Minggu , 21 Oktober 2018
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan XI: Aisyiyah sebagai Gerakan Perempuan Berkemajuan
Hj. Sri Roviana, M.A., Majelis Kesejahteraan Sosial Pimpinan Pusat Aisyiyah (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan XI: Aisyiyah sebagai Gerakan Perempuan Berkemajuan

AISYIYAH didirikan pada tahun 1917. Berarti usianya sudah satu abad, 100 tahun. Jadi Aisyiyah ini berdiri saat konsep negara Indonesia belum ada, waktu itu belum ada nama nusantara, belum ada nama Indonesia, dan masa penjajahan Belanda. Di mana situasi masyarakat khususnya perempuan, kental dengan keterbelakangan, kemiskinan, tidak terdidik, awam dalam pemahaman agama, dan sekali lagi zaman penjajahan kolonial. Kemudian kondisi perempuan pada saat itu sangat memprihatinkan karena pandangan agama dan budaya yang membelenggu, sehingga terjadi pelemahan, diskriminasi, struktural dan kultural. Tahun 1917 situasinya masih seperti itu. Dan di tahun 2017 sekalipun masih banyak perempuan yang tidak diberi kesempatan untuk menduduki posisi-posisi tertentu, dengan kualifikasi tertentu pun ternyata tidak siap. Jadi perjuangan itu memang luar biasa. Betapa tidak mudahnya mengangkat perempuan menjadi sama-sama berada di posisi pengambilan keputusan.

Pilar jalur perjuangan Aisyiyah yang pertama kali adalah pada tahun 1923, Aisyiyah memilih menggunakan jalur pendidikan, yakni memberantas kebodohan kepada kelompok ibu-ibu dan perempuan muda untuk membebaskan perempuan dari persoalan buta huruf Latin maupun Arab. Jadi persoalan yang terjadi itu, jangankan perempuan mau bergerak di organisasi, atau melakukan sesuatu, baca tulis pun tidak bisa.

Kemudian pada tahun 1926, Aisyiyah menerbitkan Suara Aisyiyah, majalah bulanan berbahasa Jawa. Kalau sekarang ada di Yogyakarta dan di Indonesia kita punya Djaka Lodang. Suara Aisyiyah dulu seperti Djaka Lodang, menggunakan bahasa Jawa. Juga ada Mekarsari. Djaka Lodang, dan Suara Aisyiyah juga terbit hingga kini. Hanya perbedaannya Suara Aisyiyah disebarkan di seluruh Indonesia maka berkonversi menjadi bahasa Indonesia.

Pada Kongres Perempuan Pertama, wakil ketua penyelenggara kongres ternyata berasal dari organisasi Aisyiyah. Jadi Aisyiyah dianggap berpengalaman melakukan kongres, karena itu dipilih menjadi wakil ketua. Di situ turut menyelenggarakan Kongres Perempuan bersama ormas perempuan yang lain dan akhirnya sepakat membentuk Kowani. Lalu pada tahun 1931, Aisyiyah mendirikan Siswa Praja Wanita, yang kemudian diubah nama menjadi Nasyiatul Aisyiyah. Nasyiatul Aisyiyah itu siapa? Adalah organisasi Aisyiyah untuk yang muda-muda, yang remaja, yang ibu-ibu muda.

Mendirikan sekolah khusus putri, jadi pijakan pertama Aisyiyah di bidang pendidikan. Kemudian tahun 1938, terlibat mengelola sekolah untuk menyiapkan tenaga di rumah sakit PKO. PKO itu Penolong Kesengsaraan Oemat. Ya, kalau sekarang namanya PKU. PKU siap berkontribusi menyumbangkan tenaga perempuan untuk menjadi administratur di PKU. Mendirikan biro konsultasi keluarga.

Kita bayangkan kalau tahun 2017 ini banyak sekali keluarga yang memiliki persoalan domestik maupun hubungan suami istri dengan anak-anak, tahun itu Aisyiyah sudah mendirikan biro konsultasi keluarga untuk membuka kebekuan feodalisme, karena persoalan waktu itu adalah Indonesia berhadapan dengan konsep penjajahan di mana perempuan berada di lapisan terbawah. Dan ketidaksetaraan posisi perempuan.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XIV: Perempuan Pelestari Pancasila

 

Fokus Empat Bidang

Nah, sekarang sudah satu abad Aisyiyah bekerja mengabdi untuk bangsa ini, dan kebetulan sudah ada di semua provinsi. Aisyiyah memiliki 33 pimpinan wilayah, 370 pimpinan daerah setingkat dengan kabupaten, kemudian 2.332 pimpinan cabang atau setingkat dengan kecamatan dan 6.924 pimpinan ranting atau setingkat dengan desa atau kelurahan.

Selanjutnya, upaya untuk menghidupkan organisasi perempuan, keagamaan, khususnya agama Islam, ini memiliki pijakan yang nyata. Perempuan-perempuan yang tergabung di dalam Aisyiyah selama 100 tahun ini fokus pada 4 bidang. Pertama, kesehatan. Aisyiyah memiliki 280 rumah sakit, ini bukan rumah sakit Muhammadiyah. Muhammadiyah dan Aisyiyah itu agak berbeda. Sama-sama satu payung, tetapi kalau Aisyiyah itu dikelola oleh lebih banyak perempuan. Jadi 280 rumah sakit itu rumah bersalin, balai kesehatan ibu dan anak, balai pengobatan dan posyandu.

Kemudian, bidang ekonomi. Di bidang ekonomi memiliki 503 bentuk amal usaha yang meliputi koperasi simpan-pinjam, BMT, toko, banyak usaha ekonomi keluarga, kursus ketrampilan, arisan, home industry. Dan, ini untuk melayani ibu-ibu yang berada di akar rumput.

Selanjutnya di bidang pemberdayaan masyarakat, memiliki 3.785 kelompok pengajian, Qoriyah Toyyibah. Qoriyah Toyyibah itu semacam sebuah desa yang di sana diajarkan atau diusahakan menjadi Islamic Sosiciety. Islam sociciety berbeda dengan Islamic State. Islamic Sosiciety adalah masyarakat yang menjalankan kehidupan sesuai dengan nilai-nilai keislaman, tetapi bukan Islamic State. Aisyiyah tidak punya cita-cita mendirikan Islamic State, apalagi Community Islamic State, tidak ada. Jadi yang didirikan Aisyiyah adalah Qorriyah Toyyibah itu adalah Islamic Sosiciety.

Kemudian bidang pendidikan. Di bidang pendidikan memiliki 4.650 kelompok bermain TK, SD, dan SMP hingga perguruan tinggi. Aisyiyah adalah satu-satunya organisasi perempuan yang memiliki universitas. Jadi universitas pertama yang didirikan oleh organisasi perempuan di Indonesia adalah Universitas Aisyiyah yang kebetulan ada di Yogyakarta.

Perempuan di Aisyiyah diajarkan untuk memiliki kemandirian. Tapi kemandirian tidak sama dengan kesendirian. Beda sekali kemandirian dengan kesendirian. Kalau tadi dikatakan kemandirian itu artinya perempuan bisa melakukan banyak hal, tetapi tidak berarti berada pada situasi kesendirian. Aisyiyah butuh laki-laki. Yang laki-laki di bawah Muhammadiyah ada Bapak Haidar Nasir, ini mengurusi sumber daya manusia yang laki-laki, sementara Ibu Nurjanah Johantini M.A., M.Hum yang mengurusi Muhammadiyah yang perempuan, yakni Aisyiyah.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XV: Melawan Kebhinnekaan Sama Dengan Melawan Tuhan

Yang khas dari Aisyiyah adalah kalau bapaknya Muhammadiyah biasanya ibunya juga Muhammadiyah, maksudnya Aisyiyah. Kebetulan periode kali ini agak spesial. Kenapa spesial? Karena kebetulan Aisyiyah lebih dulu memilih Ibu Nurjanah Johantini sebagai pimpinan. Dan baru satu tahun kemudian dipilih Bapak Haidar Nasir sebagai ketua Muhammadiyah. Jadi bukan perempuan ikut laki-laki, tapi di sini adalah Bu Nurjanah terpilih dulu, kemudian Bapak Haidar Nasir terpilih kemudian menjadi ketua Muhammadiyah. Tapi ada satu contoh yang juga cukup menarik, bahwa Kabupaten Bantul, itu pernah memiliki Pak Idham dan Bu Idham. Dua-duanya sama-sama mengabdi di masyarakat. Ini sesuai dengan visi Aisyiyah yang juga memberikan dorongan kepada laki-laki dan perempuan untuk sama-sama mengabdi di masyarakat.

Aisyiyah memegang satu pesan dari KH Ahmad Dahlan yang mengatakan bahwa janganlah urusan dapur menjadi penghalang menjalankan tugasmu untuk menghadapi masalah umat. Jadi perempuan diminta untuk menjadikan rumah tangga itu bukan sebagai penghalang, tugas mendidik anak itu bersama-sama. Tugas membesarkan dan mengelola rumah tangga, membesarkan anak dan mengelola rumah tangga itu tidak boleh dijadikan penghalang dalam kita mengabdi di masyarakat.

Mengambil dari Qur’an surat An-Nahl ayat 97 yang intinya adalah ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan akan mendapatkan pahala yang sama serta melakukan kebajikan harus disertai dengan iman.

Nah, spirit Aisyiyah pertama, Aisyiyah memilih sebagai umat tengahan. Disebut umat tengahan apa? Tidak berada di titik radikal kiri dan titik radikal kanan. Aisyiyah memilih di tengah-tengah. Kalau kemarin Indonesia pada bulan Desember sangat ribut dengan kasus DKI Jakarta, maka Aisyiyah berada di tengah-tengah.

Kemudian yang kedua, adalah syahadah alamnash. Pelaku sejarah, sebagai umat yang terus bekerja, kita tidak boleh menjadi penonton tetapi ikut aktif di dalam kehidupan berbangsa. Dan yang terakhir adalah Khoirul Ummah, bagaimana Muhammadiyah memberikan sumbangan beserta Aisyiyah menjadikan Indonesia ini, yang khususnya sebagian besar beragama Islam agar menjadi umat yang terbaik. Umat yang terbaik bukan berarti menganggap yang tidak beragama Islam tidak baik, tetapi sama-sama menjadi yang terbaik. Kalau anda orang Katholik, maka jadilah Katholik yang baik. Kalau anda orang Budha, Hindu, jadilah umat Budha, Hindu yang terbaik.

 

Visi Kebangsaan

Visi Aisyiyah tentang kebangsaan dan masyarakat adalah memegang pada tiga prinsip. Satu, Islam berkemajuan bukan Islam yang berkemunduran. Jadi melihat visi ke depan, khususnya untuk persatuan Indonesia. Kedua, gerakan pencerahan serta perempuan berkemajuan. Sekali lagi bukan perempuan berkemunduran. Ketiga, agenda strategisnya adalah satu pengembangan gerakan keilmuan. Jadi orang mengabdi kepada negara harus berdasarkan landasan ilmu dan juga iman. Kemudian penguatan keluarga sakinah.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XIV: Perempuan Pelestari Pancasila

Jadi basis dari pembangunan harus dimulai dari keluarga. Lalu reaktualisasi usaha di akar rumput, kita harus memperhatikan yang ada di bawah-bawah, tidak boleh kita tinggalkan. Kemudian peran kemanusiaan dan peran kebangsaan ini menjadi inti dari pengabdian kaum perempuan Indonesia.

Ini rekomendasi dari Aisyiyah pada isu kemasyarakatan dan kebangsaan. Satu, penguatan karakter generasi muda. Kenapa begitu? Karena generasi muda saat ini sangat gampang percaya dengan berita-berita yang berada di hape, di internet. Pada sebagian besar menurut penelitian Ma’arif Institute hampir separuh dari berita-berita di internet itu adalah berita bohong. Itu yang harus dididik.

Kemudian kedua, menurunkan angka kekerasan pada perempuan dan anak. Kemudian mendorong kebijakan pembangunan ekonomi kerakyatan. Seperti hidangan yang disediakan oleh pemerintah sebaiknya menggunakan beras. Dan ini ada satu temuan lagi, yang akan saya dorong kepada kita semua, jangan melupakan makanan khas asli Indonesia yang disebut dengan sukun. Sukun ini sekarang ini bibitnya sudah diambil, dikembangkan di Amerika, karena mereka melihat ini anugerah alam Indonesia. Yang di sini, sukun dipandang sebelah mata, tetapi di Amerika, disebut sebagai brad fruit, buah roti. Jadi orang makan sukun itu adalah makan buah, tetapi rasa dan tingkat kandungan gizinya seperti memakan roti. Sementara kalau kita mengatakan sukun gorengan pinggir jalan, padahal di Amerika nanti 20 tahun lagi dia akan memproduksi makanan seperti gandum, tetapi dari sukun. Bibitnya diambil dari mana, dari Indonesia. Kita harus budidayakan sukun ini menjadi makanan khas Indonesia.

Kemudian penyelesaian persoalan bidang politik, peningkatan pelayanan akses kesehatan, persoalan bidang politik. Kalau kita bicara politik, itu lebih banyak titik tengkarnya. Tetapi saya yakin, jika di Indonesia ini masih ada Muhammadiyah, masih ada Aisyiyah, masih ada NU, masih ada Fatayat, itu gerakan radikal tidak akan pernah bisa hidup.

Dalam sejarahnya Indonesia tidak akan pernah memilih kelompok-kelompok keagamaan yang radikal. Tidak pernah Indonesia itu memilih yang seperti itu karena Indonesia sebenarnya lebih suka yang di tengah-tengah. Jadi, kalau ada Hizbut Tahrir, ada Majelis Mujahidin, ada organisasi-organisasi yang galak-galak itu, itu tidak akan diterima. Walaupun orang itu diam, tetapi sebenarnya di dalam hatinya menolak. Termasuk di Aisyiyah dan Muhammadiyah.

Dan yang terakhir adalah mendorong hak perlindungan hukum serta masalah kurangnya perlindungan pada disabilitas. (SEA)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIX: Kepemimpinan Berdasar Pancasila

Prof. Dr. Kaelan, MS Topik yang kita letakkan sebagai substansi diskusi saat ini memang berada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.