Minggu , 16 Desember 2018
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Tumetesing Kacuwan, Dadiya Rerentenging Kanugrahan

Tumetesing Kacuwan, Dadiya Rerentenging Kanugrahan

ORANG Perancis bilang, ‘La vie, est une grande lute’, hidup itu berat. Hidup adalah perjuangan. Meski demikian orang Jawa mengatakan hidup itu indah. ‘Gesang punika endah’. Dimana keindahannya dan bagaimana itu bisa dilakoni.

Ketika teman saya Hamid seorang penganut sufisme dari New York, AS datang ke rumah saya begitu terkesima melihat seorang perempuan renta Jawa yang berkehidupan aneh bagi dia. Penuh beban kehidupan, menggendhong kayu, sambil jalan di pematang sawah, tapi masih bisa mengumbar senyum. Senyum keikhlasan. Demikian pula ketika jam dua malam saya ajak jalan-jalan sambil meronda kampung seraya mengambil beras jimpitan dari rumah ke rumah, ia begitu terperangah. Juga ketika berpapasan dengan nenek tua 70 tahun menggendong daun pisang dengan 4 tangkai sapu lidi untuk dijual di sebelah timur Alun-alun utara kota Yogyakarta, padahal ia harus berjalan tidak kurang dari 7 km dari rumahnya di Pajangan Bantul . Decak keheranannya tak habis-habisnya.

Sepengetahuan pria yang pernah melanglang jagad dari Eropa ke Amerika dan Asia ini, di kota-kota negara maju seperti Hongkong sekalipun, meskipun mereka menduduki jabatan tinggi di kantor, dengan gelimangan uang dan harta namun manusianya tidak pernah tersenyum. Senyum itu mahal. Bahkan orang masuk rumah orang lain pun bisa-bisa kena perkara.

Itulah gambaran sekelumit keheranan Hamid terhadap orang Jawa yang membuatnya rindu akan tanah ini, bahkan ia ingin hidup di Jawa. Malahan begitu cintanya ia kepada Jawa ini sampai ketagihan makan tape goreng, makanan favoritnya di Jawa. Meski sekarang Tenor dari New York Phillharmonic Orchestra itu berada di Washington DC, tetapi hampir setiap saat ia menanyakan kehidupan saya di desa. Sebuah aset wisata yang tidak pernah terpikirkan oleh kita orang Jawa.

Simak juga:  Memburu Wahyu Keprabon  

Semboyan Jawa yang sangat digandrunginya adalah ‘tumetesing kacuwan, dadiya rerentenging kanugrahan. Tetes kekecewaan, jadikanlah rangkaian anugerah Allah. ‘Drops of dissapointmen, should be a chain of grace‘, kata Hamid.

Dengan kata lain proses menjadi tumpuan utama hidup orang Jawa. Jarang yang menganggap bahwa hidup itu proses. Akhir dari hidup bukanlah tujuan hidup sendiri, tetapi hidup itu sendiri adalah tujuan manusia hidup. Karena hidup bagi orang Jawa adalah lenggahe Pangeran, bertahtanya Allah.

Jawa tidak mengenal apa yang disebut terobosan. Tujuan akhir hidup orang Jawa adalah melakoni hidup dengan tekun dan sabar serta ‘narima’.

Dan didalam tembang Sinom yang kerap dilantunkan sebagai contoh adalah :

Nuladha laku utama, tumraping wong tanah Jawi, Wong agung ing Ngesti Ganda, Panembahan Senapati, Kepati amarsudi sudane hawa lan nafsu. Di sini manusia diharapkan meneladan perjuangan Panembahan Senapati ketika menyongsong wahyu kraton. Beliau tidak langsung mendapatkannya dengan gratis. Perjuangannyalah yang harus diteladani. Bagaimana beliau berprihatin, berjuang menggembleng jiwa-raganya untuk mampu menjadi manusia pilihan. Proses hidup keprihatinan menjadi saka guru keberhasilannya di kelak kemudian hari. Orang Jawa yakin bahwa laku keprihatinan akan mendatangkan ganjaran atau anugerah. Lantaran anugerah itu hanyalah milik Yang Membuat Hidup. Manusia hanya berhak menyongsong ganjaran dengan laku keprihatinan. ‘Kanugrahan wohing laku’. Anugerah itu adalah buah keprihatinan.

Laku keprihatinan inilah yang selalu menjadi tujuan kehidupan orang Jawa. Bahwa hidup itu berat harus diterima. Tetapi bukan saja diterima sebagai beban tetapi sebagai sebuah perjuangan. Kekecewaan yang datang bertubi-tubi bukanlah sebuah kehancuran. Upaya dan perjuangan merupakan usaha manusia. Karena orang Jawa yakin, ‘tumetesing riwe hawya kongsi den wilang, siji-sijine mesthi ana ajine. Mulane, senadyanta amung sapala, candhinen supaya cumondhok ing sariranta’. -Tetes keringat dari perjuangan keras tidak bakal sia-sia, pasti ada hasilnya, meski kecil sekalipun. Oleh karena itu kumpulkanlah sebagai sebuah modal hidup-.

Simak juga:  Paguyuban Anggara Kasih, Mencintai Jawa, Menjaga Indonesia

Dan keyakinan ini amat didukung oleh semangat Jawa yang mengedepankan  ketekunan dan ketelitian serta ketabahan. Aporisma yang berbunyi, ‘Tau tate, teki-teki turut tramtamaning ratri, parandene durung antuk tapak tatuning wangsit. Karana tipak tulise durung telas’. Meskipun pernah dan terus berjuang dalam keprihatinan, belajar hidup di hutan belantara kehidupan maupun gedung sekolah, banting tulang siang malam, namun belum mendapatkan nasib baik, janganlah ditangisi. Karena garis hidup atau ‘lelakon hidupnya’ belum habis. Artinya ketekunan dan kesabaran terus dilakoni demi mencapai harapan hidup.

Yang pantas menjadi catatan adalah bagaimana membuat kekecewaan hidup menjadi anugerah Ilahi di kelak kemudian hari. Ini sebuah perjuangan yang mahadahsyat. Oleh karena hidup adalah indah. Gesang punika endah‘. Karena itu pulalah Sultan Agung mencipta tri semangat Mataram ‘Hamemayu hayuning bawana’. Membuat dunia ini semakin cantik, indah, dan makin patut dihuni manusia. Dunia yang menawan perlu diwujudkan dengan ‘memasuh malaning bumi, mangasah mingising budi’. Menghancurkan kedurangkaramurkaan, dan makin mengasah hati nurani dan budi menjadi cerdas, luas, kuat nan bijak. Kalau perlu ‘waskitha’ sekalian.

‘Tumetesing kacuwan dadiya rerentenging kanugrahan’, pandangan hidup manusia Jawa yang tak pernah pudar. Dan ini bagi orang manca merupakan sebuah aset wisata spiritual yang sangat menawan. Bagi Hamid berwisata ke Eifel Perancis, Ke Inggris, ke Amerika Serikat sekali saja tidak kepengin kesana lagi. Tetapi ketika mengunjungi Jawa, sampai tiga kali tidak pernah jemu. Inilah yang tak pernah dipikirkan orang Jawa sendiri bahwa potensi wisatanya sangat kaya.

Lihat Juga

Abad Samudera dalam Angan-angan

YOGYAKARTA memasuki abad samudera, meski hanya mempunyai secuil Samudera Indonesia yang sangat Luas. Konon di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *