Jumat , 14 Desember 2018
Beranda » Humaniora » Diskusi Kebangsaan XV: Ageming Aji
(ft. archiveofourown.org)

Diskusi Kebangsaan XV: Ageming Aji

SELIRIA EPILOGUS

ADAKAH cita-cita bernegara bermuatan ekspresi kegembiraan para pemenang dan penginjakan kepada yang kalah? Pertanyaan yang sama, adakah cita-cita berbangsa bermuatan ekspresi kegembiraan orang segolongan dan menyisihkan yang tidak segolongan? Sayangnya, bernegara, dan berbangsa sering dianggap bukan cita-cita melainkan realitas yang sudah terlanjur hadir, tiba-tiba ada. Taken for granted, seakan jatuh dari langit. Bernegara dan ber-bangsa seakan langkah pemilahan bukan penyatuan, penyingkiran bukan perangkulan. Wajar apabila ada kritik, bahwa bernegara dan berbangsa terselip nafsu kepongahan kultural, hasrat mencapai keunggulan dari yang lain. Manusia dalam bangsa-bangsa, acap kali tidak terlalu kerasan terus-menerus hidup dalam kesetaraan.

Demikianpun dalam cita-cita beragama, sering dianggap bukan cita-cita karena tiap dari diri ini sudah beragama. Cita-cita sudah tercapai. Padahal, beragama saja tidak cukup karena harus pula membangun ukhuwah insaniyah, dalam ruang semesta bernegara dan berbangsa. Bersamaan dengan itu, ukhuwah insaniyah itu dibangun tidak sebatas dalam ruang-ruang tunggal senegara, sebangsa, dan seagama. Tidak senegara, tidak sebangsa, dan tidak seagama direkatkan oleh ukhuwah dalam format keumatan, kemakhlukan, yang berharkat peri kemanusiaan yang adil dan beradab. Hakikat adanya keadilan dan keadaban itu justeru disebabkan oleh perbedaan, oleh keragaman, bukan karena keseragaman penuh riak-riak peniadaan atas keberadaan liyan (the other).

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XVI: Ekonomi, Lingkungan dan Sumber Daya Alam

Peniadaan liyan, dalam arti sesungguhnya, bisa berupa pembinasaan. Bahkan, meniadakan liyan dengan cara meniadakan diri sendiri. Mempertontonkan keberanian destruktif, bunuh diri secara atraktif di ruang terbuka. Alih-alih menjalarkan perasaan takut kepada publik, justeru mempertontonkan besar rasa takutnya atas realitas bahwa hidup itu harus bersama yang lain, yang berbeda-beda, yang tidak senegara, tidak sebangsa, dan tidak seagama. Bahkan, seandainya pun senegara, sebangsa, seagama, mereka (yang destruktif itu) sejatinya selalu dihinggapi rasa takut karena realitas sosial memperlihatkan adanya kondisi tidak sepaham, tidak sependapat, dan tidak seperilaku. Mencapai mufakat melalui kompromi (musyawarah) bukan jalan yang mereka pilih karena mata hatinya tidak mengenal perbedaan sebagai realitas yang harus dikelola. Doktrin mereka: pembasmian perbedaan, pembinasaan keragaman. Sayangnya pula, mere-ka mengatasnamakan agama padahal mereka pun tahu bahwa tidak ada agama yang mengajarkan penghancuran, pembinasaan, dan pembunuhan. Bahkan, membunuh diri sendiri sangat berlawanan dengan ajaran agama apapun.

Mata batin yang jernih pasti bisa melihat, berabad-abad agama-agama telah melintas dan menembus ruang-ruang negara dan bangsa. Agama-agama ada dalam semua bangsa dan negara. Nyaris tak ada yang sepenuhnya seagama senegara, seagama sebangsa, karena hampir setiap negara, setiap bangsa, harus memberi ruang bagi agama-agama. Sebaliknya, agama-agama juga terbuka dengan membuka ruang luang kepada semua negara, semua bangsa. Negara, bangsa, dan agama-agama adalah tiang sangga ukhuwah umat manusia dalam keluhuran budi dan kemuliaan peradaban.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan V : Mewujudkan Sistem Pendidikan yang Berkarakter Pancasila

Ageming Aji. Orang Jawa merasai kehadiran cita-cita bernegara, berbangsa, dan beragama sebagai suatu agem, sesuatu yang dirasuk, diyakini hingga ke dasar hati sehingga membangun ugem atau pakem paugeran (pedoman) hidup luhur. Karena itu, negara, bangsa, dan agama dirasai pula sebagai ageman, pakaian (spiritual-rohaniah) yang muncul dari dalam diri, bukan pakaian (fisikal-jasmaniah) yang dikenakan dari luar. Ageman ibarat ajian (baca: keberhargaan) dalam diri yang operasional. Bernegara, berbangsa, dan beragama, adalah ageming aji, rasukan jati, alias sesuatu yang berharga dan dikenakan secara utuh-integral, nyawiji-manunggal dalam tiap-tiap diri yang beragam-ragam. Bhinneka Tunggal Ika. Merdeka!!! ***

PURWADMADI ADMADIPURWA

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XX: Nom

SELIRIA EPILOGUS GUGUR dalam usia belasan tahun, tapi dia sudah cukup dewasa untuk menjadi suami …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *