Selasa , 21 November 2017
Beranda » Peristiwa » Diskusi Kebangsaan VIII: Toleransi Butuh Persatuan Nasional Hindari Penyeragaman Keberagaman
Idham Samawi, Anggota DPR RI (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan VIII: Toleransi Butuh Persatuan Nasional Hindari Penyeragaman Keberagaman

Oleh: HM Idham Samawi, Anggota DPR RI

BERBICARA Pancasila sebagai dasar negara,  dalam situasi dan kondisi saat ini, suatu hal yang sangat spesifik  terkait NKRI dan toleransi, merenungkan, mengaktualisasikan, dan mengamalkan  arti penting Persatuan Indonesia, sila ketiga Pancasila.

Indonesia adalah negara bangsa, yang sangat berbeda dengan bangsa dan negara manapun dunia ini. Negara Indonesia terdiri ribuan pulau, dihuni oleh ratusan suku dan etnis dengan begitu banyak ragam budayanya, berbeda-beda agama dan kepercayaannya, ratusan bahasa,  sangat memerlukan persatuan nasional. “Tunjukkan kepada saya, satu negara di belahan manapun dunia ini yang ururan kebangsaannya lebih kompleks dari Indonesia, Tidak ada,” kata HM Idham Samawi, anggota DPR/MPR RI ketika berbicara dalam diskusi “Kebangsaan dalam Memperkokoh Toleransi”, edisi 8 dari serial Diskusi Kebangsaan oleh Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta,  Selasa, 26 September 2017 di Hotel Forris, Yogyakarta.

Uni Soviet, kata Idham, kurang dari 50 bahasa, kurang dari 50 suku, cerai berai bubar lalu berdiri sendiri-sendiri sebagai negara. Kompleksitas kebangsaan Indonesia sangat rumit. Hal ini sejak awal telah sangat dipahami oleh para pendiri bangsa. Karena itu, di dalam ideologi Pancasila sebagai dasar negara, terkandung pula nilai persatuan Indonesia sebagai bangsa dengan semangat landasan bhinneka tunggal ika. “Saya yakin, kita semua sepakat hanya Pancasila yang bisa mempersatukan Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote. Persatuan dalam keberagaman. Itu  salah satu nilai dasar penting dalam kita berbangsa,” katanya,

Bicara kebangsaan, kata Idham Samawi, selalu terkait persatuan nasional, persatuan Indonesia. Dalam Islam juga dikenal ukhuwah wathoniyah, persaudaraan dalam satu kebangsaan. Islam mengajarkan nilai-nilai ukhuwah. Persatuan Indonesia tidak dalam pengertian kebangsaan yang sempit, tetapi kebangsaan yang berada di tamansarinya kemanusiaan internasionalisme. Bahkan terkandung pula pemahaman tentang ukhuwah insaniyah, persaudaraan antar sesama manusia, sesama keturunan Nabi Adam dan Hawa. Kebangsaan dan peri kemanusiaan.

Selanjutnya Idham Samawi memberi ilustrasi paparannya dengan menyebut penyematan lambang Garuda Pancasila pada setiap dada pemimpin pemegang jabatan politik. Memang wujudnya berupa keping simbol resmi yang tersemat sebagai penanda kedudukan dan jabatan politiknya. Namun, lambang Garuda di dada itu mempunyai maksud yang dalam, yaitu agar dakam setiap jiwa setiap pemimpin di Indonesia bersemayam jiwa Pancasila, bhinneka tunggal ika, dan cita-cita Proklamasi 1945. Lima sila disimbolkan dalam perisai yang tersemat pada dada Garuda, lembang negara Indonesia. “Para pendiri bangsa berharap,  supaya di dada pemimpin-pemimpin bangsa ini bersemayam Pancasila. Semua tarikan nafas pemimpin tadi, bernafaskan lima sila, sehingga keputusan dan kebijakan yang diambil oleh pemimpin, selalu bernafaskan Pancasila,” kata Idham Samawi.

Sayangnya, perihal lambang Garuda ini sejauh pemantauan Idham Samawi masih kurang dinarasikan secara utuh. Seharusnya, keterangan mengenai makna lambang Garuda itu dinarasikan dan ditanamkan secara sistemik, masif, dan terstruktur, di antaranya melalui jalur pendidikan dari TK sampai dengan perguruan tinggi. Mereka ini calon pemimpin bangsa yang harus disiapkan agar memiliki pemahaman dan perasaan yang mendalam tentang makna dan semangat  lambang pita bertuliskan bhinneka tunggal ika, yang dicengkeram erat oleh kaki kuat Garuda. Persatuan nasional harus dipegang teguh. “Karena apa? Pendiri bangsa ini sadar betul, bahwa kita berangkat dari banyak sekali perbedaan,” katanya.

Untuk itu, kata Idham Samawi, kebangsaan yang muaranya berkaitan dengan persatuan, toleransi, tidak bisa diharapkan turun dari langit begitu saja. Harus ditanamkan, harus diupayakan, kalau perlu sejak ketika bayi masih di dalam perut ibunya. Selain itu, keragaman bangsa tidak mungkin diseragamkan. “Jangan pernah menyeragamkan, pasti akan menuai badai. Jangan pernah membugiskan Indonesia, jangan pernah menjawakan Indonesia, jangan pernah mensundakan Indonesia. Karena Proklamasi 45 perintahnya di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Ketika yang kita bekalkan kepada calon pemimpin bangsa dari Jawa, ya kultur Jawa, itu Indonesia. Ketika yang kita bekalkan kepada calon pemimpin Bugis, ya budaya Bugis, itu Indonesia. Tapi tentunya dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jangan pernah mnyeragamkan itu. Pasti akan menuai badai,” terang Idham Samawi. (pdm)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan IX: Perlu Sosialisasi Hidup Sabutuhe, Sakcukupe, Sakanane

Oleh: Prof Dr Suwardi Endraswara  Membahas Kebangsaan dalam Religi dan Budaya cukup rumit.  Pertama, Yang saya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *