Selasa , 13 November 2018
Beranda » Peristiwa » Tunjukkan Jogja MU

Tunjukkan Jogja MU

Satu diskusi dengan tema ‘Tunjukkan Yogya mu’ diselenggarakan di ruang diskusi Dewan Perwakilan Daerah, Jl. Kusumanegara 33, dengan menghadirkan narasumber, M. Sobari, budayawan asal Pundong, Bantul, yang kini tingggal di Jakarta, Drs. Joko Siswanto, Msi, Rektor Universitas Taman Siswa Palembang, asal dari Bangunjiwa, Bantul,  Ardetya Eka Sunu, Pegiat Jogja Nyah Nyoh dan Ons Untoro, pegiat Sastra dan Budaya dari Tembi Rumah Budaya.

Orang Yogya yang kini tidak lagi tinggal di Yogya, tidak melepaskan nilai ke-Yogya-annya, bahkan mewarnai daerah yang kini menjadi tempat tinggalnya. Joko Siswanto, yang sekarang tinggal di Palembang, dia bisa menjadi inisiator untuk melakukan kegiatan di daerahnya, bahkan dianggap sebagai orang pinter dari Jawa.

“Karena saya dari Yogya, malah saya dianggap pandai sendiri” kata Joko Siswanto sambil berkelakar.

Kebudayaan terus berubah, apa yang terajadi di Yogya sekarang dan dulu, pasti sudah berbeda, dan orang-orang yang tinggal di Yogya, meski bukan orang Yogya, demikian kata Subari, membawa nilai-nilai Yogya ke luar. Apa yang diomongkan memancarkan cahaya dari Yogya.

“Kita tidak pernah meributkan Cak Nun itu orang Jobang, tetapi apa yang dimongkan dia membawa cahaya terhadap Yogya, hal yang sama juga bisa kita lihat pada Ashadi Siregar, apa yang dia tulis membesarkan nama Yogya dan tidak menunjuk kota kelahiran yang bersangkutan,” kata Sobari.

Yogya, sejak awal Republik berdiri sudah istimewa, apalagi Sutlan HB IX menyerahkan Yogyakarta, sebagai satu negara berdaulat pada waktu itu, hanya menjadi bagian kecil dari negara Indonesia yang baru saja berdiri.

“Apa yang dilakukan Sultan HB IX merupakan teladan bukan hanya bagi rakyat Yogya, namun bagi bangsa Indonesia, bahwa orang Yogya tidak rakus terhadap kekuasaan,” ujar Ons Untoro.

Kita bisa menunjuk contoh, bagaimana Yogya tidak lepas dalam individu orang Yogya yang kini tidak lagi menetap di Yogya, tetapi telah menetap di kota-kota lain, orang seperti  Sobari, orang Yogya selatan, lebih tepatnya Pundong, Bantul, sikap Yogyanya tidak hilang, meski dia telah tinggal di Jakarta. Orang seperti Amrih Widodo, asli Gunung Kidul, dan pernah lama tunggal di Amerika dan sekarang tinggal di Australia, sikap Yogyanya masih kental, dan sering merasa rindu minun teh nasi githel.

“Kita bisa menyebut banyak orang yang menjadi tokoh dan mempunyai pengaruh tingkat nasional, bahkan jaringannya internasional seperti (alm) Umar Kayam, (alm) Sartono Kartono Kartodirdja, semasa hidupnya membawa nilai Yogya keluar, memancarkan cahaya keluar,” ujar Ons Untoro.

Hari-hari ini, kita bisa melihat orang-orang bukan dari Yogya, dan telah menjadi orang Yogya, lebih-lebih sudah puluhan tahun tinggal di Yogya serta membawa cahaya bagi Yogya, dan dengan sendirinya, meneguhkan Keistimewaan Yogya, tokoh seperti Safii Maarif, adalah orang yang seperti itu.

Yogya sebagai satu ruang untuk tinggal bersama dari aneka ragam etnis, agama, suku dan seterusnya, harus dijaga bersama, tidak bisa satu komunitas memaksakan satu nililainya untuk dianut bersama. Biarkan bunga nilai berkembang, sehingga di Yogya kota bisa hidup di taman nilai dengan berbagai bau harum menyegarkan terpancar, sehingga orang tahu, bahwa Yogya penuh warna. (*)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIX: Kekuasaan, Demokrasi dan Pancasila

Diskusi seri Kebangsaan ke 19, yang diselenggarakan Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta menghadirkan tema, Kepemimpinan dalam …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.