Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Seni & Budaya » Wayang Kancil, Siapa Penerus Ki Ledjar?

Wayang Kancil, Siapa Penerus Ki Ledjar?

Ki Ledjar Subroto telah meninggal dunia. Pembuat sekaligus dhalang wayang kancil dari Yogyakarta ini, meninggal dunia pada Minggu 23 September 2017 siang di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.

Penerima Anugerah Kebudayaan Kategori Pelestari 2016 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu, meninggal dunia pada usia 79 tahun. Ki Ledjar Subroto atau yang akrab dengan nama Mbah Ledjar, dikenal sebagai pelestari wayang kancil.

Wayang kancil adalah sejenis wayang kulit, yang terdiri atas binatang-binatang buruan, binatang berkaki empat, binatang melata dan merayap, serta binatang yang terbang yang sering terlibat dalam dongeng binatang kancil. Wayang yang wujudnya orang dalam wayang kancil hanya sedikit.  Total jumlah wayang kancil hanya sekitar 100 wayang.

Pencipta wayang kancil adalah Sunan Giri. Kemudian dipopulerkan orang Tionghoa bernama Bo Liem pada 1925. Perangkat pendukung pergelaran wayang kancil berupa kelir atau geber, yaitu bentangan kain putih. Di sisi kanan dan kiri kelir ada gambar hutan. Di tengah ada bundaran tanpa gambar, untuk paseban saat wayang keluar. Musik pengiringnya gamelan.

Mbah Ledjar semasa hidupnya ingin mempopulerkan kesenian wayang kancil ke masyarakat luas. Berkat keuletan dan ketekunannya dalam melestarikan wayang kancil, ia pernah memperoleh penghargaan dari Majalah GATRA pada 1995.

Kancil dalam dongeng untuk anak-anak, sering memperoleh predikat sebagai binatang yang licik, kerap mengecoh binatang lainnya, terutama binatang buas yang akan memangsanya. Tapi kancil digambarkan sebagai binatang yang cerdas. Banyak akal.

Melalui tangan dan keterampilan kreatif Mbah Ledjar, kancil tampil menjadi sosok pahlawan. Binatang cerdas yang menginspirasi siapa pun yang mengikuti kisahnya. Ledjar mampu menampilkan sosok kancil yang licik menjadi kancil yang menginspirasi melalui media pewayangan.

Kesenian wayang kancil , oleh Mbah Ledjar digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan luhur mengenai kehidupan. Mulai dari persahabatan, masalah lingkungan, perilaku manusia dan budi pekerti, serta hal-hal lainnya yang positif.

Simak juga:  Wayang Indonesia (Bedhol Negoro, 5)

Ki Ledjar Subroto memiliki nama kecil Djariman, lahir di Wonosobo (Jawa Tengah) pada 20 Mei 1938. Ayahnya, Budiman berasal dari Kampung Terban, Kota Yogyakarta. Budiman adalah penabuh gamelan, bahkan mengajar kesenian karawitan.

Ledjar kecil atau Djariman saat berusia 6 tahun pernah diajak ayahnya berkeliling mengikuti rombongan pemain ketoprak tobong (ketoprak keliling) ke mana pun menggelar pertunjukan.

Ringkas cerita, ketika Djariman berusia 17 tahun, ia diperkenalkan kepada Ki Nartosabdo oleh ayahnya pada saat menonton pergelaran wayang kulit di Magelang. Dari perkenalan dengan Ki Nartosabdo (pengendang yang kemudian dikenal sebagai maestro dhalang Indonesia) itu, tampaknya menginspirasi perjalanan hidup Djariman. Ia memang tidak diizinkan keluarganya ketika diajak Ki Nartosabdo untuk ikut ke Semarang, tetapi  jiwa seninya terus tumbuh dan berkembang bersama bertambahnya usia.

Setelah lulus sekolah rakyat (SR), Djariman atau Ledjar remaja pernah diminta menggambar tokoh-tokoh wayang purwa/wayang kulit pada kertas. Hasil gambarannya ditempel di tembok sekolah. Ia juga menggambar berbagai binatang dari buku-buku pelajaran sekolah, yang merupakan beberapa episode dongeng Si Kancil.

Dari sepenggal kisah perjalanan hidup Djariman itu, sedikit banyak ikut mengantarkannya menjadi sosok Ki Ledjar, seniman yang dikenal sebagai pembuat dan dhalang serta pelestari wayang kancil hingga akhir hayatnya.

 

Penyungging wayang

Kisah Ledjar berkenalan dengan Ki Nartosabdo di Magelang ternyata berlanjut. Pada 1954 Ledjar bekerja sebagai penyungging gebingan wayang di rumah Nartosabdo. Gebingan wayang adalah wayang kulit yang belum disungging. Keterampilan Ledjar menyungging wayang diperoleh dari pengalamannya bekerja di tempat pembuatan mebel milik Tejo di Purwodadi.

Di rumah Tejo, Ledjar disuruh untuk menyungging gebingan wayang, dan menyungging ulang wayang-wayang kulit milik Tejo yang kusam. Tejo adalah pengusaha mebel yang kebetulan memiliki satu kotak wayang kulit.

Dari pengalaman menyungging wayang kulit di rumah Tejo, membekali Ledjar saat bekerja di rumah Nartosabdo. Tidak hanya menyungging wayang, Nartosabdo juga memberi pekerjaan kepada Ledjar untuk menyungging asesoris pakaian wayang orang.

Simak juga:  Pagelaran Wayang Kulit 1 Muharram di Kwarasan

Pengalaman berharga lainnya yaitu Ledjar sering diajak Ki Nartosabdo mendalang. Ia selalu mengikuti ke mana pun Nartosabdo menggelar pertunjukan wayang kulit.

Pengalamannya bekerja di rumah Nartosabdo, dan seringnya ia diajak mengikuti aktivitas dhalang itu, bagi Ledjar menambah pengetahuannya mengenai dunia pewayangan.

Konon, nama Ledjar adalah pemberian dari Ki Nartosabdo. Ledjar dalam bahasa Jawa artinya senang. Sosok dan pribadi Ledjar sendiri memang suka humor. Suka guyon. Bercanda. Selalu membuat senang, atau bisa menciptakan suasana gembira bagi orang-orang di sekitarnya.

Sedangkan nama Hadisubroto pemberian dari mertuanya, ketika Ledjar menikah dengan Prapti, istri pertamanya. Kemudian bercerai. Ledjar Hadisubroto kemudian lebih dikenal dengan nama Ledjar Subroto.

Ledjar Subroto menikah lagi pada 1964. Istrinya bernama Sukarjiyah. Mereka kemudian menetap di Yogyakarta sejak 1970. Di Yogyakarta, beberapa pekerjaan pernah dilakoni Ledjar, selain keahliannya menggambar dan menyungging wayang, termasuk ketika bekerja di Toko Tjokrosoeharto di Jalan Panembahan. Di toko ini, ia juga menyungging wayang kulit.

 

Dimulai pada 1980

Pada 1980 ketika koleksi wayang kancil hasil karyanya lengkap, Ki Ledjar mulai aktif memopulerkan wayang kancil melalui pertunjukan kesenian ini di berbagai tempat. Cerita dalam pertunjukan wayang kancil diambil dari dongeng anak, yaitu dongeng kancil dari Jawa. Juga dari cerita Pelandoek Djinaka dari Melayu, serta cerita rakyat lainnya.

Cerita dalam pertunjukan wayang kancil dapat digabung menjadi satu kesatuan cerita yang utuh, dan disesuaikan dengan tema yang diangkat. Durasi pertunjukan antara 45 menit hingga satu jam. Tapi terkadang lebih dari itu. Durasi pertunjukan terlama sekitar tiga jam.

Kiprah Ki Ledjar terdengar hingga ke berbagai daerah dan kota. Bahkan sampai mancanegara. Ia beberapa kali diundang untuk tampil di luar negeri. Bahkan punya banyak murid dari mancanegara. Salah seorang di antaranya Sarah Bilby dari Australia.

Simak juga:  Islam, Wayang dan Indonesia

Sarah yang belajar tentang wayang kulit dan wayang kancil di Jogja ini, juga belajar mendalang. Secara khusus ia kemudian mendalami wayang kancil, dan menjadikannya sebagai bahan tesis untuk merampungkan studi S2 pada 1997.

Ki Ledjar Subroto kini telah tiada. Almarhum meninggalkan semuanya, termasuk siapa pun yang merasa pernah menjadi muridnya dalam “dunia wayang kancil”.

Siapa penerus Ki Ledjar dalam kiprahnya menjaga dan melestarikan wayang kancil?, tampaknya sulit dijawab. Saat ini sangat sedikit, bahkan mungkin hanya beberapa orang dhalang wayang kancil yang masih eksis, apalagi yang juga menekuni sebagai pembuat wayang jenis ini.

Kalau bisa disebut, ada seorang pengajar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Drs Eddy Pursubaryanto, M.Hum. yang juga dhalang wayang kancil, sahabat dekat Ki Ledjar sejak lama.

Meski kesehariannya tidak dikenal dengan panggilan Ki, Eddy Pursubaryanto warga Desa Minomartani, Kabupaten Sleman ini, sudah beberapa kali mendalang wayang kancil di mancanegara.

Kiprah pengajar Jurusan Sastra Inggris FIB UGM itu, di antaranya tampil dalam pertunjukan wayang kancil di Kota Melbourne pada 29 Juli 2011. Saat itu Eddy tampil tiga kali dalam sehari. Dua kali penampilannya dikhususkan bagi para siswa setingkat SMP dan SMA. Mereka adalah pelajar yang sedang mempelajari Bahasa Indonesia. Sedangkan satu penampilan lagi di hadapan penonton umum yang sebagian besar warga Australia.

Kemudian pada Nopember 2014 Eddy Pursubaryanto unjuk kebolehan di Universitas Pendidikan Sultan Idris (UPSI) di Tanjong Malim, Malaysia. Pergelaran wayang kancil tersebut untuk memeriahkan malam kesenian dalam rangkaian penyelenggaraan “The 1st International Music and Perforrming Arts Conference”, yang berlangsung 19-21 Nopember. Eddy juga diminta menyampaikan pemaparan tentang wayang kancil.***(Dari berbagai sumber/Masduki Attamami)

UPDATE:

Salah satu penerus Ki Ledjar Subroto adalah cucunya, Ananto Wicaksono (Nanang Kancil) yang kini tinggal di Osaka, Jepang. Di gambar, Nanang berkaos merah bergaris bersama tim Jepang-nya, seusai tampil ndalang.

Lihat Juga

Foto dan Puisi: Dua Karya Seni Dalam Satu Antologi Puisi

Antologi puisi yang diberi judul ‘Kepundan Kasih’, bukan hanya berisi puisi, tetapi juga berisi karya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.