Selasa , 22 Agustus 2017
Beranda » Sastra » Wicahyanti dan Resmiyati Tampil di Sastra Bulan Purnama

Wicahyanti dan Resmiyati Tampil di Sastra Bulan Purnama

Sastra Bulan Purnama Tembi, yang sudah memasuki edisi 66, artinya telah berlangsung lebih dari 5 tahun, selama ini tidak hanya menampilkan penyair pria, tetapi acapkali menghadirkan penyair perempuan, dan tidak hanya penyair perempuan yang datang dari Yogya, tetapi tinggal di kota-kota lain, dan mereka tampil membaca puisi, baik puisi karya sendiri maupun puisi karya penyair lain. Meski sebenarnya, penyair tidak perlu dilihat jenis kelaminnya, disebut sebagai penyair, ya penyair itu saja, tidak perlu menyertakan jenis kelaminnya. Kalaupun dalam tulisan ini disebut, sekedar untuk menandai.

Beberapa penyair, lagi-lagi menyebut perempuan, yang pernah tampil di Sastra Bulan Purnama di antaranya Nana Ernawati, Dhenok Kristianti (Jakarta), Rini Intama (Bekasi), Ardi Susanti (Tulungagung), Evi Idawati (Yogyakarta) dan sejumlah nama lainnya dari sejumlah kota di Indoenesia.

Kali ini, dua penyair, lagi-lagi disebut perempuan Wicahyanti Rejeki (Magelang) dan Resmiyati (Klaten), tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama edisi 66, Senin 13 Maret 2017 di Pendhapa Tembi Rumah Budaya. Keduanya tidak membacakan puisi karyanya sendiri, melainkan puisi karya penyair yang antologi puisinya dilanuching. Wicahyanti membaca puisi karya Darmanto Andreas, yang sering menggunakan nama Damtoz Andreas, dan Resmiyati membacakan puisi karya Suyitno Ethex.

Komunitas Sastra Bulan Purnama sekaligus mempertemukan antar penyair yang belum saling kenal, dan mungkin sudah saling bersahabat difacebook, atau sering saling merespon di media sosial. Resmiyati misalnya, selain belum kenal secara pribadi  dengan Suyitno Ethex dan, tentu belum pernah bertemu langsung. Namun keduanya saling bersahabat di media sosial.

Dengan membaca puisi karya Ethex, demikian nama yang dikenal dari Suyitno, keduanya saling bertemu dan saling kenal, dan saling tukar buku antologi puisi. Resmiyati membaca puisi karya Ethex berjudul ‘Menjadi Layang-Layang’.

“Saya tidak tahu apa artinya Ethex, maka nanti saya akan bertanya pada pak Suyitno, apa arti dari nama itu, supaya kalau murid-murid saya bertanya, saya bisa menjawabnya,” kelakar Resmiyati sebelum memulai membaca puisi.

Resmiyati sudah beberapakali datang ke Tembi Rumah Budaya. Pertamakali ke Tembi, ketika antologi puisinya dilaunching di Sastra Bulan Purnama, dan setelah itu dia kembali melihat acara Sastra Bulan Purnama, bahkan pada acara Special Performance Puisi, Musik dan Kopi, Resmiyati hadir menikmati acara tersebut.

Lain lagi dengan Wicahyanti Rejeki, dia memang sudah berulangkali tampil di Sastra ulan Purnama. Pernah pula launching antologi puisi karyanya, dan juga membaca puisi bersama dengan para penyair perempuan lainnya.

Tapi kali ini, pada Sastra Bulan Purnama edisi 66, Wicah, demikian panggilannya, membacakan puisi karya Darmanto Andreas, sahabatnya dari Magelang. Wicah membaca dua puisi, masing-masing berjudul ‘Krematorium Waktu’ dan ‘Tegak Lurus Matahari’.

Wicah begitu ekspresif dalam membaca puisi. Mimik mukanya, seringkali berubah untuk mempertunjukan ekspresnya, sepertinya dia begitu menghayati puisi-puisi yang dia bacakan. Gerakan tubuh dan tangan serta raut wajahnya, memberi tanda bahwa Wicah berusaha menyelami jiwa dari puisi yang dibacakan.

Resmiyati, dengan ekspersi yang lain, berbeda dengan apa yang dilakukan Wicahyanti, mencoba memasuki puisi karya Suyitno, gerakan tangan dan ekspresi wajahnya, memberikan pesan bahwa dia sedang mengekspresikan kata-kata dalam puisi yang dibacakan.

Wicahyanti dan Resmiyati, dari dua kota kecil yang berbeda, Magelang dan Klaten, dan keduanya belum saling kenal. Keduanya juga berprofesi sebagai guru sekaligus penyair dan dipertemukan di Sastra Bulan Purnama Tembi. Melalui puisi, bersahabatan terjalin, dan ruang sosial meneguhkan persahabatan.

Dalam puisi, memang tidak hanya bersentuhan dengan kata, melainkan lebih jauh dari itu innteraksi dengan kemanusian dan kehidupan. Seringkali orang salah paham terhadap komunitas sastra, karena berangkat dari kebencian laiknya tumbuh dalam pergaulan politik praktis masa kini. Komunitas Sastra Bulan Purnama hanyalah satu satu dari komunitas sastra yang tumbuh di kota-kota lain, dan antar individu saling bertemu dan berinterakasi.(*)

Lihat Juga

Perempuan Pantai

(3) Cerber  Miyarti bergegas ke kamarmya. Kemudian melangkah santai ke kamar mandi. Ketika sampai di depan …

1 komentar

  1. ‘Rumah Tembi’ bagiku taman yang subur bagi aneka bunga. Jujur saja, baru kenal lewat media. Beberapa kawan telah nenikmati indah dan aroma bunga. Bisakah dan bolehkah ‘botol kosong’ ikut kongko-kongko menikmati bulan purnama. Mohon maaf dan terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *