Beranda » Seni & Budaya » Tayub, dan Stigma Mesum  yang Disandangnya

Tayub, dan Stigma Mesum  yang Disandangnya

Tayub hingga hari ini merupakan salah satu bentuk kesenian atau tarian rakyat yang masih sangat dikenal oleh masyarakat di Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur.  Terlebih lagi di Jawa Timur, saat ini di kalangan masyarakat bawahnya, tarian Tayub sama populernya dengan musik dangdut.

Sayangnya, tarian rakyat yang awalnya lahir dari dalam Keraton Jawa ini, kini memiliki stigma yang tidak menguntungkan. Dewasa ini sebagian masyarakat ada yang menilai Tayub sebagai bentuk kesenian yang mengumbar syahwat, mengeksploitasi seks, dan menampilkan kemesuman. Akibat stigma atau penilaian buruk seperti itu, kemudian muncul suara-suara yang menolak keberadaan Tayub, karena dipandang berlawanan dengan nilai-nilai agama.

Benarkah demikian? Sesungguhnya tarian Tayub atau Tayuban merupakan salah satu bentuk kesenian Jawa yang sarat dengan unsur keindahan dan keserasian gerak. Seperti halnya tari Jaipong dari Jawa Barat, Tayub juga merupakan tarian rakyat yang dinamis dan enerjik. Daya tarik tari Tayub ada pada kelincahan dan keluwesan penari perempuannya, atau yang disebut ledhek.

Bahkan, bila kita mau melihat jauh ke belakang, tarian Tayub yang sudah berusia lebih dari sepuluh abad ini, dulu sempat menjadi tarian terhormat di dalam istana.  Pada awalnya Tayub memang merupakan jenis tarian rakyat yang muncul pada abad XI. Setelah menjadi tarian yang populer di tengah-tengah rakyat, Raja Kerajaan Kediri (Jawa Timur) yang tertarik dengan keindahan gerak penarinya, kemudian membawanya ke dalam keraton. Tarian itu ditarikan saat raja menyambut kedatangan tamu-tamunya.

Di dalam buku “Gending dan Tembang” (terbitan Yayasan Paku Buwono X)  disebutkan, pada abad XII eksistensi tarian Tayub semakin terhormat lagi karena telah ditarikan secara khusus dalam penobatan Prabu Suryowiseso sebagai Raja Jenggala (Jawa Timur).

Bahkan kemudian, Prabu Suryowiseso mengukuhkan atau menetapkan tarian Tayub sebagai tarian resmi kerajaan. Tidak hanya itu. Sang permaisuri pun diwajibkan untuk bisa menarikannya. Sehingga bila ada tamu-tamu terhormat yang menjadi tamu kerajaan datang, sang permaisuri raja pun harus menarikan tarian Tayub itu di pringgitan keraton sebagai tanda sambutan selamat datang. Di dalam istana Jawa, tarian Tayub itu lebih dikenal dengan sebutan tarian Gambyong.

Tidak ada catatan pasti, sejak kapan Tayub kembali menjadi tarian yang populer dan berkembang di tengah-tengah kehidupan rakyat bawah. Tapi yang pasti, selain kembali menjadi tarian rakyat dan menjadi seni hiburan masyarakat sampai di tataran sosial bawah, dengan nama lain yakni tarian Gambyong, tarian ini tetap bertahan di dalam keraton raja-raja di Jawa.

Ketika kembali menjadi seni hiburan rakyat, tarian Tayub pun tampil lebih bebas dan terbuka. Saat menjadi tarian resmi di dalam keraton, Tayub terikat dengan tatanan nilai-nilai dan norma-norma yang ada di dalam keraton. Tetapi begitu kembali ke tengah-tengah rakyat, Tayub pun kemudian mengakomodasi beragam selera dan perilaku rakyat. Diakui atau tidak, dari dulu hingga kini, kecenderungan selera hiburan di tingkatan rakyat bawah itu lebih mengarah pada daya tarik penonjolan seksualitas.

Tayub pun kemudian terjebak pada selera hiburan rakyat yang beranggapan bahwa goyangan seksualitas yang mengundang gairah merupakan daya tarik paling utama. Dalam perjalanannya, perkembangan Tayub tak pernah lepas dari persoalan belitan kesulitan ekonomi para penarinya, dan selera hiburan masyarakat yang rendah. Akibatnya, dari kaca mata moral, sejumlah pihak memandang Tayub telah ‘terperosok’ menjadi seni hiburan rakyat yang berkualitas rendah dan bertedensi mesum.

 

Kesan Raffles

Sesungguhnya stigma Tayub sebagai tarian yang bertedensi mesum itu bukanlah baru muncul di tahun-tahun belakangan ini. Kesan atau stigma Tayub sebagai tarian bertedensi mesum tersebut sudah muncul pada abad 19 lalu. Bahkan, Gubernur Jenderal Inggris, Raffles, pada sekitar tahun 1817 telah menilai Tayub sebagai tarian rakyat bertedensi mesum. Bahkan di dalam bukunya berjudul “History of Java”, Raffles menulis bahwa Tayub merupakan tarian yang mirip pelacuran terselubung.

Tak hanya Raffles. Seorang peneliti Belanda, Cliffort Geertz, juga punya penilaian yang sama terhadap Tayub. Di dalam bukunya “The Religion of Java”, Geertz pun menguatkan stigma Tayub sebagai tarian berkualitas rendah dan jalanan, serta bertedensi mesum.

Dewasa ini di sejumlah daerah sedang ada upaya untuk menguri-uri atau melestarikan Tayub sebagai salah satu bentuk tarian tradisional rakyat. Persoalannya adalah, upaya atau langkah untuk menjaga dan mempertahankan Tayub tersebut sering terkendala dengan stigma mesum yang masih melekat dan sikap pandang sebagian masyarakat yang memandangnya tak sesuai dengan moralitas. Nah, ini memang tugas berat. Melestarikan Tayub sebagai salah satu kesenian tradisi rakyat, sekaligus menghapus stigma buruk yang melekat di dalamnya. *** (Sutirman Eka Ardhana)

 

*Sutirman Eka Ardhana, penyuka budaya Jawa, redaktur Warta Kebangsaan

Lihat Juga

Misteri Sumur Tiban di Makam Ronggowarsito Peziarahnya dari Pengangguran Sampai Caleg

KOMPLEK makam pujangga Jawa kenamaan, Raden Ngabehi Ronggowarsito, yang berada di Desa Palar, Kecamatan Trucuk, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *