantor, melemparkan gas asap ke dalam kantor itu. Karena sesak napas, mereka keluar dan menyerahkan diri kepada laskar Indonesia. Setelah menyerah kepala mereka dipancung dan badan mereka dibuang ke dalam suatu anak sungai yang mengalir di dekat itu. Ada beberapa prajurit Indonesia yang berasal dari Aceh, meminum darah serdadu Gurkha itu, sebelum mayatnya dilemparkan ke dalam anak sungai,” urai Bung Hatta panjang lebar.

Singkat cerita, Bung Hatta, Bung Karno dan Mr. Sjarifuddin kemudian kembali ke Jakarta. Tapi baru sehari di Jakarta, ungkap Bung Hatta, ia mendegar berita dari surat kabar bahwa Jenderal Mallaby tewas tertembak. Padahal waktu itu Jenderal Mallaby  bersama Residen Sudirman mau memasuki sebuah gedung yang di dalamnya bersembunyi satu pasukan Inggris, untuk memberitahukan bahwa sudah ada perdamaian dan persetujuan antara tentara Inggris yang ada di Surabaya dengan rakyat Surabaya. Karena mengira bahwa gedung itu akan diserbu rakyat, mereka menembak ke luar dan mengenai Mallaby yang duduk bersama Sudirman dalam otonya.

Berbincang dengan kedua buku ini sungguh menarik. Sungguh dahsyat. Keduanya memberikan wawasan dan pemahaman yang luar biasa tentang arti penting menjaga kesatuan dan persatuan, menjaga keutuhan bangsa, menjaga Pancasila, menjaga Indonesia. Serta menjaga rasa hormat yang tak boleh luntur kepada para pahlawan bangsa, kepada Sang Proklamator Kemerdekaan. Sungguh! *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIX: Kepemimpinan Berdasar Pancasila

Prof. Dr. Kaelan, MS Topik yang kita letakkan sebagai substansi diskusi saat ini memang berada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.