Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Seni & Budaya » Zaman Edan

Zaman Edan

Dalam beberapa tahun terakhir ini kita terlalu sering mendengar dan membaca tentang apa yang disebut sebagai “zaman edan”. “Sekarang kita sedang berada di zaman edan. Di zaman yang serba tidak menentu. Di zaman yang sulit, zaman penuh angkara murka dan kesewenang-wenangan,” demikian antara lain rentetan kalimat tentang zaman edan yang sering muncul dan diucapkan oleh sejumlah orang, baik yang tokoh kasepuhan, atau memiliki kemampuan daya linuwih, maupun hanya yang sekadar bisa bicara saja..

Berbagai contoh peristiwa yang terjadi dan dialami bangsa ini sekarang memang cukup beralasan untuk menyebutkan bahwa kita kini sedang berada di zaman edan atau menuju ke zaman kehancuran. Bangsa ini memang seakan sedang menjalani kehidupan di zaman edan dan zaman yang terkutuk.

Cobalah lihat, betapa kehancuran peradaban itu kini sedang menimpa negeri kita. Kita saling bunuh satu sama lain, aksi-aksi teror dengan ledakan bom dan lainnya terjadi di sejumlah tempat, saling bacok, saling melukai, juga saling menganiaya. Kerusuhan dan kebringasan sepertinya sedang menjadi bagian dari kehidupan kita. Bencana pun selalu bermunculan. Dari tsunami, gempa bumi, tanah longsor, kebakaran hutan, luapan Lumpur, dan banyak lainnya lagi.

Perihal zaman edan “jauh-jauh hari” memang sudah dilontarkan oleh pujangga R Ng Ronggowarsito dalam beberapa karyanya, di antaranya dalam salah satu karya terkenalnya, “Serat Kalatidha”.

Budayawan H Karkono Partokusumo dalam buku “Zaman Edan – Pembahasan Serat Kalatidha Ranggawarsitan (Proyek Javanologi, 1983) menyebutkan istilah “zaman edan” terdapat di dalam Serat Kalatidha yang berisikan 12 bait tembang sinom.

Berbicara soal zaman edan, ada dua bait Serat Kalatidha yang menarik untuk dibaca dan direnungkan, yakni bait pertama dan bait ketujuh.

Simak juga:  Bhatara Kala, Sang Penyebab Zaman Edan

 

Bait pertamanya berbunyi :

Mangkya darajating praja, kasuryan wus sunya ruri, rurah pangrehing ukara, karana tanpa palupi, ponang paramengkawi, kawilating tyas malatkung, kongas kasudranira, tidhem tandhaning dumadi, hardoyengrat dening karoban rubeda.

 

(Terjemahannya: Sekarang martabat negara, tampak telah sunyi sepi, (sebab) rusak pelaksanaan peraturannya, karena tanpa teladan, maka sang pujangga diliputi oleh kesedihan hati, merasa tampak kehinaannya, bagaikan kehilangan tanda-tanda kehidupannya, karena ia mengetahui kesengsaraan dunia yang tergenang oleh berbagai kalangan.)

 

Bait ketujuh berbunyi:

Amenangi zaman edan, ewuh aya ing  pambudi, melu edan nora tahan, yen tan melu anglakoni, boya kaduman melik, kaliren wekasanipun, dilalah karsa Allah, begja-begjaning kang lali, luwih begja kang eling lawan waspada.

 

(Terjemahannya: Mengalami zaman edan, serba sulit dalam pemikiran, ikut menggila tak tahan, kalau tidak iku tidak mendapat bagian, akhirnya kelaparan, takdir karena Allah, untung-untungnya yang lupa, lebih beruntung yang ingat dan waspada.)

 

Apa yang ditulis Ronggowarsito dalam bait pertama dan ketujuh Serat Kalatidha itu memang sedang terjadi sekarang ini. Kini, negara dan pemerintahan memang sudah kehilangan martabatnya. Korupsi merajalela, dan sulit terberantaskan, sekalipun ada lembaga yang paling berwenang untuk memberantasnya seperti KPK. Tindak kriminalitas tak pernah reda. Para elit politik dan elit kekuasaan sering saling hujat, saling mencemooh dan saling jelek-menjelekkan. Tampaknya para elit sudah tidak lagi bisa membedakan antara kritik dengan hujatan dan cacimaki. *** (Sutirman Eka Ardhana)

 

* Sutirman Eka Ardhana, penyuka budaya Jawa dan Redaktur Warta Kebangsaan.

Lihat Juga

Foto dan Puisi: Dua Karya Seni Dalam Satu Antologi Puisi

Antologi puisi yang diberi judul ‘Kepundan Kasih’, bukan hanya berisi puisi, tetapi juga berisi karya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.