Selasa , 20 November 2018
Beranda » Peristiwa » Tirakatan HUT Kemerdekaan, yang Hilang Makna
Proses pemotongan tumpeng pada malam tirakatan di RW 13 Kelurahan Tegalpanggung. (Ft: Ind).

Tirakatan HUT Kemerdekaan, yang Hilang Makna

Proses pemotongan tumpeng pada malam tirakatan di RW 13 Kelurahan Tegalpanggung. (Ft: Ind).

 

SEJAK era Orde Baru hingga hingga kini (mungkin juga pada era sebelumnya), setiap menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI, tanggal 16 Agustus malam, pasti diselenggarakan “Malam Tirakatan HUT Kemerdekaan”. Kegiatan malam tirakatan itu diselenggarakan di berbagai kampung, desa, Rukun Wilayah (RW) dan lain-lainnya, termasuk di sejumlah instansi atau lembaga pemerintahan.

Kegiatannya selalu ada, tapi nuansa dan suasananya berbeda. Di era Orde Baru, acara malam tirakatan itu terkesan khusuk, khikmat, dan hening. Makna tirakatan sesungguhnya benar-benar terasa. Kata-kata tirakat itu sendiri diambil dari bahasa Jawa, yang artinya kurang lebih suatu aktivitas untuk mengheningkan diri, bersyukur diri serta mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan kata lain, tirakat itu merupakan laku atau langkah perjuangan batin dalam proses mencapai tujuan kehidupan.

Kesan hening dan laku batin seperti itu sangat terasa dalam setiap kegiatan malam tirakatan HUT Kemerdekaan semasa Orde Baru dulu. Malam tirakatan di tingkatan mana pun selalu diisi dengan pemotongan tumpeng, kemudian penyampaian kilas balik perjuangan, sarasehan dan doa.

Ketika ada yang menyampaikan uraian kilas balik perjuangan kemerdekaan, hadirin benar-benar mendengarkan kisah-kisah suka duka perjuangan para pejuang dan pendahulu bangsa itu dengan khusuk, menghayati serta meresapinya sungguh-sungguh. Suasananya benar-benar terkesan hening.

Kondisi seperti itu terjadi karena pelaksanaan malam tirakatan tidak dijadikan satu dengan malam resepsi. Malam resepsi HUT Kemerdekaan, biasanya diadakan di lain hari, bisa tiga hari atau seminggu kemudian.

Tetapi di era sekarang suasananya sudah berubah. Suasana khusuk, khikmat dan hening itu nyaris sulit ditemukan. Makna tirakatan yang sesungguhnya terkesan hilang. Di banyak tempat, malam tirakatan tak sekadar potong tumpeng, uraian kilas balik perjuangan, sambutan-sambutan dan doa syukur, tapi juga diisi dengan serangkaian pentas kesenian, tarian-tarian, musik, dan lain-lain.

Nah, di sinilah titik persoalannya. Ketika segala macam pentas kesenian itu disatukan dengan malam tirakatan, maka makna tirakatan yang sesungguhnya itu menjadi pudar. Tak ada lagi rasa khusuk, khidmat dan hening itu. Semuanya sirna, begitu mereka yang hadir di acara itu tertawa, bernyanyi dan berjoget karena dihibur dengan lagu-lagu dangdut, campursari, pop, dan lainnya.

 

Mengembalikan Maknanya

Makna malam tirakatan yang sesungguhnya itu sudah sepantasnya dikembalikan lagi. Makna yang sempat hilang itu, sudah saatnya dicari, ditemukan atau dikembalikan seperti semula. Bagaimana mungkin kita bisa meresapi dan menghayati hakikat perjuangan bangsa dalam mewujudkan Indonesia merdeka, bila gemerlap suasana dan ‘hiruk-pikuk’ kemeriahan pentas seni telah merubah fokus perhatian.

Alangkah indahnya, bila malam kesenian pada peringatan HUT Kemerdekaan itu tidak dijadikan satu dengan acara malam tirakatan, seperti yang banyak terjadi pasca era Orde Baru. Tak ada salahnya mengembalikan ingatan ke waktu itu, ketika malam tirakatan dan malam kesenian HUT kemerdekaan diselenggarakan terpisah.

Dan, terus terang saya harus bangga dengan penyelenggaraan malam tirakatan HUT Kemerdekaan di kampung saya (RW 13 Kelurahan Tegalpanggung, Danurejan, Yogya), pada Rabu malam 16 Agustus 2017, yang acaranya tidak ‘direcoki’ dengan pentas kesenian. Walau masih belum bisa sekhusuk, sekhikmat dan sehening malam tirakatan kala itu, tapi nuansa dan suasana yang terkesan ‘hiruk-pikuk’ tidak muncul.

Sesuai makna tirakatan, maka malam tirakatan di kampung saya itu pun terkesan sederhana, apa adanya, tapi bermakna. Tak ada lenggang-lenggok penari, tak ada suara musik dan lagu yang menggoda, penuh gairah dan semacamnya. Hanya ada pembacaan teks proklamasi, pembacaan sambutan Walikota, penyampaian kilas balik perjuangan bangsa, doa syukur, dan pembagian dorprize. Kesan khusuk, khidmat, dan hening itu sudah tampak, walau belum sepenuhnya. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.