Beranda » Seni & Budaya » Tusuk Konde
Tusuk Konde (foto: net)

Tusuk Konde

Tusuk konde spiritual Bu Tien dinilai yang membawa Soeharto menjadi Presiden RI. Kini berdasarkan terawangan, tusuk konde tersebut berada di Yogyakarta, dan akan mengantarkan Sultan menjadi Presiden RI berikutnya.

Dalam terawangan Arwan Tuti Artha, penulis buku “Laku Spiritual Sultan: Langkah Raja Jawa Menuju Istana, ada tanda-tanda yang sudah dibaca dan dipercayai sebagian orang bawah tusuk konde itu berada di Keraton Yogyakarta. “Ini memang hanya sebuah terawang spiritual sehingga kita harus memahaminya secara arif. ‘Tusuk konde’ itu semula dikenakan Bu Tien Soeharto, yang kemudian menghilang ketika dia wafat, dan berlanjut lengsernya Soeharto.

Jika sekarang sudah ditemukan dan bersemayam di keraton, tentunya tanda-tanda itu sudah bisa dibaca,” kata Arwan di Yogyakarta, Sabtu (31/1). Deklarasi capres Sultan Hamengku Buwono X pada 28 Oktober 2008 dinilainya bisa ditangkap sebagai ‘sabda pandita ratu’.”Sebagai sabda yang diucapkan raja, memang tidak boleh berubah-ubah. ‘Tan kena wola-wali’, artinya jika sabda itu untuk presiden, mengapa harus berubah menjadi wakil presiden wapres,” terang Arwan.
Keputusannya mendeklarasikan diri sebagai capres, menurutnya, dilakukan setelah suami Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas itu menempuh laku spiritual.”Pernyataan itu saya tangkap sebagai ‘sabda pandita ratu’.

Sebagai sabda yang diucapkan raja, tidak boleh berubah-ubah. Kalau sabda itu untuk presiden, kenapa harus menjadi wapres,” ujarnya.Arwan juga mengatakan, rakyat Yogyakarta sampai kini masih mempercayai Sultan HB X sebagai raja, panutan dan pewaris tahta yang tidak bisa dipengaruhi oleh suara yang datang dari mana saja.

Pencalonannya memang mengundang reaksi beragam. Dalam jajak pendapat ada sejumlah reaksi, di antaranya menolak Sultan HB X sebagai presiden karena dinilai lebih baik menjadi raja atau menjaga Yogyakarta agar tetap menjadi daerah istimewa.”Reaksi lain adalah mendukung Sultan HB X menjadi presiden dengan pertimbangan dia bersih, jujur dan mampu atau setidaknya sudah memiliki pengalaman memimpin dengan tenang, kharismatik dan tak ada gejolak,” imbuhnya. [*/ana]

Sumber: Inilah.com

Lihat Juga

Meningkatkan Pendidikan Perkuat Kebudayaan

KETIKA bangsa Tionghoa ingin hidup tenang, mereka membangun tembok Cina yang sangat tinggi besar dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *