Selasa , 21 November 2017
Beranda » Peristiwa » Diskusi Kebangsaan VIII: Toleransi di Tengah Kebangsaan yang Rapuh

Diskusi Kebangsaan VIII: Toleransi di Tengah Kebangsaan yang Rapuh

Ons Untoro
Diskusi Kebangsaan yang diselenggarakan Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta sudah memasuki seri 8,  mengambil tema “Kebangsaan Dalam Memperkokoh Toleransi” dan diselenggarakan 26 September 2017 di Hotel Forriz, jl. HOS. Cokroaminoto 60, Yogyakarta dengan menghadirkan narasumber Idham Samawi, Anggota DPR RI, Prof.Dr. Sudjito, SH. MSi, Guru Besar Ilmu Hukum UGM dan Prof. Dr. H Amin Abdulah, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Kebangsaan kita yang sudah terbentuk sebelum Proklamasi Kemerdakaan dibacakan, seperti sedang mengalami ujian. Berbagai macam persoalan yang terjadi seolah menempatkan kebangsaan kita sedang rapuh. Kesatuan sebagai satu bangsa seperti hendak dibelah, bukan karena warga bangsa kita ingin saling berpisah, tetapi selalu ada unsur luar yang ingin menguasai sumber daya alam dari bumi Indonesia, dan menghembuskan isu perpecahan. Namun, bangsa kita, yang sepertinya rapuh, tidak pernah terpecah-pecah. Pernah ada pergolakan untuk memisahkan dari Negara Kesatuan, misalnya munculnya Republik Negara Serikat, namun upaya tersbut tidak berhasil. Nasionalime kita kuat, dan kebangsaan kita kokoh, yang sepenunya disangga Kebhinekaan.

Sejumlah peristiwa, setidaknya setelah reformasi bergulir sering terjadi di daerah-daerah, konflik antar kelompok sosial masyarakat, yang melibatlan kelompok agama, suku dan antar golongan, atau yang sering disebut sebagai SARA. Seolah toleransi warga bangsa kita melepuh, sehingga mudah sekali konflik dengan kelompok sosial lain. Pada awal reformasi, di Kalimantan Tengah, tepatnya di Sampit terjadi konflik antara suku dari Madura yang sudah lama tinggal di daerah itu dengan suku Dayak, sebagai warga “asli”. Di Poso terjadi kelompok antar agama yang berbeda.

Berbagai macam konflik yang terjadi, yang disebut di atas sekadar untuk menyebut bebrapa contoh, mungkin membuat kita hanya bisa termangu melihat aneka konflik sosial itu. Kita seperti melihat toleransi yang selama ini sudah kita miliki, seperti dikoyak-koyak oleh kepentingan diluarnya.

Perihal yang dimaksud toleransi, Prof. Dr. Sudjito menyebutkan, toleransi artinya penerimaan, pengakuan dan penghormatan atas perbedaan pada pihak-pihak lain, disertai sikap membiarkan keunikannya, dan tidak mencampuri urusannya.

“Toleransi ini, hemat saya, bersifat kontekstual, dan bukan universal. Artinya, setiap urusan akan berlaku kadar/tingkat toleransinya masing-masing” ujar Sudjito.

Prof. Dr. Amin Abdulah melihat corak toleransi Indonesia yang spesifik berbeda dengan toleransi di negara lain, karena berbasis maritim. Mana ada orang Bugis lalu merapat ke Ambon, merapat ke Papua, karena dia mencari ikan, lalu mendarat, lalu minta air, lalu ditolak. Tidak ada dalam sejarah Indonesia Welcome di mana-mana. Antar pulau-pulau itu welcome, siapa pun yang datang maka di sini agama paling lengkap, ya di Indonesia

Bagi Idham Samawi, toleransi bukan datang secara tiba-tiba, lebih-lebih turun dari langit. Melainkan toleransi tumbuh melalui proses panjang, dan perlu untuk ditanamkan dan disirami terus menerus.

“Tanpa bersedia menjaga dan merawat toleransi yang sudah tumbuh, ia bisa menjadi kering” ujar Idham Samawi.

Dari apa yang dikatakan tidak narasumber tersebut, sebenarnya toleransi di Indonesia telah memiliki akar yang panjang. Apalagi kita tahu, sejak era nusantara kita bukan hanya mengenal agama yang berbeda-beda, tetapi juga dari bangsa-bangsa lain. Dalam kata lain, sejak era kerajaan  kita sebagai bangsa telah berinteraksi dengan bangsa yang berbeda-beda dan bersentuhan nilai-nilai  yang tidak tunggal. Maka, kalau sekarang kita mengenal Pancasila dan Kebhinekaan, sesungguhnya berpijak dari akar bangsa kita.

Toleransi tumbuh dan berkembang dari akar kebangsaan kita. Ia bukan datang dari tempat lain.Hanya mungkin namanya yang berbeda, tetapi hidup bersama dalam perbedaan dan sudah dijalani berabad-abad,tanda toleransi sudah dimiliki.

Di wilayah politik praktis seringkali sentimen agama muncul dipermukaan, dan seolah toleransi kita sedang terganggu. Padahal yang terjadi, perebutan kekuasaan acap menggunakan hal-hal yang  peka untuk menjatuhkan lawan politiknya. Bukan karena toleransi kita sedang bermasalah, tetapi kepentingan politik praktis, yang membuat toleransi kita seolah sedang bermasalah. Pilkada DKI mungkin hanya salah satu contoh kasus. Jadi, sebenarnya politik kita yang belum sehat, bukan kadar toleransi yang kedodoran.

 

Toleransi Di Tengah Tatanan Global 

Sebagai satu bangsa, kita tidak bisa hidup sendiri. Selalu akan berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain, baik melalui kebudayan, perdagangan, politik dan setersunya. Artinya, tatanan global akan mempengaruhi perubahan negara. Kita bisa melihat, harga BBM yang naik, selalu berkaitan dengan harga minyak dunia. Perubahan politik dalam negeri seringkali bersentuhan dengan perubahan politik dari negara lain.

Di dalam ruanng global, kita tiap hari bersentuhan dunia digital melalui media sosial, sehingga ruang tak lagi berjarak dan yang global bersentuhan dengan yang lokal. Peristiwa yang terjadi di negara lain, kasus Rohingnya misalnya, dengan sangat cepat kita akan segera tahu, dan ikut merespon atas peristiwa. Persoalan di belahan benua lain, dengan sangat cepat orang-orang dimuka bumi akan segera tahu.

Di tengah ruang yang telah begitu terbuka, bahkan bisa dikatakan tanpa lagi ada batas-batas, kebangsaan kita mendapat tantangan baru, bahkan seperti mengalami kerapuhan. Kita, melalui media sosial bisa memaki siapa saja, hanya karena persaan tidak suka. Bahkan, siapapun yang menjadi pemimpin, akan selalu mendapat makian melalui media sosial. Mungkin kita menjadi agak ngungun; harapan terhadap pemimpin seperti apa yang  dirindukan bangsa ini. Setiap kali selesai memilih pemimpun, selalu saja ada yang tidak puas, meski hal itu wajar, sekaligus menandakan, bangsa kita belum bisa menerima pemimpin dari kelompok sosial lain, lebih figur yang memiliki tradisi dan kultur berbeda.

Kita bisa toleransi pada bangsa lain yang sedang mengalami masalah di negara. Kita ulurkan rasa simpati kepada mereka dalam  berbagai macam  kegiatan. Tetapi, pada waktu bersamaan, di rumah sendiri, kita seperti menjauhkan rasa toleransi dengan saudara sendiri, dan memaksa kelompok lain untuk mengikuti kehendaknya.

Sebagai bangsa, kita telah punya rujukan untuk hidup bersama, yakni Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika. Dalam perbedaan yang kita jalani, tiga hal tersebut menjadi pegangan. Jadi, kalau ada kelompok yang tidak mengakui tiga hal itu, bahkan hendak menggantinya dengan asas yang diyakininya, artinya kelompok tersebut sudah menolak bangsa yang beragam, dan tidak mengakui bangsa Indonesia yang memiliki Pancasila. Artinya, kelompok itu, apapun namanya, tidak bersedia hidup bersama dalam perbedaan.

Dari tiga hal disebut di atas, yakni Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika, toleransi seperti benang yang ‘menjahit’ bangsa untuk terus melekat pada ketiganya. Agar sebagai bangsa kita tidak terkoyak, rasa toleransi terus dibina dan kembangkan sesuai konteks perkembangan jaman. Toleransi tidak hanya dari sisi agama, tetapi dari seluruh perbedaan yang dimiliki bangsa ini, kita perlu menjaga toleransi.

Menerima yang lain dalam perbedaan adalah salah satu bentuk dari toleransi. Karena kita berbeda dari bermacam segi, tak bisa lain, untuk hidup bersama sebagai satu bangsa, kita harus saling menerima dan menghormati. (Ons Untoro)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan IX: Perlu Sosialisasi Hidup Sabutuhe, Sakcukupe, Sakanane

Oleh: Prof Dr Suwardi Endraswara  Membahas Kebangsaan dalam Religi dan Budaya cukup rumit.  Pertama, Yang saya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *