Minggu , 21 Oktober 2018
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Amustikarana

Amustikarana

MUNGKIN kita tak begitu menghiraukan ketika rumah-rumah di jaman dahulu di pagar nya terdapat hiasan bunga Teratai yang merupakan simbol dari bersatunya telapak tangan kanan dan kiri ,sebagai sebuah tengara manusia Jawa yang senantiasa mengucap syukur atas berkah rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Itulah makna dalam kamus besar Purwadarminta disebut sebagai Amustikarana.

Namun di sebalik itu ada baiknya kita bisa berkaca lebih dalam untuk mengkaji kembali apa yang terkandung di dalamnya.

Kalau melihat tanda itu, sebenarnya manusia Jawa, khususnya dan Indonesia umumnya diajak untuk mengedepankan puji syukur atas anugerah Ilahi yang senantiasa terpancar dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini merupakan sinar dari falsafah Negara, yakni  Pancasila yang mengutamakan Ketuhanan Yang Maha Esa.  Komunikasi dengan penguasa Jagat raya ini menjadi pedoman hidup bangsa untuk bisa mengejawantahkan ucapan syukur ini dalam komunikasi dengan sesama yang diwujudkan dalam kemanusiaan yang adil dan beradab. Semua ini diorientasikan demi terwujudnya persatuan neger ini .

Dalam kaitan ini yang pertama-tama dan utama perlu dicatat adalah adanya semacam   keharusan bagi warga Negara Indonesia  untuk lebih menomorsatukan kewajiban daripada hak sebagai warga masyarakat dan warga Negara Indonesia. Oleh karena itulah bisa dipahami kalau Presiden Amerika Serikat John F Kennedy pernah berujar, jangan bertanya apa yang kau dapatkan dari Negara tetapi apa yang seharusnya kau sumbangkan bagi negaramu.

Merebaknya kekacauan yang mengarah ke pada krisis moral dan etika di negeri ini bukan tidak mungkin karena adanya sikap masyarakat kita yang sudah berubah. Dengan adanya cekokan dari mancanegara, kemudian yang terjadi hak lebih dikedepankan daripada kewajiban. Oleh karenanya pejabat-pejabat pun dari pejabat tinggi sampai pejabat rendahan setingkat Rukun Tetangga dan Rukun Warga mendahulukan hak-haknya daripada kewajibannya.

Simak juga:  Bakul Jamu?

Anehnya lagi tidak ketinggalan warga masyarakat sekarang ini berkencencerungan untuk lebih mengutamakan hak daripada kewajibannya.  Semua lapisan masyarakat, lembaga tinggi, baik yang tidak tinggi sampai yang rendah mengedepankan hak daripada kewajibannya. Oleh karenanya kewajiban menjadi terlupakan. Semua menuntut hak. Akibatnya bisa diperkirakan bahwa mereka yang berkuasalah yang bakal mendapatkan semua haknya dengan mudah karena kekuasaannya, bahkan juga yang bukan haknya. Sementara yang kecil haknya bakal terlindas karena tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Dalam menghadapi semua ini masyarakat Indonesia sekarang ini seharusnya sadar akan pernya ada perubahan sikap , malahan kalau perlu adanya revolusi sikap.

Orang Jawa mengatakan ngrubah sikap bangun patrap– merubah sikap dan membangun tindakan. Lalu tindakan seperti apa yang mesti dilakukan. ?  Paling tidak sebuah arah tindakan positip yang dicontohkan oleh penguasa jagad raya ini seperti memberikan matahari kepada siapapun, memberikan hujan kepada siapapun, memberikan malam kepada siapapun, memberikan siang kepada siapapun. Tidak ada pembedaan kepada yang baik dan yang jahat. Kalau kita memberikan kebaikan kepada yang baik kepada kita kita bakalan mendapatkan ganjaran di dunia ini dan itulah upahnya. Tetapi kalau berbuat baik kepada orang yang jahat kepada kita, ganjarannya darimana kalau tidak dari Sang Penguasa Jagad. Dengan kata lain manusia perlu bersikap arif untuk tidak membedakan mana kawan mana lawan dalam berkarya. Karena semuanya pada akhirnya pernilaian akan ditentukan oleh masyarakat sendiri dan bukannya pelaku . Itulah dasar dari pluralitas bangsa ini yang senantiasa dijunjung tinggi.

Komunikasi intensif dengan Sang Pencipta bagi orang Jawa khususnya dan orang Indonesia umumnya tertuang dalam dasar negara Pancasila, kiranya menjadi landasan hidup bangsa. Kalau ini dilaksanakan secara efektif di dalam kehidupan bukan tidak mustahil tindakan kekerasan yang sekarang mulai merebak bisa dikikis sedikit demi sedikit. Hal ini terjadi lantaran manusia semakin mempunyai tepa slira atau tenggang rasa yang tinggi dan mempunyai semangat hidup yang menghargai sesamanya dengan lebih baik. Bahkan tidak saja penghargaan kepada sesama, tetapi juga kepada alam akan lebih baik lagi. Manusia tidak bakalan semena-mena terhadap alam, karena penghayatannya kepada semangat yang senantiasa mengedepankan keutamaan di dalam kehidupan yang diejawantahkan di dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Masyarakat tidak saja mengedepankan haknya sebagai warga negara, tetapi lebih-lebih menonjolkan kewajibannya untuk membuat dunia ini semakin indah dan semakin bermartabat.  Sikap yang perlu dibina adalah sikap pasrah, sumarah dan semeleh serta sumringah.

Kalau setiap warga negara , entah itu pejabat entah itu elit politis entah itu rakyat biasa senantiasa mengedepankan nawa itu untuk senantiasa mendahulukan kewajiban daripada haknya, maka bukan tidak mungkin segala kesulitan yang dihadapi bersama, seperti krisis ekonomi, dan krisis-krisis yang lain bakal mudah untuk diatasi.

Simak juga:  Iga Bakar dan Iga Rica-Rica Menu Andalan Hotel Forriz

Tetapi kalau yang dinomorsatukan haknya sebagai warga negara, haknya sebagai partai haknya sebagai politisi, atau pejabat atau yang lain, maka akibatnya bakal terjadi benturan kepentingan yang berakhir pada  munculnya konflik dan kekerasan, karena tidak bakal ada jalan yang bisa ditempuh kalau semua bersikeras  mengedepankan hak-haknya. Memang patut dicatat bahwa hak azasi manusia hidup tidak boleh dilanggar, tetapi sering hak azasi ini disalah artikan dengan hak dan kewajiban sebagai warga masyarakat yang menjunjung tinggi norma-norma kehidupan bermasyarakat dan etika berbangsa dan bernegara yang menjunjung tinggi rasa berkeTuhanan, berkesatuan, berperikemanusiaan, berkerakyatan dan berkeadilan sosial.

Oleh karenanya revolusi sikap perlu dibina semenjak dini untuk tidak mementingkan  diri sendiri atau kelompoknya, tetapi terlebih lagi mengunggulkan kewajiban sebagai siswa, sebagai guru, sebagai mahasiswa dan sebagai pelayan masyarakat, entah itu di lingkungan pegawai negeri sipil atau di profesi yang lain.  Paling tidak bisa mengosongkan diri demi kepentingan bersama. Nah dengan begitu sebenarnya tidak perlu adanya konflik-konflik yang berakhir pada kekerasan yang marak seperti sekarang ini.

Hidup ini indah seharusnyalah manusia mampu membuatnya semakin indah, karena dunia ini diciptakanNYa dalam keadaan baik adanya. Manusia tidaklah boleh merusaknya. Kalau merusak berarti hubungan manusia dengan penciptaNya putus dan mengakibatkan kebinasaan yang berujung pada maut. Namun kalau manusia menyadari tindak dan sikapnya harus senantiasa dilandasi pada komunikasi dengan penciptaNya dan mewujudkan komunikasi dengan sesamanya dengan baik,  maka bukan tidak mungkin keindahan surga bisa dimanifestasikan di dunia ini.  Itulah kiranya wujud syukur kita sebagai bangsa yang senantiasa menelangkupkan tangan di dada sebagai sujud syukur dan bukannya haus akan tepuk tangan dan pujian. Wassalam………….

Simak juga:  Astutijati

 

Ki Juru Bangunjiwa, Pengamat sekaligus pelaku budaya tinggal di Bangunjiwa Bantul

Lihat Juga

Jiwa Jawi Menjawab Kerinduan Barat

PASCA revolusi industri yang terjadi di Barat, masyarakatnya kehilangan pola pikir spiritual. Umumnya mereka berlomba …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.