Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Pendidikan » Bung Hatta Ungkapkan Sekitar Proklamasi (3): Teks Proklamasi Disiapkan Sejak 22 Juni 1945

Bung Hatta Ungkapkan Sekitar Proklamasi (3): Teks Proklamasi Disiapkan Sejak 22 Juni 1945

APAKAH yang menyadi sebab kekeruhan pandangan tentang fakta-fakta sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945. Menurut Bung Hatta, ditinjau dari bukti yang nyata, pernyataan kemerdekaan Indonesia tidak menjadi soal.

Teks proklamasinya, tulis Bung Hatta, sudah disiapkan oleh Panitia Sembilan pada tanggal 22 Juni 1945 yang sekaligus akan menjadi preambul, Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Pemerintah Jepang pun sudah menyetujui Kemerdekaan Indonesia, yang pelaksanaannya diserahkan secara resmi kepada Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Yang menjadi soal ialah cara memperoklamasikan kemerdekaan itu.

Bung Hatta mengungkapkan, untuk hal itu terdapat dua paham yang prinsipiil bertentangan. Diuraikan, golongan pemuda di Jakarta yang bernama Angkatan Pemuda Indonesia (API), di bawah pimpinan Sukarni dan Chairul Saleh, mahasiswa dari Sekolah Tinggi Kedokteran beserta golongan Sjahrir berpendapat, setelah diketahui Jepang sudah menyerah kepada Sekutu, bahwa proklamasi Indonesia Merdeka dilakukan “secara revolusioner”, yaitu lepas dari segala yang berbau buatan Jepang. Indonesia buatan Jepang, pasti dibasmi oleh Sekutu.

Mereka berpendapat, jelas Bung Hatta, bukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang harus melakukannya, akan tetapi Bung Karno sendiri sebagai pemimpin rakyat menyatakan dari muka corong radio ke seluruh dunia, bahwa Indonesia merebut kemerdekaan dari kekuasaan Jepang.

Diuraikan, menurut pendapat Sukarno-Hatta merebut kemerdekaan Indonesia dari kekuasaan Jepang adalah suatu fantasi yang bertentangan dengan kenyataan. Kenyataannya, bahwa Jepang sejak September 1944 sudah menyatakan “Indonesia akan merdeka kelak di kemudian hari”.

Simak juga:  Bung Hatta Ungkapkan Sekitar Proklamasi (2): Proklamasi Ditulis Bung Karno Sendiri

Kemerdekaan yang akan diberikan Jepang itu, menurut Bung Hatta, tentu tidak serupa kemerdekaan yang dicita-citakan oleh bangsa Indonesia. Tetapi kemerdekaan bagi Indonesia sudah dijanjikan dan janji itu dapat dipakai sebagai pegangan terhadap Belanda kelak yang belum membayangkan kemungkinan Indonesia Merdeka.

 

Persatuan Indonesia

Bung Hatta menyatakan, menurut pendapat Sukarno dan dirinya, Proklamasi Indonesia Merdeka harus ditetapkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, karena badan itu anggotanya datang dari berbagai penjuru Indonesia dan dianggap mewakili seluruh Indonesia.

Sekalipun utusan-utusan dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Sunda Kecil dan Maluku itu diangkat oleh Jepang, tulis Bung Hatta, suara yang mereka perdengarkan untuk menyatakan Indonesia Merdeka, adalah suara dan cita-cita rakyat. Dengan ikutnya mereka tercapailah simbol persatuan seluruh Indonesia. Rasa persatuan Indonesia itu sangat penting dalam penyelenggaraan Revolusi Nasional. Dan rasa persatuan ke dalam itu lebih penting dari pada pertimbangan juridis dari luar, apakah badan itu diangkat oleh Jepang atau tidak.

Demikianlah, lanjut Bung Hatta, perbedaan pendapat yang prinsipil antara golongan Sukarno-Hatta yang dianggap menempuh jalan legal dan golongan API-Mahasiswa-Sjahrir yang menganggap jalan mereka  jalan revolusioner. Pendirian yang berdasarkan logika, keluar dari perasaan hati yang panas dan kepala dingin sukar ditemukan dengan pendirian hati yang memberontak dan kepala yang bergelora.

Simak juga:  Menjelang Proklamasi, Bung Karno dan Bung Hatta Diculik

Tulis Bung Hatta, dipandang dari jurusan yuridis-formil, sikap yang kemudian ini memang “revolusioner” kelihatannya. Dengan cara yang mereka anjurkan kelihatan Indonesia Merdeka adalah hasil tindakan sendiri dan bukan buatan Jepang. Tetapi jalan “revolusioner” itu menjadi teka-teki, apabila proklamasi kemerdekaan itu diucapkan oleh Sukarno, yang dari semulanya bekerjasama dengan Jepang dan memproklamasikan kemerdekaan, sesudah Jepang mengakui kemerdekaan Indonesia yang pelaksanaannya diserahkan kepada Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Coba simak lanjutan pernyataan Bung Hatta ini.

 

Ditinjau dari keadaan yang nyata, dari segi real-politik, alasan yuridis-formil itu tidak besar artinya. Revolusi tidak berhitung dengan bilangan yuridis-formil, melainkan dengan tenaga dan kekuatan yang ada. Orang Belanda yang mau mengembalikan kekuasaannya ke Indonesia tidak menimbang-nimbang apakah kemerdekaan itu buatan Jepang atau perbuatan Indonesia sendiri. Bagi mereka tiap-tiap tindakan  atau revolusi yang akan melenyapkan kekuasaannya adalah anti-gezag dan harus dibasmi.

            Ada satu lagi kelemahan pada pihak pemuda, yang menambah panas hatinya, dan menambah hebat serangannya kepada Sukarno-Hatta tetapi hanya dalam teori dan tulisan. Kelemahan itu pulalah yang menjadi sebab, maka mereka menggambarkan kedudukan mereka yang hebat sampai melupakan “Wahrheit” dan membuat “Dichtung”.*** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Menjelang Proklamasi, Bung Karno dan Bung Hatta Diculik

MENJELANG Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 memang merupakan saat-saat yang menegangkan dan mendebarkan. Terlebih-lebih bagi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *