Jumat , 22 November 2019
Beranda » Seni & Budaya » Yang Bening Dalam Menyandi Sepi di Tembi
Suasana Amphytheater Tembi Rumah Budaya dalam acara Sastra Bulan Purnama edisi 68 (ft: Ons Untoro)

Yang Bening Dalam Menyandi Sepi di Tembi

Sekitar 15 penyair perempuan dari 23 penyair yang menerbitkan antologi puisi berjudul ‘Menyandi Sepi’ saling bertemu dalam acara Sastra Bulan Purnama di Tembi Rumah Budaya. Penyair dari kota berbeda tidak saling kenal sebelumnya. Di Tembi mereka dipertemukan dan seperti terlihat langsung akrab; saling berpelukan, cium pipi, seolah lama tidak saling bertemu.

Sastra Bulan Purnama edisi 68, yang diselenggarakan di ruang terbuka di Amphytheater Tembi Rumah Budaya, Jumat 12 Mei 2017 diwarnai nuansa bening. Bulan terlihat bundar di atas langit, lampu-lampu bercahaya sehingga  suasana menjadi tambah cerah, dan para perempuan penyair memperlihatkan wajah-wajah bening dan ceria.

Dalam nuansa yang serba bening, apalagi kostum para penyair perempuan meneguhkan kebeningan, biru kembang2, merah, hijau seperti hendak melengkapi warna bulan yang biru, jauh di atas sana.

Sebut saja, para penyair bening, meski tidak lagi muda, tetapi belum menuju tua, tak mau kalah dengan para penyair yang jauh lebih muda. Mereka bukan hanya semangat dalam membaca, tetapi juga semangat menulis puisi, dan hangat dalam bergaul. Mereka saling bertemu secara nyata, tidak lagi bersapa di dunia digital.

“Saya ikut merasa senang dengan antologi puisi yang diberi judul Menyandi Sepi, lebih-lebih judul puisinya mengambil salah satu dari puisi yang saya tulis,” kata Resmiyati sebelum membaca puisi.

Simak juga:  Penyair Bulaksumur di Bulan Purnama

Masing-masing membaca dua puisi, namun ada yang hanya membaca dua satu puisi, yakni Yuliani Kumudaswari. Mungkin karena dua puisi karyanya sudah dilagukan oleh dua penyanyi berbeda, yakni Doni Onfire dan Donas. Doni mengalunkan puisi Yuliani berjudul ‘Yang Telah Lama Tidur’ dan Donas menyajikan lagu puisi Yuli berjudul ‘Hasian’.

Para penyair perempuan, tampil membca puisi dengan penuh greget. Kata dalam puisi coba diekspresikan melalui gerak tangan, bahkan gerak jemari, ekspresi wajah, gerak tubuh dan intonasi suara. Tak ada satupun pembaca yang teriak keras, seolah kalau membaca puisi harus dengan teriak.

Mestinya ada 23 penyair yang akan tampil membaca puisi, yang terkumpul dalam antologi puisi ‘Menyandi Sepi’. Tapi, 7 orang di antaranya berhalangan hadir sehingga ada 16 orang yang mengisi Sastra Bulan Purnama. Tidak seperti biasnya,  yang mana satu demi satu para penyair tampil membaca puisi, untuk kali ini, telah dibuat sejenis skenario yang dipakai sebagai rujukan tampil.

Skenario dibagi dalam empat segmen, dan setiap segmen diisi maksimal 5 penampil dan segmen terakhir ada dua penampil. Masing-masing penyair tampil membaca dua puisi secara bergantian, sehingga dalam satu segmen hanya memerlukan waktu 5-10 menit, apalagi puisi yang dibacakan dipilih yang yang pendek-pendek.

Simak juga:  Cerpen Tiga Paragraf di Sastra Bulan Purnama

Para penyair yang datang dan tampil membaca puisi berasal dari kota berbeda, di antaranya dari Jakarta, Magelang, Temanggung, Klaten dan  Sidoarjo beberapa penyair lain dari kota yang berbeda misalnya Surabaya berhalangan hadir.

Antologi puisi Menyandi Sepi karya 23 penyair ini memuat 92 puisi. Masing-masing penyair menampilkan 4 puisi. Buku puisi setebal 124 halaman ini dilengkapi biodata masing-maisng penyair berikut foto pribadi penyairnya.

Judul antologi  puisi Menyandi Sepi diambil dari salah satu puisi karya Resmiyati. Karena judul puisi ini bisa merepresentasikan dari puisi-puisi para penyair lainnya. Resmiyati (Klaten). Sudah beberapakali datang di Tembi Rumah Budaya dan membaca puisi di Sastra Bulan Purnama. Kita kutipkan puisi berjudul ‘Menyandi Sepi’ :

Dan
kukunyah sepi
tanpa lagi mengeja
isyarat-isyarat  sendu
yang oleh waktu menjelma beku.

Dan
kukunyah sepi
tanpa lagi merasa
getar-getar warta
yang oleh sebab tak lagi memakna

Dan
kukunyah sepi
tanpa hirau
saat pikuknya hilang  peka

Kunyah sepiku begitu sempurna
meremuk asa
dalam  rindu dendam
pada Alaska, Rymill, dan Jacaranda

Lalu
sepiku  menyandi
melempar sauh, di keabadian sunyi.

Klaten, 28 Maret 2017

Lihat Juga

Tedy Rendra Membaca Puisi Si Burung Merak

Puisi Rendra, yang ditulis tahun yang berbeda-beda, termasuk puisi yang ditulis tahun 1950-an seringkali dibacakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x