Rabu , 21 November 2018
Beranda » Peristiwa » Diskusi Kebangsaan XVI: Amanat Pancasila, Keadilan Tidak Bisa Ditunda
Drs. HM Idham Samawi (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan XVI: Amanat Pancasila, Keadilan Tidak Bisa Ditunda

DRS. HM IDHAM SAMAWI

Orang yang mau berbicara urusan kebangsaan, sekarang ini sudah se-makin langka. Apalagi sampai kini sudah ke enam belas kali saya sangat mengapresiasi.

Ketika kita berbicara apapun di NKRI, apakah politik, budaya, ekonomi dan seterusnya, tidak boleh lepas dari alenia ke-4 Pembukaan UUD 1945. Apa itu? Intinya di alenia ke-4 itu adalah bahwa kita merdeka agar dapat membentuk pemerintahan negara yang melindungi segenap bangsa Indonesia serta tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, keadilan sosial.

Jadi cita-cita kita merdeka itu empat perkara ini. Dengan demikian tugas pokok fungsi Presiden RI juga tidak akan lepas dari empat perkara ini. Nah spesifik kita bicara tentang pembangunan ekonomi hijau. Tapi tidak boleh lepas dari konteks ini. Nah, untuk mencapai empat cita-cita ini, di mana saja akan saya sampaikan, berdasarkan Ketuhanan YME, Kema-nusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Jadi apapun juga. Ketika kita berbicara berbangsa bernegara di NKRI maka tidak lepas dari cita-cita kemerdekaan yang empat tadi berdasarkan yang lima tadi. Nah ketika berbicara green economy, nanti pada saatnya saya berharap Bapak-Bapak yang akanngendika, tapi tidak boleh lepas dari urusan ini.

Ada ideologi besar sekali di dunia ini, yang satu namanya Declaration of Independent, yang dibanding kita punya, jauh lengkap yang kita punya, karena yang satu ini tidak mengenal keadilan sosial, sehingga apa, demo-krasinya pasti seperti yang selalu saya ulang-ulang juga, demokrasinya pasti berdasar pada demokrasi Asu gedhe menang kerahe. Karena apa, mereka tidak mengenal prinsip keadilan sosial. Baru saja Presiden Amerika sebelumnya Barack Obama lengser, mencoba untuk menerjang Declaration of Independent dengan Obama care. Tapi ternyata begitu turun, ya hilanglah beritanya. Karena apa, karena di dalam ideologi besarnya tidak ada keadilan sosial. Presiden itu hanya kebetulan presidennya terpanggil. Tapi karena di ideologinya mereka tidak mengenal keadilan sosial, setelah itu, bahwa ideologi dia tidak mengenal keadilan, sehingga apa, begitu presidennya ganti ya dihabisin lagi. Lalu kita melihat sekarang ini imigran gelap yang ma-suk ke Amerika, bayi anak-anak kecil dipisahkan dengan orang tuanya, karena apa, mereka gak ada urusan itu, apalagi presidennya yang sekarang ini, hebat sekali dia.

Ideologi di dunia yang satunya sangat besar yang basisnya manifesto komunis. Lebih lengkap kita ketika mereka tidak mengenal Ketuhanan. Dan mohon maaf, dua ideologi besar ini sekarang sudah mulai merasakan bahwa ternyata tidak cukup, tidak cocok. Suatu ketika saya ketemu ketua Partai Komunis Tiongkok, saya tanyakan, apakah anda masih ngugemi manifesto komunis? Jawabnya,”Bapak kalau saya masih pakai kacamata kuda seperti itu, pasti kami akan di-tinggalkan, di beberapa daerah kami, justru kami lebih liberal. Ekonomi pasar yang sudah gila-gilaan. Padahal Bapak tahu kan, di manifesto komunis itu musuh besar adalah liberal, tapi kami lakukan”.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XVI: Mulailah dengan Satu Pohon

Saya ingin menyampaikan, bahwa dari dua ideologi besar ini, mereka sudah mulai bergeser. Kita yang sudah punya segala-galanya sekarang ini, semua sudah mulai menyoroti, “Yang paling bener ternyata yang punya Indonesia. Karena di situ ada Ketuhanan”. Suatu ketika saya minta kepada seseorang, begini tolong dong carikan satu ayat di Al Qur’an, satu surat di Al Qur’an, yang menyatakan bahwa Islam itu mengenal voting. Tidak bakal ketemu begitu. Padahal kita punya sila keempat, tapi kita mulai meninggalkannya jauh-jauh.

Intinya saya ingin menyampaikan, bahwa ketika kita berbicara green economy, tema kita hari ini, maka tidak boleh lepas dari yang lima tadi. Saya memang tidak banyak punya kata soal pembangunan ekonomi khususnya berkaitan dengan, yang berkaitan dengan lingkup pembangunan ekonomi yang berkaitan dengan pelanggaran lingkungan dan sebagainya, tapi saya punya keyakinan, kemarin-kemarin itu pasti banyak sekali, tapi kita pastinya patut bersyukur, belakangan ini karena gerakan dari GNI Berbangsa ini mulai sudah, jadi bagaimana tidak asal, ya tadi sebetulnya melaksanakan amanah, cita-cita merdeka yang empat yang didasarkan pada lima tadi, saya punya keyakinan, pasti akan betul-betul berpihak untuk hal-hal yang benar.

Saya sering mengupamakan begini, bahwa kalau kita terbang dari Jakarta ke Tokyo, naik pesawat terbang itu butuh waktu 7 jam, dengan pesawat terbang, rutenya lewat mana saja, mesti minimal di atas 4 negara. Terutama kalau kepada mahasiswa-mahasiswa, saya sampaikan, tapi kalau kita naik pesawat terbang yang sama dari Sabang sampai Merauke, itu butuh waktu kurang lebih 10 jam, di atas berapa negara? Tadi Jakarta Tokyo, 7 jam minimal harus di atas 4 negara. Tapi Sabang Merauke 10 jam di atas berapa negara? Satu negara, gedhe banget negara kita itu. Dan negara kita yang gedhe banget itu, di dalam kandungan ibu pertiwinya, ada emas, ada gas, ada minyak, ada batubara, bahkan di atas tanahnya, hutannya luar biasa.

Tetapi karena kita lupa urusan alinea keempat tadi, kita merdeka agar membentuk pemerintahan negara yang melindungi segenap bangsa Indonesia, dan tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan ketertiban dunia bla bla bla berdasarkan yang lima tadi, hari ini yang tadi, emas, gas, minyak, hutan, batubara, terlanjur digadaikan ke orang asing.
Tapi kita patut bersyukur hari ini begitu jatuh tempo kontrak karya-nya, dinasionalisasi. Pasti ini ada kegelisahan dari mereka-mereka yang kontrak karyanya akan habis. Lha kalau sekarang asing yang me-megang kontrak karya, mana dia peduli lingkungan. Toh nanti kalau sudah habis, emasnya, gasnya, dan sebagainya, dia tidak akan ikut menikmati rusaknya, karena dia pulang ke negaranya. Kita yang akan menikmati rusaknya, begitu. Nah ini mestinya kita patut bersyukur, di pemerintahan hari ini nyaris semuanya dinasionalisasi. Blok Mahakam, Blok Mashela, Newmond, sebentar lagi Freeport, mestinya ada yang bertanya lho, Pak Idham kok Freeport kok tidak segera diputuskan? Saya guyoni begini, di belakangnya Freeport itu ada herder gedhe, begitu, jadi memang dia harus lebih hati-hati.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XVIII: Wilayah dan Bentuk Negara Ditentukan dengan Musyawarah dan Mufakat

Tadi yang saya kemukakan di depan, di belakangnya Freeport ada Asu gedhe menang kerahe. Tapi saya punya keyakinan sama perlakuannya. Saudara-saudara sekalian, mungkin sebagai pengantar saja, demikian begitu, yang saya sampaikan, tapi bahwa pemerintahan sekarang ini tidak cukup tanpa kita semua. Tanpa dukungan kita semua. Tadi saya ajak saudara-saudara membayangkan begitu, yang megang kontrak karya, hari ini akan takut, karena blok Mahakam sudah, Marshela sudah, Newmond sudah, kini nunggu gilir-an mereka, pasti akan melakukan perlawanan, karena apa, mereka akan kehilangan sumber. Oh ya lupa satu lagi, kemarin begitu dilantik sebagai Presiden, kemudian membubarkan Petra, kita tahulah siapa Petra itu. Binatang apa, jenisnya kayak apa, kita tahulah itu. Dan mereka lalu mestinya yang menikmati kemarin, ya kalau namanya berbau asing tadi, pasti ndak akanada omong kosong dia cinta tanah airnya, dia bukan tanah airnya. Tidak akan ada rasa cinta Indonesia. Bangga Indonesia dan sebagainya.

Akhirnya permohonan saya, diskusi ini terus dilakukan. Mumpung ada teman-teman dari Kementerian Kehutanan, mungkin diajak nanti BUMN yang mitranya Kementerian Kehutanan. Karena biasanya, untuk menyeponsori kegiatan ini orang pada males, sementara kalau mensponsori konser Ketty Fery sangat antusias. Termasuk mohon maaf Pak Wakil Menteri Kehutanan, bahwa BUMN kita kalau urusan menyeponsori yang waras-waras gak mau. BUMN di bawah Kementerian BUMN kan banyak itu, mitranya Kehutanan. PTP-PTP dan sebagainya itu. Dan kegiatan ini kan kecil, biayanya kecil, kan manfaatnya luar biasa. Setelah diskusi dibukukan, dibagikan, dan jangan lupa selalu menghadirkan calon-calon pemimpin, mahasiswa-mahasiswa selalu dihadirkan dalam kegiatan diskusi ini. Kalau untuk NKRI saya kira, ya Idham Samawi siap pasang badan dan untuk menghadapi siapa pun juga yang mencoba meng-ganti ideologi dasar negara kita ini, mengganti Pancasila. Dan tidak hanya saya tapi teman-teman saya di partai siap pasang badan. Jadi di sana kan gak ragu-ragu mengatakan ini lho nama saya ini, saya bertekad mengganti Pancasila, walaupun kalau risiko mengganti Pancasila tadi, NKRI hanya tinggal Jawa dan Sumatera, tidak masalah, genting. Saya di forum yang sangat mulia ini juga ingin menyampaikan seperti yang mereka sampaikan, Idham Samawi siap pasang badan, kalau perlu tabrakan dengan siapapun juga, gaprakan dengan siapapun juga, dalam rangka untuk kepada mereka yang mengganti Pancasila. (ASW)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIX: Kepemimpinan Masih Jauh dari Pancasila

DRS. HM IDHAM SAMAWI Saya kira apresiasi cukup dari Pak Kaelan kepada teman-teman wartawan sepuh, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.