Beranda » Seni & Budaya » Tayub di Kulonprogo, Dari Tolak Bala sampai Sembuhkan Sakit
Salah satu tarian Tayub di Kulonprogo. (Ft: net)

Tayub di Kulonprogo, Dari Tolak Bala sampai Sembuhkan Sakit

Salah satu tarian Tayub di Kulonprogo. (Ft: net)
TARIAN Tayub yang merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional Jawa, dewasa ini oleh sementara pihak dipandang sebagai bentuk tarian yang mengumbar ‘pesona gairah’. Pandangan seperti itu muncul dikarenakan gerakan dan goyangan tari para penari Tayub atau yang lebih dikenal dengan panggilan ledhek Tayub tersebut memang sangat atraktif. Ada yang berpendapat gerakan dan goyangan tubuh para penarinya cenderung menjurus ke gerakan yang bisa dikategorikan mesum.

Tetapi tidak semua pihak berpandangan seperti itu. Tidak semua pihak memandang Tayub dengan hanya picingan sebelah mata saja. Tidak semuanya berpandangan bahwa Tayub sebagai salah satu bentuk tarian yang hanya mengumbat gairah dan nafsu syahwat semata. Bagi masyarakat Jawa, terutama di daerah-daerah yang kesenian Tayub-nya masih bertahan dan berkembang, kesenian Tayub tetap dipandang sebagai kesenian tradisi yang penuh arti dan sarat makna.

Bahkandi sejumlah daerah, tarian Tayub tidak hanya dipandang sebagai kesenian untuk menghibur saja, tetapi juga diyakini sebagai bentuk tarian tradisional yang bisa dijadikan sarana ataumedia untuk membantu masyarakat dalam memecahkan suatu permasalahan. Di Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta misalnya, tarian Tayub telah dijadikan sarana ataumedia untuk ‘tolak bala’, menyembuhkan sakit, dan lain-lainnya.

 

Tolak Bala

Di Pedukuhan Kalangan, Desa Bumirejo, Kecamatan Lendah, Kulonprogo, kesenian Tayub masih tetap terjaga dan terlestarikan hingga hari ini. Masyarakat setempat tidak terusik dan terpengaruh dengan suara-suara sumbang sementara pihak yang belakangan muncul terhadap keberadaan Tayub. Bagi mereka Tayub adalah kesenian tradisional yang tetap harus dijaga, dilestarikan dan dikembangkan sampai kapan pun.

Warga Pedukuhan Kalangan hingga hari ini meyakini jika kesenian Tayub bisa dijadikan sarana untuk melakukan ‘tolak bala’ terhadap berbagai gangguan yang akan dating menimpa segenap warga. Gangguan itu bisa berupa penyakit, gagal panen, bencana, dan lain-lainnya.

Keyakinan itu begitu melekat di hati warga Kalangan. Karena itulah setiap tahun sekali di Pedukuhan Kalangan ini diselenggarakan pergelaran tarian Tayub yang merupakan ritual ‘tolak bala’. Pergelaran Tayub tahunan untuk ‘tolak bala’ itu dimaksudkan untuk menghindarkan atau melindungi masyarakat setempat dari bencana dan malapetaka. Ritual ‘tolak bala’ dengan pergelaran Tayubtersebut sudah b erlangsung sejak lama.

Di tahun 2008 lalu misalnya, pergelaran tahunan Tayub itu diselenggarakan pada bulan Agustus di komplek Makam Kemuning. Di komplek Makam Kemuning itu terdapat makam Nyi Ebrek, yang selama ini diyakini sebagai tokoh cikal-bakal warga Kalangan.

Siapa Nyi Ebrek yang diyakini dan dipercaya sebagai tokoh cikal-bakal warga Pedukuhan Kalangan itu? Menurut data yang ada di Bagian Humas Pemkab Kulonprogo, Nyi Ebrek merupakan seorang perempuan sakti yang berasal dari keluarga Keraton Mataram. Karena sesuatu hal, Nyi Ebrek keluar dari lingkungan keratin dan pergi mengembata.

Dalam pengembaraannya itu Nyi Ebrek sempat bertapa di Pandan Segegek, yang terletak di kawasan pantai selatan Kulonprogo. Setelah bertapa atau bersemedi, kemampuan dan kesaktiannya semakin bertambah. Dari Pandan Segegek, Nyi Ebrek meneruskan pengembaraannya dan kemudian menetap di Kalangan. Di desa ini Nyi Ebrek dikenal sebagai seseorang yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Ketenaran namanya sebagai seseorang yang bisa menyembuhkan berbagai jenis penyakit kemudian menyebar di luar wilayah Kalangan.

Semasa tinggal di Kalangan, Nyi Ebrek mempunyai kebiasaan mengundang para penari Tayub untuk menari di halaman rumahnya. Karena kegemaran menanggap atau mengundang rombongan penari Tayub itu, sampai-sampai menjelang meninggal dunia, Nyi Ebrek sempat berpesan kepada warga Kalangan untuk tetap melestarikan Tayub sampai kapan pun.

Dalam pesannya, Nyi Ebrek juga mengingatkan warga Kalangan, bila tidak menyelenggarakan pentas tarian Tayub maka pagebluk atau bencana berbagai penyakit dan bencana-bencana lainnya akan datang menimpa.

Pesan Nyi Ebrek itu hingga hari ini masih tetap dipegang oleh warga Pedukuhan Kalangan. Karena itu hingga kini di Kalangan setiap tahunnya dilaksanakan tradisi nanggap Tayub.  Tradisi nanggap atau mengundang penari Tayub untuk menggelar tarian Tayub itu berlangsung setiap tanggal 25 bulan Ruwah (bulan Jawa). Biasanya ritual ‘tolak bala’ dengan pentas Tayub tersebut diawali dengan sejumlah laku ritual lainnya.

 

Ritual Luwaran

Bila di Pedukuhan Kalangan, Desa Bumirejo, KecamatanLendah, ada pergelaran Tayub untuk ‘tolak bala’, di Dusun Taruban, Desa Tuksono, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulonprogo, terdapat pula upacara ritual Luwaran.

Ritual Luwaran merupakan ritual setahun sekali yang berlangsung cukup meriah di Dusun Taruban. Biasanya setiap kali ritual Luwaran diselenggarakan, warga asal Taruban yang sudah tinggal di daerah atau kota lainnya, baik yang di luar Kabupaten Kulonprogo maupun di luar Daerah Istimewa Yogyakarta, misalnya di Jakarta, Semarang, Surabaya dan lainnya, akan berdatangan pulang kampung.

Upacara ritual Luwaran disemarakkan dengan sejumlah acara lainnya seperti pasar malam yang berlangsung selama 10 hari, dan serangkaian acara lainnya. Tapi yang paling ditunggu adalah pergelaran tarian Tayub. Masyarakat Taruban meyakini bahwa pergelaran Tayub itu bisa dijadikan sarana untuk menyembuhkan penyakit, bahkan sarana untuk mewujudkan nazar tertentu.

Para ledhek atau penari Tayub yang menari ketika ritual Luwaran berlangsung dipercaya memiliki ‘kekuatan’ tertentu yang bisa menyembuhkan penyakit atau melepaskan sesuatu permasalahan yang sedang dihadapi. Karenanya tidak mengherankan banyak orang tua yang membawa anaknya ke penari Tayub untuk sekadar dicium. Ciuman dari penari Tayub itu diyakini bisa menyembuhkan si anak dari sakitnya, atau membebaskan si anak dari segala gangguan maupun permasalahan yang dideritanya. Misalnya, belum juga bisa bicara, belum bisa berjalan, sakit-sakitan, dan lain-lainnya lagi.

Tidak hanya itu. Tidak sedikit pula orang tua yang dating ke ritual Luwaran hanya untuk mewujudkan nazarnya, yaitu agar anaknya bisa dicium oleh penari Tayub. Entah mengapa, warga Taruban dalam bernazar sering menggunakan penari Tayub sebagai media untuk mewujudkan nazarnya itu. Misalnya, apabila anaknya sembuh dari sakit, maka bernazar untuk membawa anaknya dicium oleh penari Tayub.

Apa yang ada pada dua dusun di Kulonprogo itu membuktikan bahwa eksistensi kesenian Tayub hingga hari ini masih memiliki arti dan makna. Karenanya menjaga seni Tayub sebagai salah satu bentuk warisan budaya adalah sesuatu yang memang layak dilakukan oleh siapa pun. Tugas semua pihak sekarang ini adalah membebaskan atau menghapus imej ‘penggoda gairah’ serta citra tak menguntungkan lainnya dari kesenian Tayub. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Senggama Semesta di Gunung Kemukus dan Candi Sukuh Pemaknaan Teologi Pembebasan Lewat Legenda Asmara Suci (4)

Oleh: KRT Suryanto Sastroatmojo MAKA, sebelum Prabu Brawijaya akhirnya melakukan mokhsa, beliaub akan berkunjung ke …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *