Selasa , 22 Agustus 2017
Beranda » Film » Sekilas Riwayat Film Indonesia : “Terang Boelan”, Film Terlaris Pertama

Sekilas Riwayat Film Indonesia : “Terang Boelan”, Film Terlaris Pertama

Film Terang Boelan. (Ft: Dokumen Sinematek Indonesia)

 

TANGGAL 30 Maret dirayakan sebagai Hari Film Nasional. Meskipun penetapan Hari Film Nasional (HFN) berdasar dimulainya pembuatan film Darah dan Doa yang disutradarai Usmar Ismail pada 30 Maret 1950, tapi ada baiknya juga di saat perayaan HFN ini mengenang kembali kejayaan film Terang Boelan yang diproduksi jauh sebelumnya.

Era film bisu di dunia berakhir pada tahun 1927. Berakhirnya era film bisu ini ditandai dengan pembuatan film bicara (film suara) pertama di tahun 1927 yang berjudul Jazz Singer. Film bicara pertama ini diputar atau dipertontonkan pertama kali untuk umum pada 6 Oktober 1927 di New York, Amerika Serikat. Dua tahun kemudian, tepatnya di akhir tahun 1929, panggung pertunjukan film di Hindia Belanda (Indonesia) ditandai dengan masuknya dua film bicara dari Amerika Serikat. Kedua film bicara itu berjudul Fox Follies dan Rainbow Man.

Masuknya film bicara produksi Amerika Serikat itu tentu saja mempengaruhi perusahaan film di Hindia Belanda untuk ikut memproduksi film bicara. The Teng Chun dengan perusahaan filmnya Cino Motion Pictures Corporation (CMPC) pada tahun 1931 dengan peralatan rekaman suara yang sederhana mencoba membuat film bicara berjudul Roos van Cikembang. Sebelumnya CMPC memproduksi San Pek Eng Tay. Menyusul, diproduksi pula  film Indonesia Maleise garapan Wong Bersaudara (1931) dan Terpaksa Menikah kerjasama Kruger dengan Tan Khoen Hian (Tan’s Film) diproduksi tahun 1932.

Perkembangan berikutnya terjadi di tahun 1934, ketika seorang Indo-Belanda bernama Albert Balink yang berprofesi sebagai wartawan koran berbahasa Belanda De Locomotif membuat film berjudul Pareh di Bandung. Balink tak sendiri, ia mengajak Wong Bersaudara dan Mannus Franken seorang pembuat film dokumenter dari Belanda. Film Pareh produksi perusahaan film Java Pasific Film dibintangi Rd. Mochtar dan Soerkarsih ini merupakan film Indonesia pertama yang mendapat perhatian luas dari masyarakat pecinta film, meskipun dari segi pemasaran masih dipandang tidak terlalu berhasil.

Cino Motion Pictures Corporation yang kemudian berganti nama The Java Industrial Film Co (JIF) tahun 1935 memroduksi film Lima Siloeman Tikoes. Film ini mendapat sambutan hangat masyarakat keturunan Cina.

Jika film Pareh dinyatakan sebagai film Indonesia pertama yang mendapat perhatian luas dan dipuji dari segi kualitas dan ceritanya, maka film Terang Boelan yang diproduksi tahun 1937 merupakan film pertama terlaris dan sukses secara bisnis di pasaran. Film ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat.

Film Terang Boelan digarap Albert Balink bersama Wong Bersaudara dan mengajak seorang wartawan pribumi, Saeroen, di bawah bendera perusahaan film Algeemene Nederlands Indische Film Syindicaat (ANIF) yang didirikan di Batavia. Film penuh nuansa romantisme, tari dan nyanyi ini dibintangi Miss Roekiah dan Rd. Mochtar. Miss Roekiah, penyanyi keroncong di panggung tonel (panggung sandiwara), sedang Rd. Mochtar bintang yang ketika itu sedang digandrungi lewat penampilan sebelumnya di film Pareh.

 

Sukses di Malaya

Kesuksesan film Terang Boelan yang berkisah tentang kehidupan masyarakat asli di pulau-pulau Laut Selatan ini kemudian menjadi pemicu perusahaan-perusahaan film lainnya untuk memproduksi tema yang sama, dengan tujuan meraih kesuksesan dari segi pemasaran. Apalagi film Terang Boelan tidak hanya sukses di dalam negeri sendiri, tapi juga meraih sukses ketika ditayangkan di Malaya (Malaysia) dan Singapura.

Semenjak film Terang Boelan, dunia perfilman di negeri kita saat itu mengalami masa-masa menggembirakan. Masa-masa itu (1939-1942) oleh Misbach Jusa Biran disebut sebagai masa panen pertama perfilman Indonesia.

Di dalam Selintas Kilas Sejarah Film Indonesia (terbitan Badan Pelaksana FFI 1982) Misbach Jusa Biran menyatakan – Film Terang Boelan memperlihatkan bukti yang amat jelas kepada para pemilik  modal bahwa usaha pembuatan film bisa menjadi bisnis yang hebat. Maka sejak 1939 mulai bermunculan perusahaan-perusahaan film baru. Semuanya berpedoman kepada pola resep film Terang Boelan. Pasangan Roekiah-Rd. Mochtar yang namanya menjulang ke langit popularitas, juga menjadi model dalam mendapatkan bintang bagi masing-masing perusahaan. Sejak saat itu kedudukan bintang dalam film Indonesia merupakan unsur amat penting, “star system” dimulai.

Seperti juga Roekiah, maka semua bintang baru khususnya ditarik dari dunia tonel. Termasuk pemain panggung paling cemerlang saat itu, seperti Fifi Young, Tan Tjeng Bok, Rd. Ismail, Astaman dan Ratna Asmara.

Tapi masa panen pertama perfilman Indonesia itu, menurut Misbach Jusa Biran, hanya berusia singkat, karena harus mendadak terhenti pada awal tahun 1942. Hal itu terjadi setelah Jepang menduduki Indonesia dan menyingkirkan kekuasaan Belanda pada Maret 1942. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Menyimak Ulang Pidato Kenegaraan Terakhir Bung Karno (1)

SETIAP memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, ingatan kita tentu tidak bisa lepas kepada tokoh bangsa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *