Selasa , 29 September 2020
Beranda » Pendidikan » Seputar Jurnalisme (1) : Wartawati Newsweek Itu Bertanya Tentang Jurnalisme

Seputar Jurnalisme (1) : Wartawati Newsweek Itu Bertanya Tentang Jurnalisme

SETIAP pekerja pers, khususnya wartawan, tentu paham betul apa itu jurnalisme. Tidak hanya sebatas itu, setiap wartawan atau jurnalis juga wajib mengerti dan memahami jenis-jenis atau bentuk-bentuk jurnalisme yang ada. Seperti jurnalisme sastra, jurnalisme pembangunan, jurnalisme khas, jurnalisme dramatik, jurnalisme investigatif, jurnalisme ‘kuning’, jurnalisme ‘corong’, dan yang lainnya.

Alangkah naif dan ironisnya jika ada wartawan yang tidak mengerti apa itu jurnalisme dan jenis-jenisnya (meski tanpa menutup mata hal itu masih ada hingga hari ini). Wartawan yang tidak paham beragam jenis jurnalisme itu, sebaiknya jangan segan-segan untuk mundur saja dari pekerjaannya dan memilih profesi lainnya yang lebih pas.

Tiap koran atau media pers lainnya punya pilihan sendiri terhadap jenis-jenis jurnalisme itu. Artinya, masing-masing media pers harus memilih jenis jurnalisme mana yang akan digunakannya dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat atau dalam kaitan melaksanakan fungsi-fungsi persnya.

Majalah berita Tempo misalnya, memilih jurnalisme baru yang dipadukan dengan jurnalisme sastra. Langkah yang sama juga diambil oleh majalah-majalah sejenis yang muncul belakangan, seperti Gatra dan Gamma, juga Editor. Majalah berita Jakarta-Jakarta berbeda dengan Tempo. Majalah ini tidak menggunakan jurnalisme baru maupun jurnalisme sastra, melainkan memilih jurnalisme dramatik.

Sejumlah media pers lainnya ada yang tergoda memilih jurnalisme ‘kuning’. Sementara hampir sebagian besar media pers di Tanah Air cenderung memilih jenis jurnalisme yang sudah populer sejak era Orde Baru yakni jurnalisme pembangunan. Sebagian kecil media pers memilih jurnalisme khas.

Simak juga:  Beberapa Ajaran Kepemimpinan

Di dalam buku Eksiklopedi Pers Indonesia (Kurniawan Junedhie, 1991) disebutkan bahwa jurnalisme baru adalah jurnalisme yang mengambil teknik penulisan novel. Dengan cara pendekatan langsung, realitas kongkret, keterlibatan emosional dan bobot penggunaan atau penyerapan pemakainannya dalam situasi tertentu. Dan, jurnalisme dramatik merupakan aliran jurnalistik yang hanya mengemukakan data dan fakta tanpa menyisipkan sedikit pun opini. Disusun berdasarkan urutan peristiwa (kronologis) dan diharapkan berakhir dengan suspense.

Sedangkan jurnalisme ‘kuning’ adalah jurnalisme yang mengedepankan sensasi, gossip, desas-desus dan semacamnya. Jurnalisme ‘kuning’ juga sering disebut sebagai ‘jurnalisme got’.

Menurut Kurniawan Junaedhie (1991), jurnalisme got adalah jurnalisme yang mementingkan sensasi dengan berkedok mementingkan rakyat dan berjuang bagi hak-hak rakyat, padahal tujuannya sekadar meraih pembaca sebanyak-banyaknya.

Akan halnya jurnalisme pembangunan adalah jurnalisme yang menekankan sasarannya pada keterlibatan dalam setiap gerak pembangunan yang sedang digalakkan. Jurnalisme ini berusaha menempatkan pers benar-benar tampil sebagai agen pembaharu dalam pembangunan, sebagaimana yang diinginkan Wilbur Schramm.

Wilbur Schramm (1982) menegaskan, peranan mass media dalam pembangunan nasional adalah sebagai agen pembaharu. Menurut Schramm, letak peranannya dalam hal membantu mempercepat proses peralihan masyarakat yang tradisional menjadi masyarakat modern. Khususnya peralihan dari kebiasaan-kebiasaan yang menghambat pembangunan ke arag sikap baru yang tanggap terhadap pembaharuan demi pembaharuan.

Simak juga:  Dr. Handrawan Nadesul: Di Indonesia, Pendidikan Safety First Kurang Mendapat Perhatian

 

Pengalaman Menegangkan

Kenapa saya ingin bicara soal ragam jurnalisme ini? Pasalnya, saya punya pengalaman yang menegangkan perihal jurnalisme ini. Saya sempat ‘berkeringat’ dan tergagap ketika ada yang bertanya soal jenis jurnalisme itu.

Begini ceritanya. Di saat gencar-gencarnya gelombang tuntutan reformasi yang diwarnai maraknya aksi unjukrasa mahasiswa di berbagai kota, pada tanggal 3 April 1998, sekitar satusetengah bulan menjelang ‘lengser’nya Presiden Soeharto dari kursi kepresidenan RI, saya kedatangan tamu seorang wartawati majalah Newsweek, Dorinda Elliott. Tamu dari Newsweek inilah yang sempat membuat saya ‘berkeringat’ ketika ia bertanya tentang jenis jurnalisme apa yang menjadi pilihan koran tempat saya bekerja.

Dorinda Elliott yang kepala biro Newsweek untuk Hongkong itu datang ke tempat saya bekerja di harian sore Yogya Post. Dan, saya menemuinya dalam kapasitas sebagai salah satu unsur pimpinan di koran tersebut (formalitasnya Wakil Pemimpin Redaksi, tapi non-formalnya adalah sebagai Pemimpin Redaksi, karena Pemimpin Redaksi yang tertera di SIUPP tidak aktif).

Sebagai pekerja di koran lokal, terus terang saya bangga didatangi dan diwawancarai wartawati dari majalah berita internasional yang berpusat di New York, Amerika Serikat itu. Terlebih-lebih ketika Dorindo Elliott menjelaskan alasan kenapa ia datang untuk mewawancarai saya. *** (Sutirman Eka Ardhana/bersambung)

Lihat Juga

ARSIP PERS: Perkemahan Kaum Urakan

MAJALAH Basis edisi Djanuari 1972 XXI-3 yang merupakan edisi khusus karena merangkap edisi bulan Desember …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *