Minggu , 16 Desember 2018
Beranda » Sastra » Tiga Antologi Puisi di Sastra Bulan Purnama

Tiga Antologi Puisi di Sastra Bulan Purnama

Pers Release

Tiga antologi puisi, karya dari penyair yang berbeda akan di-launching di Sastra Bulan Purnama Tembi Rumah Budaya, Jumat 6 Oktober 2017, pkl. 19.30 di Tembi Rumah Budaya, jl. Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Tiga antologi puisi itu berjudul ‘Pagar Kenabian’ karya Sofyan RH.Zaid (Bekasi), ‘Alarm Sunyi’ karya Emi Suy (Jakarta) dam ‘Pemali’ karya 13 penyair muda Bumiayu, yang tergabung dalam komunitas Bumiayu Creatie City Forum (BCCF).

Dalam laucnhing antologi puisi di Sastra Bulan Purnama 73 ini, selain para penyair membacakan puisi karyanya, akan tampil kelompok musik, yang menamakan diri ‘Benang Merah’ (Solo) , dan akan manyajikan kreasi musiknya

Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama menyebutkan, tajuk dari Sastra Bulan Purnama edisi 73 ini ‘Pemali Menghidupkan Alarm Di Pagar Kenabian’. Formula tajuk ini, demikian Ons Untoro menjelaskan, diambilkan dari judul tiga antologi puisi yang di-lancunching dan digabung menjadi satu.

“Agar ketiga antologi tidak terpisah dalam launching, maka formulasi dari tiga judul dijadikan satu tema” ujar Ons Untoro.

Simak juga:  Empat Antologi Puisi dari 16 Penyair di Sastra Bulan Purnama

Dari tiga buku antologi puisi terdapat 15 penyair, karena pada buku berjudul “Pemali’ merupakan antologi bersama. Dimas Indiana Senja, seorang penyair muda dari Bumiayu, dan cukup lama tinggal di Yogya, yang menjadi penggagas dari BCCF ini.

“Buku ini adalah sejarah. Untuk pertamakalinya di Kabupaten Brebes pada umumnya, dan Bumiayu Raya pada khususnya muncul komunitas sastra yang solid dan  produktif. Buku ini hanyalah penanda, di luar itu, spirit membangun masyarakat dengan jalan kebudayaan tumbuh dengan sangat subur disanubari penyair-penyair dari komunitas ini” kata Dimas Indiana Senja.

Sofyan RH. Zaid penyair asal Sumenep, Madura yang kini tinggal di Bekasi menyebutkan, bagaimanapun menerbitkan antologi puisi seperti mengunjuk layang-layang. Harus mampu membaca arah angin, menaikkan layang-layang, mengulur tali, dan membiarkannya menari di udara.

‘Setelah itu kita duduk sambil sesekali melihatnya, apakah layang-layang itu masih di sana dan mampukah bertahan melawan angin? Atau jangan-jangan sudah menukik ke tanah, putus tali, tersangkut ranting, atau habis dihajar hujan” ujar Sofyan RH.Zaid.

Simak juga:  Empat Antologi Puisi dari 16 Penyair di Sastra Bulan Purnama

Emy Suy, penyair dari Magetan yang kini tinggal di Jakarta, telah menerbitkan puisi dalam sejumlah antologi puisi bersama. Antologi puisi yang diberi judul ‘Alarm Sunyi’ ini, bagi Emy,  setidaknya adalah upaya pertaruhan eksistensi kepenyairannya.

Joko Pinurbo, seorang penyair Yogya, yang memberi pengantar buku Emy Suy menyebutkan, judul kumpulan puisi ini sebenarnya sudah menyiratkan inti permenungan dari sajak-sajal Emi Suy. ‘Alarm Sunyi adalah diksi yang mengandung kontradiksi dalam dirinya sendiri karena terdiri atas dua kata yang berlawaban makna.

“Kontradiksi makna itulah yang mengantarkan kita kepada kesadaran mengenai fungsi (ke)sunyi(an) dalam  kehidupan manusia.” Ujar Joko Pinurbo (*)

Lihat Juga

Empat Antologi Puisi dari 16 Penyair di Sastra Bulan Purnama

Penyair dari beberapa kota tampil di Sastra Bulan Purnama edisi 73, di Tembi Rumah Budaya. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *