Beranda » Humaniora » Abad Samudera dalam Angan-angan
Peta Indonesia (ft. wikipedia)

Abad Samudera dalam Angan-angan

YOGYAKARTA memasuki abad samudera, meski hanya mempunyai secuil Samudera Indonesia yang sangat Luas. Konon di masa silam samudera ini menjadi lalu lintas ramai jalan sutera yang diawali dari timur hingga Eropa Barat.

Berbicara tentang samudera, orang Yogyakarta khususnya dan Jawa pada umumnya kurang begitu akrab. Jawa pada umumnya lebih terbiasa dengan kata laut. Dan kata itu sesungguhnya sudah diluncurkan oleh para pujangga ketika memuliakan Sinuwun Ing Ngeksi Ganda. Kita ingat tembang Sinom yang awalnya adalah “Nulada laku utama…….Bahkan para leluhur sudah mempunyai sebuah gagasan yang indah,”Bahwa menjadi seorang Jawa sejati harus mampu mentautkan Laut dan Langit”. Apa artinya ini?  Wong Jawa kudu bisa jumbuhake laut lan Langit. Ada makna lahiriah dan ada makna batiniah. Ternyata itu sebuah simbol atau perlambang bahwa orang Jawa harus mampu mentautkan laut itu sebuah kata prusan atau perkosaan dari Laku utama . Dan Utama adalah Urip Tata Manungsa yang mempunyai semboyan Trape trapsila dadiya pusakane pasrawungan, trape urip den bisa tepa selira.  Bahwa kalau sudah bersepakat tetnang satu aturan ya menghormati kesepakatan itu.  Oleh karenanya perlu tepa salira. Sementara Langit adalah Laladan Lungit. Artinya wilayah yang sangat misterius, antara ada dan tiada karena di situ ada pemahaman tersembunyi.

Laut makna material atau lahiriah adalah samudera yang bisa digunakan sebagai wahana, juga mempunyai berbagai kekayaan seperti mineral, ikan, tambang dan lain sebagainya. Sementara aspek batiniah adalah laku utama atau keutamaan yang mengedepankan kebaikan bagi sesama manusia. Sebagaimana disodorkan oleh Panembahan Senapati atau Sinuwun Ing Ngeksi Ganda bahwa manusia Jawa umumnya dan Yogyakarta pada khususnya mengedepankan sebuah tekad:’Niat Ingsun nyebar ganda arum, Tyas manis kang mantesi , aruming wicara kang mranani, sinembuh laku utama.”. Artinya orang Jawa umumnya dan Yogyakarta pada khususnya bertekad menebarkan keharuman nama dengan mengejawantahkan hati yang baik yang selalu dikedepankan, berbicara yang indah dan baik yang membuat orang lain terpesona karena mengajak ke hal yang baik, disertai laku keutamaan.

Tekad yang baik itu perlu ditautkan ke  Langit yaitu sebuah tempat yang mempunyai makna material dan spiritual juga. Bahwa langit adalah bersemayamnya Sang Empunya Hidup. Orang Jawa mengatakan sebagai Sang Hyang Manon. Artinya bahwa manusia harus mampu memahami aturan yang diberikan oleh Sang Empunya Hidup untuk mencontoh sifat-sifat Dia sebagai Pencipta yang selalu mengasihi ciptaanNya. Kepada siapapun diberi Matahari yang sama, Bulan yang sama, hujan yang sama. Artinya manusia harus mampu meneladan sifat dari Sang Empunya Hidup untuk senantiasa menebarkan kasihsayangnya kepada sesama hidup. Pertautan hidup orang Jawa dengan Penciptanya diformulasikan dengan filosofi Aku-Alam-Allah. Dan ini harus harmonis sebagaimana filosofis dari hidup orang Jawa sendiri yakni Urip iku urub, urub iku laras, laras iku respati, respati iku careming katentreman. Artinya hidup itu harus bersinar atau bercahaya namun harus harmoni, selaras dengan hati sehingga menawan hati dan akhirnya membuat ketenteraman hidup.

Disisi yang lain Langit mempunyai makna lahiriah yakni udara, yang berarti frekuensi yang bisa dimanfaatkan oleh manusia, juga jalur penerbangan, burung dan lain sebagainya yang patut untuk dikelola secara baik agar bermanfaat bagi manusia. Karena diciptakan dengan baik. Oleh karena itulah perlu aturan dalam menggunakannya. Baik dari khasanah spiritual dan material harus dikelola dalam arah kepentingan bersama manusia . Oleh karena itulah para pendiri bangsa ini sudah mengaturnya dalam aspek Ketuhanan Yang Maha Esa yang tercantum dalam Pancasila. Oleh karena itulah Pancasila menjadi pedoman hidup bagi orang Jawa khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Sementara untuk aspek materialnya seharusnyalah menjadi wewenang negara untuk mengaturnya dengan pedoman demi kebaikan manusia sendiri dalam berbangsa dan bermasyarakat. Demikian juga halnya dengan laut sesungguhnya kalau aspek spiritualnya sudah dilakoni tentu aspek manterialnya juga diatur dan didalami sebagai sebuah kekayaan yang perlu dipergunakan sebanyak banyaknya bagi kepentingan masyarakat.

Oleh karena itu, kalau Abad Samudera dicanangkan sungguh sebuah ajakan untuk mengawali hidup baru yang dilandasi dengan laku keutamaan, kejujuran, kebaikan selaras dengan apa yang dimaui oleh Sang Empunya Hidup. Maka sesungguhnya ini merupakan harapan bangsa Indonesia untuk mengawali hidup dengan baik, sehingga tidak ada lagi korupsi dan sejenisnya. Itu harapan kita bersama.

Nah kalau Yogyakarta mengubah tata hidup dari ‘Among Tani menjadi Dagang Layar,’ Artinya mengubah cara hidup yang diawali dengan sikap hidup yang baik dahulu, baru kemudian menata kehidupan dalam bermasyarakat dan berusaha. Manusia Yogyakarta yang tadinya menghadap keutara karena air berasal dari Gunung karena gunung berada di utara menjadi berkiblat ke selatan.

Orang orang yang bijak selalu ingat akan ungkapan,” carilah Allah dengan segala kebenarannya maka yang lain akan mengikuti. “ Kalau hidup itu dilakoni dengan mengejar akherat maka yang duniawi akan mengikuti. Orang Jawa mengatakan:” Jumeneng anteng sugeng sugih jeneng, rejeki bakal nututi”. Kalau orang mewibawakan namanya maka rejekinya akan mengikutinya. “Jeneng nggawa jenang”, begitu ucapannya.

Oleh karena itu semoga abad Samudera ini membawa perubahan yang significan bagi perubahan hidup dan kehidupan masyarakat Yogyakarta umumnya . Syukur juga bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. Ingat bahwa Jawa penuh simbol dan Makna yang tersurat, tersirat dan tersembunyi. Semoga demikian. (Sugeng Wiyono Al)

*) Sugeng Wiyono Al. Mantan Wartawan KR tinggal di Bangunjiwa Kasihan Bantul

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIV: Dunia Batin Perempuan

SELIRIA EPILOGUS INI sebuah catatan pilihan, catatan penghujung dari serangkaian perca-kapan di beranda pergaulan sosial. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *