Rabu , 26 September 2018
Beranda » Humaniora » Angkringan, Warung Nasionalis dan Ajang Silaturrahim
Pak No di warung angkringannya. (ft. Eka)

Angkringan, Warung Nasionalis dan Ajang Silaturrahim

SALAH satu ciri khas Yogya adalah warung angkringan. Dan, salah satu ciri khas angkringan selain tempat menikmati minuman dan makanan kelas rakyat, adalah sebagai tempat bertemu dan berbincang alias ngobrol.

Dan, ini adalah rekaman perbincangan atau obrolan di sebuah warung angkringan pada suatu sore bulan Agustus lalu.

Seorang lelaki setengah baya datang ke angkringan. Sebelum duduk menghadap meja angkringan yang berbentuk meja pikulan itu, ia langsung bilang, “Pak No, karena ini masih bulan Agustus, bulan yang penuh dengan semangat nasionalisme, aku kepingin menikmati panganan nasionalis. Karena di sini tersedia banyak menu panganan nasionalis itu, maka aku langsung ke sini saja.”

Sekadar untuk diketahui, Pak No yang disebut lelaki setengah baya itu, pemilik warung angkringan “Lek No” yang berlokasi di depan Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta.

“Menu nasionalis? Menu yang koyok opo sih?” Pak No langsung menyambutnya dengan disertai rasa heran.

Keheranan Pak No layak dimaklumi. Karena, baru sekali itu ia mendengar ada pengunjung angkringannya yang menyebut menu panganan nasionalis. Selama ini yang setiap hari ia dengar dari pengunjung angkringannya pertanyaan, “Ini yang namanya nasi kucing, Pak?” Atau, “Ada nasi kucing sambal teri, Pak?”

Sejauh pengalaman Pak No, sejak pertama buka warung angkringan beberapa tahun lalu hingga kini, di warung angkringannya belum pernah ada jenis makanan yang bernama nasionalis. Dari dulu menu atau jenis makanannya sudah tetap, tak pernah berganti-ganti. Ya, cuma nasi kucing, baik yang lauknya oseng-oseng tempe, maupun sambal teri. Selain itu ada tempe bacem, tahu bacem, tempe goreng, bakwan goreng, jadah, cemplon, telo goreng. ceker ayam, kepala ayam, sate brutu, sate usus ayam, sate telor puyuh, sate keong, dan lain-lainnya lagi. Dan, belum pernah ada yang menyebut makanan bernama nasionalis itu, kecuali lelaki setengah baya tersebut.

Simak juga:  Angkringan, Warung Peradaban dan Kebangsaan

“Dari dulu menu di angkringan ini, ya, cuma seperti ini. Tidak berubah. Cuma nasi kucing, sate keong, sate brutu, dan sate-sate lainnya. Minumannya ya, teh manis, wedang jahe, teh jahe, susu jahe, wedang jeruk, mau panas atau pakai es. Dan gulanya pakai gula batu. Lha, panganan nasionalis itu yang seperti apa?” tambah Pak No lagi.

“Waduh, bagaimana to, Pak No? Masak sih tidak ngerti? Selama ini yang tersedia di warung angkringan Pak No ini, ya, panganan atau makanan nasionalis. Makanannya rakyat. Rakyat kecil seperti kita ini. Jadi, bila kita menikmati makanan ini, itu artinya kita benar-benar seorang nasionalis. Nasionalis sejati,” kata lelaki setengah baya itu sambil menoleh juga kepada empat pengunjung angkringan lainnya yang duduk di dekatnya.

“Nasionalisme kita benar-benar masih tinggi. Masih utuh. Tidak tergoda dengan makanan-makanan kapitalis. Dan, di sini memang tidak ada yang namanya makanan-makanan kapitalis itu. Apalagi ini masih di bulan Agustus. Bulan kemerdekaan negara kita. Jadi kita memang layak untuk semakin mencintai makanan-makanan nasionalis ini,” ujarnya lagi.

Pengunjung angkringan lainnya tersenyum dan mengangguk-angguk mendengar kata-kata lelaki setengah baya tersebut. Sepertinya mereka semua sepakat dengan apa yang dikatakan. Sepakat dengan sebutan panganan nasionalis itu. Lelaki setengah baya itu pun tersenyum. Ia merasa senang, kata-katanya tentang panganan nasionalis itu diterima oleh pengunjung lainnya.

“Wah, lhe mikir tenanan, jebule (mikirnya sungguhan, ternyata) panganan nasionalis itu nasi kucing, tempe goreng, tahu bacem, sate keong, dan lain-lainya yang tersedia di sini. Kalau begitu, ya monggo, silakan dinikmati. Eh, mau minum apa, Pak? Teh, jahe atau apa? Oh ya, makanan kapitalis itu makanan seperti apa?” kata Pak No, sambil mengaduk-aduk teh dekokan di teko yang sudah berwarna kecoklat-coklatan teh itu.

Simak juga:  Angkringan, Warung Peradaban dan Kebangsaan

“Makanan-makanan kapitalis itu, ya, makanan-makanan yang berbau Londo itu,” seru lelaki itu lagi.

“Mencintai makanan rakyat seperti ini, memang perlu. Apalagi kantong-kantong kita ini, ya memang kantong yang nasionalis. Kantong yang cuma bisa jajan di angkringan seperti ini,” lelaki yang duduk di sebelah lelaki setengah baya itu, yang sedari tadi cuma senyum-senyum, menjadi pendengar setia,  mulai ikut menimpali.   

 

Ajang Silaturrahim

Itu adalah sebagian ragam obrolan atau perbincangan yang sering terjadi di warung-warung angkringan. Di warung angkringan, obrolan yang muncul berkisar pada beragam warna dan persoalan kehidupan. Dari persoalan seks, skandal sampai lika-liku kehidupan rumah tangga. Dari persoalan harga-harga di pasar sampai kasus korupsi yang menimpa para wakil rakyat. Dari peristiwa kriminal sampai peristiwa politik. Dari ketoprak sampai wayang kulit. Dari artis sinetron, penyanyi, anggota dewan, menteri sampai presiden. Dari pilihan kades sampai Pilpres. Dan, lain-lainnya lagi.

“Jajan di angkringan memang sungguh mengasyikkan. Dengan hanya minum segelas teh gula batu, wedang jahe atau kopi joss, serta makan sebungkus nasi kucing, kita bisa mendengarkan obrolan tentang beragam hal. Obrolan tentang politik, tentang hukum, tentang budaya, dan lain-lainnya. Asyiknya, kita bisa ikut nimbrung ngobrol, walaupun baru berjumpa atau berkenalan di warung angkringan ini,” kata seorang lelaki berusia sekitar 50 tahunan kepada Pak No, setelah lelaki yang menyebut makanan nasionalis itu meninggalkan angkringan.

“Ya, begitulah, Pak. Angkringan ini memang menjadi semacam ajang silaturahim antara seorang pengunjung dengan pengunjung-pengunjung yang lain. Banyak pengunjung yang kenal di sini, kemudian menjadi akrab, dan janjian untuk datang bersama ke angkringan. Sebagai penjual, ya, saya hanya jadi pendengar setia saja. Kalau memang ada yang ditanyakan atau diobrolkan kepada saya, ya, saya baru ikut bicara. Kalau tidak, ya, saya cuma senyum-senyum saja mendengar obrolan para pengunjung. Tapi yang pasti, saya senang sekali. Karena dari obrolan para pengunjung itu, saya mendapat informasi dan pengetahuan-pengetahuan yang sebelumnya tidak saya ketahui,” ujar Pak No, pemilik angkringan, yang nama lengkapnya Sumarno, berusia sekitar 50 tahunan, asal Cawas, Klaten.

Simak juga:  Angkringan, Warung Peradaban dan Kebangsaan

“Betul itu, Pak. Saya baru lima kali ke angkringan ini, sudah berkenalan dengan belasan orang. Dan beberapa orang malah akrab, karena selalu jumpa di sini. Wah, kalau nanti sudah di Jakarta lagi, saya bisa benar-benar kangen dengan angkringan,” kata lelaki itu lagi, yang ternyata akan kembali ke Jakarta, setelah sekitar dua minggu berada di Yogya, berkunjung ke rumah saudaranya.

Apa yang dikatakan lelaki asal Jakarta itu dengan Pak No memang bukan sesuatu yang berlebihan. Memang demikian adanya. Warung angkringan, bukan sekadar tempat untuk minum dan makan, tapi juga telah berfungsi sebagai ajang silaturrahim, ajang menjalin persahabatan, dan ajang mempererat rasa kebersamaan antar-sesama.

Dan, yang terpenting dari semuanya itu, warung angkringan juga menjadi ajang untuk mempererat, memperkuat atau memperkokoh rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Karena keakraban yang terbangun di angkringan adalah keangkraban lintas profesi, lintas status sosial, lintas partai, lintas asal daerah, lintas agama dan golongan.

Kalau tak percaya, silakan mencoba. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVI: Ekonomi Bang Jo

SELIRIA EPILOGUS BANG JO, abang ijo, merah hijau, bagi orang Yogya bentuk akrab untuk menyebut …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.