Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XXI: Bangsa ini Bersatu karena Pancasila
Drs. HM. Idham Samawi (ft. Budi Adi)

Diskusi Kebangsaan XXI: Bangsa ini Bersatu karena Pancasila

Drs HM Idham Samawi

KALAU saya tidak salah, catatan dalam arsip negara, kita punya pahlawan nasional 173 orang. Nah, kalau tidak salah juga, sayangnya hanya 13 perem-puan. Ya, nanti silakan ditafsirkan masing-masing.
Ketika saya masih kecil, saya diajak ibu mertamu ke temannya. Kebetulan yang membukakan pintu itu bapaknya. Terus, kalimatnya seperti ini, saya masih ingat betul, “O, Bu Samawi, mangga lenggah, nuwun sewu sekedhap gih, kanca wingking nembe nanggel, isah-isah.” Jadi apa, istri itu kanca wingking, begitu lho. Tapi saya bersyukur hari ini tidak lagi seperti itu. Itu mungkin kenapa kok lalu pahlawan kita dari 173, perempuannya hanya 13 orang.

Lalu, kita meyakini 173 tadi semua-nya pasti muara akhirnya adalah walaupun mungkin ketika zamannya Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol belum berbicara tentang NKRI, tapi saya punya keyakinan ada, untuk melawan ketertindasan, keteraniayaan, ketermarjinalan, dan seterusnya. Representasi dari siapa, yang tertindas, teraniaya, termarjinal, mereka-mereka ini, pahlawan-pahlawan kita itu menco-ba untuk melawan terhadap tadi, tertin-das, teraniaya, termajinal.

Ketika mulai dari SD, saya bersyukur, saya masih dapat pelajaran sejarah, SMP saya masih dapat pelajaran sejarah, SMA saya masih dapat pelajaran sejarah. Tapi saya tidak bisa membayangkan anak-anak saya, cucu-cucu saya hari ini. Saya bersyukur sekali ketika di SMP guru saya aljabar, itu orang Batak tapi wah luar biasa sekali, 5 menit atau 10 menit akhir dari beliau memberi pelajaran aljabar, itu mesti cerita tentang pahlawan terutama cerita tentang Sultan Agung. Wah itu luar biasa itu, sangat menginspirasi betul, tidak hanya saya, tapi saya yakin teman-teman satu angkatan ketika itu. Apalagi guru sejarah saya, begitu.

Waktu itu saya mencoba mempelajari Tuanku Imam Bonjol dan seterusnya, itu berbicara, maaf tanda kutip, lokal. Sehingga 350 tahun tidak terwujud apa yang menjadi cita-cita tadi, karena apa sifatnya lokal-lokal begitu. Waktu itu belum sempat, kalau kita membaca sejarah, mungkin konsepsinya tidak seperti Sriwijaya, tidak seperti Majapahit, itu siklusnya setiap 700 tahun itu. Sriwi-jaya itu 1400 tahun yang lalu, Majapahit itu 700 tahun yang lalu, jadi siklus 700 tahun itu kita-kira di abad 21. Nah apakah kira-kira nanti di abad 21 ini Indonesia akan mewarnai peradaban dunia? Karena ketika zaman Sriwijaya, wilayahnya tidak hanya Sabang-Merau-ke, tidak hanya Nusantara, sampai Singa-pura, Malaysia dan seterusnya. Apalagi ketika zamannya Majapahit, itu sampai Madagaskar.

Nah, siklusnya 700 tahun. Tujuh ratus tahun pas di abad 21 ini. Apa kira-kira di abad 21 ini kita akan mewarnai peradaban? Lha, sempat ada yang mengatakan, masak kita mewarnai peradaban, sekarang saja kita terpuruk begitu, nyaris tidak terdengar. Saya guyoni begini, biasanya kalau lakone atau heronya itu akan keluar, dajjalnya buta terong, buta cakil, buta-butanya itu keluar dulu semua. Hiruk-pikuk yang luar biasa itu. Nah sampai ya, mohon maaf, kita malah nunggu Indonesia ini apakah sudah melewati kulminasi paling bawah itu.

Nah, kembali ke pahlawan tadi, kita bicara pahlawan. Baru Budi Utomo, lalu mulai karena apa, saya yakin pendiri-pendiri bangsa, pahlawan kita ini mulai berpikir tidak mungkin kita hanya untuk Jawa saja. Kalau kita ingin menjadi negara merdeka tidak mungkin, Jawa saja, Sumatera saja, atau lebih sempit lagi. Mulai ada Sumpah Pemuda, dan mulai ada kata Indonesia. Lalu ya ini, kebetulan pinnya saya pakai, karena manusia satu ini idola saya luar biasa, Bung Karno mulai mendirikan Partai Nasional Indonesia pada tahun 1927. Nah itu sudah, bentuknya untuk menuju ke Indonesia.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XI: Aisyiyah sebagai Gerakan Perempuan Berkemajuan

 

SEPUTAR ARSIP BPUPKI

Saya membaca risalah, berita acara atau notulen rapat-rapat Dokuritsu Sonbe Coasake. Makanan apa itu? Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia itu hampir semuanya itu menjadi pahlawan nasional. Luar biasa sekali. Lalu sampai merumuskan Dasar Negara kita ini, Ketuhanan YME, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat/ Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ Perwakilan, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Kalau Uni Soviet cerai-berai, Yugosla-via cerai-berai, padahal Yugoslavia dibangun kurang dari 30 suku bangsa. Indonesia yang dibangun lebih dari 700 suku, lebih dari 1.300 bahasa, lebih dari 1.000 budaya, hari ini 73 tahun masih wutuh. Nah, saya meyakininya tadi itu karena Pancasila. Bangsa ini bersatu karena Pancasila.

Nah, itu dialognya di mana di BPUPKI, Panitia 8, Panitia 9, lalu di PPKI. Saya waktu itu membayangkan-nya, tanggal 17 Agustus 1945 jam 10 kurang 2 menit, kita proklamasi kemerdekaan. Sorenya perwakilan Indonesia Timur minta ketemu Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia hanya untuk satu tujuan, “Selama masih ada 7 suku kata (maksudnya, 7 kata) di belakang kata Ketuhanan, maka kami tidak bersama NKRI.”

Bayangkan, jam 10 pagi proklamasi, sorenya Indonesia Timur menyatakan tidak akan bersama NKRI. Lalu bagaimana suasana sidang PPKI 18 Agustus 1945, karena tadi sehari sebelumnya pagi proklamasi sorenya Indonesia Timur menyatakan tidak akan bersama. Bisa dibayangkan, 27 anggota PPKI itu, luar biasa sekali, indahnya dialog itu.

Tapi sayangnya apa? Ini tidak pernah diteruskan, disampaikan kepada calon-calon pemimpin bangsa. Tempatnya hanya di arsip negara, malah mohon maaf sempat ilang. Berkas itu sempat ilang dari kantor arsip negara. Tapi hari ini kita bersyukur sudah ketemu, ketemunya tahun 2012.

Luar biasa sekali. Sampai akhirnya 7 suku kata itu sempat aklamasi 27 anggota PPKI. Aklamasi untuk dihilangkan 7 suku kata di belakang kata Ketuhanan, kembali ke 1 Juni yang Ketuhanan YME. Nah, anak-anak kita, cucu-cucu kita, adik-adik kita perlu sekali. Saya membaca dokumen itu hampir 3 tahun. Karena kan tidak boleh dibawa keluar. Tidak boleh difotokopi, dari kantor arsip negara. Saya membaca setelah tahun 2012. Setelah ketemu itu. Jadi, saya membaca itu tahun 2014 atau tahun 2012, persisnya saya lupa. Indah sekali. Apalagi ketika itu dinarasikan dengan bahasa.

Sayangnya tidak boleh difoto. Difoto-kopi juga tak boleh. Tapi dari sana, bagai-mana Kyai Haji Hasyim Ashari, Ki Bagus Hadikusumo, yang satu Ketua NU, yang satu Ketua Muhammadiyah, luar biasa betul. Mestinya calon-calon pemimpin bangsa harus tahu tentang ini, sehingga tidak hanya, mak klethik begitu saja. Tahunya Indonesia yang sudah seperti ini.

Saya sering menyampaikan kepada mahasiswa di dalam seminar-seminar, saya ingin menunjukkan bahwa Indone-sia kita ini gedhe banget. Itu dengan apa, kalau kita naik pesawat dari Jakarta—Tokyo 7 jam, minimal harus terbang di atas 4 negara, tapi kalau kita terbang dari Sabang sampai Merauke hampir 10 jam di atas 1 negara. Apalagi kalau dibanding Singapura yang hanya se-DIY, lalu dibanding dengan Malaysia yang lebih besar Sumatera, dan seterusnya.

Itu gunanya pelajaran ilmu bumi. Hari ini tidak diajari lagi kepada anak-anak kita, calon pemimpin kita. Bagaimana mereka cinta tanah air, cinta kepada bangsa, cinta kepada negaranya, kalau dia tidak bangga kepada bangsa dan negaranya. Untuk bangga kepada bangsa dan negaranya, dia perlu tahu bahwa negerinya ini gedhe sekali. Bahwa negerinya ini tidak begitu saja datang dari langit merdekanya, bagaimana ketika merumuskan Pembukaan UUD 45 itu luar biasa diskusinya dan seterusnya.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XV: Dialog

Di situ narasinya jelas sekali. Ki Bagus mengatakan bahwa minta izin untuk shalat istikharoh. Lalu sete-lah keluar, durasinya 41 menit, ada semua itu, data itu, narasi itu. Lalu apa, beliau mengatakan, “Setelah saya istikharoh shalat 7 kali, demi utuhnya NKRI. Muhammadiyah setuju untuk dihilangkan 7 suku kata di belakang kata Ketuhanan, kembali ke Ketuhanan YME.”

Intinya, ada kesalahan yang besar pada bangsa ini justru ketika reformasi kemarin. Lalu kita tidak lagi mengenal pelajaran di sekolah tentang Pancasila, tidak ada lagi pelajaran sejarah, tidak ada lagi pelajaran ilmu bumi, dan seterusnya. Saya khawatir, bahwa Uni Soviet seperti itu saja cerai-berai, Yugoslavia yang begitu saja bubar dan seterusnya. Tidak ada kata lain, bahwa mestinya dan saya bersyukur ketika hari ini untuk yang ke sekian kali melakukan kegiatan diskusi kebangsaan dengan tema, yang menurut saya ini sangat sangat serius.

 

TENTANG HALUAN NEGARA

Siapa tahu justru mungkin dari Yog-yakarta, ide-idenya dari kegiatannya PWS ini kita ajak semua komponen bangsa ini meyakini bahwa ada kekuatan yang mendesain bagaimana caranya bangsa ini jangan sempat konsolidasi. Tadi sebelum acara ini dimulai sudah saya sampaikan, nasibnya bangsa ini tergantung visi-misinya calon presiden, visi misinya calon gubernur, visi misinya calon bupati walikota yang tanpa pandu-an setelah reformasi.

Kita tidak lagi punya haluan negara. Calon presiden, calon gubernur, calon bupati, kan ekstrim banget. Misalnya saya calon gubernur Jawa Tengah, mi-salnya, saya harus membuat visi-misi. Nanti calon walikota Solo, calon Bupati Boyolali, calon gubernur, calon walikota, bupati dan seterusnya juga harus bikin visi misi, yang tanpa panduan. Lalu saya berpikir bahwa kemungkinan bisa terjadi visi misinya calon gubernur dan walikota di provinsi yang sama, bukan hanya tidak sejalan, tapi tabrakan, bisa terjadi. Karena tidak adanya panduan tadi.

Bicara haluan itu ibaratnya kalau Indonesia kita ini bahtera, yang sedang kampul-kampul di tengah laut, tidak jelas. Mengko 25 tahun maneh arep ngapa, 50 tahun maneh arep ngapa? Karena sekali lagi, karena tidak punya haluan negara. Dan, saya tidak tahu waktu perjalanan di reformasi kemarin sampai MPR RI ini tidak lagi menjadi lembaga tertinggi negara. Padahal sila ke-4 kita Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat/Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Kalau hari ini UUD kita Pasal 1-nya saya khawatir sudah banyak yang berkata “Ngapain sih baca lagi?”

Mungkin karena marahnya. begitu. “Wis diamandemen 4 kali wis hancur-hancuran, wis karepmu.” Pasal 1 UUD apa, Kedaulatan di tangan rakyat pelaksanaannya diatur dengan Undang-Undang Dasar, edan tenan ini. Republik sing wis 73 taun ra cetha kok. Apa? Ha sesuk sing kuwasa sapa wae sakarepe arep dikapakke. Kedaulatan di tangan rakyat, pelaksanaannya diatur dengan UUD. Dadi sampai hari ini rung diatur arep dikapakake.
Lalu baca Pasal 28 ayat 1, 2, 3, oke. Di bawahnya hancur-hancuran. Mbahne liberal. Pasal 33 ayat 1, 2, 3, oke. Tapi ke bawahnya, mbahne liberal. Demokrasi, nuwun sewu, demokrasi asu gedhe menang kerahe. (SEA)

Lihat Juga

Derap Kebangsaan XXV: Media Massa di Era Revolusi Industri 4.0

Imam Anshori Saleh Karena temanya menyangkut era industri 4.0 ada baiknya kita pahami sedikit tentang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *