Selasa , 22 Agustus 2017
Beranda » Peristiwa » Tegal, dari Negeri Poci ke Negeri Awan

Tegal, dari Negeri Poci ke Negeri Awan

Sebagian penyair Dari Negeri Poci di depan spanduk besar “Semalam di Negeri Awan”. Dari kiri Kurniawan Junaedhie, Sutirman Eka Ardhana, Ons Untoro dan Adri Darmadji Woko. (Ft: ist)

 

SELAMA tiga hari, persisnya 24 sampai 26 Maret lalu, ada suasana yang berbeda di Kota Tegal, Jawa Tengah, dibanding hari-hari sebelumnya sepanjang tahun 2016 dan 2017 ini. Puluhan penyair dari berbagai kota dan daerah di Tanah Air berdatangan ke Tegal. Lalu pada Sabtu malam, 25 Maret, puisi-puisi pun bertaburan di Gedung DPRD Kota Tegal, setelah sejak siang harinya puluhan penyair itu berkumpul dalam diskusi sastra di gedung tersebut.

Ya, selama tiga hari, di Kota Tegal berlangsung perhelatan “Semalam di Negeri Awan” Pesta Puisi dan Peluncuran Buku, sekaligus pertemuan para penyair yang tergabung di dalam Komunitas Negeri Poci. Perhelatan itu berlangsung di Gedung DPRD Kota Tegal, di Jalan Pemuda, Tegal.

Perhelatan ini dimulai Sabtu pagi, 25 Maret, dengan acara diskusi sastra yang menampilkan pembicara dr. Handrawan Nadesul, seorang dokter dan penyair, serta Tengsoe Tjahjono yang penyair sekaligus dosen di Universitas Negeri Surabaya. Handrawan berbicara tentang Kesehatan dan Sastrawan, sedang Tengsoe Tjahjono berbicara seputar gerakan sastra di berbagai kota.

Puncak perhelatan ini berlangsung malam harinya ditandai dengan peluncuran buku Antologi Puisi dari Negeri Poci 7 “Negeri Awan”. Lalu, sejumlah penyair pun tampil membacakan puisi. Tak hanya penyair, sejumlah seniman, tokoh masyarakat dan pejabat juga turut serta menyemarakkan ‘pesta puisi’ itu dengan tampil ke panggung membacakan puisi. Di antaranya, Wakil Walikota Tegal Drs HM Nursholeh, MPd, yang membacakan salah satu puisi karya penyair Tegal, dan istri Ketua DPRD Kota Tegal membacakan puisi yang menurutnya dikutip dari pernyataan Bung Karno.

Perhelatan para penyair ini disemarakkan juga oleh penampilan grup musik dari cucu-cucunya penyair Piek Ardijanto Soeprijadi (alm) atau yang akrab dipanggil Pak Piek. Bahkan Ibu Piek (istri Pak Piek) malam itu juga tampil memberikan sambutan. Dalam sambutannya, Ibu Piek menyatakan terimakasih dan rasa harunya karena Pak Piek senantiasa dikenang oleh para penyair yang tergabung di dalam Komunitas Negeri Poci melalui penerbitan Antologi Puisi dari Negeri Poci yang kini sudah sampai pada edisi ketujuh.

 

Negeri Awan

Antologi Puisi dari Negeri Poci 7 “Negeri Awan” setebal 730 halaman lebih ini menghimpun karya-karya puisi dari 174 penyair se-Nusantara. Menurut para kurator Adri Darmadji Woko, Handrawan Nadesul dan Kurniawan Junaedhie, sebanyak 500-an lebih penyair dari berbagai kota dan daerah di Indonesia telah mengirimkan karya-karyanya. Para kurator harus bekerja keras menyeleksi sekitar 6000-an puisi yang dikirimkan para penyair, karena masing-masing penyair mengirimkan sepuluh karya puisinya. Setelah melalui seleksi yang ketat, dan waktu yang panjang, akhirnya hanya terpilih 174 penyair yang karya-karyanya terhimpun di Antologi “Negeri Awan” tersebut.

Menurut Kurniawan Junaedhie dan Adri Darmadji Woko, Komunitas Negeri Poci muncul sejak tahun 1993 yang diawali dengan penerbitan antologi puisi pertama, Dari Negeri Poci. Penerbitan pertama itu hanya menghimpun puisi-puisi karya 12 penyair, Adri Darmadjo Woko, Eka Budianta, Dharnoto, Handrawan Nadesul, Kurniawan Junaedhie, Piek Ardijanto Soeprijadi, Rahadi Zakaria, Rita Oetoro, Syarifuddin A.Ch, Oei Sien  Tjwan dan Widjati. Dan, lahirnya Komunitas Negeri Poci serta terbitnya antologi Dari Negeri Poci 1 itu merupakan bentuk penghormatan kepada penyair Piek Ardijanto Soeprijadi, seorang guru SMA di Tegal, yang gigih memotivasi para penyair muda di era 70-an dan 80-an. Kemudian disusul Dari Negeri Poci 2 (1994) dan Dari Negeri Poci 3 (1996).

Setelah sempat vakum selama 17 tahun, antologi puisi Dari Negeri Poci kembali terbit di tahun 2013, dengan judul Antologi Penyair Indonesia Dari Negeri Poci 4 “Negeri Abal-abal”, disusul Dari Negeri Poci 5 “Negeri Langit” pada 2014, Dari Negeri Poci 6 “Negeri Laut” tahun 2015, dan terkini di tahun 2017 Antologi Puisi dari Negeri Poci 7 “Negeri Awan”.

Inspirasi Dari Negeri Poci ini memang datang dari Kota Tegal yang selama ini juga dikenal dengan kenikmatan Teh Poci-nya. Dan, selama tiga hari 24 sampai 26 Maret lalu itu, Kota Tegal pun tak hanya populer sebagai Negeri Poci, tetapi juga populer dengan Negeri Awan. Ini terbukti dengan tulisan “Semalam di Negeri Awan” pada spanduk besar yang terpasang di tembok depan Gedung DPRD Kota Tegal. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Menyimak Ulang Pidato Kenegaraan Terakhir Bung Karno (2)

KETIKA pidato kenegaraan berjudul “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah” itu disampaikan pada peringatan HUT ke-21 Kemerdekaan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *