Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Bakul Jamu?

Bakul Jamu?

APABILA kita cermati sejarah  Jawa, pada abad sembilan dan sepuluh, di Jawa Tengah berdiri candi besar, seperti Borobudur dan Prambanan. Ini menunjukkan  situasi sarjana dan pakar-pakar di waktu itu banyak dan benar-benar berkualitas.

Mendirikan candi yang maha hebat itu para pakar dan ilmuwan, waktu itu harus mampu mengasah otak, olah grahita. Berupaya keras mencari ilmu. Tekadnya pun golong gilig. Pandai menghitung, pengaruh angin, dan pengaruh cuaca dan alam sekitar, pandai soal arsitektur dan lain sebagainya. Bahkan pula tak lepas dari perhitungan astrologi dan astronomi. Begitulah katanya. Otak terbiasa dilatih, digunakan untuk berpikir yang sistematik dan terstruktur.

Lucunya sekarang matematika dan fisika malah ditakuti murid dan siswa Indonesia. Padahal, fisika dan kimia adalah dasar untuk membangun teknologi dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Kita ingat kisah Prof. Abdus Salam dari Pakistan, penerima Nobel Fisika 1986, soal partikel W dan Z. Tatkala lulus Cambridge, Inggris, Salam kembali ke Pakistan. Di negerinya Salam diangkat jadi Ketua Persatuan Sepak Bola (PSSI nya Pakistan) . Tentu saja Salam tak kerasan di negaranya. Kemudian Salam kembali ke Ingris, meneruskan pendidikan lanjut yaitu master dan doktor di bidang fisika murni. Lulus doktor Salam mendapatkan tempat di universitas, kemudian menawarkan program pengembangan riset fisika. Akhirnya negara Itali yang menerima dan membiayai laboratoriumnya. Akhirnya Salam bisa meraih Nobel.

Kasihan Pakistan, mempunyai benih- wiji yang baik  tetapi tak pernah dipahami dan dimengerti. Kita sulit sekali mencari tapak sejarah olah grahita  yang seolah putus di tengah jalan. Setelah Borobudur dan  Candi Prambanan berdiri di Yogyakarta, tiba-tiba saja sejarah raja Jawa pindah ke Jawa Timur yang dimulai Mpu Sendok (927 – 947?).

Yang lebih mengagetkan lagi, Mpu Sendok tak mempunyai sarjana agung dari Jawa Tengah. Dan lagi candi di Jawa Timur kecil-kecil dan konon katanya merupakan pengetahuan Jawa asli, yaitu bentuk candinya berundak. Lain dengan candi dari India. Yang menjadi pertanyaan , apa sebab Raja Mataram terakhir lengser dan lari ke Jawa Timur. Apakah karena perang besar, melawan siapa? Atau karena bencana alam Merapi. Yang jelas orang cerdik pandainya tak pernah ada yang ikut lari ke Jawa Timur, atau mungkin dibunuh semua, lantaran tidak mau kompromi dengan raja?

Yang berkembang di Jawa Timur adalah olah rasa dengan munculnya sastra indah. Oleh karena itu pada zaman Prabu Darmawangsa, Erlangga dan seterusmya, banyak pujangga sastra. Raja Jayabaya malah terkenal dengan olah rasa nya, sampai membuat ramalan Jangka Jayabaya  yang dianggap ramalan zaman mendatang. Bisa dimaklumi bahwa di Jawa Timur tidak ditemui lagi peninggalan  olah grahita.

Setelah Majapahit runtuh dan pindah lagi ke Jawa Tengah, yang ada tinggal olah rasa. Mataram Islam yang didukung para wali, juga menghasilkan pujangga sastra. Rupanya pujangga di bidang teknologi raib setelah abad sepuluh. Dibanding Eropa, setelah kebudayaan dan teknologi Latin ambruk pada abad dua dan tiga, Eropa bangkit lagi pada abad 13, yang kemudian disebut Renaisance. Tiga ratus tahun meraih ilmu di bidang olah grahita, abad 16 Eropa baru bisa mengembangkan teknologi. Ingat Revolusi Perancis.

Kalau kita semua terutama orang Jawa tidak bisa mengejar ketinggalannya dari orang Jepang, dan Korea, kapan lagi bangsa Indonesia maju di bidang teknologi. Sampai sekarang kelihatannya tak banyak usaha mendirikan lembaga riset ilmu dasar dan teknologi yang benar. Agar supaya bisa mengejar negara maju, orang Jawa, yang persentasenya paling besar , harus mampu menyeimbangkan orang dalam ber  olah grahita dan olah rasa.

Menurut hukum Pareto, di Indonesia berlaku dua puluh persen olah grahita lan delapan puluh persen olah rasa. Kelihatan begitu njomplang. Tak seimbang.  Paling tidak harus 50%-50%, syukur apabila yang terjadi delapan puluh persen – duapuluh persen.

Coba jikalau pemerintah memberi kesempatan perguruan tinggi mendirikan program magister, maka muncullah jurusan  olah rasa seperti manajemen, sosial, politik, hukum dll. Dengan demikian banyak yang ahli pidato, adol jamu  alias para pengamat , ketimbang yang bisa berhitung, meracik dan membuat jamunya sendiri. Artinya yang jual jamu lebih banyak daripada yang membuat jamu. Apabila banyak penjual jamu, kita sepertinya terus dikibuli oleh negeri-negeri maju seperti Jepang Amerika, Eropa dan seterusnya, siapa mau?

 

AL Sugeng Wiyono adalah Cantrik di Padepokan Bangunjiwa, Kasihan Bantul

Lihat Juga

Spirit Ratu Kidul Demi Kemuliaan Manusia

Berbicara masalah Mitos Ratu Kidul kita perlu landasan. Ada beberapa landasan yang saya gunakan:  Yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *